FOLLOW ME

Jumat, 03 Mei 2013

CERITAKU 10


CERITAKU 10




Oke, aku benar benar menyesalinya. Sekarang aku dan Rafky tengah mendapatkan wejangan gratis dari pak Edi. Aku sebisa mungkin memasang wajah menyesal dan seperti yang aku bilang tadi, aku memang menyesalinya.
“sebagai sanksi atas kelakuan kalian tadi, kalian harus membuat artikel tentang  kehidupan cacing”. Pak Edi berkata dengan tegas, seperti tak mau di ganggu gugat. Mati aku!! Bukan apa apa sih, tapi aku paling phobia dengan cacing. Sumpah! Yakin!
“bisa di ganti dengan yang lain pak? Katak misalnya? Atau burung mungkin?”, aku berusaha menawar. Ini demi kelangsungan hidupku masalahnya.
“boleh, tapi babi hutan. Mau?”.Aku langsung bergidik. Pak Edi jago bercanda juga ternyata.
“ya udah deh pak cacing aja. Daripada babi hutan”
“ya sudah kalian boleh keluar dari ruangan saya. Ingat, tugas kalian harus ada di meja saya lusa!”
“lusa pak? Yakin pak? Nggak becanda kan?”, aku masih ingin menawar.
“iya lusa!! Atau mau besok saja?”. Gila ni guru, sekate kate aja ngasih hukuman.
“ya pak besok kami siap buat ngumpulinnya”, Rafky yang sejak tadi diam kini bersuara. Aku memutar kedua bola mataku. Ini anak gila tingkat tinggi. Sarap tingkat dewa. Sinting tingkat neraka.
“bagus kalau begitu. Besok saya tunggu di meja saya”
“baik pak permisi”, kata Rafky sambil mengajak aku keluar dari ruang guru. Aku hanya diam sepanjang koridor.
“lu uda janji mau nemenin gua latihan basket”, kata Rafky begitu kita sudah berada cukup jauh dari ruang guru.
“kita ada tugas. Dan harus di kumpulin BESOK”, sengaja aku menekankan kata besok. Siapa tahu Rafky sadar akan ketololanya dan meminta maaf, setidaknya pak Edi masih ada di ruang guru. Jadi kita mungkin masih bisa meminta kelonggaran waktu.
“iya gua tau, temenin gua bentar lha. Cuma satu jam kok! Ya? Temenin ya?”, Rafky memasang wajah terpolosnya.
“tugasnya?”
“gampang lha, Cuma cacing ini kok. Ya? Temenin? Satu jam? Ya?”, Rafky emang mempesona, siapa yang bakal tahan?
“oke, satu jam”
“siap!”
Aku dan Rafky menuju lapangan basket dan di sana sudah ada beberapa anak yang setahuku sih anggota inti semua. Kalo kaga salah yang rambutnya model mowhack itu namanya Muhadi. Kalau yang manis putih pendek itu namanya Rehan dan selebihnya aku tak tau. Maklum, aku bukan anak basket.
“hi, uda lama nunggu ya?”, Rafky langsung berbaur dengan mereka dan aku memilih untuk nunggu di pinggir lapangan. Di sini adem. Aneh dan asing rasanya, berada di antara orang orang yang belum aku kenal. Rasanya aku ingin pulang saja, tapi niat itu aku urungkan dalam dalam saat melihat Rafky melepas baju seragamnya dan dengan santai menggantinya dengan kaos. Ya TUhan, dia seksi mampus!! Oke aku memang berlebihan, tapi dia memang seksi. Nama nama seperti Paul Walker, Ryan Reynolds, Ryan Kwanten, Chace Craword (yang ini aku kaga yakin tulisannya benar) seperti terusir dari benakku. Sepertinya Rafky sudah menduduki peringkat cowok terseksi di dunia, versiku tentunya.
