FOLLOW ME

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2016

BOTTOM Last Chapter

Peringatan keras!!
Cerita ini penuh dengan adegan fulgar dan seks juga pertumpahan darah. Cieileh!! Jadi kalo engga suka dengan tema seperti ini harap jangan dibaca. Thanks!
***

Uki Bagus Walantaga
Aku masih bingung. Kita bertiga sudah kembali ke apartment. Daniel tengah membuatkan coklat panas untuk mamanya. Ada rasa bersalah di matanya. Aku masih berada di depan tv menemani Sophia. Kalian mau tahu kejadian di restoran tadi? Enggak ada yang spesial kok. Enggak ada berantem-berantemnya. Sophia tidak membuka mulutnya sama sekali, sehingga Daniel terpaksa mengajak mamanya pulang dan mengabaikan Ruli. Aku yang harus meminta maaf kepada Ruli.
“Mom,” Daniel menyerahkan gelas berisi coklat panas itu, lalu merebahkan dirinya di pelukan Sophia, “I am sorry for being jerk, tonight.” Katanya kemudian dengan nada lirih. Tangan Sophia meraih kepalaku, membawaku ke pelukannya juga. Aku dan Daniel bagai dua saudara yang tengah mencari kedamaian di pelukan mamanya.
“Ruli doesn’t know he had kid from me, Dan.” Tubuh Daniel menegang, aku menggegam tangannya.
Aku melihat Daniel tersenyum tipis, “Mom, kalau belum siap buat cerita, Daniel masih bisa nunggu kok.”
“Gimana kalau Mommy yang udah kehabisan waktu, Dan?”
“Mommy jangan ngomong gitu, nanti Daniel sendirian.”
“Tuh Ki, buruan lamar anak gue, gih! Biar enggak ngerasa sendirian lagi.” Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Sophia barusan.
“Kamu tahu kenapa akta lahir kamu atas nama grandma and grandpa?”
Daniel meringis, “Karena aku lahir diluar pernikahan, Mom.” Aku tersentak. Aku baru tahu fakta ini, setelah aku memacari Daniel setahun lebih. Kemana saja aku selama ini? Daniel memang mengatakannya dengan tenang, dengan nada datar. Tetapi tetap saja, dia pasti merasa sedih. Tanganku menjangkau tubuh Daniel, menyentuhnya. Ingin mengatakan bahwa aku disini, aku disini untuknya. “Aku anak haram.” Hatiku tembah teriris mendengar Daniel berbicara seperti itu. Aku yakin Sophia juga. Karena kami mencintai orang yang sama.
“Tapi Ruli beneran, you know Mom? Is he my father?” Daniel diam sebentar. Aku berdiri, berjalan kesampingnya dan memeluknya dari belakang. Katanya, pelukan bisa sedikit meredakan stress, mengurangi sedikit beban kan? Aku ingin sedikit melakukannya untuk Daniel, untuk pria yang aku cintai.
“Dia memperkosa, Mom?” Aku semakin tercekat. Daniel masih mengatakannya dengan nada datar, namun justru membuat mataku semakin sulit menahan air mataku. Why you can be so calm, Dan? How you can through all of this?
“Uki, kamu kok nangis?” Daniel membalikkan tubuhnya, menyeka air mataku yang sudah mengalir dengan deras. “Kamu kenapa?”
“I am fine, Dan. I am oke.” Aku memeluknya, “I am in love with you. I can guarrantee you this.”
“Kok kayak motor aja sih sayang ada garansinya?” Pertama kali ini aku mendengar Daniel memanggilku dengan sebutan sayang namun malah semakin membuatku menangis.
Sophia membelai rambut Daniel, “You are my son Dan. And I am so proud of you.” Aku juga bisa mendengar isakkan Sophia. Hanya Daniel yang belum menangis. Seharusnya dia yang paling sedih, bukan?
Sophia menarik nafas panjang. “Mom and Ruli, we met in Holand. Mom masih meneruskan study, Ruli sedang berlibur. We met, we fallen in love. Well, and we got drunk.” Sophia menyesap coklat panasnya, “Then we did it, had sex.”
“I am pregnant, Dan. You inside me.” Sophia terkekeh sebentar. “But then, Mom sadar bahwa Ruli sudah pulang ke Indonesia. Saat Mommy ingin menemui Ruli, he already planned a wedding.”
“Mommy enggak bisa menjadi wanita ketiga yang merusak kebahagian wanita lain, kan Dan? Mommy memilih membesarkanmu sendiri. Dengan bantuan Mama dan Papa. Kita pindah ke Belanda sampai kamu lahir.” Sekarang Sophia tertawa kecil, walau masih terisak. “Ternyata bercerita tentang Ruli tidak sesulit yang Mommy kira.”
Daniel memeluk ibunya, “I am sorry Mom. I love you, I will never leave you alone.”
Aku juga memeluk Sophia, “Can I calling you Mom, too? Aku benar-benar frustasi ingin memiliki ibu sepertimu, Soph. Thanks for bringing this angel into earth.”
“Mommy enggak ngelarang kamu untuk bertemu Ruli, Daniel. He’s your father.”
“Enggak Mom, dia cuman lelaki brengsek. Sudah tahu mau menikah tapi masih berani nidurin Mom.”
“Lho, kalau Ruli enggak nidurin Mom, kamu enggak bakalan ada sayang. My precious son.”
“Group hug?” Aku menawarkan, dan kita bertiga berpelukan. Lagi, lama, nyaman. I am sorry Ma, tapi aku ngerasa kalau seperti inilah keluarga, supporting each other. I can’t thank enough for you Dan, yang udah membuatku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Sophia, Maya, Evan. I just, I can’t throw all of this for my mom. I can’t.
***

Joshua Daniel Pradipta
Nyokap udah tidur, Uki juga, tetapi aku belum. Aku enggak bisa tidur. Aku keluar apartment diam-diam, memacu mobilku dengan kencang. Memarkir mobilku dengan asal-asalan didepan gerbang kos-kosan Evan. Aku tahu ini sudah malam, aku hanya butuh sahabatku saat ini. Aku mengetuk kamar kosan Evan agak kencang, Evan keluar, siap marah namun wajahnya langsung berganti prihatin dan memberiku pelukan. Aku tahu wajahku pasti mengundang belas kasihan dari siapa saja yang melihatku.
Tanpa bicara, Evan membawaku turun setelah menutup kamar kosnya. Membuka kamar kos milik Reno, mendudukanku diatas kasur, meminta kunci mobilku, lalu memarkirkan mobilku dengan benar. Kamar Reno kosong, tebakanku Reno tidur di kamar Evan. Maaf ya Van, sahabat elo ini ngerepotin elo.
Evan masuk, lalu memelukku lagi. Membiarkanku menangis sejadinya di pelukannya. Aku tidak bisa menangis didepan nyokap, sementara aku tahu, yang mengalami penderitaan paling banyak adalah beliau. Membesarkanku sendiri, pergi dari lingkungan orang yang mengenalnya, start new life, lalu harus kuliah dengan kondisi membawaku didalam perutnya. Belum lagi gunjingan orang. Mungkin juga Mommy dulu dibully. Ya Tuhan.
Selama ini aku mengira bahwa mommy diperkosa, dan keinginanku menemukan ayahku adalah untuk menghajarnya. Nyatanya, aku malah semakin membenci ayahku. Dia lebih kejam dari pemerkosa. Dia sudah mau menikah, demi Tuhan! Kenapa dia masih merayu mommy? Karena mommy tidak tahu? Karena calon istrinya di Indonesia sedangkan dirinya tengah liburan di Belanda?
Aku juga tidak bisa menangis didepan Uki. Lelaki sensitif itu, aku tidak bisa membebani pundaknya dengan lebih banyak lagi. Perang dingin antara dirinya dengan ibunya disebabkan olehku. Uki jadi tidak bisa sering-sering menemui kedua adiknya juga karena aku. Kenapa Uki selalu menomor satukan diriku? Dan aku tidak bisa membebaninya lagi dengan ini. Dia mencintaiku dengan sangat dalam. Padahal dulunya, aku hanya iseng mendekatinya. Hanya gara-gara taruhan.
Bagaimana sekarang, kebahagian Uki bisa menjadi prioritas diatas kebahagianku sendiri?
“Gue udah enggak pengen tahu siapa bokap gue lagi, Van.” Evan masih diam, dia masih memelukku. Lama-lama, aku capek dan mengantuk sendiri. entah itu kapan, aku tertidur di pelukannya Evan.
***

