FOLLOW ME

Minggu, 30 November 2014

BOTTOM 2

Peringatan keras!!
Cerita ini penuh dengan adegan fulgar dan seks juga pertumpahan darah. Cieileh!! Jadi kalo engga suka dengan tema seperti ini harap jangan dibaca. Thanks!
***

Bimo Adiaguna
Titris adalah istri yang sempurna. Gue tahu, dia juga ibu yang ideal untuk Damian. Gue terus memperhatikan wanita yang sudah gue nikahi sekitar delapan tahun itu dengan intensitas yang mungkin bisa ngebuat lo jengah.
“Kenapa sih mas? Ada yang salah? Damian sayang, susunya dihabisin dong.” Gue menggeleng, walaupun gue tau persis bini gue itu kaga bakal ngeliat gelengan kepala gue karena dia tengah sibuk dengan Damian.
“Enggak sayang. Kamu makin cantik saja kalau aku perhatikan.” Gue jujur, beneran jujur. Istri gue itu memang cantik, dan dia tengah merona sekarang.
“Mom, Damie mau jus jeruk.”
“Hey jagoan, habisin dulu susunya.” Gue berjalan ke belakang Damian dan menggelitikinya. Membuat putra semata wayang gue itu kegelian namun malah tertawa kencang.
“Tapi Damie mau jus jeruk Daddy, please?” Puppy eyes itu, nurun dari siapa sih ini anak gue? Wajahnya sih persis kayak gue, tapi matanya itu ehm, mirip Daniel. Aah, Daniel.
“Mas? Kok tumben sih jam segini masih dirumah?” Kata istri gue sembari menyerahkan segelas jus jeruk ke Damian. Selalu luluh jika menghadapi puppy eyes macam milik Damian ini. Oh ya, macam milik Daniel juga. Sepagi ini dan sudah kangen aja sama itu anak.
Gue berdeham, merasa bersalah juga karena disini ada istri tapi yang gue pikirin malah orang lain. Laki-laki lagi!!
“Ini bentar lagi juga uda mau berangkat. Kamu gak suka aku lama-lama di rumah?” Tanya gue sambil merengkuh Titris kepelukan gue. Jujur, untuk menghapus rasa bersalah karena sudah memikirkan orang lain selain dirinya.
“Aah kamu mas, tumben aja. Jarang-jarang kan? Oh ya ada kue itu, mau mas bawa ke kantor? Sekali-kali buat anak kantor mas.”
“Boleh,” Gue mencium pipi Titris lembut. Memang, gue selalu berangkat pagi untuk sekedar menemani Daniel sarapan di apartementnya. Hari ini, gue pengen sarapan bareng keluarga gue. Walau pikiran gue gak bisa jauh dari Daniel. Apa gue dipelet ya ama itu anak?
***

Joshua Daniel Pradipta
“Hell shit!!”
“Language Dan, mulut lo tu ya!” Aku mengambil tissu dan membersihkan kemejaku yang ketetesan saus sialan itu, dan mengabaikan perkataan Evan barusan. Bercak merah itu tetap gak bisa hilang. Haduh, mana ntar ada meeting lagi sama distributor.
“Ya abis ini saos kurang ajar banget tumpah di baju gue!!”
“Salahin aja tangan lo itu.” Aku melirik Evan dengan sarkastis tingkat dewa. Aah, kalau harus balik ke apartment buat ganti baju tanggung, pasti ntar telat. Meeting jam sepuluh lagi. Tapi gak mungkin kan pake kemeja bercak merah lumayan gede tepat di dada gini? Crap banget!
“Uda sih, ntar beli aja baru di abang-abang pinggir jalan mau ke kantor itu.”
“What? Lo bilang apa itu tadi? Beli di pinggir jalan? Lo pengen gue gatal-gatal?” Sial tetep gak mau hilang seberapapun kerasnya usahaku.
“Tumben lo gak bawa jas atau jaket gitu?”
“Meeting pake jaket? Mending lo gorok gue Van!”