Rafky melakukan slam dunk. Sumpah keren gila, pantes aja cewek cewek pada teriak teriak kaga jelas di pinggir lapangan. Rafky menoleh ke arahku lalu tersenyum. Mereka three on three sekarang. Rafky, Rehan dan si pria-hitam-tak-tau-namanya melawan Muhadi dan 2 sekutunya (maaf karena aku tak tau nama mereka, sungguh). Aku benar benar menikmati menonton latihan basket ini. Bahkan sampai aku tak menyadari kalau ini sudah kelewat dari satu jam. Tapi apa daya? Beberapa menit sekali Rafky selalu mengangkat kaosnya untuk mengelap keringat di wajahnya. Lagi lagi aku akan bilang, eem mungkin kalian sudah bosan tapi Rafky memang seksi banget. Cukup, daripada nanti pembaca bakalan muak dengan tulisan ini aku harus bisa mengendalikan diri.
“pulang yok”, kata Rafky begitu di depanku.
“udahan?”
“he em, capek guanya”
“kaga ganti baju dulu?”, tanyaku mengingat bajunya yang sudah basah di beberapa bagian.
“kaga usah, ntar juga kering kalau pas naek motor”. Aku baru ingin menyuarakan keberatanku tepat saat Rafky di panggil Muhadi.
“bentar ya?”
“okey”. Aku masih menatap punggung Rafky. Hmm, so seksi. Well, kalian boleh muntah sekarang. Nyatanya janjiku untuk  menahan diri gagal.
“woey”, seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan mendapati Rehan yang sudah duduk di sampingku.
“woey juga”, jawabku kemudian. Telat memang, tapi daripada kaga di jawab sama sekali?
“nungguin sapa?”, anak ini lebih manis dari Andi. Walaupun lebih pendek dariku. Kok bisa masuk tim basket ya? Setahuku tim basket kan biasanya tinggi tinggi.
“Rafky”, jawabku singkat.
“owh, lu kelas satu apa?”
“kelas 2 tphp 1”, jawabku tanpa nada tanpa aksen.
“hehehe, sorry. Gua Rehan”, Rehan mengulurkan tanganya.
“Nansa”, balasku sambil menggegam uluran tanganya. Walaupun sebenarnya aku uda tau namanya. Dia termasuk nama yang banyak di soraki cewek cewek.
“jadi elu yang namanya Nansa? kirain yang putih tinggi itu”. Aku sedikit menelengkan kepalaku. Perasaan aku bukan siswa yang masuk dalam jajaran siswa popular di sekolah. Dan mungkin yang Rehan maksut barusan adalah Andi.
“maksutnya?”
“lu kan yang tahun lalu jadi juara umum satu jurusan? Hebat!”.Aku hanya tersenyum.
“emang lu anak mana?”, ganti aku yang bertanya.
“gua analis”, Rehan tersenyum. Anak ini manis sekali.
“hha?”, aku sedikit kaget. Bukan apa apa, tapi anak analis ikut team basket? Ini lebih wow daripada rencana kenaikan bbm kemaren. Ya, tidak seheboh itu sih tapi tetap bikin orang heran. Di sekolahku ada 3 jurusan. Agro, TPHP dan analis.
Agro? Istilahnya sih mereka seperti premannya sekolah, paling semangat jika di suruh membuat huru hara. Dan paling bisa membuat guru guru angkat tangan. Tapi jangan salah, mereka lha pagar sekolah jika sekolahku di serang oleh sekolah lain. Dan agro adalah tempat yang tepat untuk mencari cowok slengekan.
TPHP? Bukannya sombong sih, tapi di sinilah anak anak gaul berotak encer berkumpul. Pelajaran oke, pergaulan pun oke. Dan sepanjang sekolah ini didirikan antara agro dan TPHP sudah terjalin hubungan yang cukup harmonis. Seperti lempar lemparan plastic berisi air mungkin ato saling adu bacot kalau sedang upacara bendera. Atau saling dorong mendorong saat mereka di kumpulkan bareng di aula.Yah, tidak terlalu akur sih tapi masih ada komunikasi.
