FOLLOW ME

Kamis, 31 Desember 2015

BOTTOM 20

Peringatan keras!!
Cerita ini penuh dengan adegan fulgar dan seks juga pertumpahan darah. Cieileh!! Jadi kalo engga suka dengan tema seperti ini harap jangan dibaca. Thanks!
***

Uki Bagus Walantaga
“Ya Tuhan, gue harus lihat tonjolan kon-.” Maya melirik Japheth, yang sepertinya excited ingin mendengar kelanjutan bibirnya mau ngomong apa, “kondisi yang tidak sesuai dengan tempat yang layak.” Aku tertawa pelan mendengar koreksi ucapan Maya hanya karena ada Japheth disini.
“Lo kali yang datang enggak sesuai dengan kondisi dan tempat yang layak.” Daniel menimpali. “Hai jagoan, bawa apa ini buat uncle?” Daniel menggendong Japheth, menaikkannya ke udara beberapa kali yang membuat anak itu tertawa terpingkal-pingkal.
“Japheth bawa Lego, uncle! Tapi enggak bisa ngerakitnya.” Japheth dengan semangat menunjukkan plastik putih besar, berisi sekotak kardus lego yang belum dibuka. Menyerahkannya dengan susah payah ke tangan Daniel.
“Ya udah, uncle bantu rakit yuk!” Mereka berdua lalu sibuk sendiri, aku menyerahkan boxer untuk dipakai Daniel. Aku hanya kurang suka dia hanya memakai brief didepan orang lain, selain aku. Setelah itu, aku baru masuk kamar, dengan selimut masih melingkari pinggangku, mencari baju yang nyaman. Kemudian, menyodorkan minuman untuk Maya yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu yang berat jika dilihat dari mimik wajahnya.
Aku memperhatikan Daniel dan Japheth yang duduk di karpet. Mereka akrab, Daniel tidak serta merta merakit lego itu sendiri. Dia mengajari Japheth dengan sabar dan telaten. Aah, andai kita berdua bisa punya anak. Hatiku malah jadi masygul sendiri. Bukan hanya kemungkinan itu sangat kecil, namun juga karena aku masih memiliki harapan untuk memiliki anak bersama Daniel. Aku ingin keluarga yang utuh, apa itu salah?
“Ki, turun sebentar yuk. Gue lagi pengen jus nih.” Maya berbicara sambil matanya mengedip padaku beberapa kali.
Aku menangkap kodenya, “Oke.” Aku menoleh kearah Daniel dan Japheth, “Japheth mau jus enggak?”
“Boleh om, mangoes.”
“Kalau kamu, ganteng? Mau nitip enggak?”
Daniel menoleh, tersenyum. “Samain sama punya kamu aja.”
Aku mengangguk sambil mengambil dompet. Sedangkan Maya, berpamitan dengan Japheth, yang kalau dilihat tidak begitu dipedulikan oleh anak lelakinya tersebut. Maklum, Japheth tengah sibuk dengan lego dan uncle gantengnya.
Aku dan Maya berjalan bersisian dalam diam, turun ke bawah untuk membeli jus. Padahal sebenarnya aku tahu, Maya ingin membicarakan tentang hal yang beberapa minggu lalu aku bicarakan dengannya.
“Rumahnya udah dapet, Ki.” Maya membuka bibirnya. Setelah dia selesai mengucapkan orderannya pada tukang jus. Tukang jus kan? Atau penjual jus? Terserahlah ya. Karena cerita ini jelas bukan tentang mamang-mamang penjual jusnya.
Aku menoleh dengan semangat, “Gimana dengan harganya?”
“Lo ada duitnya berapa?” Maya balik nanya.
Aku mengeluarkan ponselku, mengetikkan beberapa password sebelum masuk kedalam rekeningku, menunjukkan ke Maya jumlah semua tabunganku.
Maya melirikku, setelah dia melihat jumlah uang dalam tabunganku. “Duit lo banyak juga ya? Tapi kalau segitu, kayaknya lo cuman dapat rumahnya doang deh Ki. Apalagi itu rumah udah ditinggal agak lama sama pemilik sebelumnya, mesti ada yang di renovasi.”
“Hari jadi gue ama Daniel kan masih ntar Oktober. Keburu enggak ya? Mesti nyari duit dimana coba gue?”
“Lo bisa minjem gue. Santai aja.”
Aku menggelengkan kepalaku, “Enggak May. Bukannya gue nolak bantuan elo, cuman gue pengen ngasih sesuatu ke Daniel itu pakai jerih payah gue, keringet gue sendiri.”
Maya tertawa sambil menepuk pundakku pelan, “Beruntung amat sih Daniel dapet laki macam elo ini.” Aku tersipu, “Lo kapan ada waktu? Entar elo bisa melihat kondisi rumahnya kayak gimana. Cuman agak jauh juga sih kalau mau ke tempat kerja, kan ini di daerah Kebagusan. Agak-agak macet gila.”
“Besok gimana? Mumpung masih libur ini. Lo bisa?”
“Gue sih available, Ki. Lo sendiri gimana? Ijinnya ke Daniel? Laki lo itu kan agak-agak posesif.”
“Gampang, entar gue pikirin.”
“Ya udah, yuk naik. Kasihan anak gue ama anak lo, keasyikkan main lego.”
Aku tersenyum, sambil membayar jus dan membawanya di tangan kiriku. Tangan kananku memegang ponsel dan dompet.
***

Aku membawa mobilku menelusuri jalanan Jakarta yang masih lengang, efek dari libur lebaran. Maya, disampingku sibuk dengan bedak dan lipstik. Katanya, dia bangun agak kesiangan. Jadi belum sempat dandan. Ajaibnya, ini ibu-ibu satu bisa banget memakai maskara. Padahal beberapa kali mobilku goyang-goyang.
Aku dan Maya sudah janjian dengan pemilik rumah yang dulu untuk bertemu di tempat ini, calon rumahku dan Daniel, jam sepuluh pagi. Aku mendapatkan informasi tentang rumah ini dari Maya. Orang yang mau menjual rumah ini adalah bosnya di kantor. Dan entah kenapa, Maya menginformasikan ini kepadaku. Padahal waktu itu, aku belum kepikiran sama sekali untuk membeli sebuah rumah.
Namun saat Maya memberitahukannya padaku, aku malah jadi tertarik. Aku ingin memiliki masa depan bersama Daniel. Berlebihan kalian menyebutnya, terserah. Memang masa depan yang belum pasti, setidaknya aku berusaha ingin mewujudkannya kan? Menguras hampir seluruh tabunganku itu bukan persoalan main-main lho.
Aku keluar dari mobil diikuti dengan Maya. Pak Burhan, ternyata sudah lebih dulu tiba. Maya, menyalami bosnya itu dan berbasa-basi sebentar. “Aduh Bos, pagi bener sampainya.”
“Ini juga baru saja kok May.” Pak Burhan menoleh kearahku, “Jadi anda yang tertarik dengan rumah saya? Masih muda ya, mana calon istrinya? Kok enggak dibawa?”
Aku tersenyum kikuk, “Dia sibuk, Pak.”
Pak Burhan manggut-manggut paham. Dia lalu mengajakku dan Maya masuk. Walaupun rumah ini catnya sudah agak mengelupas disana-sini, aku suka arsitekturnya. Perbaduan gaya rumah khas Wyoming sama Jepang. Aku langsung jatuh cinta. Belum ada kerusakkan major didalam bangunan, mungkin butuh sedikit renovasi sama cat ulang. Yang jelas, butuh banyak perabotan. Aku enggak mungkin membawa perabotan dari rumah orang tuaku. Walaupun, beberapa barang disana aku yang membelinya. Tetapi akan enggak etis kalau aku memintanya kembali, kan?
Aku mengajak Pak Burhan ke belakang, untuk mengobrol lebih pribadi. Membicarakan harga, dan menawarnya sebisaku. Begini juga, aku kan AM sebuah perusahaan asing. Jagolah, dikit-dikit tawar-menawar. Walaupun aku enggak begitu yakin bisa mengisi rumah ini dengan perabotan sampai hari H aku mempersembahkan rumah ini sebagai kado untuk Daniel di hari jadi kita yang kedua.
Aku dan pak Burhan bersalaman, deal dengan harga yang sudah kami berdua sepakati. Walaupun aku agak tertawa miris dalam hati, karena keinginanku untung membeli Range Rover jadi tertunda lebih lama lagi. Tidak apa-apa, demi si ganteng.
Di otakku, aku sudah mempunyai gambaran mau aku apakan rumah ini. Mau aku jadikan seperti apa rumah ini. Aku bahkan sudah berimajinasi anakku dan Daniel berlarian bermain di halaman belakang yang luas. Mendadak aku terpekur, seandainya bisa segampang itu.
Ya Tuhan, aku ingin membangun sebuah keluarga yang utuh layaknya pasangan straight. Bisa kan? Kabulkan dong Tuhan, selama hidupku, aku kan jarang minta-minta Tuhan.
Maya menepuk pundakku, membawaku kembali ke dunia nyata, “Lo kenapa, Ki? Syok, tabungan lo bakal ludes?”
Aku tertawa pelan, “Tahu aja lo.”
“Ya udah, makan yuk. Gue yang traktir deh, karena elo baru saja jatuh miskin.”
Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Maya barusan.
***