“Uda deh, buruan gih berangkat. Ntar kita telat nih.” Akhirnya mau gak mau dan yah, kalau kita lama-lama disini juga gak bakal bikin waktu ikutan berhenti, jadi ya harus ke kantor dengan kemeja bebercak noda merah lumayan gede. Gila, salah-salah bisa dikira darah mens nih! Atau malah aku dituduh abis bunuh anak orang?
Jam segini juga pasti belum ada mall yang buka. Kalaupun sudah ada yang buka, belum ada store yang buka. Hhh!! Salah satu alasan I hate Monday! Selalu terburu-buru dan fuck yeah, making a little mistake tapi efeknya gede kayak gini.
Aku menepikan mobilku ke abang-abang yang memang selalu jual baju-baju di pinggir jalan dekat kantor tanpa melepas sunglasses hitamku. Ini abang dari rumah jam berapa ya? Atau rumahnya memang di sekitar sini? Aku berusaha sekuat mungkin mengabaikan Evan yang tertawa nyegir dan terlihat puas –Kalau dia bukan temanku, aku pasti sudah membunuhnya sekarang, dan melemparnya ke jalan tol, ingatkan aku bahwa dia masih temanku- melihatku yang akhirnya membeli baju si abang-abang pinggir jalan ini.
“Stop laughing you son of bitch!!”
“Hahaha, pertama kali dalam history. Joshua Daniel Pradipta sang ‘branded slave’ beli baju merk gak jelas! Pinggir jalan pulak! Apa pula itu?”
“Shut up, atau gue turunin lo disini?”
“Gak papa kali, udah deket ini sama kantor.” Evan bisa menjadi teman yang sangat pengertian. Tapi kadang dia sama busuknya dengan para koruptor di Indonesia. Dan aku memilih diam. Mengabaikan cengiran Evan yang lama-lama semakin ganggu.
Setelah selesai melakukan finger print aku berlalu menuju pantry. Jam segini biasanya masih sepi. Aku mengambil gelas dan mengambil kopi sachetan yang selalu tersedia disitu. Sepetinya Bagus –Salah satu office boy di kantor ini- yang rutin membeli untuk anak-anak kantor. Aku ‘branded slave’? sepertinya tidak juga, tidak salah maksutku. Aku percaya bahwa, jika sudah mempunyai ‘nama’ berarti kualitasnya sudah bisa dipercaya juga kan?
Aku mengaduk kopiku, sambil tangan kiriku melepas kancing kemejaku satu persatu. Tanggung, ganti baju aja sekalian disini. Aku melakukannya secara perlahan. Karena yah, aku juga masih sibuk menyesap kopiku pelan-pelan. Haha, seharusnya aku fokus ganti baju dulu kali ya? Baru menikmati kopi. Tapi mungkin aku sedang melatih kemampuan otakku untuk bisa melakukan multi tasking layaknya smartphone.
Gila, aku terkekeh sendiri dengan pemikiranku.
Aku sukses melepas kemeja bercak noda merah mengerikanku itu. Namun belum bernafsu memakai kemeja baru yang aku beli tadi. Aku memeriksanya dengan teliti. Not bad juga sih sebenarnya.
“Ehm, ini pantry bukan studio foto untuk L’Men.” Aku menoleh kearah sumber suara. Uki. Hhh, pagi-pagi ngajak berantem aja ini anak.
Aku mengabaikannya dan mulai memakai baju baruku. Setelah dirasa rapi, aku segera mengambil gelas kopiku yang baru aku minum seperempat dan tas kerjaku.
“Tapi gue lihat lo kayak enjoy banget ngeliat gue shirtless tadi.” Kataku tepat saat dekat dengan Uki. Uki memalingkan wajahnya. Mungkin kesal? Who cares? Not me of course.
***

Uki Bagus Walantaga
Aku harus ke psikiater! Harus! Apa-apaan itu tadi? Aku terangsang melihat Daniel shirtless? Pasti ada yang gak beres di otakku! Pasti! Aku baru tahu Daniel mempunyai tatto di lengan dan dadanya. Sounds weird, but I like it. Or may be, aku terlalu excited sampai juniorku memberontak ingin melihat tatto Daniel lebih dekat?
