FOLLOW ME

Sabtu, 26 Januari 2013

CINTAKU DIBAGI TIGA chapter eight


Aku memutuskan untuk mengabaikan Denny dan Beno. Mengabaikan Beno sih urusan gampang, tapi mengabaikan Denny? Perlu usaha ekstra keras dan juga kemauan yang sunguh-sungguh. Bayangkan saja, aku masih mencintai Denny, aku jujur untuk yang satu ini. Jadi, kadang-kadang saat pelajaran berlangsung aku masih sering curi-curi pandang mengamati wajahnya. Denny tidak mengusikku, dia sama sekali tidak menggangguku lagi. Tidak memohon maaf atau minta balikan.Sebenarnya ini yang membuat aku semakin nelangsa. Aku mau, Denny berkeras minta maaf, menjelaskan kejadian yang sebenarnya kemaren itu.Tapi sepertinya tidak. Dia hanya minta maaf, tapi tidak pernah menyinggung kejadian di mall dulu itu.

Sudah empat bulan berlalu, Beno juga tidak sesering dulu menggangguku. Dia dan Radit semakin dekat. Maksutku, mereka agak akrab sekarang. Tak terasa satu minggu lagi akan ada ujian akhir semester satu. Aku menarik nafas panjang.
“hei, buruan ah! Lo ngalamun aja! Ntar telat nih!” Radit menyadarkanku yang tengah menikmati sarapannya mbok Parni.
“iya, bentar lagi abis kok.” Sahutku pelan. Mamanya Radit hanya tersenyum mengamatiku dan Radit yang memang suka bercanda kecil. Walaupun tadinya mamanya Radit menolak sewaktu aku akan membayar tiap bulan, tapi karena aku paksa, akhirnya mamanya Radit mau juga menerimanya. Tapi tentu saja, ngekos dirumahnya Radit ini surga dunia. Sarapan dan makan malam yang pasti enak. Gratis pula. Dengan uang kos yang sama dengan tempat kosku dulu. How lucky I am.
Karena diburu-buru Radit tadi, aku tidak menyadari sesuatu. Sesuatu itu baru aku sadari saat aku sudah masuk ke dalam kelas dan 5 menit lagi bell masuk berbunyi. Aku LUPA MEMBAWA BUKU PAKET PKn! Jangan kalian pikir ini masalah sepele, ini sangat serius. Sialnya, hari ini Cuma kelasku yang ada pelajaran Kewarganegaraan. Aku panic, masalahnya Bu Eka, guru PKn, memang paling antipati dan paling ngamuk kalau ada murid yang tidak membawa buku paket pada jam pelajarannya. Sumber informasi ini sangat bisa dipercaya, yaitu dari anak-anak yang sudah pernah diamuk Bu Eka karena tidak membawa buku paket PKn dengan berbagai alasan.
Panic, panic dan panic. Masa iya mau minjem temen sekelas? Mana mau lah mereka! Sial nih! PKn memang bukan jam pelajaran pertama, tapi ketiga. Namun tetap saja, itu kan berlangsung sebelum jam istirahat pertama. Mana jam pertama Pak Asril lagi, mana mungkin aku minta ijin. Kalian masih ingat dengan Pak Asril kan? Gawat, gawat. Gawat banget. Aku benar-benar nggak bisa konsen mengikuti pelajaran Fisika. Walaupun begitu aku masih berpura-pura jadi siswa yang teladan. Ingat? Ini kan Pak Asril, aku tidak ingin jatuh di lubang yang sama dua kali. Pas jam ganti pelajaran, kepanikkanku memuncak.
“kenapa? Lo nggak bawa buku paket PKn ya?”Beno yang duduk dibelakangku bertanya. Dengan sopan. Tapi karena aku sedang kacau, aku tidak begitu memperhatikan perubahan nada itu. Soalnya, biasanya kan tu anak kalau nggak pake nada menghina ya ngejek. Tumben-tumbenan sopan.
“lupa!” jawabku cepat. Memang sih terdengar ketus dan agak kasar. Tapi masa bodo, Beno juga biasanya begitu kok.
“sama aja. Tetep aja judulnya nggak bawa kan?”
Aku kesal! Aku sedang panic, dan Beno malah seakan-akan memancing di air keruh. Kalau tadi aku menjawab dengan acuh tak acuh dan pandangan ke depan. Sekarang aku menoleh dan langsung menatap Beno tajam.
