FOLLOW ME

Kamis, 10 Januari 2013

CINTAKU DIBAGI TIGA chapter four




“siapa?” aku hanya mengangkat bahuku untuk menjawab pertanyaan Denny. Denny melanjutkan makannya tanpa bertanya-tanya lagi. Tinggal aku yang merenung dengan rentetan kejadian yang tidak terduga ini. Dikerjain Beno sampai-sampai aku hampir kencing di celana karena Pak Asril! Lalu cowok tadi. Aku melirik Denny sebentar. Dulu aku pernah ngefans sama cowok itu. Namanya Yoga Wicaksono. Lebih dari ngefans sih sebenarnya. Karena aku hampir tahu semua tentang dia. Makanan favoritnya apa, hobbinya apa, bahkan sampai ukuran celana dalamnya pun aku tahu. Kalian boleh menjulukiku stalker! Tapi memang aku begitu mengidolakannya.
Namun itu dulu, saat aku kelas satu. Saat aku belum tahu apa-apa. Saat aku juga masih naksir Beno. Oke, jadi Samuel Yoga Wicaksono  itu adalah kakak kandung dari Yonathan Beno Wicaksono! Nama depan mereka adalah nama baptis setahuku. Mereka protestan. Oya, kalian boleh mengatakan ini sinetron, ini cerita gak banget! Tapi memang itu faktanya. Dan sejak aku tahu bahwa Beno mempunyai sifat aneh, dimana sifat aneh itu hanya ditujukan padaku, aku mengambil kesimpulan bahwa kakaknya juga pasti aneh.
Jadi, aku mulai membuang semua kenanganku tentang Yoga. Aku tahu, sebenarnya aku dan Yoga sama sekali tidak mempunyai kenangan apa-apa. Yoga tidak mengenalku. Jadi ya seperti itulah. Bisa di ibaratkan kalau dia itu artis dan aku adalah penggemarnya, namun itu dulu. Karena semenjak aku membenci Beno karena sifat brengseknya itu, entah kenapa aku juga mulai tidak menyukai kakaknya. Aku tidak tahu, itu hanya terjadi begitu saja.
Dan sekarang? Aku malah meminjam jas labnya, memakainya pula! Apa jangan-jangan aku kena sial tadi gara-gara jas labnya?
“hey? Temenin aku ke ruang ganti yuk?” aku sedikit tersentak.
“apa?” jujur aku ingin memastikan apa yang tadi dikatakan oleh Denny.
“temenin aku ganti baju! Udah hampir masuk nih!”
“kamu udah selesai makannya?” sekarang gantian Denny yang menatapku dengan tatapan heran. Dan ketika aku melihat mangkoknya yang sudah tidak bersisa, aku jadi senyum-senyum sendiri. Jadi aku melamun terlalu lama tadi.
“dari tadi, kamu mikirin apa?”
“gak kok. Yok, aku temenin.” Pikiranku konslet. Gila nih, gara-gara Yoga sialan. Adik dan kakak sama-sama bikin emosi aja! Tapi kalau dipikir-pikir, aku gila juga ya? Yoga kan tidak mempunyai salah apa-apa. Oh tidak bisa! Dia kakaknya Beno! Dan disitu kesalahannya!
Sebenarnya ruang ganti ini milik team basket, namun sering dipakai berjamaah oleh klub-klub lain. Aku duduk di kursi dekat pintu sambil melihat Denny yang mulai ganti baju. Aku mengamatinya lekat-lekat. Orang sudah disuguhin ini sih, masa iya mau dilewatkan begitu saja? Denny sepertinya enjoy saja, sama sekali tidak merasa risih ditatap olehku dengan pandangan lapar. Atau Denny tidak tahu aku tengah menatapnya?
“aku selalu pengen punya badan seperti itu.” Denny yang tengah mengenakan celana abu-abunya menoleh ke arahku begitu mendengar ucapanku tadi.
“hha? Becanda kamu!” jawabnya terkekeh sambil membetulkan resleting celananya. Gila, kenapa tiba-tiba tanganku jadi gatal ya?