Aku terbangun diatas ranjangku sendiri. Kepalaku pening dan sedikit pusing. Bukannya semalam aku di kosannya Evan? Di kamarnya Reno? Bagaimana bisa aku pindah ke kamarku sendiri? Atau semalam itu hanya mimpi? Enggak mungkin, aku masih ingat dengan jelas kok saat aku menyetir seperti orang gila ke tempatnya Evan.
“You up, sleepy head?” Uki muncul, dia membawa gelas berisi susu di tangan kanannya, “Here.” Aku mengambil gelas itu, meminumnya dengan masih sedikit bingung. Karena setahuku, aku masih berada di tempat Evan semalam.
“Aku udah siapin sarapan, kita sarapan bareng ya? Sama Mama kamu juga.” Uki mengambil gelas yang tadi diberikannya kepadaku, lalu berjalan menuju pintu.
“Ki?” Panggilku lirih.
“Hmm?”
“Kenapa aku disini?”
Uki tersenyum lembut, “Aku yang mindahin kamu. Evan telepon tadi pagi. Well, agak susah sih karena kamu berat banget. Aku dibantu Reno buat ngangkat kamu ke mobil.”
“Yang ngangkat aku dari mobil kesini?”
“Aku dong,” Uki menekuk lengannya, memperlihatkan bicepnya yang memang terlihat lebih besar, “I am lot stronger than I look.” Dia nyengir lucu.
Aku tidak bisa menahan diriku untuk menghambur ke pelukannya. Uki kaget, namun dia tetap memelukku. “I love you. I am in love with you. I won’t loose you.”
“I know.” Uki melepaskan pelukanku, “So? Breakfast?”
“Aku mandi dulu ya?”
Uki nyengir lagi lalu bernjinjit dan mencium keningku sebentar. Keluar kamar, dan aku mendengarnya berbicara dengan mamaku. Aku tersenyum lebar. Aku tidak memerlukan ayahku, I mean, aku punya ibu super yang bisa membesarkanku dari sejak dari kandungan menjadi sebesar ini, setinggi 186cm. Ganteng lagi.
Dan Uki, pacar, sahabat, kakak yang luar biasa. Entah kenapa perasaanku lebih ringan sekarang. Aku mandi dengan cepat, lalu pergi ke dapur. Ada mommy dan Uki yang tengah tertawa. They are my life, I don’t need anybody else.
“Hey, are you good? Are we good?” Mommy langsung memelukku sambil bertanya.
“Lha sejak kapan kita enggak good, Mom?”
Mommy tertawa, “Oke, Mommy baru saja beres masak dibantu Uki tadi. Kamu pasti suka.”
Aku tersenyum, merasa bodoh karena selama ini begitu penasaran dengan ayahku, padahal aku sudah memiliki keluarga yang luar biasa. “Who doesn’t?”
***

“Jadi?” Maya bertanya, masih sambil sesekali matanya mengawasi Japheth, yang tengah sibuk dengan mainan pesawat-pasawatnya.
“I am not fine, but still oke.”
“Jadi Ruli Dirga itu bokap lo?” Kali ini Evan.
“Technically, yeah. He is.” Aku menyesap wine ku sebentar, “Can we just not talk about this? I am just not ready yet.”
“Oke.” Maya menarik Japheth yang nyaris mau menabrak meja. Mata Maya memang sangat awas dengan pergerakkan Japheth. Japheth ini setiap harinya tambah aktif saja. Tenaganya benar-benar tidak ada habisnya.
“Kapan Uki bakal ngejemput elo?”
“Sebentar lagi.” Aku melotot kearah Maya, “Lo bisa-bisanya ya sekongkol ama Uki buat bohong sama gue.”
Maya mengibas-ibaskan tanganya, “Honestly, gue sama Uki enggak bohong ke elo. Kita cuman enggak ngasih tahu elo aja.”
“Same thing.”
“Different honey. Bohong itu elo enggak mengatakan kejujuran. Yang gue sama Uki lakukan, kita cuman belom ngasih tahu lo tentang itu rumah. That’s not criminal, at all.”
Evan sama sekali tidak tertarik dengan obrolan kita berdua. Dia sibuk dengan brownies, mulutnya sibuk mengunyah, jemarinya sibuk texting. Annoying kadang itu anak, memang. Aneh.
Kami lagi sibuk membahas tentang Taylor Kinney yang agaknya gemukkan, ketika Banyu datang bersamaan dengan datangnya Uki. Uki cute banget hari ini. Dia memakai celana jeans pendek yang aku belikan kemarin, dipadu sama kaos jersey bertuliskan nama gue lengkap di belakangnya. Dan angka 88, tahun kelahiranku. Aku juga tengah memakai kaos Jersey yang sama kok, dengan nama Uki dan angka 86, tahun kelahirannya. Bedanya, aku memadukannya dengan celana joger pendek, dibawah lutut.
Uki mencium kening, hidung dan bibirku, lalu mengambil brownies dan menggigitnya pelan. “Aku ngemil bentar ya, Dan.” Aku mengangguk.
Sedangkan Banyu, dia menggendong Japheth, mencium istrinya, lalu bergabung dengan Uki menikmati brownies. This moment is priceless, I can tell you. We laugh, we share, tanpa harus memakai topeng. Ini yang akan aku sebut dengan ‘teman’.
Setelah berpamitan dengan Maya, Banyu, Evan dan agak membujuk Japheth yang katanya masih kangen dengan uncle Uki. Jarang amat ini anak kangen sama Uki, biasanya juga kangen denganku. Uki membawa mobilnya membelah kepadatan jalan raya Jakarta. Aish, membelah kapadatan jalan raya Jakarta, enggak ada bahasa yang lain ya Dan?
Uki masuk ke pekarangan sebuah rumah yang sepertinya sudah lama dikosongkan. Memarkirkan mobilnya, mematikan mesin, “Kita udah sampai Dan. Ini rumah masa depan kita.”
Aku keluar dari dalam mobil dengan pandangan tidak percaya. Rumah seluas ini hanya dengan harga dua milyar? Murah amat. Ini Jakarta lho, yang rumah cuman beberapa petak aja angsurannya mencekik nyawa.
“Kamu suka? Aku udah mikirin sih rumahnya mau aku gimanain, tapi kalau kamu ada usul, ntar kita pikirin bareng.”
“Kok kamu bisa dapet harganya murah gitu sih, Ki?” Tanyaku malah enggak nyambung. Uki tergelak sebentar. Lalu membawaku masuk, dan aku makin jatuh cinta sama rumah ini.
“Aku tawar abis-abisan sih. Lagipula kata pak Burhan, rumah ini angker. Jadi kebanyakkan pada enggak mau. Udah berbulan-bulan lho, ditinggalin. Katanya setiap ada yang mau nawar mereka dihantui sama penunggu rumah ini Dan.” Uki menjelaskannya sambil lalu. Aku enggak peduli, di Alkitab ada tertulis bahwa manusia itu powernya diatas setan, ngapain juga mesti takut. Ayatnya sama pasalnya dimana? Jangan tanya, gue lupa. Pokoknya pernah baca aja.
“Kayaknya kita enggak butuh ruang tamu, Ki. Terus aku mau ada kolam renang.” Aku merapatkan tubuhku ke tubuh Uki, “Biar kita bisa berenang telanjang terus ngeseks di kolam tanpa takut diganggu, Ki.” Uki merona, semburat merah jambu menjalari kulit pipinya yang putih.
“Yang lainnya terserah kamu aja. Aku cuman usul itu aja kok.” Aku menurunkan bibirku, agar tepat di telinga Uki, “Bayangin sperma kamu crot didalam air kolam renang, coba?”
Uki makin merah. Haha, menggoda Uki memang selalu semenyenangkan ini. Namun sebelum aku melangkah ingin lebih masuk lebih jauh, Uki sudah menarikku kedalam pelukannya. “Gimana kalau kita melakukan ritual pengusiran roh jahat di rumah ini sebelum kita renovasi dan kita pindah kesini?” Aku masih bingung dengan ucapan Uki barusan sebelum akhirnya dia melumat bibirku dengan lembut. Menaikkan Jerseyku, dan menyingkapnya keatas. Melumat, menyesap, kadang menggigiti  puting kanan dan puting kiriku secara bergantian dengan bernafsu.
“Ki, please ini lantainya kotor banget lho.”
“Ya kita lakuinnya sambil berdiri aja. Main cepet aja sayang.”
Well, ya sudah mari kita berkati rumah yang katanya angker ini dengan spermaku dan spermanya Uki. Hoho.
***