Gila, aku harus memasukkan jadwal bertemu psikiater ke agendaku minggu ini, kalau bisa secepatnya! Forget about Daniel, lupakan bentuk tubuhnya yang ramping namun berotot pas itu. Lupakan tatto yang minta untuk disentuh itu, lupakan puting merah jambu yang benar-benar minta untuk dijilat itu.
Shit! Aku bukan gay! aku bukan gay! aku bukan gay!
Eh, kenapa aku turun kebawah ya tadi? Oh iya, kuenya Pak Bimo. Aku lapar!!
Setelah aku menemukan kue yang tadi dibilang Bagus berada di kulkas, aku segera naik ke lantai dua. Ke kubikelku, membuka laptopku dan mulai membuka email sambil mulutku menikmati kue yang katanya dibawa oleh Pak Bimo tadi pagi. Tumben tuh si Pak Bos. Gak biasa-biasanya doi bawa kue gini ke kantor. Boro-boro bawa kue, pas dia ultah aja gak ada traktiran apa-apa. Pelit ya bosku? Ah sudahlah, yang penting dia gak bawel-bawel amat soal kerjaan. Yang penting tepat waktu ama deadlinenya.
“Mas Uki, nanti sebelum meeting disuruh naik ke lab sama Mas Daniel.” Hah?
“Dia bilang gitu Gus? Kok gak telepon aja sih?”
“Waduh kalau yang itu saya ndag tahu mas. Saya permisi dulu mas.”
“Oke-oke.” Aku menutup laptopku. Tinggal setengah jam lagi sebelum meeting sama distributor, ini si Daniel apa-apaan juga minta aku ke atas. Gak ngomong tadi aja waktu di pantry sekalian.
Aku segera naik ke atas, daripada nanti Daniel ngomel-ngomel gak jelas. Satu hal yang aku tidak suka saat Daniel ngomel adalah kata-katanya yang gak pernah disaring. Bisa banget setajam silet atau bahkan lebih tajam. Belum mau meluncur dari mulutnya aja uda bikin gatal.
Aku melihat Daniel dengan baju baru. Aku belum pernah melihat dia memakai baju itu sebelumnya. Baju yang dia pakai di pantry tadi. Agak terlalu ketat sepertinya. Aah, aku tidak notice tadi sewaktu di pantry. Dan baju ketat itu membuat putingnya agak terlihat menonjol. Shit! Shit! Psikiater! Psikiater! Darurat!
“Kenapa Dan?” Aku terpaksa bertanya duluan karena sepertinya Daniel tidak mempunyai inisiatif untuk membuka bibir merahnya itu. Bibir yang terlalu sensual untuk dimiliki seorang lelaki. Sound like I am gay. Arghhhh!!
“Ini ada barang-barang dari Grand Multi Chemical, lo yang order atau gimana? Kayaknya gue gak ada minta.”
“Cuman gegara ini lo minta gue ke atas?” Kesel banget aku sama ini anak.
“Lah daripada ditelpon ntar lo nanya ‘yang mana barang-barangnya?’ ato ‘masa sih? Gue aja gak liat barangnya, mana gue tahu.’ Jadi mending gue nyuruh lo langsung keatas.”
“Uda pasti gue gitu ya? Bukan punya Pak Deddy? Vina? Atau Ranti gitu? Bisa aja malah yang minta Mbak Amelia. Sales bukan cuman gue kali.”
“Tapi sales yang berhubungan sama GMC itu elo sama Pak Deddy. Nah Pak Deddy gak ngantor karena mesti ke Nutrifood. Ya tinggal elo dong.”
“Tapi gue gak ngrasa minta barang ke GMC deh.”
“Liat dulu lah barangnya, lo kan pelupa!” Aku menghampiri Daniel. Sebisa mungkin mengabaikan sepasang puting yang tercetak jelas di kemeja kekecilannya hari ini. Dia sengaja memakai kemeja kekecilan buat pamer badan atau gimana sih? Bikin gak konsen saja!
“Aah, fruit juice extract! Ini projectnya Pak Deddy buat FIA.”