“trus kenapa? Masalah buat lu? Lu mau ikutan marahin gua juga? Boleh banget! Tapi nunggu giliran ya?Antri, Bu Eka duluan, baru elu.”
“nih!” aku bengong. Beno baru saja meletakkan atau lebih tepatnya melempar buku paket PKn nya ke mejaku.
“lo pake aja, sekarang cariin gue buku paket apa aja. Yang penting bersampul.Pinjem siapa gitu kek!”
Aku terpana melihat apa yang dilakukan Beno. Tanpa sadar aku malah jadi keasyikan bengong.
“buruan! Malah bengong lagi kayak emak-emak kesambet! Ntar keburu Bu Eka dateng!” perintah Beno galak.
“iya-iya. Bawel ah!” aku sebenarnya bersyukur banget. Sumpah! Aku cepat mengitari seluruh penjuru kelas. Mencari buku paket bersampul ternyata nggak susah. Dalam hitungan detik aku sudah kembali dengan buku paket Bahasa Indonesia milik Dewi.
“stroberi?!” Beno melotot.
“ada pita-pitanya lagi! Lo gimana sih? Ini mah sama aja lu ngasih tau Bu Eka kalau ini bukan buku gue.”
“lu tadi bilang yang penting depannya bersampul.” Belaku pasrah. Setelah melihat dengan seksama buku paket Bahasa Indonesia milik Dewi yang emang cewek abis.
“ya jangan stroberi pake pita juga kali Gan! Mana warnanya pink lagi! Ini mah cewek banget! Kecuali kalau selama ini gue punya gejala buat jadi banci!”
“nggak ada lagi Ben! Bukunya Reni sampulnya gambar permen warna-warni. Bukunya si Tania malah gambar Winnie The Pooh.”
Beno memandangi buku paket Bahasa Indonesia milik Dewi didepannya, lalu mendecakkan lidah.
“ampun dah!” kata Beno sambil geleng-geleng kepala. Tetep aja, kalau cowok keren, ekspresi seperti itu tetep aja keren. Namun kemudian senyum pasrah terkembang di bibir Beno. Sumpah! Ekspresinya kocak banget! Tanpa sadar tawaku pun meledak.Abis senyum pasrahnya Beno itu lho, gokil abis. Begitu Beno melirikku, aku malah semakin terbahak.
“ketawa lagi!” Beno mendengus. Aku menahan tawaku sebisa mungkin lalu teringat sesuatu. Bukunya Elliot kan semuanya tersampul coklat. Aku langsung memperhatikan teman sebangkuku itu yang dari tadi aku abaikan.
“Ell, pinjem buku paket lu satu!” mendengar ucapanku, Beno langsung menjentikkan jarinya.
“he eh, buruan Ell! Keburu Bu Eka dateng!” Elliot hanya diam sambil mengambil salah satu buku paketnya dari dalam tas. Aku dan Beno sama-sama mendesah lega. Sekarang buku itu sukses berpura-pura menjadi buku paket PKn.
Namun, kelegaan aku dan Beno tidak berlangsung lama. Kami sadar bahwa dengan meminjam buku Elliot, itu sama saja mengatakan kepada Bu Eka bahwa buku yang sedang ada di tangan Beno itu bukan buku PKn. Karena, di kelas mereka buku-buku paket yang disampul coklat hanya milik Elliot. Dan Elliot tidak mungkin mempunyai dua buah buku paket PKn. Jadi salah satu buku yang bersampul coklat saat ini pasti palsu. Dan tidak mungkin Elliot yang dicurigai –si cowok yang selalu ranking satu- tapi sudah pasti Beno.
“gua pinjem bukunya Dewi aja deh yang tadi. Lu pake aja buku lu!” kataku sambil beranjak dari tempat dudukku.
Terlambat!
Bu Eka sudah muncul di ambang pintu.Aku segera duduk kembali.
“udah, lo pake aja.” Bisik Beno dari belakangku. Aku menoleh.
“trus lu gimana?” aku menatapnya dengan cemas. Aku baru sadar, bahwa ini adalah pertama kalinya kami mengobrol tanpa adanya teriakan, hinaan atau ejekkan. Kita seperti teman akrab. Betulkah?
“ya doain aja gue nggak ketahuan. Kalau ntar ketahuan gue bisa abis diomelin.”