Sedangkan analis? Mereka cerdas? Ya! Sangat! Tapi mereka di kenal tak pernah bersosialisasi baik dengan agro maupun TPHP. Mereka lebih sibuk dengan urusan akademis. Aku tak pernah menyangka kalau Rehan anak analis. Mereka di kenal sebagai ‘anak baik baik’, kalian tau kan maksutku? Jenis siswa yang di agendanya hanya belajar dan belajar. Lagipula Analis mempunyai ruang kelas yang terpisah dari agro maupun TPHP. Mungkin karena factor itu juga mereka seperti tidak membaur dengan agro maupun TPHP. Okey, stop curhatnya. Balik lagi ke cerita.
“kenapa? Kaget banget kayaknya lu”, Rehan sedikit mengkerutkan keningnya.
“gak kok. Biasa aja, lu kelas berapa?”.
“ 1 AK 2”. Aku hanya manggut manggut. Setelah itu aku dan Rehan sama sama diam, aku tak tau harus berbicara apa dan mungkin sebaliknya juga dengan Rehan. Untung tidak beberapa lama kemudian Rafky datang.
“yok! Sekarang beneran pulang”, Rafky berbicara sambil membantuku berdiri.Aku hanya diam sambil menganggukan kepalaku ke arah Rehan.
“duluan Re”, kata Rafky sambil berlalu.
***


Aku berada di atas motor Rafky.  Dan well, aku harus jujur kalau aku menyukainya, menyukai aroma Rafky saat berkeringat. Sebelum naik tadi aku sempat mengajukan keberatanku atas parfum alaminya ini. Apa tanggapanya? Let see. . .
Kejadian di tempat parkir kurang lebih setengah jam lalu waktu Ardhinansa. . .
“lu kaga merasa sungkan?”, ini suaraku saat Rafky menyuruhku untuk naik ke motornya.
“kenapa?”, yang ini adalah pertanyaan bodoh Rafky. Kenapa? Jelas karena dia berkeringat dan bajunya basah di beberapa tempat yang well sangat tidak etis. Tapi bukan berarti aku tidak menyukainya, aku hanya ingin sedikit berdebat supaya Rafky tidak mencapku sebagai lelaki-doyan-aroma-keringat-Rafky. Walaupun harus aku akui aku menyukainya. Aroma yang sangat maskulin.
“bau badan”, kataku. Rafky mengendus endus tubuhnya sebentar.
“kaga terlalu bau kok. Yakin! Lu bisa naik sekarang atau gua tinggal?”
Oh, Rafky menggunakan permainan atau-gua-tinggalnya lagi seperti dulu waktu di pemakaman.
“okey gua naik, tapi jangan salahin diri lu sendiri kalau ntar gua pingsan di tengah jalan karena aroma keringet lu”
“sip!! Itung itung ngurangin populasi”
“sial lu”
Dan kini setengah jam kemudian aku malah sudah mendekatkan hidungku ke punggung Rafky. Rasanya damai di sini.
“uda sampai”
“gua tau”, aku turun dari motornya Rafky dan bermaksut mengucapkan terima kasih saat Rafky lebih dulu ngomong.
“lu ganti baju, bawa seragam plus buku buat jadwal besok. Lu nginep di rumah gua”
“hha?”, yakin! Mulutku hanya bisa ternganga.
“kita ada tugas, remember? Dan harus di kumpulin besok!”
“sial! Lu uda rencanain ini kan? Biar lu bisa tidur seranjang ma gua?”
“jangan Ge eR, ntar lu tidur di ruang tamu kok”
“sial”, aku berlari kecil masuk rumah. Mengambil buku buku untuk pelajaran besok lalu keluar rumah lagi setelah pamitan ke Reno.
“kok masih pake seragam?”