“Anjir! FIA kan masih lama. Yakin punyanya Pak Deddy? Kok dia gak ada email gue atau apa kek gitu.”
“Tanya aja sama orangnya. Gua kan bukan Deddy.” Daniel sepertinya ingin melakukan sesuatu namun diurungkan. Mungkin karena ada Herman dan Andy yang entah sedang sibuk mengerjakan entah apa itu di lab.
***

Evan Sutedjo
“Uki itu lucu ya?”
“. . .”
“Mukanya memerah gitu tadi pas gue godain di Pantry.”
“. . .”
“Kayaknya sih dia bottom.”
“. . .”
“Van please? Gue jadi kayak orang gila gini ngomong monolog gak ada yang nanggepin.” Aah, jadi gue harus ngasih pendapat nih ceritanya? Sepertinya ucapan gue kemarin lusa itu bener, gak ada istilah cowok straight dalam kamus hidupnya Daniel. Semua orang kantor –minus Daniel pastinya- tahu kalau Uki itu suka dengan Hita. Pun sebaliknya, jadi tinggal nunggu waktu saja mereka secara officialy jadian. Lalu apa tadi Daniel bilang, ‘Uki tersipu waktu dia godain?’ Hell no.
“Beban kerja lo uda overload ya Dan?”
“Anjir!! Lo kata gue stress!”
“Nah, itu lo ngeh! Boo, Uki itu straight! Gue berani taruhan deh.” Puppy eyes Daniel langsung berbinar.
Red Alart! Red Alart! Red Alart!
“Yakin lo Uki straight?”
“Yakin.”
“Demi apa?”
“Demi gaji gue bulan depan.”
“Fix, kalau gue bisa dapetin Uki, gaji lo bulan depan buat gue.” Shit! Ini ular beludak satu emang liciknya melebihi tokoh-tokoh antagonis di sinetron.
“Eh, apa-apaan itu? Gak bisa, gak mau gue.”
“Aah, cemen emang lo. Kalo lo emang yakin sama apa yang elo yakinin ya seharusnya lo gak takut.”
“Anjing.”
“Atau sebenarnya elo yang suka sama Uki ya? Ngaku deh lo?”
“Monyet.”
“Hah, atau lo uda dientot sama Uki?” Ini anak bibir sama kelakuan sama aja level buruknya.
“Taik bener lo.”
“So. . .?” Gue menghela nafas selama beberapa saat. Shit! Shit! Kapan sih gue bisa menang dari ini anak? Dari jaman SD, SMP, SMA lalu kuliah, gue selalu kalah. Masih mending jadi yang kedua atau ketiga. Rangking gue selalu jauh dibelakang Daniel. Masuk sepuluh besar aja udah syukur.
“Oke.” Gue akhirnya berkata setelah menimbang-nimbang ke belakang. Uki pasti straight. Pasti! Please Uki, prove ke gue kalau lo itu emang straight.
“Siapin tabungan lo buat biaya kehidupan lo bulan depan darling.” Daniel menjentikkan jarinya, lalu menyesap green tea latenya.
“Satu Minggu, itu waktu buat lo.” Kata-kata gue itu dalam sekejab langsung memusnahkan senyum jumawa Daniel.
“What a heck! Lo gila, telur ayam netes aja butuh waktu 21 hari!”
“Itu urusan induk ayam sama Tuhan ya bukan sama gue.”
“Satu bulan.” Gila, Uki beneran bisa jadi homo kalau didekati manusia licik macam Daniel ini selama sebulan.
“Satu minggu. Deal or No Deal.” Gue gak nyerah gitu aja.
“Lo kata lagi kuis? Come on Van? Senin ampe Jum’at kerja, mana sempet gue flirting ke Uki. Gila tega bener lo ya babi panggang!”
“Oke, dua Minggu. Tawaran terakhir.” Daniel berpikir sebentar. Benar-benar berpikir sepertinya. Dan lumayan bikin surprise, karena selama ini itu anak gak pernah berpikir sebelum bertindak. Selalu bertindak dulu baru berpikir.