Kemudian mengikuti seisi kelas, aku dan Beno membuka halaman buku paket seperti yang diperintahkan oleh Bu Eka. Ini nggak gampang, karena Bu Eka bukanlah tipe guru yang diam duduk manis di bangku saat menerangkan pelajaran. Beliau pasti jalan kesana kemari. Aku melirik Beno yang sesekali menutup bukunya begitu Bu Eka melintas di dekatnya. Karena pasti susunan paragraph dan subjudulnya yang beda akan membuat siapapun yang melihat tahu kalau itu bukan buku paket PKn.
Tapi sepertinya, sampul coklat memang sudah menjadi trademarknya Elliot. Jadi begitu didalam kelas ada dua buah buku bersampul coklat, Bu Eka langsung curiga. Dengan tatapan yang berubah menjadi dingin, Bu Eka menatap Beno yang tengah berpura-pura sibuk dengan bukunya.
“kamu yang duduk paling belakang sebelah kanan, siapa namamu?” Bu Eka yang tengah bersandar pada meja guru langsung mengambil buku absensi.
“Yonathan Beno Wicaksono, coba kamu baca tiga paragraf pertama.” Perintah Bu Eka tajam.
“mampus gue!” desis Beno yang masih bisa aku dengar.
“ketauan juga! Cepet lagi!” mendengar gerutuannya, aku jadi tidak tega. Dengan wajah cemas aku melirik ke arahnya.
“saya lagi sakit gigi Bu.” Beno menjawab dengan lirih. Ucapannya dibuat sememelas mungkin. Jelas Bu Eka tidak percaya, karena tampang Beno jelas nggak seperti orang sakit gigi.
“membacanya dengan pelan-pelan saja kalau begitu.” Ucap Bu Eka manis. Seisi kelas jadi ikutan tegang! Melihat Beno yang hanya diam saja, Bu Eka langsung ngamuk.
“kamu tidak bawa buku kan?” aku menoleh kebelakang. Aku ingin mengatakan kalau akulah yang tidak membawa buku.Tapi ternyata Beno mendahuluiku.
“iya Bu, saya lupa membawa buku.” Aku syok jujur saja. Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Beno? Maksutku, bukankah dia membenciku? Dan justru ini kesempatan emas dia untuk menjatuhkanku? Aku melihat Radit dan Denny yang tengah menatapku dengan tatapan ingin tahu.
Begitu Beno mengaku, Bu Eka langsung ngomel-ngomel. Dimulai dengan mengatakan bahwa Beno adalah model generasi muda yang tidak menghargai pelajaran yang diberikan oleh Bu Eka, sampai dengan pernyataan dari bibir Bu Eka yang berujar bahwa Beno tidak menghargai jasa-jasa pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan RI.
Aku baru tahu, juga Beno dan seisi kelas yang mengikuti jalannya Bu Eka mengomel itu dengan seksama, bahwa tidak membawa buku paket PKn saat pelajaran Bu Eka itu termasuk mengkhianati perjuangan para pahlawan yang berani mati demi kadaulatan RI. Dan juga termasuk kejahatan serius yang bisa berujung didalam sel tahanan jika ada undang-undangya.
Setelah mengomel-ngomel tadi, yang kurang lebih memakan waktu hampir setengah jam. Ternyata Bu Eka belum puas, beliau memerintahkan Beno untuk meninggalkan kelas. Aku jelas kaget. Sumpah, amukannya Bu Eka nggak banget. Aku mengiringi langkah Beno yang keluar kelas dengan tatapan bersalah. Namun aku masih mendengar bisikan Tantra.
“asyik banget sih si Beno, nggak belajar. Kok tadi nggak ngajak-ajak ya?” dasar semprul!
Pelajaran PKn berakhir bertepatan dengan istirahat jam pertama. Begitu Bu Eka sudah beranjak keluar, tanpa menghiraukan Elliot dan Radit, aku langsung berlari ke kantin.Tepat dugaanku, Beno tengah asyik dengan siomaynya. Dia tersenyum melihat kedatanganku. Senyum kikuk, karena mungkin ini pertama kalinya aku yang nyamperin dia duluan.
“maaf ya tadi? Maaf banget! Seharusnya biar gua aja yang ngaku tadi.” Kataku begitu sudah duduk didepan Beno.“ trus, lu nongkrong sendirian disini selama dua jam pelajaran PKn? Aduh, mana tadi kepsek lewat lagi. Lu tadi sempet ngumpet kan?” tanyaku bertubi-tubi.