Uki Bagus Walantaga
Daniel menarik diri dari project-nya Ruli Dirga. Well, dia masih tetap support sih, namun enggan bertemu langsung dengan Ruli. Aku, di lain sisi juga sebenarnya males. Hanya saja, terkadang kita harus tetap profesional dalam bekerja kan?
“Jadi, bagaimana kabar Daniel, Ki?” Aku dan Ruli baru saja selesai membahas project kita. Ingatkan, tea ocha? Iya, itu project kita. Ruli bakalan mulai trial di salah satu pabriknya di Jatake.
Aku menyesap tehku, “Dia baik, Pak.” Jawabku sopan.
Pak Ruli menatapku lama, dengan pandangan intens. “Jadi kamu pacar anak saya?”
Aku mengangguk mantap.
“Diluar konteks pekerjaan ini Pak, saya mau tanya kenapa bapak tega ninggalin Sophia? I mean, kalau bapak memang sudah mau menikah, kenapa bapak masih main api?” Aku memang agak kurang ajar. Aku tahu, ini klienku. Aku bahkan sadar, bisa saja Ruli menarik kembali kerjasama perusahaannya dengan Savior. Tapi bodo amatlah. Aku juga tadi sudah menceritakan kejadian sebenarnya tentang Daniel dan Sophia. Bukan aku ember, hanya saja aku ingin lelaki ini tahu bahwa dia sudah bersikap sangat bajingan untuk Sophia dan Daniel.
Ruli menarik nafas panjang, diam. Cukup lama, hampir sepuluh menit. Dan aku juga tidak ada alasan untuk memaksanya menjawab. I mean, aku bukan Daniel, kan? Yang berhak marah kan dia, tapi karena dia pacarku, aku juga rasa-rasanya ingin marah.
“Saya enggak pernah tahu kalau Sophia hamil.” Aku diam-diam menghidupkan aplikasi perekam suara di smartphoneku.
“Kalau pun tahu, bapak akan menggagalkan pernikahan bapak?” Tanyaku sedikit agak kasar.
“Ya.” Ruli menjawab mantap. “Saya ini dijodohkan, Ki. Sewaktu saya kabur ke Belanda, saat itulah saya jatuh cinta. Terjerat dengan pesona Sophia. Saya benar-benar mencintai Sophia, bahkan hingga sekarang.” Aku mendengus sinis. Kalau cinta kenapa tidak diperjuangkan?
“Saya sangat pengecut waktu itu. Tidak bisa mengatakan tidak pada apa yang sudah dikatakan orang tua saya.” Ruli diam sebentar, “Tapi kalau saya tahu Sophia hamil, saya akan melawan.”
Ruli menatapku, dan aku melihat bola matanya yang basah. Jangan nangis, kumohon. Aku paling enggak tegaan melihat orang lain menangis. Apalagi pria gagah yang mau menangis tapi sekuat hati menahannya, aku paling lemah dengan yang begituan.
“Tolong jagain Daniel dan Sophia buat saya, Ki.”
“Tanpa bapak suruh, saya juga akan melakukan itu kok.”
Ruli tersenyum, anjir aku jadi tahu kenapa senyum Daniel itu sangat menawan. Gabungan jenis senyum menggoda dari Sophia dan senyum adorable dari Ruli. “Terima kasih.”
***

“Yang biru ini, yang gambarnya One Piece.” Daniel tengah berbicara dengan Satria. Interior decorator kita, Afif, temanku dan Daniel di kantor yang merekomendasikan. And, he’s such a good guy.
“Khusus buat di kamar utama. Kalau ruangan lain, biar Uki aja yang milih.” Kita lagi milih paper wall. Tadi sekitar jam sepuluh pagi Satria datang ke apartment kita. Membicarakan tentang paper wall untuk rumah kita.
“Oke, jadi yang One Piece, khusus buat kamar utama kan?” Daniel mengangguk. Dia tadi juga sudah memberikan denah dengan ukuran akurat kepada Satria. Beserta nama-nama ruangannya. Aku sudah memilih wall paper untuk semua ruangan. Daniel enggak ambil pusing. Dia hanya concern dengan kolam renang dan kamar tidur kita berdua nantinya. Ruang utama, dapur, dan lainnya, dia menyerahkan sepenuhnya kepadaku.
Setelah semua tetek bengek dan detail-detailnya sudah berakhir, Satria pamitan. Dia akan mulai mengerjakannya bersama anak buahnya minggu depan. Dan karena dia rekomendasi dari teman kantor, aku dan Daniel mempercayainya.
“God, all these stuff made my head dizzy.” Daniel mengambil wine dari dalam lemari es. Dia juga mengambilkan jus leci untukku.
Aku tersenyum sambil memijit kepalanya. Padahal aku mengurus hampir semuanya. Pemilihan sofa, meja dapur, kompor, kamar mandi, tapi ya sudahlah. Toh itu memang kadoku untuk si ganteng. Aku yang repot ya wajar, aku tidak keberatan.
Daniel tengah memainkan iPhone-ku, dengan earphone terpasang di kupingnya. Aku sekarang tengah memijit pundaknya. Aku baru saja meletakkan pantatku ke sofa di sebelah Daniel ketika gantengku itu menoleh kearahku dengan pandangan bingung.
Aku juga jadi ikutan bingung. Menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. “Kamu kenapa, Dan?”
Daniel mengarahkan layar kaca handphoneku kearahku. Dia baru saja mendengarkan percakapanku dengan Ruli. Namun aku masih menatapnya bingung. Kenapa Daniel seperti shock begitu? Agaknya perbincanganku dengan Ruli tidak ada yang spesifik.
“Aku enggak apa-apa.”
“Lidah kamu bisa kegigit lho kalau kamu mendem apa yang mau kamu omongin.”
Daniel tersenyum, “Ruli ternyata enggak seburuk yang aku sangka.”
“Oh, aku kira apa.”
Daniel tersenyum, namun tangannya bergerilya dibalik kaosku. Hmm, satu hal yang aku pelajari dari berpacaran dengan Daniel adalah, dia akan menggunakan fantasi seks liarnya ketika dia marah, galau ataupun sedih. Dan aku rasa, dia akan melampiaskan fantasi liarnya lagi. Bukan karena dia tengah marah, tapi dia lagi galau. Gara-gara rekaman suara obrolanku dengan Ruli. Dan karena aku pacarnya, aku harus siap sedia dijadikan objek fantasinya.
“Kamu bisa bawa motor, Ki?”
Aku sedikit waspada, “Bisa.”
“Bagus.” Daniel bangkit berdiri, “Karena aku enggak bisa.” Daniel lalu berjalan sambil mengambil smartphone-nya. Sepertinya menghubungi seseorang. Aku memperhatikan Daniel dalam diam. Please, kali ini fantasinya jangan yang aneh-aneh, please.
“Karena baik aku ataupun kamu enggak punya motor, aku pinjam punyanya Pak Bimo. Lagian jarang dipakai juga sama dia.” Daniel tersenyum lebar, aku makin waspada, “Yuk.”
“Kemana? Ngapain pakai pinjam motor segala?”
Lagi-lagi Daniel tersenyum, “Lagi pengen naik motor.”
***