“Oke, dua Minggu.” Gue merasa diatas angin. Pasalnya, Daniel mengatakan dua minggu tadi dengan nada ragu-ragu dan tak yakin. Hahaha.
***

Gue membuka kamar kost gue dengan perasaan bosan. Entah ya, kadang gue iri banget sama Daniel. Kita sahabatan dari kecil, sampai akhirnya sama-sama tahu kalau kita berdua gay, nyari sekolah selalu bareng dan selalu diterima barengan juga, yah walau beda kelas kadang, nyari kerjaan pun bareng. Di PT Saviour ini, adalah tempat pertama gue kerja. Bagi Daniel juga yang pertama karena kita nyarinya barengan.
Yang gue iri dari Daniel?
Gak usah bahas fisik lah ya, semua mata pasti lebih tertuju ke Daniel daripada gue. Dan gue udah belajar lebih dari sepuluh tahun untuk menyadari hal itu. Pernah jatuh cinta sama Daniel? Sayangnya belom, sayang sih iya. Gimanapun juga, Daniel udah kayak sodara buat gue. Sama dia, gue bisa cerita apa aja. I mean it tentang apa aja.
Kalau nafsu? Haha, pernah dan sampai sekarang kadang masih. Gue enggak pernah memungkiri kalau Daniel emang hot. Dan kalau pas tidur bareng, tangan gue selalu usil masuk ke celananya. Selama ini sih, Daniel fine-fine aja dan gak pernah protes.
Pernah making sex sama Daniel? Belom. Berharap? Engga, thanks. Gue gak mungkin ngorbanin persahabatan lama ini cuman buat hal sepele semacam seks. Yang gue tahu buat dapetin seks di tahun 2014 ini sangatlah gampang. Gue gak jelek-jelek amat, jadi ya tinggal pasang aplikasi macam grindr atau jack D, gue pasti bisa dapet. Tapi bukan itu, gue tipe yang lebih mengutamakan relationship. Gila, old school banget ya gue.
Pernah lihat Daniel bugil? Kalau cuman pake kolor, pernah dan sering! Kalau telanjang bulat, sayang sekali itu udah lama banget. Terakhir kali gue lihat Daniel sama penisnya itu pas kita masih SMP kelas satu. Masih belum ada apa-apanya. Jembut aja belum tumbuh. Hahaha.
Eh, kok gue jadi kayak sesi tanya jawab gini?
Gue meletakkan tas kerja gue dan rebahan diranjang. Menghidupkan ipod yang gue sambungkan ke speaker dengan suara pelan. Aah, istirahat sebentar sebelum turun nyari makan.
Gue tadi pulang sendiri, Daniel sepertinya mau memulai aksinya menaklukkan Uki. Sebenarnya menang atau kalah dalam taruhan kali ini sih tidak berarti. Gue cuman pengen Daniel belajar satu hal, ada yang namanya cowok straight di dunia ini. Seseorang harus mengingatkan Daniel akan hal itu, dan gue gak keberatan dengan tugas mulia untuk mengingatkan Daniel.
Lagu Hurt Christina Aguilera masih mengalun ketika gue mendengar ada yang mengetuk pintu kamar kost gue. Saat posisi udah pewe kayak gini, paling males kalau diganggu. Seriusan!
Tapi, daripada ntar si tamu ngetuk pintunya makin ganas. Dia pasti tahu ada orang didalam karena tadi gue sempat ikut bernyanyi bersama Miss Aguilera. Mungkin dia terganggu dengan suara gue tadi? Aah
Dengan ogah-ogahan gue bangkit dari ranjang. Gue harus mastiin bahwa ranjang gue tadi bebas dari lem. Efek lengketnya berasa banget.
“Hei, sorry ganggu. Lo ada charger Iphone kaga?” Holy crap! Gue pasti keliatan kaco, I mean gue masih pake pakaian kerja yang uda kusut. Rambut acak-acakkan ala abis diperkosa marathon sama satu pleton tentara. Gua pasti keliatan GAK BANGET.
“Hy, are you there?” Jari-jari macho itu menari-nari tepat didepanku.