“nggak ada gunanya, emang nggak ada laporannya apa gua dikeluarin dari kelas gini?” sumpah, nih anak emang nyinyir abis. Tapi berhubung dia tadi yang nolong, aku malah semakin merasa bersalah.
“bayarin makan sama minuman gue deh biar tampang lo nggak merasa bersalah banget gitu. Nggak enak tahu diliatnya!”
“oke!” aku langsung mengangguk. Tidak menggubris perkataannya yang sebenarnya agak nyelekit itu.karena aku juga kebetulan sudah lapar, aku juga memesan siomay dengan air mineral. Tambah kacang kulit untuk Beno. Kan nggak asyik makan sendiri.
“nih!” aku menyodorkan kacang kulit ke hadapan Beno. Tu anak kayaknya nggak nolak. “buat iseng nemenin gua makan.” Kataku kemudian sambil tersenyum.
“bego ya kita? Kok bisa-bisanya nggak sadar kalau Elliot itu mungkin satu-satunya siswa SMA se Nusantara yang buku-bukunya disampulin cokelat!” ucap Beno sambil membuka bungkus kacang kulit yang sudah aku belikan tadi. Mendengar perkataan Beno barusan, aku batal memasukkan suapan pertama siomayku kedalam mulutku.
“he eh emang! Ini semua gara-gara Elliot!”
Kita berdua langsung terlibat dalam obrolan seru. Aku sadar, ini pertama kalinya aku dan Beno ngobrol tanpa adanya hinaan, saling ejek atau saling teriak. Pertama kali makan di kantin berdua dan entah mengapa, untuk pertama kalinya juga aku merasa dekat dengan Beno. Entahlah.
***

Radit menatapku dengan tatapan aneh. Aku tahu, sekarang dia pasti minta penjelasanku.Tadi, aku tidak hanya menghabiskan waktu dengan Beno di kantin saja. Waktu di kelas, aku juga kerap sekali menengok ke belakang karena gurauan Beno yang lucu. Dan, yang hingga kini aku tidak tahu, aku menurut saja saat Beno menawariku untuk pulang bareng. Aku juga heran, secepat itukah aku dan Beno membaur menjadi teman dekat? Dan sekarang aku sepertinya kena dampaknya. Radit.
“lo tadi pulang bareng siapa?” Radit memutar duduknya hingga bisa menatapku yang tengah berbaring di ranjang sambil membaca komik one piece. Aku ragu-ragu sebentar sebelum menjawab. Aku tidak menyukai Beno, sungguh! Tapi dia orangnya ternyata asyik banget.
“Beno.”Jawabku pelan. Aku sudah tidak bisa konsentrasi membaca komik one piece ku.Walaupun, Zoro tengah melepas baju atasnya di komikku. Ya, aku ngefans dengan Zoro One Piece. Dia itu bodoh, tapi cool. Keren, mungkin seandainya dia ada di kehidupan nyata.
“ada apa dengan kalian? Ada yang disembunyikan dari gue?” aku meletakkan komikku sekarang.
“nggak. Nggak ada apa-apa. Kita hanya capek berantem. Apa salahnya kita berteman.”Jawabku dengan nada senormal mungkin.
“sampai kapan lu bakal diem-dieman sama Denny?” aku terperangah. Kenapa tiba-tiba Radit menyinggung hal ini? Bukannya dia juga tahu dan melihat dengan kepalanya sendiri saat Denny selingkuh?
“lo masih sayang sama Denny?”
“aduh, udah deh Dit! Nggak usah nyebut nama tu anak. Lagi nggak mood gua!”
Radit menghembuskan nafas perlahan. Aku tidak tahu apa yang tengah dipikirkan sahabat dekatku ini.
“lu ada masalah Dit?” tanyaku perlahan sambil mendekatinya yang tengah sibuk  belajar. Padahal tadi sore kita sudah les privat.PR sudah dikerjakan, kita juga sudah belajar tadi. Buat apa Radit belajar lagi? Apa yang tadi belum cukup? Aku menghampirinya lalu memeluknya dari belakang. Sejak sebulan terakhir ini aku terbiasa melakukannya. Memeluk Radit atau dipeluk Radit. Radit melepaskan diri dari pelukanku yang langsung membuatku mengkerutkan dahi. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
“lo nggak bakalan ngerti Gan.” Katanya pelan sambil merebahkan dirinya di ranjang.