“ganti bajunya cepetan! Kaga usah dihayati gitu! Hampir masuk nih!” kali ini Denny tergelak. Aku memandangnya heran, ada yang lucukah? Sesuatu yang terlewatkan olehku?
“kamu horny ya?” seketika itu juga wajahku langsung memerah. Selain kata-kata itu terlalu agresif, kata-kata itu juga sangat mengena.
“buruan!”
“buruan apa? Buruan lepas baju maksutnya?”
“sarap!!”
“seriusan ni, kalau kamu minta ntar aku lepas lagi ni celana.” Aku memutar kedua bola mataku.
“aku tinggal ya?” Denny langsung cengengesan.
“jangan! Bentar lagi.” Bukannya aku sok suci atau bagaimana. Tapi, hallo? Inikan ruang ganti berjamaah? Kalo nanti lagi gitu-gituan trus ada yang masuk gimana? Orgasme kaga! Malunya iya! Mending kalau Cuma malu doang, kalau sampai dikeluarkan dari sekolah? Orang tuaku dipanggil? Apa coba yang akan dikatakan oleh kepala sekolah kepada orang tuaku?
“maaf, anak anda saya keluarkan dari sekolah karena tertangkap basah sedang memasukkan penis di lobang pantatnya!”
GILA!! ENGGAK BANGET!!
***

Sekarang aku tengah menikmati makan malamku. Ya, harus aku akui ini bakso delicious banget. Sumpah! Ciusan! Enelan! Sambel Lombok ijonya mantab! Dan untuk kali ini, kali ini saja, Denny mengijinkanku untuk menikmati sambalnya. Kata Denny tadi, mubazir uda kesini tapi kaga ngicipin sambelnya. Dan seperti yang aku katakan tadi, sambalnya emang juara.
“aku nanti pulang ke kost-kostan kamu.” Aku yang tengah hah huh hah menikmati baksoku langsung mendongak. Menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
“aku mau nagih janji kamu.” Aku semakin menatapnya dengan pandangan tidak mengerti. Dan sepertinya itu membuat Denny sedikit gusar.
“janji kamu saat ulang bulan kemaren yang belom ditepati apa?” deg! Ya Tuhan! Dia menagihnya! Menagih janjiku untuk ML dengannya. Sialan! Maksutku, bukan berarti aku belom siap. Tapi kamar kostku sangat berantakan, aku juga tidak mengenakan celana dalam seksi, selain itu aku juga tengah menstruasi. Maaf, untuk alasan terakhir aku hanya bercanda. Intinya, aku belom siap! Aku pernah mengatakannya kan? Ada perasaan ganjil jika aku dan Denny sudah sama-sama telanjang. Fine, aku akan mengaku! Aku tidak percaya diri dengan tubuhku. Maksutku, pantatku tepos. Terima kasih untuk Beno karena dia mengatakan hal ini berkali-kali. Badanku juga agak kurus. Yang ini aku menyadarinya sendiri. Kulitku juga tidak mulus. Ada bekas jerawat di punggungku. Ya Tuhan! Apa aku sudah mengatakan semua aibku?
Oke, cinta memang tidak memandang fisik, tapi apa iya Denny nafsunya nanti akan terbangkitkan bila melihat tubuh polosku? Selama ini aku berani telanjang di depannya hanya jika lampu dalam keadaan temaram.
“kamar kostku berantakan Den.” Kataku akhirnya, kata-kata ini keluar begitu saja.
“aku suka, ada sensasi tersendiri nantinya.”
“sepraiku juga belum aku ganti. Takutnya bau apek nanti.”
“sepraimu ada tiga. Aku bisa gantiin kok nanti.” Sial, kalian ada ide?
“aku sepertinya sangat capek hari ini. Ingat kejadian tadi di kelas? Pak Asril benar-benar menguras emosi dan fisikku.” Senjata pamungkas!