Joshua Daniel Pradipta
“Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini jadi agak pendiem gitu?” Aku memakan coklatku, sambil melirik Uki yang berada di balik kemudi. Kita berdua lagi on the way ke rumahnya Maya. Dalam rangka apa? Si gelo itu ulang tahun, dan dia mengadakan pesta kecil-kecilan.
Uki meremas tanganku yang bebas sebentar, “Aku memang dari dulu pendiem kan?”
“Heran, kenapa kamu bisa jadi sales.”
Uki tertawa renyah. Aaah, Jakarta yang sepi begini mengasyikkan juga. Walaupun sepertinya, lebaran tahun lalu lebih sepi. Mungkin orang-orang sudah agak malas untuk pulang kampung. Ya, tidak? Aku saja malas pulang ke Bandung. Lha, disana enggak ada siapa-siapa. Cuman ada mbok Walmi sama Pak Dirman. Mama? Beliau udah minggat ke Belanda sama pacar barunya. Oke, aku sih setuju saja ya mama mau menikah lagi. Toh, aku juga sudah berhenti tanya-tanya ke Jordan tentang bapaknya, si Ruli itu. I mean, kalau memang nyokap merasa aku sudah siap untuk menerima kenyataan cerita masa laluku, beliau bakalan cerita kan? Ini semua kan, Mama lakukan buat kebaikan aku? Ya enggak sih?
“Sekarang kamu yang jadi pendiem, Dan.”
“Aku lagi kepikiran buat ngeseks sama kamu di stadion bola dengan full semua lightning menyala.”
Uki terbatuk kecil, “Enggak sekalian penontonnya, diajak nonton?”
Aku nyengir, padahal bukan itu yang aku pikirkan. Kadang kan, kita enggak bisa langsung mengucapkan apa saja yang ada di pikiran kita kan? Walaupun bibirku gatal pengen ngomong. “Tapi aku yakin kamu enggak mau.”
“Aku yang sekarang sih enggak peduli, ganteng. Mau orang lihat aku telanjang atau gimana. Aku cuman enggak mau orang lain lihat kamu telanjang. And I mean, itu semua orang ya, include your Mom.” Uki menarik nafas, “Jadi, kalau bukain pintu jangan pakai celana dalam doang lagi ya, ganteng?”
Aku tertawa. Uki ternyata seposesif ini. Dan itu cute banget. “Kiss dong.”
Uki melirikku sebentar, memarkirkan mobil di halaman rumah Maya yang memang besar. Lalu keluar dari mobil. Jadi enggak ada kiss nih? Hh, aku mengikuti Uki keluar dari mobil. Namun sebelum aku mencapai pintu depan, Uki menarikku, tangannya dengan posesif melingkari pinggangku. Lalu bibirnya mengecup bibirku. Aku kira, karena kita tengah ingin bertamu, Uki hanya akan cukup mengecupnya saja. You know? Tanpa lidah kita saling bertaut dan berbagi air liur. I was wrong, karena setelahnya Uki memaksaku untuk membuka bibirku. Lidahnya menerobos masuk, bertemu dengan lidahku disana. Saling menghisap, saling bertaut.
Tangan Uki kini beralih ke leherku, memintaku semakin menundukkan kepalaku, agar dia makin bisa leluasa mengeksplore area bibirku. Damn! Aku sama Uki udah ereksi. Gila, ini mau di tuntaskan atau diakhiri biar nanggung-nanggung kentang?
Aku mendengar suara mobil lain, memasuki halaman rumah Maya, namun aku tidak peduli. Bagaimana aku bisa peduli ketika tangan kiri Uki meremas bokongku dengan bernafsu? I mean, ini bokongku gitu, salah satu area sensitifku.
“Get a room, please.” Itu suara Evan.
“Anjis, gue kayak ngelihat adegan porno live gitu.” Ini Reno.
Uki melepaskan pelukannya, wajahnya memerah, lebih merah dari udang rebus. “Ehm, aku masuk duluan.” Ya Tuhan, sifat malu-malunya adorable banget enggak sih? Evan menatapku dengan pandangn sok tahu sebelum mengikuti Uki masuk ke rumah Maya. Reno masih siul-siul enggak jelas sebelum aku menyikut pinggangnya dan dia merangkulku.
“Well, gue baru tahu kalau bakalan kayak gini penyambutannya.”
“Kadang, orang yang sedang dimabuk cinta itu enggak mengenal situasi dan kondisi, Ren.” Aku berbicara bak negarawan.
Reno batuk-batuk kecil, aku yakin hanya dibuat-buat batuknya. “ Ini orang yang sama yang kemarin dulu itu ngomong pengen putus, bukan?”
“Everybody change, gorgeous.”
Dan Reno menanggapinya dengan tertawa.
***