“ini seragam buat besok dan aku pinjem baju lu ntar. Gua kaga mau repot dengan bawa baju ganti”
“oke, ceptan gih naek”. Kali ini tanpa berdebat aku naik ke atas motornya. Menikmati aroma keringat Rafky yang jelas masih terasa. Dan mungkin karena saking nikmatnya aku bahkan tak sadar ketika aku dan Rafky sudah memasuki halaman depan rumah Rafky. Aku segaera turun, sebelum suara jutek Rafky menegurku duluan.
“laptop gua di atas meja, modemnya di laci atas. Gua mandi dulu”, itu kata kata pertama yang di ucapkan Rafky saat aku dan dia masuk ke kamarnya. Harapanku untuk melihat Rafky hanya berbalut handuk pun kandas karena dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin nanti.
Aku segera menghidupkan laptop milik Rafky, mencari file file yang tersembunyi sebentar sebelum melakukan browsing. Siapa tau Rafky menyimpan gambar porno may be? Atau bahkan video? Walaupun pada akhirnya jerih payahku sia sia karena tak menemukan satu file pun yang aneh. Aku mulai asyik mencari artikel tentang cacing.Ternyata banyak juga jenis cacing. Guru biologi sinting!! Kenapa harus kasih tugas sih hukumanya? Kenapa kaga hormat bendera selama 5 menit? Atau membersihkan ruang kelas misalnya?
“uda nemu bahan bahan yang mau di buat artikel?” aku mencium aroma sabun yang segar. Aku menoleh dan keinginanku terkabul kurang lebih setengahnya. Rafky memakai celana kargo, tapi masih bertelanjang dada. Kalau Rafky seperti ini terus, maksutku mendemonstrasikan keseksian tubuhnya di depanku mungkin aku akan bisa melupakan Andi lebih cepat dari dugaanku sebelumnya. Mungkin.
Bukankah jika terluka oleh pria obatnya juga pria? Ya Tuhan apa yang ku lakukan? Mencari pembenaran diri atas apa yang aku lakukan! Dasar murahan!
“belum semua terkumpul, tapi gua lagi berusaha buat menyusun dari metamorphosis cacing secara umum. Baru nanti bisa di jelaskan lebih rinci tentang jenis jenisnya, cara perkembangbiakkannya, habitatnya dll”
“okey, great. Tapi setahu gua cacing tidak bermetamorphosis”
“bukan methamorphosis  seperti kupu kupu atau kecoa tapi mungkin lebih kepada penjelasan dari larva berubah menjadi cacing? Itu kan butuh proses?”, aku mengkerutkan keningku. Tugas ini lebih sulit dari yang aku bayangkan.
“gua suka gaya lu”, aku menoleh ke arah Rafky dan memelototkan mataku. Ini bukan saat yang tepat untuk acara tembak-aku-kau-ku-terima. Jelas bukan saat yang tepat.Tugas ini di kumpulkan besok dan bahan bahannya pun belum dapat.Tapi pelototan mataku tidak bisa maksimal, ingat? Rafky masih bertelanjang dada. Perut sixpack itu menggodaku.
“bentar, biar cepat gua juga bakal cari data”, kata Rafky sambil berjalan keluar dari kamar. 10 menit kemudian Rafky sudah kembali dengan laptop di tangannya. Ya Tuhan, berapa laptop yang keluarga ini punya?
“punya Andi”, kata Rafky seolah olah menjawab rasa penasaranku.  Rafky mulai berkutat dengan laptop milik Andi, beberapa kali melirik ke arahku.
“gua bakal mulai ngetik, enaknya dari mana?”, tanya Rafky setelah beberapa saat kita asik dengan pekerjaan masing masing.
“abaikan pendahuluan, kata pengantar, daftar isi dsb, karena kita membuat artikel bukan laporan”, kataku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar laptop.
“ada flashdisk?”, aku bertanya sambil mengulurkan tanganku.