“kita bisa melakukannya pagi hari. Besok kan tanggal merah, jadi kamu bisa istirahat dulu.” Gila! Mungkin Denny sudah memikirkan jawaban-jawaban tadi sebelum berangkat kesini. Dan aku hanya bisa berserah, semoga pacarku besok mengalami disfungsi ereksi! Hah? Apa yang aku lakukan? Aku ralat sedikit, semoga pacarku besok mengalami disfungsi ereksi hingga aku siap berhungan dengannya. Doa macam apa ini?
Kami pulang ke kostanku sekitar jam Sembilan malam. Aku sengaja di kamar mandi lebih lama, berharap bahwa saat aku ke kamar nanti, Denny sudah tumbang! Dan besok pagi aku akan bangun lebih dulu dan langsung jalan-jalan pagi. Ide yang sempurna, tapi rawan gagal. Bagaimana bisa aku bangun lebih pagi dari Denny? Yang selama ini membangunkanku kan Denny. Tidak ada salahnya untuk dicoba ya kan?
Setelah aku menggosok gigiku, mencuci mukaku, sedikit membersihkan tititku juga (jaga-jaga kalau malam ini Denny memaksaku, mungkin dalam hati kecilku aku malah berharap Denny memaksaku), aku segera kembali ke kamar kostku. Rencana pertama jelas gagal, Denny masih disana, matanya jelas masih mencereng dan tengah menonton televisi.  Aku langsung pura-pura mengganti seprai, padahal sebenarnya ini seprai baru aku ganti kemaren sore. Tapi kalau nanti tidak aku ganti Denny bisa curiga, aku sudah mengatakan padanya tadi bahwa sepraiku apek. Kutuklah aku.
Setelah itu aku langsung merebahkan diriku disana. Kalau Denny tidak tidur duluan, maka aku yang akan tidur duluan. Aku akan pura-pura sudah terlelap. Jadi mungkin dia akan sungkan untuk menggangguku. Aku mencari posisi nyaman untuk tidur, dari ujung mataku, aku masih bisa melihat Denny yang masih asyik mengganti-ganti saluran chanel tv. Biarlah dia asik dengan remote tv, maka aku akan segera asik dengan mimpi indahku.
Tapi ternyata rencana kedua juga menjurus akan kegagalan. Denny sudah mematikan saluran tv dan aku bisa merasakan bahwa dia sudah merebahkan tubuhnya disampingku. Ini memang bukan kali pertama aku dan Denny tidur berduaan, tapi dulu kan aku sama sekali tidak kepikiran bahwa kita akan gitu-gituan. Sedangkan sekarang? Jelas-jelas rencana utama Denny menginap adalah untuk berasik masyuk denganku. Itu membuatku, sadar atau tidak disadari menjadi waspada.
Kini aku merasakan tangannya yang memeluk pinggangku. Aku tidur membelakanginya dengan memeluk guling untuk sekedar informasi. Dan aku sangat merasakannya saat jemarinya menelusup dibalik kaosku, mengusap-usap dengan lembut perutku. Dan sekali-kali bermain-main dengan pusarku. Geli, enak dan bikin ser-seran.
“aku sayang kamu, terima kasih untuk sebulan ini sudah menjadi pacarku.” Kata-kata itu dibisikkan sangat lembut di telingaku. Aduh, bisa-bisa aku luluh nih. Gani! Defense Gani! Defense!
“sweet dream.” Kembali Denny membisikkan kata-kata itu sebelum akhirnya tanganya berhenti bermain-main dengan perutku. Antara senang karena Denny sudah tidak berusaha merangsangku, namun juga sedikit kecewa. Karena jujur, tadi itu enak sekali. Aku tidak tahu ini sudah jam berapa, namun yang aku tahu aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku. Denny sudah terlelap, jika mendengar suara dengkurannya yang halus. Aku mencoba membalikkan tubuhku dan melihat kekasihku secara lekat dari jarak yang sangat dekat. Ternyata ada jerawat yang baru akan tumbuh di bawah bibirnya. Di usianya yang hampir 17, belum tampak tanda-tanda bahwa kumisnya akan tumbuh. Mungkin dia tidak akan berkumis. Aku membelai pipinya pelan, kulitnya tidak lembut. Mungkin karena setahuku, Denny tidak pernah memakai Pond’s, Garnier ataupun Vaseline dan sejenisnya. Kata dia ribet. Tapi aku suka teksturnya, khas laki-laki.