Ada Banyu dan Maya, minus Japheth karena dia sudah tidur. Lalu aku dan Uki, juga Evan dan Reno. Tidak, kita enggak merencanakan untuk orgy. Uki tidak bakalan setuju, kalian ingat kan dia enggak pengen ada orang lain yang melihatku telanjang? Apalagi orgy coba?
Kue ulang tahunnya sudah ditiup tadi, sewaktu Japheth masih bangun. Sekarang ini, acaranya orang dewasa. Ada wine, sampanye, well, Uki hanya meminum es teh dan es lemon. Sekali-kali jus, namun sama sekali enggak menyentuh minuman haram itu. Dulu, sewaktu sehabis dia mau minum minuman berakohol, kejadiaannya udah agak lama sih. Setelahnya dia pernah bilang, “Menurut agamaku, minum-minuman kayak gitu itu dosa. Pacaran sama kamu, berbuat seks sama kamu, itu dosa. Ya jadi, aku lebih milih berbuat seks sama pacaran sama kamu aja. Itu dosa majorku. Lainnya kalau bisa, ya aku hindari. Aku juga sholat lima waktu rajin. Biar nanti di akhirat, kalau ditanya, aku bisa jawab dengan gamblang. Kamu itu memang dosaku, dan aku bertanggung jawab sampai akhirat nanti. Enggak bakal bohong kalau ditanya Tuhan juga. Kalau nanti tetap ke neraka, karena perbuatan baikku enggak bisa menutupi dosaku karena berhubungan batin dan fisik sama kamu, aku juga bakal terima dengan ikhlas.” Isn’t that romantic? I mean, lil bit creepy sih bawa akhirat-akhirat begitu, but still, it’s romantic. Dia tahu benar apa yang dia lakukan, dan dia akan pertanggungjawabkan kepada Tuhannya. Kalau dia sampai sudah dalam tahap mengakui aku dihadapan Tuhannya, berarti dia juga sudah mengakui aku di hadapan teman dan keluarganya. Aku tidak perlu meragukan cintanya Uki lagi, iya kan?
“May, we have no time to wrapping it, so here it is,” Aku melemparkan dua tiket untuk ke Raja Ampat, beserta reservasi hotel, tiket pulang pergi. “Hadiah  dari gue.”
Maya memeluk gue, “Ya Tuhan, lo baik banget. Tahu aja kalau laki lo tabungannya abis-abisan buat beli rumah.”
Aku melepas pelukan Maya, “Apa lo bilang, barusan?”
Maya menutup mulutnya, sepertinya menyadari sesuatu kalau seharusnya dia enggak ngomong begitu. Uki juga agak tegang disana. Aku menatap Maya dan Uki bergantian. “Can somebody do explain? Kamu beli rumah buat orang tua kamu? Atau gimana?”
“Eum, well, eum, actually . . .”
Belum sempat Maya menyelesaikan ucapannya, Uki sudah menarikku untuk menjauh. Dia membawaku ke pekarangan belakang.
Uki beberapa kali menarik nafas panjang, menatapku tajam. Sorry, Ki aku tidak akan terintimidasi. “Itu rumah, hadiah buat hari jadi kita kedua.”
“Berapa kamu beli?”
“Enggak penting.” Uki berucap pelan dan tegas.
Aku mendecak kesal, “Yang bakal tinggal di rumah itu bukan hanya kamu ya nantinya, aku juga kan?” Uki diam, “Berapa harganya?”
“Udahlah Dan, kan itu hadiah aku buat kamu.”
“Aku tanya, berapa harganya?” Aku tetap berkeras.
Uki diam untuk beberapa saat, “Dua.” Dia mengucapkannya dengan sangat pelan.
“Dua juta?” Uki menggeleng. Yaiyalah, ini akunya aja yang bego. Mana ada rumah dua juta? Uang muka cicilan mobil aja enggak ada yang dua juta. Heh, tapi aku lagi emosi, kadang orang emosi itu ucapannya diluar nalar. Understand, kan? Iya, aku ngeles.
“Dua ratus juta?” Lagi-lagi Uki menggeleng.
Aku mengacak-acak rambutku frustasi, “Dua Milyar?” Uki mengangguk.
“Damn it Ki!!” Itu angka lumayan. Lumayan banget. Aku aja enggak ada tabungan segede itu. Oke, kecuali rekening yang dibuat Mama yang atas namaku itu. Tetapi dari hasil gajiku sendiri? Enggak ada. Mengalir seperti air, gajiku mah. Hey, Louis Vuitton enggak murah ya. “Udah dibayar?”
Uki mengangguk. Pantesan Uki jadi pendiem, kehilangan duit dua milyar gitu lho. Tabungan dia selama berapa tahun itu? Aku mau marah karena merasa dibohongi pun enggak jadi. Uki membeli rumah ini untuk kita berdua, kenapa aku harus marah? Alasan dia tidak memberitahuku, jelas ini bakalan jadi suprise. Hanya kebetulan mulut Maya kadang keceplosan.
“Aku mau lihat rumahnya.”
Uki menatapku, masih dengan pandangan mantapnya. “Kamu enggak marah?”
“Ngapain aku harus marah? Udah dibeliin rumah malah marah-marah, itu namanya enggak tahu diri, Ki. Lagian mau marah juga, duit dua milyarnya enggak balik. Jadi marahnya mubazir.” Aku menggandeng tangan Uki untuk masuk dan bergabung bersama Maya dan yang lainnya, “Tapi tetep ada hukumannya sih.” Aku nyengir mesum.
***

“Ini beneran?” Uki bertanya ragu. Aku mengangguk.
“Daniel Pradipta, ini tempat umum lho.”
“Lha terus kenapa?” Aku menjawab enteng. “Buruan deh, kamu udah janji lho bakalan nurut pas aku hukum.” Lanjutku.
Uki melirikku, kombinasi antara sebal dan putus asa, “Enggak gini juga kan?
“Tapi aku maunya kayak gini.” Aku menjawab sambil tersenyum lebar. Mirip bocah yang baru saja menang adu kelereng. Uki mengintip keluar lewat jendela, mimik wajahnya benar-benar terlihat khawatir.
“Kamu kok tega, gitu?”
Aku terkikik, “Lho yang bilang, ‘aku enggak peduli juga ada orang yang mau lihat aku telanjang atau gimana juga’, itu siapa?”
“Masak aku harus telanjang sampai pintu apartment? Kalau ketemu orang pas di lift, gimana? Aku malu, sayang.”
Aduh, enggak bakal mempan sayang-sayangnya itu. Sebenarnya, aku tidak jahat-jahat amat. Ada lift untuk barang yang kalau jam segini jarang sekali digunakan. Ya, kalau misalnya nanti ada orang ya sialnya pacarku aja. Aku sih enggak peduli ya mau ada yang lihat Uki telanjang atau bagaimana. Intinya, mereka cuman bisa melihat. Yang bisa nyentuh, jilat-jilat, isep-isep, sedot-sedot? Ya cuma aku.
“Buruan gih, lepas semua bajunya!”
“Ada beberapa orang yang kenal aku, Dan.” Uki berusaha melobi.
“Terus? Kan ketemu mereka juga enggak setiap hari.” Aku tetep kekeuh.
Kami berdebat lagi selama sepuluh menit, sampai akhirnya Uki mengalah dan melepas semua bajunya. Dia telanjang bulat sekarang, dan nafsuku langsung naik ke ubun-ubun. Aku sebisa mungkin menahannya. Jangan sekarang, nanti saja.
Walaupun sudah telanjang, Uki masih belum turun dari mobil. Padahal suasana parkiran apartment lagi sepi. Uki mengintip lagi lewat jendela, sebelum akhirnya turun sambil kedua tangannya menutupi tititnya. Aku mengikutinya di belakang sambil tertawa tertahan. Membawakan handphone dan dompet milik pacar lucuku itu.
Kita memakai lift untuk barang, dan Uki menghembuskan nafas lega ketika didalam lift tidak ada orang. Aku tersenyum lagi. Muncul ide jahil. Aku menarik Uki kedalam pelukanku, meraba kelaminnya dengan tanganku. Membuat gerakan masturbasi hingga aku yakin Uki ngaceng maksimal.
Uki mendorongku, “Kamu ngapain sih?”
“Biar tititmu itu enggak bisa ditutupi pakai tangan.” Kataku santai.
Uki hanya menatapku gemas namun tidak berkomentar. Dia keluar lift setelah sampai di lantai kamarku berada. Kami berpapasan dengan seorang nenek-nenek yang aku pelototi agar tidak menatap Uki. Uki sendiri berlari agar cepat sampai didepan kamar apartmentku. Dengan kondisi tititnya masih ngaceng, goyang kekiri kekanan pas dia lari tadi. Lucu-lucu bikin horny gitu. Namun si pacar lucuku itu akhirnya sadar kalau yang memegang card key apartment itu aku. Begitupun dengan card apartment milik Uki, juga ada di tanganku. Kan dompetnya, aku yang pegang.
Dia melototiku begitu aku muncul dihadapannya.
“Nenek Sahira lihat tititku.” Katanya setelah masuk kedalam apartment. Sekarang dia tidak repot-repot untuk berusaha menutupi ereksinya. Aku menatap Uki penuh nafsu. Uki itu dewasa, unyu adorable bikin gemes sekaligus bikin nafsu. Apalagi Uki yang telanjang.
Aku memeluknya, meredam semua keluhan yang akan keluar dari bibirnya dengan bibirku. “Komplainnya nanti, seks aja dulu.” Kataku sambil berlutut, dan mulai mengoral Uki. Aku sudah gemas ingin melakukannya sejak tadi di mobil. Lelaki itu kelemahannya ada di perut sama kelamin. Kenapa aku tahu? Karena aku juga lelaki, bego! Cowok itu cepat buat dibikin naik. Nah, kalau mereka lagi nafsu, otak mereka enggak bisa berpikir yang lain. Baru setelah crot lah, otak mereka berfungsi lagi.
Aku mau kasih servis ke Uki Bagus dulu, sebagai hadiah atas keberaniannya barusan. See you . . .
***