“good night.” Aku masih terdiam. Aku tidak bego, tatapan Radit tadi sangat mirip dengan cara Denny dulu menatapku jika aku sedang merajuk. Satu prasangka muncul di kepalaku. Radit menyukaiku?Cukup lama aku terdiam dengan pemikiran itu.Namun kemudian aku tertawa lirih. Nggak mungkin lah! Radit kan jelas-jelas naksir Beno!
Aku memandang Radit yang tengah tertidur pulas. Aku tidak tahu apakah dia sudah tertidur betulan atau hanya pura-pura tidur. Ini baru jam delapan malam. Biasanya jam segini, Radit masih sibuk dengan koleksi DVD-DVD nya. Dia hobi nonton film. Film apa saja. Komedi romantic, thriller, drama atau bahkan film documenter. Radit melahap semua jenis film.Kita sudah menghabiskan hampir 5 bulan lebih waktu bersama-sama.Aku tahu, aku menyayanginya. Tapi hanya sebatas sahabat.Saudara, tidak lebih.Aku masih mencintai Denny kalau boleh jujur.Tidak gampang melupakan sosok Denny dari hatiku, walaupun kita jadian tidak lebih dari dua bulan.
Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya menghembuskannya secara perlahan. Entah kenapa aku tiba-tiba jadi merindukan Denny. Oke, aku tahu kita masih bertemu setiap hari di kelas. Tapi kita kan sama sekali tidak pernah ngobrol. Aku melirik ponselku yang tergeletak manis di meja belajar.
NO Gani! No! I’m not calling him! I’m not calling him! I am NOT calling him! Damn it! Dengan perasaan campur aduk akhirnya aku memencet nomor itu. Nomor yang hingga saat ini masih sangat aku hapal. Pada deringan ketiga teleponku diangkat. Aku hanya diam, shit! Buat apa aku telepon dia tadi? For God shake!
“Gani? Are you?” see? Suaranya masih seseksi dulu.
“hei.” Sapaku basi. Demi Tuhan!
“ada apa?” suaranya lembut. Seakan-akan aku masih menjadi kekasihnya. Denny, can I told you that I miss you so much?Not, I can’t.
“nggak papa. Iseng aja.”Garing banget.
“gimana sama Felix?” tanyaku kemudian. Stupid! Kenapa dari sekian banyak topic aku harus menyinggung Felix? Aku mendengar Denny menarik nafas panjang sebelum akhirnya bicara.
“bisa kita ketemu? Aku jemput kamu?” aku melirik jam yang berada di atas meja belajar. Baru setengah Sembilan. Jam malam yang diberlakukan di rumah ini adalah jam sepuluh malam. Masih ada satu jam setengah. Ketemu nggak?Ketemu nggak? Shit! Jika saja rindu ini tidak begitu membebaniku.
“oke.” Kataku pelan sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon. Please tell me, what’s going on with me?
Aku langsung mengambil jaketku sebelum akhirnya turun dan keluar dari gerbang rumah. Tidak butuh lama hingga aku melihat Denny dengan motornya. Mempesona seperti biasa. Dan membuat jantungku berdebar lebih cepat. Aku masih mencintainya. Aku sadar itu. Dan aku merutuki diriku sendiri. Denny memberi kode dengan dagunya agar aku naek ke motornya.Tanpa membuang waktu aku segera naik ke boncengan motornya, namun kali ini aku jaga jarak. Aku tidak ingin memeluk pinggangnya seperti dulu.
Denny membawaku ke tempat ayam bakar kesukaanku. Dia sepertinya masih hapal apa menu kesukaanku. Namun begitu kita duduk berhadapan, kami sama-sama diam. Aku juga tidak tahu mau ngomong apaan. Sesekali aku melirik wajahnya. Dia masih sama seperti dulu. Betapa kangennya aku membelai pipinya? Menelusupkan jari-jariku melalui kaosnya? Menyentuh kulitnya? Ya Tuhan, jika rindu bisa membuat kematian, aku pasti sudah mati. Denny ku. Bukan, dia bukan Denny ku lagi. Dia hanya Denny Prayoga sekarang.
“aku kangen kamu.” Kalimat itu keluar dari bibir Denny lirih. Aku menatapnya. Ada rasa bahagia, sakit, juga rindu yang kian merebak dalam diriku.Tahukah kamu Den, bahwa aku juga merindukanmu? Desis hatiku getir.

Tbc,.
Ke chapter 9 ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.