Aku enggak punya SIM C, dulu punya, namun sudah aku buang. Aku tidak punya motor, buat apa aku tetap menyimpannya? Untuk ukuran motor yang jarang dipakai, motornya Bimo ini cukup enak dipakai. Daniel lagi pengen jalan-jalan ke Bogor, kita mau main ke rumahnya Bu Dini, di Ciomas, Bogor, pakai motor. Kita hanya mengandalkan waze, karena baik aku maupun Daniel belum pernah kesini, sebelumnya. FYI, Bu Dini ini adalah perfumer di Savior.
Begitu kita sampai di rumahnya, Bu Dini cukup surprised. Ya iyalah, kita belum pernah main kesini sebelumnya. Begitu mau main, dadakan lagi tanpa kabar-kabar. Bu Dini ini kabarnya mempunyai indra keenam gitu, bisa melihat makhluk-makhluk supernatural. Aku sih percaya-percaya saja, Daniel kayaknya dulu enggak ambil peduli.
“Aduh kok enggak bilang-bilang mau main, sih kasep? Ini untung lho aku enggak lagi keluar.”
“Sendirian aja, Bund?” Daniel mengabaikan pertanyaan bu Dini. Karena Bu Dini ini adalah wanita tertua di Savior, sekitar empat puluh tahunan lebih, Daniel suka memanggilnya dengan sebutan Bunda. Kadang eyang, suka-suka Daniel pokoknya. Si ganteng emang suka begitu, ngasih nikname seenak jidat.
“He eh, mas Fiva lagi ada kerjaan di kantor.” Aku menyalami Bu Dini.
Daniel melepas sandalnya dan langsung masuk rumah begitu saja, “Sabtu-sabtu gini? Masih ada ya kantor yang buka hari Sabtu gini?” Bu Dini dan aku mengikuti di belakangnya.
“Dulu Bunda kan pengen ngelihat aku sama Uki berhubungan seks kan? Masih pengen?”
Ha? Ini ganteng apa-apaan sih? Sama sepertiku, Bu Dini juga hanya bengong.
Aku menarik Daniel untuk menjauh, “Kamu apa-apaan sih? Enggak lucu tahu! Kamu kelewatan kali ini!”
Bukannya menjawab, Daniel malah menciumku. Dan aku blank. Ciuman Daniel itu memabukkan. Ketika Daniel melepas kaosku, aku juga sadar kalau saat ini aku tengah berada di dapurnya Bu Dini.
Dan saat Daniel melepas celana pendekku, aku melihat bu Dini sudah melihat kita berdua dengan sangat antusias. Jadi siapa saja orang-orang di kantor yang sudah tahu hubunganku dengan Daniel? Aku enggak peduli juga sih, tapi bukan berarti harus ditonton begini kan?
“Daniel! Enough! Keterlaluan kamu!” Enak banget dia masih berpakaian lengkap begitu, aku hanya tinggal celana dalam. Sesak lagi karena tengah ereksi.
Daniel melepaskan pelukannya, tersenyum sebentar. “Nah, sekali-kali ngelawan dong. Enggak semua keinginanku harus terpenuhi kan?” Daniel mencium pipiku, lalu berjalan kearah bu Dini, “Bund, aku mau jus jambu dong. Katanya punya banyak.”
Aku masih kaget, namun dengan segera memakai celana dan kaosku lagi. “Kamu kenapa sih, Dan?”
“Enggak papa, maaf ya.”
“Enggak papa. Selagi aku bisa, aku turutin kok fantasi kamu.” Aku menatapnya lama, “Tapi kan kamu tahu aku enggak bisa tolerir kalau ada  orang lain ngelihat kamu telanjang.”
“Iya, aku tahu.”
***

Si ganteng galau. Beneran galau sekarang. Antara pengen ketemu dan ngobrol sama pak Ruli atau mengacuhkannya. Ruli sedang berada di kantor Savior sekarang, di ruangannya Bimo. Dugaanku sih, dia memang kesini ingin bertemu anak dari wanita yang dia cintai. Anaknya. Aku percaya kok dengan apa yang dibilang Ruli bahwa dia masih mencintai Sophia.
Ada beberapa gesture yang diwarisi Daniel dari ayahnya. Kharisma, enggak gampang di intimidasi. Elang tetap akan melahirkan Elang, kan? Ini dia ngobrol sama Bimo lho, di ruangannya Bimo. Namun sama sekali tidak merasa terancam.
Aku melirik kearah ruangan Bimo yang memang terbuat dari kaca, sebelum aku keluar dan naik ke lantai tiga. Lantai tiga sepi, hanya ada Daniel yang tengah memainkan smartphonenya. Aku tahu, efek galau kayak gini, Daniel bisa saja minta sesuatu yang aneh-aneh.
“Kalau kamu mau keluar kantor, aku temenin.” Kataku begitu berada sangat dekat dengan Daniel.
Daniel mendongak, “Enggak usah, Ki. Aku disini aja.”
“Yakin?” Aku mengambil kursi milik Acha. Mumpung orangnya tengah mengurus surat halal ke MUI. Daniel mengangguk.
Lalu tanpa pikir panjang, aku menciumnya. Di bibir. Yeah, you hear me right. Masalahnya Andi dan Herman juga tidak ada. Acha juga tidak ada. Jadi hanya ada aku dan Daniel di ruangan ini.
Daniel balas menciumku, dia bahkan melepas kancing kemejaku, lanjut ikat pinggang beserta kait celana panjangku. “Kebetulan, aku lagi pengen ngisep kamu, Ki.”
Aku menelan ludah. Kan aku cuman pengen nyium Daniel doang, kenapa si ganteng malah minta nambah? Gimana kalau tiba-tiba Andi dan Herman masuk? Tuhan, tititku udah dikeluarin lagi dari dalam celana, pindah ke mulut Daniel.
Shit! Aduh! Mana kalau pas dioral gini aku keluarnya lama lagi.
“Dan, udah dong.”
“Kwe nwa pwa?” Aduh, Daniel menjawabnya masih dengan tititku berada di dalam mulutnya. Membuatku makin kegelian.
“Jadi ini laboratorium Flavour. . . ” Aku langsug menjatuhkan tubuhku. Tiarap, begitu mendengar suara Bimo. Crap! Dengan cepat memasukkan penisku kembali. Daniel hanya nyengir. Kenapa dia selalu kebagian enaknya? Bajunya cuman kusut sedikit begitu. Aku bahkan belum sempat mengancingkan bajuku ketika Bimo dan Ruli memasukki ruangan Daniel.
“Tadi ada serangga masuk ke bajunya Uki.” Daniel berbicara santai sambil maju ke depan. “Hey Dad, how are you?”
Ha? Daniel memanggil Ruli dengan sebutan Dad?
Bug!
Aku berdiri ketika aku mendengar suara pukulan itu.
“That’s for my mom.”
Bug!! Daniel meninju pipi kanan Ruli sekarang, tadi pipi kirinya.
“That’s for me.” Ruli diam saja. Bimo bingung, namun juga diam saja. Aku sibuk mengancingkan bajuku.
“Don’t you assume that I am allready forgiving you.” Daniel berdiri sejajar dengan Ruli, “Tapi enggak ada alasan untuk selamanya kita bermusuhan kan?”
Daniel menoleh kearahku, “Makan siang yuk, Ki.”
Aku dan Daniel berjalan keluar, sambil mulutku komat-kamit ke Bimo, bahwa akan aku jelaskan nanti. Belum juga kita berdua keluar ruangan, Daniel menoleh lagi kearah Ruli. “Dad, aku lagi pengen Lexus hybrid ES 350.” Daniel mengedipkan matanya kearah Ruli.
Damn, itu kan mobil mahal.
“Kalau itu mobil udah ada, mungkin kita bisa ngobrol lebih lanjut.” Aku dan Daniel keluar ruangan.
“Itu kan mobil mahal, Dan.” Karena tidak tahan, aku menanyakannya saat kita berdua tengah berada di lift. “Emang kamu beneran mau berdamai sama papa kamu?”
Daniel tersenyum, “Ngehancurin orang itu kan enaknya dari dalam, Ki. Rasanya lebih sakit, ntar.”
Damn, aku enggak bakalan menjadikan Daniel musuhku. Enggak bakalan. Sampai kapanpun dia harus jadi pacarku. Dia serem kalau jadi musuh.
***


Finally, ini adalah cerita BOTTOM terakhir yang aku upload di blogg. Artinya? Akan ada beberapa kelanjutan di wattpad. Tentu saja dalam bentuk short begitu.
Kapan? Saat BOTTOM di wattpad juga mencapai chapter 21.
Kan pasti penasaran, kapan exactly Daniel benar-benar memaafkan ayahnya? Ya kan?
Terus apa balas dendamnya?
Enggak penasaran? Ya bodo sih.
Tinggal BARISTA, dan mungkin blogg ini bakalan vakum.

Thank you, buat para pembaca ceritaku. Terima kasih.