Uki Bagus Walantaga
Ini sudah seminggu masuk kantor. Menjalani rutinitas seperti biasa. Dan belum pernah, selama empat tahun aku bekerja, aku menunggu tanggal gajian se-excited ini. Aku memang tidak perlu membayar biaya listrik, air, atau tetek bengek lainnya di apartment Daniel, karena Sophia yang melakukannya. Dengan memaksa, dia agak setengah bingung mau membuang uangnya dimana, karena Daniel juga sudah tidak minta-minta lagi. kecuali BMW mewahnya itu.
Namun aku berkewajiban membayar kebutuhan rumah orang tuaku. Aku tahu, gaji papa masih mampu. Namun, aku berkeras bahwa semenjak aku bekerja, semua tagihan listrik dan tetek bengek rumah, aku yang bayar. Hingga saat ini. Bertengkar dengan ibuku, bukan berarti aku tidak memperhatikan mereka. Mereka tetap keluargaku.
“Ini costumer baru. Calon peluang buat goalnya gede.” Pak Bimo bersuara dari depan. Membuyarkan lamunanku. Oke, jadi aku, Daniel dan pak Bimo ada visit customer ke daerah sudirman. Calon value-nya gede kata Pak Bimo. Tetapi anehnya, sang calon customer ini meminta pak Bimo juga mengajak flavourist-nya. Padahal sebenarnya tidak perlu, itu alasannya kenapa si ganteng juga ikut.
Aku sempat marah sama Daniel sewaktu aku menerima hukuman aneh darinya beberapa minggu yang lalu, tapi ya sudahlah. Rasa marahku sudah lenyap dengan servisnya setiap hari. Selama sisa libur lebaran, baik aku dan dia sama sekali tidak mengenakan baju sehelaipun. Kita berdua benar-benar seperti binatang. Makan, mandi, bercinta. Istirahat sebentar, ngeseks lagi. Makan, ngeseks lagi. Mandi, sambil ngesek lagi. Shit, aku malah mulai terangsang karena bayangan memabukkan itu.
“Tapi kenapa juga, aku harus ikut?”
“Kan request dari kliennya begitu Dan.”
Daniel hanya mengedikkan bahu lalu kembali fokus pada smartphonenya. Aku sendiri juga sedikit heran. Mengajak flavourist sebenarnya wajar-wajar saja, hanya saja agak sedikit aneh. Karena toh, kita tidak membawa sample atau aplikasi apapun untuk didemokan.
Kita tiba di kantor customer sekitar jam setengah tiga, dan disuruh menunggu sebentar. Lalu munculah seorang bapak-bapak ganteng, aku tebak mungkin berusia empat puluhan. Dan mengingatkanku akan seseorang. Eeeum, Jordan. Iya, mirip Jordan. Si bapak ini menyalami pak Bimo, lalu aku kemudian menatap Daniel lama. “Halo Dan, masih ingat saya?”
“Pak Ruli, bukan?” Si bapak ganteng itu tertawa. Lalu kita mulai meeting. Aku melirik Daniel yang sepertinya excited. Padahal, biasanya gantengku itu jarang banget semangat seperti ini. Rapat weekly di kantor aja si ganteng males-malesan, apalagi sama customer coba? Herannya, itu enggak terjadi hari ini.
Jadi pak Ruli ini mau membuat sebuah aplikasi teh ocha mirip dengan milik Indofood Asahi. Aku agak heran, kalau cuman sesepele itu, kan bisa lewat sales saja. Enggak perlu minta pak Bimo dan Daniel kesini juga. Buang-buang tenaga dan waktu. Mungkin pak Bimo juga sepemikiran sepertiku, namun karena ini nanti bakal menambah income, lumayan besar juga kalau goal, pak Bimo diam saja. Pura-pura excited malahan.
“Daniel, bisa tidak kita bicarakan soal project ini diluar jam kantor?” Kita berempat sudah selesai meeting dan tengah duduk di lobi. Menunggu pak Bimo yang kebetulan tengah ke toilet. Mobilnya kan cuman bawa satu tadi.
“Enggak bisa. Saya lembur atau enggak lembur gajinya sama.” Aku mengelus kepalaku pelan. Si ganteng kalau jawab suka enggak dipikir dulu.
Pak Ruli terlihat berpikir sebentar, “Mungkin kita bisa ngomongin next project atau bagaimana, gitu?”
Daniel menoleh kearah pak Ruli dengan wajah lelah, “Gimana kalau ngomongin tentang mama saya saja? Saya penasaran dengan hubungan pak Ruli dengan mama saya dulu.”
Pak Ruli menegang, aku bisa melihat rahangnya yang mengeras. Aku jadi bingung sendiri, ada yang gantengku ini belum ceritain ke aku?
“Oke. Mau dimana? Berdua saja?”
“Ichi Resto di Senayan gimana, Pak? Enggak dong, bertiga sama pacar saya. Nih yang duduk disamping saya. Hari Jum’at ini?” Pak Ruli langsung melihat kearahku tidak suka. Namun, aku juga balas menatapnya. Aku tidak mau terintimidasi hanya karena dia bos besar.
“Oke.” Jawab pak Ruli setelah lama diam.
***

Ternyata Daniel tidak hanya mengajakku, dia juga mengajak Sophia. Namun menyuruhku, untuk mengatakan bahwa kita hanya makan malam bertiga. Daniel menyuruhku yang memberitahu Sophia, katanya aku pandai bohong sedangkan dia enggak jago bohong. Kurang ajar kan bibirnya? Minta dicium enggak, tuh? Ngatain pacar sendiri pinter bohong? Itu kan bukan pujian.
Kita pergi menggunakan mobil camry milikku. Sophia cantik banget, sumpah! Sama sekali tidak terlihat kalau sudah memiliki anak usia dua puluhan. Sophia memakai gaun hitam dengan belahan dada rendah, sepatu boots sepanjang lutut. Belahan kakinya juga bikin ngiler, aku saja sampai takjub.
Tapi beda dengan Daniel yang bilang penampilan Sophia enggak matching. Dia bahkan menyuruh mamanya untuk mengganti boots-nya dengan high heels. Padahal dimataku, Sophia sudah sempurna banget. Gaunnya mirip banget sama yang dipakai Selena Gomez di video klipnya yang Same Old Song. Bedanya, Sophia dadanya berisi, belahan kakinya sampai paha.
Aku dan Daniel memakai kemeja formal. Karena kita akan makan di Ichi Resto, sebuah restoran ala Jepang yang punya peraturan tentang table manner. You know lah, mesti formal gitu.
“Dan, what it is? Sejak kapan kamu mau ngajak Mom makan malam kayak gini? Mau ngumumumin tanggal pernikahan kalian?” Aku yang dibalik kemudi langsung batuk-batuk kecil.
Daniel mengelus tengkukku sebentar, “Nothing, it’s just a little a familly time, Mom. Is that crime?”
Sophia mencibir, mengacak-acak rambut Daniel dengan sayang sebelum akhirnya fokus melihat jalanan Jakarta. Namun Sophia agaknya menjadi bosan melihat macetnya Jakarta sore ini, dia lalu mengajukan pertanyaan untukku. “I wanna ask you something, Uki. Since you dating my son, I’m little curious selama satu tahun ini kamu tahu tentang apa aja soal Daniel.” Sophia melirik jendela mobil lagi, “Daripada aku mati bosan, could I?”
Aku melirik Sophia dari kaca spion, lalu tersenyum. “I know almost everything about your son, Soph.” Daniel terkekeh disampingku, lalu mengecup pipiku.
“You know everything about my son?” Sophia terkekeh, mirip Daniel barusan. Sepertinya bukan hanya wajah, kepribadian mereka pun mirip. “What is Daniel allergic too?”
“Seriouslly Soph? It’s that easy, pine nuts, all of kind vegetable and the full spectrum of human emotion.”
Daniel merengut, gemesin banget. “Oh that’s . . . that was funny.” Aku mencubit pipinya gemas. Sophia diam, berarti dia setuju dengan jawabanku kan?
“Do Daniel has any scars?” Sophia bertanya lagi. Jalanan Jakarta masih padat. Mungkin kita baru akan sampai Ichi Resto setengah jam lagi.
Aku meringis sejenak, mengingat-ingat tubuh Daniel dan agak menggeram pelan. Aku ereksi, padahal hanya mengingat-ingat saja. “No. But I am pretty sure that Daniel has tattoo.” Aku tersenyum, “And I know exactly where they are.”
“We done with all your question, Mom. Lama-lama mommy bisa nanyain dimana Uki dan aku pertama kali berhubungan seks.” Daniel mengerang.
“Emang dimana?” Tanya Sophia penasaran. Lalu tiba-tiba dia menjentikkan jarinya, “Mom inget, pas Mommy dateng waktu itu kan?”
“Aaaargh, mommy rese! Ki, kebut kek, biar cepet sampai. Mommy rese kalau lagi laper.”
“Gimana bisa ngebut ganteng, lha mobilnya aja banyak tuh didepan. Jalannya lelet, kamu marahin gih mobil-mobil didepan.” Daniel menatapku horror lalu membuang muka. Sementara itu, aku dan Sophia berbagi senyum. Setidaknya, aku benar-benar tahu bagaimana membuat Daniel tidak emosi. Namun aku juga tahu bagaimana cara membuatnya emosi. Lebih gampang kan? Daniel enggak susah-susah amat kok buat dimengerti. Otaknya lempeng. A ya A, B ya B. Daniel gitu orangnya.
Kita tiba di Ichi lima menit lebih terlambat dari waktu yang dijanjikan. Namun Daniel sepertinya tidak merasa menyesal. Dia bertanya kepada pelayan tempat yang sudah di booking oleh Ruli Dirga. Dan aku bisa melihat sekilas kecemasan di mata Sophia.
Sewaktu pelayan Ichi Resto mengantarku, Daniel dan Sophia ke meja Ruli. Bukan hanya Sophia saja yang terkejut, Ruli juga. Dia hampir berdiri dan akan berlari memeluk Sophia, namun sepertinya Ruli menahan diri. Sophia, lain lagi. Aku tidak bisa membaca raut wajahnya. Senang, sedih, kaget atau tertekan.
Daniel, otherwise, malah duduk dengan nyaman setelah melepas sepatunya. “So, can you both explain? My PARENTS? Your kid, here need to know. And I am not idiot.” Kata Daniel.
Sophia berdeham sebentar sebelum akhirnya melepas sepatunya dan bergabung bersama Daniel dan Ruli. Aku menyusul dalam bingung. Benar-benar bingung.