Aku memeluknya erat lalu menelusupkan kepalaku didadanya. Kali ini aku pasti akan tidur nyenyak, dengan mimpi indah tentunya.
***

Aku membuka mataku saat aku merasakan sinar matahari pagi menerobos kamarku. Dan sepertinya tidak hanya sinar matahari pagi saja yang berusaha membangunkanku, namun tatapan Denny juga. Dia tengah menatapku dengan sangat intens. Dan hei! Cowok seganteng apapun, ketampanannya akan berkurang 50 persen saat dia bangun tidur, apalagi aku yang jauh dari kata tampan? Aku bisa membayangkannya, rambut awut-awutan, mungkin juga ada sedikit iler, atau yang lebih buruk lagi kantong hitam dibawah mata.
Shit! Aku terlalu banyak membaca novel wanita ternyata.
“kamu manis banget lho kalau abis bangun tidur gitu. Kayak anak kecil.” Kata Denny sambil mencium pipiku. Aku hampir terperangah dengan kata-katanya, adakah yang lebih nggak mungkin lagi dari kata-kata ini? Maksutku, orang yang baru saja terjaga dari tidurnya bisa tampak manis? Aku tidak percaya! Denny pun pasti akan berkurang daya tariknya kalau habis bangun tidur.
“hemm.” Aku menjawabnya malas-malasan sambil bangkit dari ranjang.
“mau kemana?”
“mandi dulu, biar nanti enakkan mainnya.” Kataku singkat sambil berlalu dari hadapan Denny yang sepertinya sedikit surprised dengan kata-kataku barusan.
“mandi bareng?” aku menoleh ke arahnya dan langsung melotot! Gila apa! Ini kan tanggal merah, sudah pasti penghuni kost pada ngejogrok, nggak kemana-mana. Dan yang aku hapal sekali, mereka pasti kongkow di depan kamarnya mas Rahardian. Itu kan deket banget sama kamar mandi. Dan apa tadi usul Denny? Mandi bareng? Mimpi saja!
“oke, nggak juga nggak papa.” Sepertinya Denny paham dengan arti dari pelototan aku tadi. Aku segera menyambar handuk dan perlengkapan mandiku langsung menuju kamar mandi. Aku sengaja berlama-lama di kamar mandi, toh kamar mandi yang satunya sudah selesai direnovasi ini jadi tidak bakal mengganggu kenyaman penghuni kost lain. Oke, hal ini cepat atau lambat bakal terjadi okay? Jadi aku hanya perlu rileks. Urusan nanti enak atau tidak bisa dipikir sambil jalan. Gani! Ayo kamu bisa! Aku menghembuskan nafas secara perlahan. Mencoba mensugesti diri sendiri bahwa semuanya akan terasa menyenangkan. Bahwa tubuhku adalah tubuh yang paling di inginkan oleh Gani (kalau yang ini tidak hanya sugesti, namun juga doa).
Setibanya aku di kamar, ternyata Denny sudah menyiapkan sarapan untukku. Hmm, baunya enak ni.
“kamu ganti baju dulu, abis itu kita sarapan bareng. Aku uda beli buat kamu.” Aku hanya tersenyum sambil menganggukan kepalaku. Menutup pintu kamarku, tidak lupa juga untuk menguncinya dan langsung memakai kaos dan celana pendekku.
“suapin.” Rengekku manja begitu sudah di depan Denny. Terkadang, kita hanya perlu bersikap apa adanya kita saat sedang berduaan dengan pacar kita kan? Denny mendecakkan lidahnya walaupun akhirnya menyuapiku.