“gua bakal mindahin file file yang mesti lu copy ke word, gua uda urutin filenya. Jadi lu ntar tinggal perbaiki hurufnya supaya seragam. Jangan lupa beri sedikit bagan atau gambar, okey?”, aku menatapnya dan Rafky tersenyum kecil.
“siap komandan”, jawab Rafky mantab.
“sip dah. Emm Raf boleh gua facebookan bentar?”, Rafky menatapku lama, seakan akan aku adalah spesies yang akan segera punah dari bumi. Dan yang bikin kesal Rafky tertawa terbahak setelahnya.
“silahkan bapak Ardhinansa Adiatama”
“terima kasih bapak Muhammad Rafky Ulinnuha, anda sangat membantu sekali melecehkan saya”. Rafky kembali terbahak dan aku memutuskan untuk tak menanggapinya.  Mending facebookan dan membuka situs video porno. Aku melirik Rafky sekilas, anak itu tengah sibuk memindahkan file yang telah aku copy ke dalam dokumen baru. Okey, ayo mulai berpetualang. Aku tengah menyaksikan video mesum seorang dokter yang pura pura tengah memeriksa pasiennya dengan cara tak wajar.
“selesai. Akhirnya, makan yok!”, aku gugup sesaat langsung mengclose tab porno yang sedang aku lihat tadi.
“makan dimana?”, tanyaku setelah berhasil menguasai diri.
“ke bawah lha, biasanya sih jam segini udah pada ngumpul di meja makan”. Aku nervous, ke bawah? Makan malam bareng keluarga besar Rafky?Aduh, malu.
“atau mau makan di luar aja?”
“di luar aja Raf”, kataku antusias.
“bentar ya, gua pinjemin lu bajunya Risky bentar. Soalnya kalau lu pake punya gua uda pasti ke gedean”
“sialan lu”
5 menit kemudian Rafky sudah balik ke kamar membawa celana jeans pendek dan kaos oblong lalu mengulurkanya padaku. Aku dengan tersenyum kecut menerimanya dan menuju kamar mandi.
“kenapa kaga ganti di sini aja?”, Rafky bertanya dengan polosnya.
“lagi males buat ibadah, enak di elu rugi di gua”, jawabku singkat.
***


Sebenarnya aku bisa saja minta antar pulang sekarang. Baru jam 9 malam dan belum terlalu larut untuk pulang. Tapi entah kenapa enggan rasanya, lagipula aku sudah terlanjur bilang ke Reno kalau aku bakalan menginap.
“lu pesen apa?”, tanya rafky sambil menatapku.
“nasi goreng plus mie. Pedes, tanpa sayur, tanpa acar. Telornya dua, satu di campur satunya lagi di ceplok”
“buset”
“kenapa?”, kali ini giliranku pasang wajah polos.
“nggak, gak papa”.
“minumya kopi susu aja”
“lu suka kopi?”, tanya Rafky heran. Mungkin sama heranya seperti kenapa Tamara Blezenky (aku yakin tulisanya salah) melepas Mike Lewis begitu saja.
“ya, tapi harus di campur gula atau creamer”
“owh”, Rafky kembali berkutat pada hand phonenya.
“Raf?”
“hemm?”
“boleh nanya?”
Rafky mengangkat kepalanya, menatapku lekat lekat. “apa?”
“keluarga lu kaga marah kita kaga makan malam bareng mereka?”, aku sedikit khawatir. Takut kalau aku di anggap memberi pengaruh buruk bagi Rafky.
“santai aja. Papa lagi keluar kota. Andi juga keluar tadi, jadi kaga perlu khawatir lha. Okey?”.Aku hanya tersenyum. Kenapa perasaan tidak bisa di balikkan semudah membalikkan telapak tangan? Aku merindukan Andi, candanya, senyum usilnya dan tingkah kekanakanya. Apakah Andi juga kangen padaku? Ingatkah Andi tentangku?
“hy, you okay?”