Bersambung. . .


Aye-aye, tinggal satu atau dua chapter lagi tamat. Yaaaaaaaas! Hahaha!

Minggu, 13 Desember 2015

BOTTOM 19


Peringatan keras!!
Cerita ini penuh dengan adegan fulgar dan seks juga pertumpahan darah. Cieileh!! Jadi kalo engga suka dengan tema seperti ini harap jangan dibaca. Thanks!
***

Evan Sutedjo
Hidup gue menyedihkan! Ini masih dalam suasana lebaran, dan gue malah terjebak di kos-kosan bersama Reno. Kalau mau makan harus ke mall, karena warung makan kebanyakkan tutup. Dan baik gue maupun Reno sama-sama bukan ahli dapur. Oke, ada part bagusnya. Momen-momen dimana gue dan Reno bebas untuk bermesraan hampir dimana saja, di area kosan. Karena hanya ada kita berdua disini.
Seharusnya, gue pulang ke Bandung. Hanya saja, bayangan orang tua gue yang bakal menanyakan, mana pacar gue? Kapan nikah? Ya, gue lebih mending disini. Seenggaknya gue enggak bakal ketemu sama orang-orang yang hanya sekedar gue tahu tetapi kadar keponya melebihi orang tua gue sendiri.
“Laper.” Reno ngomong, baru saja, namun wajahnya enggak berpaling dari tv. Apa sih yang dia tonton? Cuman liputan lebarannya artis, tradisi lebaran di daerah atau negara lain. Bikin makin nelangsa saja.
“I’m not your bitch.” Gue berkata kesal. Gue juga laper kali. Jadi karena sama-sama laper, mbok ya barengan gitu nyarinya. Dia bisa bangun, cuci muka, trus idupin tuh mobilnya. Kita makan bareng! Masak gue yang mesti keluar sendirian? Pacar macam mana itu?
Reno bangkit berdiri, “Sure, you are.” Dia berjalan menghampiri gue yang duduk di kursi, dengan laptop di meja. “You are my bitch.” Reno mulai memeluk gue dari belakang. Tangannya menyusup dari bawah kaos yang gue pakai, mencari-cari puting gue. Mencubitnya lembut sambil lidahnya bermain-main di telinga gue.
“Gue enggak percaya kalian mau menuju proses pembuatan bayi dengan kamar kos terbuka kayak gini. How inappropriated!” Daniel masuk membawa sekantong kresek putih besar. “Mata polos gue ternoda.”
“Hai ganteng.” Sapa Reno, “Lo tahu aja gue lagi kelaperan.” Lanjutnya sambil tersenyum.
“Hai juga Reno,” Gue melihat Daniel melirik kebawah, “Thanks for the show.” Sekarang mata puppynya itu melirik gue, “Tujuh belas senti huh?” Iya, Reno memang hanya memakai brief tipis, dan tititnya yang sedang ngaceng itu tercetak jelas. Orangnya hanya cengengesan sambil mengambil boxer dari lemari gue. Beberapa baju dan celana Reno memang berada disini. Begitu juga dengan beberapa baju gue yang berada di lemarinya. Enggak usah gue jelasin kenapa bisa begitu.
“Lo bawa apa?” Gue bangkit berdiri dari kursi gue. Enggak seperti Reno, pakaian gue sopan.
Daniel mengangkat kedua bahunya lalu kemudian duduk di lantai, “Sushi.”
“Lo enggak sama laki lo?”
“Well, kalau gue punya hati sekuat baja buat disindirin terus ama emaknya, atau dijodoh-jodohkan dengan pria-pria pilihan emaknya, gue pasti enggak disini Van.”
“Gue pikir elo udah enggak punya hati malah.” Reno ikut nyeletuk sambil membongkar-bongkar barang bawaan Daniel. Kita semua tahu, siapa yang paling lapar disini.
Reno ini setipe dengan Daniel, apa yang ada dipikirannya langsung diomongin ke orangnya. Bedanya, Daniel enggak pandang bulu, bisa nyolot ke siapa saja, bahkan binatang sekalipun atau tumbuh-tumbuhan. Reno, hanya nyolot ke orang yang dia anggap enggak bakal tersinggung kalau dia ngomong begitu. Dia agak pendiam sama orang asing atau yang enggak terlalu akrab, adorable kan?
Dan soal binatang dan tumbuhan, gue serius. Daniel pernah bilang kata-kata menyakitkan ke anjing milik Pak Ridwan, tetangganya di Bandung. Berakhir dengan permusuhan dingin antara keduanya hingga sekarang. Itu anjing kalau melihat Daniel udah langsung menggonggong galak. Daniel juga enggak kalah galaknya. Sama anjing. Gue kok bisa ya temenan sama dia dari SD?
Dan tumbuhan, Daniel pernah memaki sayur bayam, yang tidak sengaja bisa mampir ke makan siangnya. Waktu itu, Daniel memesan bakmie goreng daging babi. Dan ada satu bayam yang nyempil disitu. Malangnya si bayam yang harus dimaki-maki sama Daniel. Plus, pelayan restorannya.
“Aah, hanya karena lo enggak bisa dapetin gue, bukan berarti lo harus sinis ke gue kan, Ren?”
“Sial lo! Laper banget nih gue, mana Evan enggak bisa masak lagi!”
“Kamu kan juga enggak bisa masak!” Gue muncul lagi sehabis mengambil piring dari dapur.
“Tapi kan tugas istri untuk bisa masak.”
“Sejak kapan aku jadi istri kamu, hah?” Enak saja istri, kasih duit bulanan aja kaga pernah, mau nganggep gue istri dia. Nih, makan nih pantat. Eh, jangan dia kesenengan malah ntar.
“Kalau laper makan dong, jangan malah berantem. Heran gue, kapan sih kalian mau jadi pasangan yang dewasa kayak gue sama Uki?”
Reno mencibir sebentar sebelum akhirnya sibuk makan.
“Lo enggak makan?” Daniel menggeleng.
“Lo ada masalah?” Gue bertanya sambil mengambil saus.
Lagi-lagi Daniel menggeleng. Guenya malah yang jadi agak enggak enak hati. Kalau Daniel seperti ini, justru masalahnya cukup complicated. Dan Daniel itu jarang mengalami masalah yang complicated. Jarang, hampir enggak pernah. Well, bukan berarti Daniel enggak pernah ada masalah, tapi dia tipe yang kalau ada masalah langsung babat, selesain saat itu juga. Ada bentrok sama orang, Daniel juga bakal langsung nanya. Langsung dicari sumbernya dimana, kalau enggak langsung pecat. Kalau itu orang bawahannya.
Gue menghabiskan makanan gue secepat mungkin. Untuk kemudian fokus ke Daniel. Makan sambil ngobrol serius ke Daniel itu impossible buat gue lakuin. Dia kayak belut, bisa berkelit dan memutar balikkan topik.