Kamis, 31 Desember 2015

BOTTOM 20

Peringatan keras!!
Cerita ini penuh dengan adegan fulgar dan seks juga pertumpahan darah. Cieileh!! Jadi kalo engga suka dengan tema seperti ini harap jangan dibaca. Thanks!
***

Uki Bagus Walantaga
“Ya Tuhan, gue harus lihat tonjolan kon-.” Maya melirik Japheth, yang sepertinya excited ingin mendengar kelanjutan bibirnya mau ngomong apa, “kondisi yang tidak sesuai dengan tempat yang layak.” Aku tertawa pelan mendengar koreksi ucapan Maya hanya karena ada Japheth disini.
“Lo kali yang datang enggak sesuai dengan kondisi dan tempat yang layak.” Daniel menimpali. “Hai jagoan, bawa apa ini buat uncle?” Daniel menggendong Japheth, menaikkannya ke udara beberapa kali yang membuat anak itu tertawa terpingkal-pingkal.
“Japheth bawa Lego, uncle! Tapi enggak bisa ngerakitnya.” Japheth dengan semangat menunjukkan plastik putih besar, berisi sekotak kardus lego yang belum dibuka. Menyerahkannya dengan susah payah ke tangan Daniel.
“Ya udah, uncle bantu rakit yuk!” Mereka berdua lalu sibuk sendiri, aku menyerahkan boxer untuk dipakai Daniel. Aku hanya kurang suka dia hanya memakai brief didepan orang lain, selain aku. Setelah itu, aku baru masuk kamar, dengan selimut masih melingkari pinggangku, mencari baju yang nyaman. Kemudian, menyodorkan minuman untuk Maya yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu yang berat jika dilihat dari mimik wajahnya.
Aku memperhatikan Daniel dan Japheth yang duduk di karpet. Mereka akrab, Daniel tidak serta merta merakit lego itu sendiri. Dia mengajari Japheth dengan sabar dan telaten. Aah, andai kita berdua bisa punya anak. Hatiku malah jadi masygul sendiri. Bukan hanya kemungkinan itu sangat kecil, namun juga karena aku masih memiliki harapan untuk memiliki anak bersama Daniel. Aku ingin keluarga yang utuh, apa itu salah?
“Ki, turun sebentar yuk. Gue lagi pengen jus nih.” Maya berbicara sambil matanya mengedip padaku beberapa kali.
Aku menangkap kodenya, “Oke.” Aku menoleh kearah Daniel dan Japheth, “Japheth mau jus enggak?”
“Boleh om, mangoes.”
“Kalau kamu, ganteng? Mau nitip enggak?”
Daniel menoleh, tersenyum. “Samain sama punya kamu aja.”
Aku mengangguk sambil mengambil dompet. Sedangkan Maya, berpamitan dengan Japheth, yang kalau dilihat tidak begitu dipedulikan oleh anak lelakinya tersebut. Maklum, Japheth tengah sibuk dengan lego dan uncle gantengnya.
Aku dan Maya berjalan bersisian dalam diam, turun ke bawah untuk membeli jus. Padahal sebenarnya aku tahu, Maya ingin membicarakan tentang hal yang beberapa minggu lalu aku bicarakan dengannya.
“Rumahnya udah dapet, Ki.” Maya membuka bibirnya. Setelah dia selesai mengucapkan orderannya pada tukang jus. Tukang jus kan? Atau penjual jus? Terserahlah ya. Karena cerita ini jelas bukan tentang mamang-mamang penjual jusnya.
Aku menoleh dengan semangat, “Gimana dengan harganya?”
“Lo ada duitnya berapa?” Maya balik nanya.
Aku mengeluarkan ponselku, mengetikkan beberapa password sebelum masuk kedalam rekeningku, menunjukkan ke Maya jumlah semua tabunganku.
Maya melirikku, setelah dia melihat jumlah uang dalam tabunganku. “Duit lo banyak juga ya? Tapi kalau segitu, kayaknya lo cuman dapat rumahnya doang deh Ki. Apalagi itu rumah udah ditinggal agak lama sama pemilik sebelumnya, mesti ada yang di renovasi.”
“Hari jadi gue ama Daniel kan masih ntar Oktober. Keburu enggak ya? Mesti nyari duit dimana coba gue?”
“Lo bisa minjem gue. Santai aja.”
Aku menggelengkan kepalaku, “Enggak May. Bukannya gue nolak bantuan elo, cuman gue pengen ngasih sesuatu ke Daniel itu pakai jerih payah gue, keringet gue sendiri.”
Maya tertawa sambil menepuk pundakku pelan, “Beruntung amat sih Daniel dapet laki macam elo ini.” Aku tersipu, “Lo kapan ada waktu? Entar elo bisa melihat kondisi rumahnya kayak gimana. Cuman agak jauh juga sih kalau mau ke tempat kerja, kan ini di daerah Kebagusan. Agak-agak macet gila.”
“Besok gimana? Mumpung masih libur ini. Lo bisa?”
“Gue sih available, Ki. Lo sendiri gimana? Ijinnya ke Daniel? Laki lo itu kan agak-agak posesif.”
“Gampang, entar gue pikirin.”
“Ya udah, yuk naik. Kasihan anak gue ama anak lo, keasyikkan main lego.”
Aku tersenyum, sambil membayar jus dan membawanya di tangan kiriku. Tangan kananku memegang ponsel dan dompet.
***

Aku membawa mobilku menelusuri jalanan Jakarta yang masih lengang, efek dari libur lebaran. Maya, disampingku sibuk dengan bedak dan lipstik. Katanya, dia bangun agak kesiangan. Jadi belum sempat dandan. Ajaibnya, ini ibu-ibu satu bisa banget memakai maskara. Padahal beberapa kali mobilku goyang-goyang.
Aku dan Maya sudah janjian dengan pemilik rumah yang dulu untuk bertemu di tempat ini, calon rumahku dan Daniel, jam sepuluh pagi. Aku mendapatkan informasi tentang rumah ini dari Maya. Orang yang mau menjual rumah ini adalah bosnya di kantor. Dan entah kenapa, Maya menginformasikan ini kepadaku. Padahal waktu itu, aku belum kepikiran sama sekali untuk membeli sebuah rumah.
Namun saat Maya memberitahukannya padaku, aku malah jadi tertarik. Aku ingin memiliki masa depan bersama Daniel. Berlebihan kalian menyebutnya, terserah. Memang masa depan yang belum pasti, setidaknya aku berusaha ingin mewujudkannya kan? Menguras hampir seluruh tabunganku itu bukan persoalan main-main lho.
Aku keluar dari mobil diikuti dengan Maya. Pak Burhan, ternyata sudah lebih dulu tiba. Maya, menyalami bosnya itu dan berbasa-basi sebentar. “Aduh Bos, pagi bener sampainya.”
“Ini juga baru saja kok May.” Pak Burhan menoleh kearahku, “Jadi anda yang tertarik dengan rumah saya? Masih muda ya, mana calon istrinya? Kok enggak dibawa?”
Aku tersenyum kikuk, “Dia sibuk, Pak.”
Pak Burhan manggut-manggut paham. Dia lalu mengajakku dan Maya masuk. Walaupun rumah ini catnya sudah agak mengelupas disana-sini, aku suka arsitekturnya. Perbaduan gaya rumah khas Wyoming sama Jepang. Aku langsung jatuh cinta. Belum ada kerusakkan major didalam bangunan, mungkin butuh sedikit renovasi sama cat ulang. Yang jelas, butuh banyak perabotan. Aku enggak mungkin membawa perabotan dari rumah orang tuaku. Walaupun, beberapa barang disana aku yang membelinya. Tetapi akan enggak etis kalau aku memintanya kembali, kan?
Aku mengajak Pak Burhan ke belakang, untuk mengobrol lebih pribadi. Membicarakan harga, dan menawarnya sebisaku. Begini juga, aku kan AM sebuah perusahaan asing. Jagolah, dikit-dikit tawar-menawar. Walaupun aku enggak begitu yakin bisa mengisi rumah ini dengan perabotan sampai hari H aku mempersembahkan rumah ini sebagai kado untuk Daniel di hari jadi kita yang kedua.
Aku dan pak Burhan bersalaman, deal dengan harga yang sudah kami berdua sepakati. Walaupun aku agak tertawa miris dalam hati, karena keinginanku untung membeli Range Rover jadi tertunda lebih lama lagi. Tidak apa-apa, demi si ganteng.
Di otakku, aku sudah mempunyai gambaran mau aku apakan rumah ini. Mau aku jadikan seperti apa rumah ini. Aku bahkan sudah berimajinasi anakku dan Daniel berlarian bermain di halaman belakang yang luas. Mendadak aku terpekur, seandainya bisa segampang itu.
Ya Tuhan, aku ingin membangun sebuah keluarga yang utuh layaknya pasangan straight. Bisa kan? Kabulkan dong Tuhan, selama hidupku, aku kan jarang minta-minta Tuhan.
Maya menepuk pundakku, membawaku kembali ke dunia nyata, “Lo kenapa, Ki? Syok, tabungan lo bakal ludes?”
Aku tertawa pelan, “Tahu aja lo.”
“Ya udah, makan yuk. Gue yang traktir deh, karena elo baru saja jatuh miskin.”
Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Maya barusan.
***