“ya, gak papa kok”
“nasinya uda jadi tuh”, kata Rafky sambil menunjuk sepiring nasi goreng yang ada di depanku.
“ya thanks”
***


Sialnya, esok harinya  aku dan Rafky sama sama bangun terlambat. Agaknya kita memang mirip dalam hal ini. Dan beruntungnya aku punya kesempatan mandi bareng dengannya, walaupun aku tak bisa lama lama memandangi perkakasnya namun melihat bentuknya yang yummy sudah sedikit membuatku merasa lebih baik. Sungguh, aku jujur kali ini.
Tugas tinggal cetak dan kembali aku dalam boncengan Rafky. Kalian ingin tau apa yang terjadi semalam? Yakin ingin tau? Sayangnya kalian akan kecewa. Tidak ada adegan pura pura tidur dan di raba raba.Tidak ada juga adegan pemaksaan (untuk yang satu ini aku sempat mengharapkanya, namun akhirnya kecewa juga), bahkan adegan saling peluk pun tak terjadi. Rafky menepati janjinya bahwa aku tidur terpisah darinya.Tidak di kamar tamu memang, namun di kamar Risky. Dan aku masih waras untuk tidak mengrepe grepe anak 15 tahun. Itu sama saja seperti aku meng grepe grepe Reno. tidak, aku tidak gila.
“sendirian aja?”, tanya seseorang sambil menepuk bahuku. Aku sedang berada di kantin. Jam pertama bahasa Indonesia dan aku sedang malas untuk mengikutinya.
“he em”, jawabku singkat. Jujur aku agak terkejut, masalahnya anak yang menyapaku tadi Rehan. Dan ini masih jam pelajaran berlangsung. Bahkan saat istirahatpun anak anak Analis jarang ke kantin, katanya sih mereka bawa bekal dari rumah.
“pelajaran kosong?”, tanyaku sewajar mungkin.
“kaga, lagi males aja”. Anak Analis Kimia males belajar? Dunia sudah terbalikkah? Atau sedang menuju kiamat?
“owh”, hanya itu tanggapanku. Karena setelah aku pikir pikir, kata kata seperti ‘tumben amat anak AK bolos?’ atau ‘kerasukan setan apa lu bisa nekat bolos?’ dan mungkin ‘lu anak agro ya?’ terkesan agak terlalu akrab padahal aku dan Rehan baru kenal kemaren.
“lu sendiri ngapain di sini?”, tanya Rehan balik.
“sama kayak lu”
“owh”, sekarang gantian dia yang ber ‘owh’. Aku masih menikmati jus jambuku, sedangkan Rehan Nampak gelisah.
“eem Nan, boleh gua nanya sesuatu?”
“boleh”
“tapi lu janji kaga bakal tersinggung?”
“oke gua janji”, anak ini aneh. Kita baru kenal kemaren dan dia nanya nanya yang sangat dia yakin bakal menyinggung perasaanku.
“lu ada hubungan apa sama Rafky?”. Aku tersedak, kali ini sungguhan aku tersedak. Bukan acting atau pura pura.
“lu nanya apa tadi?”
“lu sama Rafky”. Aku harus mencerna ulang pertanyaan Rehan. Apa aku ngondek sehingga langsung ketahuan kalau aku gay? Tapi temen temenku biasa aja tu. Atau aku terlalu mesra dengan Rafky? Kayaknya kaga dah.wah, ni anak ngaco nih.
“maksut lu gua homo homoan gitu ma Rafky?”. Tanyaku blak blakan.
“ye jangan marah lha, gua kan Cuma nanya”. Pertanyaan tolol, batinku.
“gua Cuma temenan ma Rafky”
“kalau gitu bantuin gua deket ma Rafky ya?”, kalau gelas ini bisa ketelen mungkin sudah aku telen barusan.
“hha? Serius? Lu gay?”
“iya dan gua suka Rafky”


Tbc. . .