Gue keluar, membawa piring, sendok dan sumpit gue ke dapur kosan. Masuk lagi hanya untuk membawa Daniel keluar ke teras. Mengabaikan Reno yang belum menunjukkan akan menyudahi sarapannya. Mungkin dia kehabisan energi karena harus genjot gue beronde-ronde semalam.
Gue menyodorkan minuman alkohol kurang berkelas yang gue beli di supermarket kemarin malam, ke Daniel.
“Cerita gih ke gue.”
Daniel menerima botol itu, meneguknya sekali. “Anjir, minuman apaan nih? Asem banget!”
“Iya, asem ada kecut-kecutnya dikit kayak kehidupan manusia. Ntar lo juga terbiasa sama rasanya. Enak di tenggorokkan kok.”
“Sejak kapan cara ngomong lo kayak ahli filsafat gitu?”
“Sejak lo ada masalah, tapi enggak mau cerita ke gue.”
Daniel menatap gue beberapa detik sebelum akhirnya memandang kedepan. Berkali-kali menarik nafas panjang. Ini masalahnya separah apa sih?
“Gue pengen putus dari Uki.” Gue menoleh. Menatap Daniel dengan pandangan tidak percaya. Gue berkali-kali berterima kasih ke Uki karena dia berhasil merubah Daniel ke sosok yang lebih manusiawi. Lidahnya, enggak setajam pas dia masih belum pacaran sama Uki. Lebih bisa down to earth. Lebih perhatian ke sekitar, enggak secuek dulu. Paling penting, bisa membedakan mana manusia mana hewan, ini gue serius. Gue juga melihat perubahan penampilan Uki. Mulai gaya, potongan rambutnya kekinian, badannya mulai terbentuk. Wajahnya lebih terawat dan bersih sekarang. Itu semua karena Daniel kan? Mereka saling memengaruhi satu sama lain, terus kenapa sekarang tiba-tiba Daniel pengen putus?
Daniel menyodorkan Iphonenya, yang gue terima dengan pandangan masih bertanya-tanya. Gue membaca percakapan Daniel dan emaknya Uki di WA. Agak mengernyit sebentar, ternyata ini perempuan satu masih denial juga anaknya udah jadi homo.
“Gini ya Van, gue sayang banget sama Uki. Enggak pernah gue sesayang ini sama orang. Di satu sisi, gue pengen dia sama gue. Dia itu bahagianya sama gue.”
“Trus kenapa lo pengen putus?” Potong gue cepat.
“Gue nutup kemungkinan-kemungkinan kebahagiaan yang lain buat dia. Dia bisa nikah, punya anak. Ya Tuhan, Van! Dia bisa! Dia masih tertarik gitu lho sama perek, masak harus berakhir sama gue sih? Kadang gue ngomong sama diri gue sendiri, gue egois banget sama orang yang gue sayang.”
Gue agak kaget sebentar. Enggak nyangka kalau Daniel bisa berpikiran seruet ini. I mean, ini Daniel gitu lho, laper ya makan. Horny, ya ngeseks. Marah, ya berantem. Udah enggak cinta, ya putus. Enggak suka sama orang, ya bakalan manjauh. Daniel selalu sesimple itu.
“Lo ngomong sama Uki?”
“Tentang gue mau putus sama dia? Ya enggaklah, gue aja masih bingung.” Gue tambah syok lagi. Daniel sedang menapakki karier berbohongnya untuk pertama kali. I mean, the big one.
“Menurut gue, jadi egois itu kadang penting lho Dan.” Reno muncul dari dalam kamar.
“Sampun kelar Kanjeng Raden Bagus Moreno Mangkuwidjojo?” Gue nyeletuk, menyebut nama lengkap Reno. Dan dia selalu benci, ketika gue melakukannya. Iya, dia masih ada darah keturunan ningrat-ningrat begitu di darahnya. Darah biru, istilahnya.
Reno mengabaikan ucapan gue. “Kayak gue sama Evan, kita berdua iri sama lo dan Uki yang bisa terbuka sama orang tua kalian masing-masing. Kalaupun belom ada restu dari salah satunya, lo mau nyerah gitu aja? Ngorbanin satu tahun lo bareng Uki gitu saja? Lo enggak mikir kalau Uki ada kemungkinan enggak suka anak kecil? Enggak pengen punya anak? Sebuah hubungan itu kan keputusan dua orang Dan, bukan satu orang. Karena Uki juga berada di perahu yang sama barengan elo. Kalau lo mau ke Selatan, lo harus ngobrolin ke Uki, biar tujuannya cepat bisa dijangkau.”
Gue melongo, gue kira Reno otaknya cetek. Dia bisa ngomong sejelimet ini juga toh?
“Dan kalau itu perahu tenggelam, yang jatuh ke air bukan cuman elo, tapi Uki juga. Iya, kalau lo bisa berenang, gimana kalau Uki enggak bisa berenang sampai ke tepi?”
“Artinya?” Ini gue yang nanya. Apa sih pakai istilah perahu-perahu dan renang-renang segala.
Reno tersenyum maklum sebentar kearah gue, dasar semprul! “Yang bakal patah hati ketika Daniel sama Uki putus, itu bukan cuman Daniel doang, tapi Uki juga. Iya, mungkin kalau Daniel bisa move on. Tapi kalau Uki enggak bisa? Lalu dia stres dan gila? Banyak kan kasus orang bunuh diri karena putus cinta? Ngerti sayang? Kamu bikin gemes deh.” Reno mencium pipi gue berulang kali. Untuk yang kelima, gue terpaksa mendorong kepalanya.
“Gue rasa Uki cukup dewasa.” Daniel berbicara.
Reno menatap Daniel, “Dia dewasa karena pengen manjain elo Dan. Dan sudah terbiasa dewasa. Dia anak sulung, di didik untuk lebih dewasa ketimbang adik-adiknya, bukan? Enggak ada salahnya lho manjain dia sekali-kali. Tanggungan di pundaknya gede lho, karena harus jadi panutan buat adik-adiknya. Jangan egois Dan, putus sama Uki, takutnya malah bakal mendorong Uki buat melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan selama ini. Lo sendiri tahu, dia anak baik selama ini. Anak baik itu sekalinya gone bad, lebih parah dari aslinya yang emang udah bener-bener bad dari sononya.”
Lo enggak mau ntar Uki jadi malah dating sama banyak cowok-cewek enggak peduli ama kesehatan atau kebersihannya lagi, kan?” Sambung Reno lagi.
Daniel menoleh, “Lo ini psikolog ya?”
“Lo udah temenan sama gue berapa lama, baru nyadar hah?”
“Taek lo!” Daniel diam lalu tiba-tiba tertawa. “Iya ya, begok banget gue kalau ampe putus ama Uki, I mean itu kan tujuan emaknya Uki? Sejak kapan gue ngebiarin orang lain menang atas gue?”
Reno menepuk pundak Daniel. Aduh, jadi makin cinta kan gue sama Raden Bagus yang ini.
“Cari alkohol yang enak yuk! Alkohol punya bini lo enggak enak sama sekali, seleranya payah.”
Dua laki-laki ganteng yang gue sayang dengan cara berbeda itu sama-sama tertawa.
***