Joshua Daniel Pradipta
“Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini jadi agak pendiem gitu?” Aku memakan coklatku, sambil melirik Uki yang berada di balik kemudi. Kita berdua lagi on the way ke rumahnya Maya. Dalam rangka apa? Si gelo itu ulang tahun, dan dia mengadakan pesta kecil-kecilan.
Uki meremas tanganku yang bebas sebentar, “Aku memang dari dulu pendiem kan?”
“Heran, kenapa kamu bisa jadi sales.”
Uki tertawa renyah. Aaah, Jakarta yang sepi begini mengasyikkan juga. Walaupun sepertinya, lebaran tahun lalu lebih sepi. Mungkin orang-orang sudah agak malas untuk pulang kampung. Ya, tidak? Aku saja malas pulang ke Bandung. Lha, disana enggak ada siapa-siapa. Cuman ada mbok Walmi sama Pak Dirman. Mama? Beliau udah minggat ke Belanda sama pacar barunya. Oke, aku sih setuju saja ya mama mau menikah lagi. Toh, aku juga sudah berhenti tanya-tanya ke Jordan tentang bapaknya, si Ruli itu. I mean, kalau memang nyokap merasa aku sudah siap untuk menerima kenyataan cerita masa laluku, beliau bakalan cerita kan? Ini semua kan, Mama lakukan buat kebaikan aku? Ya enggak sih?
“Sekarang kamu yang jadi pendiem, Dan.”
“Aku lagi kepikiran buat ngeseks sama kamu di stadion bola dengan full semua lightning menyala.”
Uki terbatuk kecil, “Enggak sekalian penontonnya, diajak nonton?”
Aku nyengir, padahal bukan itu yang aku pikirkan. Kadang kan, kita enggak bisa langsung mengucapkan apa saja yang ada di pikiran kita kan? Walaupun bibirku gatal pengen ngomong. “Tapi aku yakin kamu enggak mau.”
“Aku yang sekarang sih enggak peduli, ganteng. Mau orang lihat aku telanjang atau gimana. Aku cuman enggak mau orang lain lihat kamu telanjang. And I mean, itu semua orang ya, include your Mom.” Uki menarik nafas, “Jadi, kalau bukain pintu jangan pakai celana dalam doang lagi ya, ganteng?”
Aku tertawa. Uki ternyata seposesif ini. Dan itu cute banget. “Kiss dong.”
Uki melirikku sebentar, memarkirkan mobil di halaman rumah Maya yang memang besar. Lalu keluar dari mobil. Jadi enggak ada kiss nih? Hh, aku mengikuti Uki keluar dari mobil. Namun sebelum aku mencapai pintu depan, Uki menarikku, tangannya dengan posesif melingkari pinggangku. Lalu bibirnya mengecup bibirku. Aku kira, karena kita tengah ingin bertamu, Uki hanya akan cukup mengecupnya saja. You know? Tanpa lidah kita saling bertaut dan berbagi air liur. I was wrong, karena setelahnya Uki memaksaku untuk membuka bibirku. Lidahnya menerobos masuk, bertemu dengan lidahku disana. Saling menghisap, saling bertaut.
Tangan Uki kini beralih ke leherku, memintaku semakin menundukkan kepalaku, agar dia makin bisa leluasa mengeksplore area bibirku. Damn! Aku sama Uki udah ereksi. Gila, ini mau di tuntaskan atau diakhiri biar nanggung-nanggung kentang?
Aku mendengar suara mobil lain, memasuki halaman rumah Maya, namun aku tidak peduli. Bagaimana aku bisa peduli ketika tangan kiri Uki meremas bokongku dengan bernafsu? I mean, ini bokongku gitu, salah satu area sensitifku.
“Get a room, please.” Itu suara Evan.
“Anjis, gue kayak ngelihat adegan porno live gitu.” Ini Reno.
Uki melepaskan pelukannya, wajahnya memerah, lebih merah dari udang rebus. “Ehm, aku masuk duluan.” Ya Tuhan, sifat malu-malunya adorable banget enggak sih? Evan menatapku dengan pandangn sok tahu sebelum mengikuti Uki masuk ke rumah Maya. Reno masih siul-siul enggak jelas sebelum aku menyikut pinggangnya dan dia merangkulku.
“Well, gue baru tahu kalau bakalan kayak gini penyambutannya.”
“Kadang, orang yang sedang dimabuk cinta itu enggak mengenal situasi dan kondisi, Ren.” Aku berbicara bak negarawan.
Reno batuk-batuk kecil, aku yakin hanya dibuat-buat batuknya. “ Ini orang yang sama yang kemarin dulu itu ngomong pengen putus, bukan?”
“Everybody change, gorgeous.”
Dan Reno menanggapinya dengan tertawa.
***

Ada Banyu dan Maya, minus Japheth karena dia sudah tidur. Lalu aku dan Uki, juga Evan dan Reno. Tidak, kita enggak merencanakan untuk orgy. Uki tidak bakalan setuju, kalian ingat kan dia enggak pengen ada orang lain yang melihatku telanjang? Apalagi orgy coba?
Kue ulang tahunnya sudah ditiup tadi, sewaktu Japheth masih bangun. Sekarang ini, acaranya orang dewasa. Ada wine, sampanye, well, Uki hanya meminum es teh dan es lemon. Sekali-kali jus, namun sama sekali enggak menyentuh minuman haram itu. Dulu, sewaktu sehabis dia mau minum minuman berakohol, kejadiaannya udah agak lama sih. Setelahnya dia pernah bilang, “Menurut agamaku, minum-minuman kayak gitu itu dosa. Pacaran sama kamu, berbuat seks sama kamu, itu dosa. Ya jadi, aku lebih milih berbuat seks sama pacaran sama kamu aja. Itu dosa majorku. Lainnya kalau bisa, ya aku hindari. Aku juga sholat lima waktu rajin. Biar nanti di akhirat, kalau ditanya, aku bisa jawab dengan gamblang. Kamu itu memang dosaku, dan aku bertanggung jawab sampai akhirat nanti. Enggak bakal bohong kalau ditanya Tuhan juga. Kalau nanti tetap ke neraka, karena perbuatan baikku enggak bisa menutupi dosaku karena berhubungan batin dan fisik sama kamu, aku juga bakal terima dengan ikhlas.” Isn’t that romantic? I mean, lil bit creepy sih bawa akhirat-akhirat begitu, but still, it’s romantic. Dia tahu benar apa yang dia lakukan, dan dia akan pertanggungjawabkan kepada Tuhannya. Kalau dia sampai sudah dalam tahap mengakui aku dihadapan Tuhannya, berarti dia juga sudah mengakui aku di hadapan teman dan keluarganya. Aku tidak perlu meragukan cintanya Uki lagi, iya kan?
“May, we have no time to wrapping it, so here it is,” Aku melemparkan dua tiket untuk ke Raja Ampat, beserta reservasi hotel, tiket pulang pergi. “Hadiah  dari gue.”
Maya memeluk gue, “Ya Tuhan, lo baik banget. Tahu aja kalau laki lo tabungannya abis-abisan buat beli rumah.”
Aku melepas pelukan Maya, “Apa lo bilang, barusan?”
Maya menutup mulutnya, sepertinya menyadari sesuatu kalau seharusnya dia enggak ngomong begitu. Uki juga agak tegang disana. Aku menatap Maya dan Uki bergantian. “Can somebody do explain? Kamu beli rumah buat orang tua kamu? Atau gimana?”
“Eum, well, eum, actually . . .”
Belum sempat Maya menyelesaikan ucapannya, Uki sudah menarikku untuk menjauh. Dia membawaku ke pekarangan belakang.
Uki beberapa kali menarik nafas panjang, menatapku tajam. Sorry, Ki aku tidak akan terintimidasi. “Itu rumah, hadiah buat hari jadi kita kedua.”
“Berapa kamu beli?”
“Enggak penting.” Uki berucap pelan dan tegas.
Aku mendecak kesal, “Yang bakal tinggal di rumah itu bukan hanya kamu ya nantinya, aku juga kan?” Uki diam, “Berapa harganya?”
“Udahlah Dan, kan itu hadiah aku buat kamu.”
“Aku tanya, berapa harganya?” Aku tetap berkeras.
Uki diam untuk beberapa saat, “Dua.” Dia mengucapkannya dengan sangat pelan.
“Dua juta?” Uki menggeleng. Yaiyalah, ini akunya aja yang bego. Mana ada rumah dua juta? Uang muka cicilan mobil aja enggak ada yang dua juta. Heh, tapi aku lagi emosi, kadang orang emosi itu ucapannya diluar nalar. Understand, kan? Iya, aku ngeles.
“Dua ratus juta?” Lagi-lagi Uki menggeleng.
Aku mengacak-acak rambutku frustasi, “Dua Milyar?” Uki mengangguk.
“Damn it Ki!!” Itu angka lumayan. Lumayan banget. Aku aja enggak ada tabungan segede itu. Oke, kecuali rekening yang dibuat Mama yang atas namaku itu. Tetapi dari hasil gajiku sendiri? Enggak ada. Mengalir seperti air, gajiku mah. Hey, Louis Vuitton enggak murah ya. “Udah dibayar?”
Uki mengangguk. Pantesan Uki jadi pendiem, kehilangan duit dua milyar gitu lho. Tabungan dia selama berapa tahun itu? Aku mau marah karena merasa dibohongi pun enggak jadi. Uki membeli rumah ini untuk kita berdua, kenapa aku harus marah? Alasan dia tidak memberitahuku, jelas ini bakalan jadi suprise. Hanya kebetulan mulut Maya kadang keceplosan.
“Aku mau lihat rumahnya.”
Uki menatapku, masih dengan pandangan mantapnya. “Kamu enggak marah?”
“Ngapain aku harus marah? Udah dibeliin rumah malah marah-marah, itu namanya enggak tahu diri, Ki. Lagian mau marah juga, duit dua milyarnya enggak balik. Jadi marahnya mubazir.” Aku menggandeng tangan Uki untuk masuk dan bergabung bersama Maya dan yang lainnya, “Tapi tetep ada hukumannya sih.” Aku nyengir mesum.
***