Selesai sarapan, kita hanya peluk-pelukan di atas ranjang. Walaupun jujur aku lebih suka seperti ini ketimbang sex (mungkin karena aku belum pernah berhubungan sex?), jadi saat Denny mencium bibirku, aku sedikit waspada. Dalam hati aku menyuruh semua system titik rangsangku untuk waspada. Hmm, tapi mungkin karena ciuman Denny yang enak. Aku pernah bilang kan kalau bibirnya Denny itu manis? Aku terlena, dan walaupun Denny mulai memelorotkan celana pendekku dan aku merasakan itu, aku tidak berusaha menahannya.
“aku hanya ingin kamu rileks. Bilang stop kalau kamu mulai ngerasa nggak nyaman.” Demi Tuhan, sensasi ini lebih menyenangkan efeknya daripada onani, lalu kenapa aku harus berkata stop? Dan hei, sejak kapan Denny seahli ini? Dulu, dan itu kurang lebih seminggu yang lalu Denny pernah mengajakku bercinta dan rasanya tidak seperti ini. Maksutku, gaya bercintanya ‘cowok banget’, yaitu cepat-cepat pengen nancep! Itu mungkin yang membuat aku tidak nyaman waktu itu. Sekarang? Gaya bercintanya mengatakan bahwa dia adalah ‘pria dewasa’. Sentuhan-sentuhan jarinya di kulitku, ciuman-ciuman yang dia daratkan di bibir, leher dan seluruh kulitku membuatku menggelenyar. Ini menyenangkan sekali. Aku merasa dihargai, diinginkan dan dicintai.
Denny membalikkan tubuhku! Shit! Dia pasti sekarang melihat bintik hitam di punggung atasku, bekas jerawatku. Oh, not now. Aku sudah menyiapkan mental jika dia akan berhenti. Namun nyatanya tidak. Dia malah menciumi punggungku dengan intens. Satu pertanyaan yang ada di kepalaku, Denny suka dengan jerawat? Lupakan! Daripada nanti menurunkan libidoku.
“boleh aku membukanya?” aku tidak percaya Denny meminta ijin untuk membuka kolorku. Maksutku, saat kita bercinta sepertinya membuka pakaian pasangan itu sangat dianjurkan. Aku hanya mengangguk lemah. Aku sangat takut jika membuka bibirku, yang keluar malah desahan erotis. Aku tidak ingin mengucapkan desahan erotis. Emm, belum saatnya.
Sekarang Denny mungkin sudah melihat adekku dibawah sana berdiri dengan gagah. Ya, aku kan pria normal. Jadi dirangsang seperti itu, barang tentu sudah bisa membuatku on fire. Dan tanpa malu-malu dia mulai menciumi tititku. Oh stop! Kita skip saja bagian ini. Aku tidak ingin aku onani didepan laptopku saat aku mulai menulis bagian ini. Stop! Oke? Kita skip saja, aku yakin imajinasi kalian lebih bermain.
“aku merasa menjadi pria seutuhnya sekarang.” Kata Denny sambil membawaku ke pelukannya. Seperti kataku tadi, kita skip adegan tusuk-menusuknya. Aku belum siap mental untuk menulisnya dengan baik dan benar. Wait! Apa kata Denny tadi? Menjadi pria seutuhnya? Lalu apa denganku?
“berarti aku harus merasa sudah menjadi wanita seutuhnya.” Kataku masam. Denny langsung tergelak.
“bukan begitu maksutku cintaku.”
“lalu? Kamu menggagahiku, dan kamu merasa menjadi pria seutuhnya. Aku? Aku kan digagahi!”
“kalau kamu mau, kamu boleh kok menggagahiku. Itu akan membuat hidupku lebih utuh sebagai pria.” Oh emak! Apakah sekarang Denny sudah akan menjadi aneh seperti Radit? Atau jangan-jangan dia Radit yang tengah menyamar?
“ya, lain kali aku ingin mencobanya.” Denny terlihat kaget.
“hei, aku hanya basa-basi tadi!” apa maksutnya? Jadi dia tidak mau menjadi bottom? Apa-apan itu!
“aku pegang kata-katamu tadi. Jelas kamu ingin menjadi pria seutuhnya kan?” tanyaku sambil menggodanya.
“God-help-me!!” aku hanya bisa menyeringai melihat tingkah berlebihannya.
Tbc. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.