Uki Bagus Walantaga
Aku hafal ritual Daniel setiap pagi lebih dari aku hafal jumlah bulu di tanganku sendiri.
Oke, itu mungkin sedikit berlebihan. Tapi aku memang lebih peduli dengan Daniel daripada jumlah bulu di tanganku. Ataupun bulu kaki, dan bulu-bulu di tempat lainnya. Kecuali, dia dengan nada manja mulai mengajukan protes, “Sayang, dicukur dikit boleh? Biar aku ngisepnya jadi lebih nyaman.” Itu akan jadi beda cerita. Jujur, aku memang selalu menjaga bulu disekitar selakanganku agar tetap rapi. Karena sekarang, sejak satu tahun tiga bulan yang lalu, yang menikmati area itu bukan hanya aku saja. Jadi, aku juga harus mempertimbangkan kenyamanannya.
Ngaco, ngapain jadi ngebahas bulu selangkangan?
Pagi ini, rutinitasnya agak berbeda. Well, sangat berbeda. Biasanya aku bangun lebih dulu. Masak, atau sekedar memanggang roti, untuk sarapannya si ganteng. Nyiapin susu dan jus, karena aku tahu si ganteng agak kurang suka dengan sayuran, aku selalu menyiasati agar bagaimana caranya dia memakan sayuran. Dan itu enggak gampang. Lidah si ganteng sensitif sama sayuran. Even sudah dimodifikasi sedemikian rupa, dia masih ngeh aja kalau itu bukan daging beneran. Salut!
Pagi ini, si ganteng bangun duluan. Hanya memakai boxer dia menyiapkan sarapan untukku. Oke, bukan kali pertama Daniel memasak untukku. Pas bulan puasa, dia sering sekali menyiapkan sahur. Kalian ingat kan?
Nah, hari ini kan aku tidak puasa. Tidak ada hari spesial juga, lalu kenapa Daniel mau repot-repot bangun jam enam pagi cuman agar bisa masak nasi goreng untuk aku sarapan?
Bukan aku mau curiga atau bagaimana ya, hanya saja kan agak aneh.
“Mau jus atau susu Ki?” Perhatianku dibagi menjadi dua. Nasi goreng daging plus telur mata sapi yang kelihatan enak itu dan Daniel yang hanya memakai boxer lusuh yang enggak kalah enaknya. Kalau yang ini pernah aku cicipi ratusan kali dan belum bosan.
“Ehm, jus aja Yank.”
Daniel tersenyum. Ganteng! Aku saja sampai ngilu saking gantengnya. Dia lalu menarik kursi dan menuntunku duduk disana.
“Kamu enggak lagi pengen sesuatu kan?”
Daniel menoleh, “Ha?”
“Pengen putus gitu, misalnya?” Lanjutku.
“Kemarin sempat kepikiran Ki.” Aku meneguk ludah. “Trus aku pikir-pikir lagi, aku ini kan udah semakin tua, ngapain sih masih nyari-nyari mulu. Iya, enggak?”
Si Daniel mungkin memang lagi sakit. Sejak kapan dia menganggap dirinya sendiri tua? Apalagi wajahnya masih kekanakan begitu. Tingkah lakunya juga sih.
“Sayang kamu sakit ya? Perlu ke dokter?” Kataku akhirnya. Daniel dengan santai malah menurunkan boxernya. Penisnya menggelantung indah didepanku sekarang.
“Sarapannya yang cepet ya, aku tunggu di bathtub.” Daniel memelukku dari belakang. “Semalem, kamu pulangnya malem banget. Aku enggak tega buat minta.” Aku meneguk lidah.
Daniel melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh. Aku sendiri semalam pulang agak malam karena berantem dengan mama. Aku enggak suka caranya mencampuri urusan pribadiku dengan Daniel.
Dan sekarang, aku makan dengan konsentrasi yang sangat minim. Tangan dan mulutku menyendok dan mengunyah dengan otomatis, sementara otakku sudah membayangkan tubuh Daniel didalam bathtub dan apa yang akan aku lakukan dengannya tidak lama lagi.
Aku meminum jusku, melepas semua pakaian yang menempel di tubuhku, melemparkannya ke keranjang pakaian kotor. Aku masuk kedalam kamar mandi, melihat Daniel sudah berada didalam bathtub dengan tubuh ditutupi busa. Aku nyengir sebentar sebelum akhirnya menggosok gigiku. Aku ingin nafasku segar, bukannya bau daging yang baru saja aku makan.
Penisku sudah tegang luar biasa dibawah sana. Berdenyut ingin bertemu dengan idolanya. Aku berkumur, meletakkan sikat gigiku ke tempatnya semula, berjalan tenang kearah Daniel, lalu mencium bibir merahnya. Bibir yang selalu membuatku penasaran, kenapa bisa semerah ini. Perlahan, tubuhku juga mulai masuk kedalam bathtub dengan bibirku dan bibir Daniel masih bertaut.
Tangan Daniel tidak bisa tinggal diam. Dia memang bukan tipe partner bercinta yang pasif. Kadang, dia malah lebih agresif daripada aku sendiri. Tangan kanannya memeluk leherku, memintaku untuk lebih mendekat, mengeksplore bibirnya lebih lagi.
Tangan kirinya dengan iseng membelai bola testisku. Mengusapnya lembut, aku mengerang tertahan. Jemarinya masih menggelitikiku sebelum akhirnya menyentuh penisku. Menggegamnya dengan kuat, lalu membuat gerakan maju mundur dengan ritme teratur.
“Aku mau gantian.” Kata-kata Daniel membuatku tercengang. “Janji, kali ini enggak bakalan bikin kamu sakit.”
Aku meringis, teringat saat-saat dimana penis Daniel yang cukup besar itu mencoba menembus lubang analku. Sakitnya, perihnya, sesaknya, aku masih ingat betul.
Aku seharusnya curiga dari awal, kenapa si ganteng mau repot-repot bangun pagi dan membuatkanku sarapan kalau dia tidak ada maunya. Ternyata ini maunya. Aku menghela nafas, “Kamu tahu kan aku enggak bisa?” Kataku berusaha membujuk Daniel.
Daniel pasang tampang andalannya. Aduh, siapa yang tahan sih ditatap dengan puppy eyes-nya yang adorable itu. “Sekali-kali Ki.”
Dan aku, pacar yang enggak pernah bisa berkata ‘tidak’ untuk Daniel. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Tuhan lindungi pantatku.
“Oke.”
Dan senyum iblis Daniel langsung terkembang. Senyum yang sudah lama tidak aku lihat itu. Senyum yang dulu sering dia pamerkan saat belum berpacaran denganku. Dan aku langsung merinding.
***