“Ini beneran?” Uki bertanya ragu. Aku mengangguk.
“Daniel Pradipta, ini tempat umum lho.”
“Lha terus kenapa?” Aku menjawab enteng. “Buruan deh, kamu udah janji lho bakalan nurut pas aku hukum.” Lanjutku.
Uki melirikku, kombinasi antara sebal dan putus asa, “Enggak gini juga kan?
“Tapi aku maunya kayak gini.” Aku menjawab sambil tersenyum lebar. Mirip bocah yang baru saja menang adu kelereng. Uki mengintip keluar lewat jendela, mimik wajahnya benar-benar terlihat khawatir.
“Kamu kok tega, gitu?”
Aku terkikik, “Lho yang bilang, ‘aku enggak peduli juga ada orang yang mau lihat aku telanjang atau gimana juga’, itu siapa?”
“Masak aku harus telanjang sampai pintu apartment? Kalau ketemu orang pas di lift, gimana? Aku malu, sayang.”
Aduh, enggak bakal mempan sayang-sayangnya itu. Sebenarnya, aku tidak jahat-jahat amat. Ada lift untuk barang yang kalau jam segini jarang sekali digunakan. Ya, kalau misalnya nanti ada orang ya sialnya pacarku aja. Aku sih enggak peduli ya mau ada yang lihat Uki telanjang atau bagaimana. Intinya, mereka cuman bisa melihat. Yang bisa nyentuh, jilat-jilat, isep-isep, sedot-sedot? Ya cuma aku.
“Buruan gih, lepas semua bajunya!”
“Ada beberapa orang yang kenal aku, Dan.” Uki berusaha melobi.
“Terus? Kan ketemu mereka juga enggak setiap hari.” Aku tetep kekeuh.
Kami berdebat lagi selama sepuluh menit, sampai akhirnya Uki mengalah dan melepas semua bajunya. Dia telanjang bulat sekarang, dan nafsuku langsung naik ke ubun-ubun. Aku sebisa mungkin menahannya. Jangan sekarang, nanti saja.
Walaupun sudah telanjang, Uki masih belum turun dari mobil. Padahal suasana parkiran apartment lagi sepi. Uki mengintip lagi lewat jendela, sebelum akhirnya turun sambil kedua tangannya menutupi tititnya. Aku mengikutinya di belakang sambil tertawa tertahan. Membawakan handphone dan dompet milik pacar lucuku itu.
Kita memakai lift untuk barang, dan Uki menghembuskan nafas lega ketika didalam lift tidak ada orang. Aku tersenyum lagi. Muncul ide jahil. Aku menarik Uki kedalam pelukanku, meraba kelaminnya dengan tanganku. Membuat gerakan masturbasi hingga aku yakin Uki ngaceng maksimal.
Uki mendorongku, “Kamu ngapain sih?”
“Biar tititmu itu enggak bisa ditutupi pakai tangan.” Kataku santai.
Uki hanya menatapku gemas namun tidak berkomentar. Dia keluar lift setelah sampai di lantai kamarku berada. Kami berpapasan dengan seorang nenek-nenek yang aku pelototi agar tidak menatap Uki. Uki sendiri berlari agar cepat sampai didepan kamar apartmentku. Dengan kondisi tititnya masih ngaceng, goyang kekiri kekanan pas dia lari tadi. Lucu-lucu bikin horny gitu. Namun si pacar lucuku itu akhirnya sadar kalau yang memegang card key apartment itu aku. Begitupun dengan card apartment milik Uki, juga ada di tanganku. Kan dompetnya, aku yang pegang.
Dia melototiku begitu aku muncul dihadapannya.
“Nenek Sahira lihat tititku.” Katanya setelah masuk kedalam apartment. Sekarang dia tidak repot-repot untuk berusaha menutupi ereksinya. Aku menatap Uki penuh nafsu. Uki itu dewasa, unyu adorable bikin gemes sekaligus bikin nafsu. Apalagi Uki yang telanjang.
Aku memeluknya, meredam semua keluhan yang akan keluar dari bibirnya dengan bibirku. “Komplainnya nanti, seks aja dulu.” Kataku sambil berlutut, dan mulai mengoral Uki. Aku sudah gemas ingin melakukannya sejak tadi di mobil. Lelaki itu kelemahannya ada di perut sama kelamin. Kenapa aku tahu? Karena aku juga lelaki, bego! Cowok itu cepat buat dibikin naik. Nah, kalau mereka lagi nafsu, otak mereka enggak bisa berpikir yang lain. Baru setelah crot lah, otak mereka berfungsi lagi.
Aku mau kasih servis ke Uki Bagus dulu, sebagai hadiah atas keberaniannya barusan. See you . . .
***