Daniel tengah berada di sofa, didepan tv. Bibirnya menyenandungkan lagu yang tengah dibawakan oleh Katy Perry. Kita tengah menonton ulang Superbowl Half Time Show, dimana Katy Perry sebagai guest listnya. Aku memegangi pantatku. Antara sakit dan enak. Hanya satu ronde kok, sebelum akhirnya Daniel minta gantian lagi. Katanya, dia lebih nyaman menjadi bottom. Aku sih terserah saja, selama bisa bikin si ganteng bahagia, apa saja aku lakukan.
Tangannya menarik kepalaku untuk tiduran di lengannya. Selimut menutupi tubuh telanjang kita berdua. Aneh, tidak biasanya Daniel bersikap dominan seperti ini. Biasanya, dia yang akan ndusel-ndusel ke tubuhku. Entah ke dada atau ketiak. Sekarang, dia memaksaku untuk ndusel-ndusel ke tubuhnya. Bukannya aku tidak suka, aku hanya merasa aneh.
“Kamu terlalu banyak mikir Ki. Try to rilex just for lil bit.” Aku menarik nafas panjang sebelum benar-benar memasrahkan diriku untuk rebah didalam pelukan Daniel. Aku menyukai aroma tubuh Daniel. Bau sabun cair, dicampur deodorant plus aroma alami kulitnya adalah perpaduan yang magis. Seperti narkotika untukku. Candu, yang tidak bisa aku hentikan dan memang aku tidak mau berhenti kecanduan.
Sekarang bibirnya melantunkan lagu California Girls. Dan aku ikut menatap layar tv. Katy Perry memang cantik, namun kalau menyanyi secara live, tidak sebagus dengan yang versi record-nya ya? Aku lebih menikmati senandung dari bibir Daniel, jujur saja.
“Payudaranya Katy bagus, bulet gitu.” Cetusku tiba-tiba. Enggak tahu juga, kenapa aku tiba-tiba bilang begitu. Dan disini, dengan rambutnya yang dikuncir kuda, Katy terlihat sangat seksi. Jujur, aku tidak terlalu suka dengan perempuan yang terlalu kurus. Misalnya Taylor Swift atau Ariana, mereka berdua terlalu kurus untukku. Aku takut mereka terlalu rapuh, jika sedang aku peluk atau ketika melakukan hubungan seks.
Aku lebih suka yang agak sedikit montok. Katy ini contohnya. Atau Beyonce. Yang pantat dan payudaranya besar, hahaha. Namanya juga laki-laki.
“Kalau Missy Elliot?” Tanya Daniel. Missy baru saja bergabung dengan Katy diatas panggung Superbowl.
Aku tertawa pelan, “Enggak yank, aku kan udah punya kamu.”
“Jadi kalau ada Katy, kamu bukan punyaku?”
“Lha kok gitu kamu nyimpulinnya? Aku kan cuman bilang dadanya Katy bagus, bulet.” Ini apa lagi, berantem cuman gara-gara teteknya Katy.
Aku semakin ndusel. Entahlah, Daniel mengarahkan diriku untuk bermanja-manja dengan dirinya dan aku akan manfaatkan. Sebelum jiwa kekanakkannya muncul lagi dan merengek-rengek minta sesuatu. Sekarang Missy Elliot nyanyi sendiri. Katy-nya mungkin lagi ganti baju.
“Missy kan juga cantik.” Kata Daniel kemudian setelah agak lama terdiam.
Aku menahan senyumku, “Iya, wanita kan memang cantik.”
“Kenapa harus nahan tawa gitu? Racist kamu.”
“Racist dari mananya sih? Kan aku udah bilang Missy cantik, yank.” Obrolan enggak penting seperti ini, buat orang lain pasti membuat kupingnya risih. Tapi menurutku, pacar ideal adalah pacar yang bisa mengobrol tentang apa saja, se-silly apapun topiknya.
“Karena dia kulit hitam.”
“Katherine Graham juga kulit hitam, tapi dia cantik.”
“Nah kan! berarti kamu secara enggak langsung bilang Missy enggak cantik!”
“Buat aku, iya dia enggak cantik. Buat orang lain kan belum tentu. Toh nyatanya kamu bilang Missy cantik.”
“Iya sih, Missy emang enggak cantik.”
Lha, aku melongo. Inti dari debat barusan terus apa? “Kamu minta cium bener ya?” Aku mengangkat kepalaku, mencium pipi, daun telinga, kening, pokoknya apa saja yang bisa aku jangkau dengan bibirku. Daniel kegelian, namun tidak menolak.
“Tuh, Katy ada lagi.” Kata Daniel, nafasnya masih tersengal-sengal akibat kiss attack-ku barusan.
“Aku enggak peduli sama Katy, kalau disini sudah ada yang lebih bisa aku nikmati.” Aku menyibak selimut yang menyelimti tubuh telanjang kita berdua. Memandang penuh kekaguman atas makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Aku selalu berpikir bahwa Tuhan menyediakan waktu khusus sewaktu menciptakan Daniel.
Matanya, menatapku gemas. Hidung mancungnya, pasangan yang sempurna untuk bibir merahnya. Aku membelai bibir merahnya dengan jariku. “Kenapa bibir kamu bisa semerah ini sih Dan?”
Daniel tersenyum sambil memasukkan jariku kemulutnya, menghisapnya seolah-olah dia tengah menghisap penisku. Aku mengerang tertahan.
“Karena aku enggak merokok.” Dia menjawab, lima menit kemudian.
“Aku juga enggak merokok, tapi bibirku enggak semerah bibir kamu.” Aku menggunakan jariku yang baru saja dihisap oleh Daniel untuk bermain-main di lubang analnya. Daniel menggeliat. Dia melebarkan kedua kakinya, memberiku akses lebih. Jari-jariku berputar-putar disana, sebelum akhirnya menerobos masuk. Sulit, walaupun aku sering melakukannya.
Bibir merah Daniel terbuka, dan aku tergoda untuk mengecupnya lagi. Menggeram pelan saat Daniel semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Penisnya yang sudah ereksi menusuk-nusuk perutku. Sementara jariku masih saja berkutat di bawah sana, sesekali keluar dan membelai kulit diantara lubang anal dan testisnya.
“Mau gantian lagi?” Godaku.
Daniel menggeleng, walaupun rambutnya sudah dia potong cepak, dia tetap menggemaskan.
“Coba bilang, kamu mau apa?”
“Aku mau penis kamu yang udah ngaceng itu, masuk ke tempat dimana seharusnya dia berada.” Aku tertawa.
“Kamu enggak asik. Enggak ada mohon-mohonnya atau gimana gitu.” Daniel memamerkan senyum iblisnya lagi, lalu kemudian membalikan tubuhku. Dia berada diatasku sekarang.
“Why I must begging? While, you’re so desperate want this?” Daniel adalah seorang pencium yang luar biasa. Namun, dia juga seorang pengoral yang tidak ada bandingan.
“Jangan lama-lama disitu yank, ntar aku keburu keluar.” Aku memperingatkannya. Daniel terkekeh. Sebelum wajahnya muncul lagi dihadapanku.
“Kiss me, dickhead.”
“What?”
Daniel mendekatkan bibirnya di telingaku, “Kiss me.”
Aku tersenyum, sebelum akhirnya aku mengabulkan permintaanya itu dengan senang hati. Aku baru saja akan membalikkan tubuhnya ketika gedoran di pintu apartment mengagetkanku dan Daniel.
“Shit, aku lupa kalau ini masih siang hari.” Daniel mengambil brief putihnya. Memakainya dengan cepat lalu menuju ke pintu.
“Uncle Daaaaaaaan!! Japheth, bawa oleh-oleh banyak buat uncle Dan sama Uncle Uki.” Beberapa saat kemudian suara anak kesayangan Daniel itu berkumandang keras. Aku menutup wajahku dan menenggelamkannya kedalam selimut.
Tenyata Maya dan Japheth yang datang. Aaaaaargh, baru kali ini aku membenci Maya dan ingin mencekiknya.


Tamat.

Kidding . . .
Buahaha, jadi ini bakalan selesai setelah Daniel tahu siapa bapaknya dan mau maafin bapaknya yang udah ninggalin dia puluhan tahun. Bakal di chapter berapa? Ya mana gue tahu ya, gue aja belum kepikiran. Buahaha. Oke? Jangan lupa buat baca cerita gue di wattpad juga. Kalau enggak, gue ngambek.
https://www.wattpad.com/user/Ginggietama
Bercanda lagi, gue enggak peduli mau ada yang baca atau kaga, gue tetep nulis kok. Namanya juga hobi.
Tentang Barista, bakal gue selesain kok. Hanya enggak tahu kapan. Gue bukan tipe penulis yang lupa sama apa yang udah gue mulai. Gue hanya lagi stuck sama itu cerita. So please, understand lah ya. Gue kalau update kan juga gue kasih tahu. Oke? I hope you guys understand.



Jakarta, 13 Desember 2015 diatas Kasur sambil memeluk guling hidup.


Ardhinansa Adiatama.