Uki Bagus Walantaga
Ini sudah seminggu masuk kantor. Menjalani rutinitas seperti biasa. Dan belum pernah, selama empat tahun aku bekerja, aku menunggu tanggal gajian se-excited ini. Aku memang tidak perlu membayar biaya listrik, air, atau tetek bengek lainnya di apartment Daniel, karena Sophia yang melakukannya. Dengan memaksa, dia agak setengah bingung mau membuang uangnya dimana, karena Daniel juga sudah tidak minta-minta lagi. kecuali BMW mewahnya itu.
Namun aku berkewajiban membayar kebutuhan rumah orang tuaku. Aku tahu, gaji papa masih mampu. Namun, aku berkeras bahwa semenjak aku bekerja, semua tagihan listrik dan tetek bengek rumah, aku yang bayar. Hingga saat ini. Bertengkar dengan ibuku, bukan berarti aku tidak memperhatikan mereka. Mereka tetap keluargaku.
“Ini costumer baru. Calon peluang buat goalnya gede.” Pak Bimo bersuara dari depan. Membuyarkan lamunanku. Oke, jadi aku, Daniel dan pak Bimo ada visit customer ke daerah sudirman. Calon value-nya gede kata Pak Bimo. Tetapi anehnya, sang calon customer ini meminta pak Bimo juga mengajak flavourist-nya. Padahal sebenarnya tidak perlu, itu alasannya kenapa si ganteng juga ikut.
Aku sempat marah sama Daniel sewaktu aku menerima hukuman aneh darinya beberapa minggu yang lalu, tapi ya sudahlah. Rasa marahku sudah lenyap dengan servisnya setiap hari. Selama sisa libur lebaran, baik aku dan dia sama sekali tidak mengenakan baju sehelaipun. Kita berdua benar-benar seperti binatang. Makan, mandi, bercinta. Istirahat sebentar, ngeseks lagi. Makan, ngeseks lagi. Mandi, sambil ngesek lagi. Shit, aku malah mulai terangsang karena bayangan memabukkan itu.
“Tapi kenapa juga, aku harus ikut?”
“Kan request dari kliennya begitu Dan.”
Daniel hanya mengedikkan bahu lalu kembali fokus pada smartphonenya. Aku sendiri juga sedikit heran. Mengajak flavourist sebenarnya wajar-wajar saja, hanya saja agak sedikit aneh. Karena toh, kita tidak membawa sample atau aplikasi apapun untuk didemokan.
Kita tiba di kantor customer sekitar jam setengah tiga, dan disuruh menunggu sebentar. Lalu munculah seorang bapak-bapak ganteng, aku tebak mungkin berusia empat puluhan. Dan mengingatkanku akan seseorang. Eeeum, Jordan. Iya, mirip Jordan. Si bapak ini menyalami pak Bimo, lalu aku kemudian menatap Daniel lama. “Halo Dan, masih ingat saya?”
“Pak Ruli, bukan?” Si bapak ganteng itu tertawa. Lalu kita mulai meeting. Aku melirik Daniel yang sepertinya excited. Padahal, biasanya gantengku itu jarang banget semangat seperti ini. Rapat weekly di kantor aja si ganteng males-malesan, apalagi sama customer coba? Herannya, itu enggak terjadi hari ini.
Jadi pak Ruli ini mau membuat sebuah aplikasi teh ocha mirip dengan milik Indofood Asahi. Aku agak heran, kalau cuman sesepele itu, kan bisa lewat sales saja. Enggak perlu minta pak Bimo dan Daniel kesini juga. Buang-buang tenaga dan waktu. Mungkin pak Bimo juga sepemikiran sepertiku, namun karena ini nanti bakal menambah income, lumayan besar juga kalau goal, pak Bimo diam saja. Pura-pura excited malahan.
“Daniel, bisa tidak kita bicarakan soal project ini diluar jam kantor?” Kita berempat sudah selesai meeting dan tengah duduk di lobi. Menunggu pak Bimo yang kebetulan tengah ke toilet. Mobilnya kan cuman bawa satu tadi.
“Enggak bisa. Saya lembur atau enggak lembur gajinya sama.” Aku mengelus kepalaku pelan. Si ganteng kalau jawab suka enggak dipikir dulu.
Pak Ruli terlihat berpikir sebentar, “Mungkin kita bisa ngomongin next project atau bagaimana, gitu?”
Daniel menoleh kearah pak Ruli dengan wajah lelah, “Gimana kalau ngomongin tentang mama saya saja? Saya penasaran dengan hubungan pak Ruli dengan mama saya dulu.”
Pak Ruli menegang, aku bisa melihat rahangnya yang mengeras. Aku jadi bingung sendiri, ada yang gantengku ini belum ceritain ke aku?
“Oke. Mau dimana? Berdua saja?”
“Ichi Resto di Senayan gimana, Pak? Enggak dong, bertiga sama pacar saya. Nih yang duduk disamping saya. Hari Jum’at ini?” Pak Ruli langsung melihat kearahku tidak suka. Namun, aku juga balas menatapnya. Aku tidak mau terintimidasi hanya karena dia bos besar.
“Oke.” Jawab pak Ruli setelah lama diam.
***

Ternyata Daniel tidak hanya mengajakku, dia juga mengajak Sophia. Namun menyuruhku, untuk mengatakan bahwa kita hanya makan malam bertiga. Daniel menyuruhku yang memberitahu Sophia, katanya aku pandai bohong sedangkan dia enggak jago bohong. Kurang ajar kan bibirnya? Minta dicium enggak, tuh? Ngatain pacar sendiri pinter bohong? Itu kan bukan pujian.
Kita pergi menggunakan mobil camry milikku. Sophia cantik banget, sumpah! Sama sekali tidak terlihat kalau sudah memiliki anak usia dua puluhan. Sophia memakai gaun hitam dengan belahan dada rendah, sepatu boots sepanjang lutut. Belahan kakinya juga bikin ngiler, aku saja sampai takjub.
Tapi beda dengan Daniel yang bilang penampilan Sophia enggak matching. Dia bahkan menyuruh mamanya untuk mengganti boots-nya dengan high heels. Padahal dimataku, Sophia sudah sempurna banget. Gaunnya mirip banget sama yang dipakai Selena Gomez di video klipnya yang Same Old Song. Bedanya, Sophia dadanya berisi, belahan kakinya sampai paha.
Aku dan Daniel memakai kemeja formal. Karena kita akan makan di Ichi Resto, sebuah restoran ala Jepang yang punya peraturan tentang table manner. You know lah, mesti formal gitu.
“Dan, what it is? Sejak kapan kamu mau ngajak Mom makan malam kayak gini? Mau ngumumumin tanggal pernikahan kalian?” Aku yang dibalik kemudi langsung batuk-batuk kecil.
Daniel mengelus tengkukku sebentar, “Nothing, it’s just a little a familly time, Mom. Is that crime?”
Sophia mencibir, mengacak-acak rambut Daniel dengan sayang sebelum akhirnya fokus melihat jalanan Jakarta. Namun Sophia agaknya menjadi bosan melihat macetnya Jakarta sore ini, dia lalu mengajukan pertanyaan untukku. “I wanna ask you something, Uki. Since you dating my son, I’m little curious selama satu tahun ini kamu tahu tentang apa aja soal Daniel.” Sophia melirik jendela mobil lagi, “Daripada aku mati bosan, could I?”
Aku melirik Sophia dari kaca spion, lalu tersenyum. “I know almost everything about your son, Soph.” Daniel terkekeh disampingku, lalu mengecup pipiku.
“You know everything about my son?” Sophia terkekeh, mirip Daniel barusan. Sepertinya bukan hanya wajah, kepribadian mereka pun mirip. “What is Daniel allergic too?”
“Seriouslly Soph? It’s that easy, pine nuts, all of kind vegetable and the full spectrum of human emotion.”
Daniel merengut, gemesin banget. “Oh that’s . . . that was funny.” Aku mencubit pipinya gemas. Sophia diam, berarti dia setuju dengan jawabanku kan?
“Do Daniel has any scars?” Sophia bertanya lagi. Jalanan Jakarta masih padat. Mungkin kita baru akan sampai Ichi Resto setengah jam lagi.
Aku meringis sejenak, mengingat-ingat tubuh Daniel dan agak menggeram pelan. Aku ereksi, padahal hanya mengingat-ingat saja. “No. But I am pretty sure that Daniel has tattoo.” Aku tersenyum, “And I know exactly where they are.”
“We done with all your question, Mom. Lama-lama mommy bisa nanyain dimana Uki dan aku pertama kali berhubungan seks.” Daniel mengerang.
“Emang dimana?” Tanya Sophia penasaran. Lalu tiba-tiba dia menjentikkan jarinya, “Mom inget, pas Mommy dateng waktu itu kan?”
“Aaaargh, mommy rese! Ki, kebut kek, biar cepet sampai. Mommy rese kalau lagi laper.”
“Gimana bisa ngebut ganteng, lha mobilnya aja banyak tuh didepan. Jalannya lelet, kamu marahin gih mobil-mobil didepan.” Daniel menatapku horror lalu membuang muka. Sementara itu, aku dan Sophia berbagi senyum. Setidaknya, aku benar-benar tahu bagaimana membuat Daniel tidak emosi. Namun aku juga tahu bagaimana cara membuatnya emosi. Lebih gampang kan? Daniel enggak susah-susah amat kok buat dimengerti. Otaknya lempeng. A ya A, B ya B. Daniel gitu orangnya.
Kita tiba di Ichi lima menit lebih terlambat dari waktu yang dijanjikan. Namun Daniel sepertinya tidak merasa menyesal. Dia bertanya kepada pelayan tempat yang sudah di booking oleh Ruli Dirga. Dan aku bisa melihat sekilas kecemasan di mata Sophia.
Sewaktu pelayan Ichi Resto mengantarku, Daniel dan Sophia ke meja Ruli. Bukan hanya Sophia saja yang terkejut, Ruli juga. Dia hampir berdiri dan akan berlari memeluk Sophia, namun sepertinya Ruli menahan diri. Sophia, lain lagi. Aku tidak bisa membaca raut wajahnya. Senang, sedih, kaget atau tertekan.
Daniel, otherwise, malah duduk dengan nyaman setelah melepas sepatunya. “So, can you both explain? My PARENTS? Your kid, here need to know. And I am not idiot.” Kata Daniel.
Sophia berdeham sebentar sebelum akhirnya melepas sepatunya dan bergabung bersama Daniel dan Ruli. Aku menyusul dalam bingung. Benar-benar bingung.

Bersambung. . .


Aye-aye, tinggal satu atau dua chapter lagi tamat. Yaaaaaaaas! Hahaha!