“Oh, sorry. Eh, butuh apa lo tadi Ren?” Yup, yang ngetok-ngetok kamar gue tadi si Reno. The hot guy yang sering gue sama Daniel intipin tiap Jum’at malam.
“Charger buat Iphone gue. Lo ada gak?”
“Oke bentar.”  Gue masuk kembali ke kamar. Mengambil chargeran yang gak pernah gue cabut dari stop kontak. Selalu nempel disana semenjak gue beli.
“Thanks ya.”
“Welcome, emang kenapa charger punya lo?”
“Kabelnya putus.” Ha? Kok bisa? Digigit?
“Gue potong pake gunting pas gue kesel tadi.” Kata Reno seperti tahu keheranan yang tercetak jelas di wajah gue. Dan mendengar pengakuan Reno tadi wajah gue langsung bias. Oke, gue emang punya charger dua. Satu yang selalu nempel di kostan dan satu yang selalu gue bawa kemana-mana. Tapi tetep aja, gue gak rela itu charger gue kabelnya ntar dipotong-potong juga.
“Tenang aja, charger lo aman sama gue. Gue balikkin ntar kalau batere gue uda penuh.” Gue akhirnya menghembuskan nafas lega.
“Oke.”
“Once again, thanks ya.” Dia tersenyum. Reno tersenyum! Inget tadi pertanyaan gue pernah jatuh cinta sama Daniel apa kaga? Kayaknya gue jatuh cinta, tapi bukan sama Daniel. Sama Reno!
***

Bimo Adiaguna
“Don’t act like you won’t it.” Gue gak bisa menyembunyikan kekesalan gue sama Daniel setelah lebih dari sepuluh menit dia mengacuhkan gue. Gue bela-belain pulang awal dari kantor, beli kue coklat dengan sedikit cheese dan hazelnut kesukaan dia, tapi apa yang gue dapat?
“I want break up.” Shit! Not again.
“Kenapa? Ada lelaki lain?” Gue gak bisa marah walau gue pengen. Daniel bukan kucing, bukan tipe yang cuman pengen duit dari gue. Sepanjang kita pacaran, dia bahkan gak pernah minta apa-apa.
Dia juga gak pantes jadi simpanan, tapi gue gak mau ngebuang keluarga gue gitu aja.
“Gak ada mas. Gue capek aja.” Gue merengkuh pundaknya. Merebahkan kepalanya ke dada gue. Sesuatu yang gue tahu pasti bisa sedikit meredakan emosi Daniel.
“I love you.” Hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari bibir gue setelah kita berdua terdiam cukup lama.
“I know.”
“I won’t let you go.” Daniel semakin merapatkan tubuhnya.
“Then stay with me? Just for tonight?” Dilema. Tapi akhirnya gue mengangguk.
“Tapi dimamam dulu kuenya. Gue keluar dulu ngabarin Titris.” Daniel hanya mengangguk. Wajah mendungnya justru semakin memperjelas ketampanannya. He’s mine. He’s mine. Gue mengatakan itu berulang-ulang sambil jemari gue mencari nomor telepon Titris.
Thinking! Gue harus bisa memberi ide yang cukup jelas kenapa malam ini enggak balik rumah.
Nada ringtone masih terdengar.
Come on thinking!
“Halo mas,” Shit, udah diangkat lagi!
“Halo sayang, cuman pengen ngabarin aku gak bisa pulang malam ini. Ada project yang musti aku handle.” Titris terdiam cukup lama disana. Dia pasti marah. Pasti.
“Gak bisa besok aja mas? Harus malam ini?”
“Justru biar besok weekend aku bisa di rumah. Malam ini aku nginep kantor paling. Lembur sampai pagi soalnya.”
“. . .”
“Sama Daniel, kamu bisa telepon dia kalau gak percaya.”
“Oke mas, jangan terlalu dipaksa juga. Gak baik buat kesehatan.” Ada desah nafas kecewa disana.
“Iya. I love you.”
“I love you too.” Klik, sambungan diputus.
“Lembur? Gak capek lo boong terus-terusan mas?” Daniel berdiri disana. Dengan atasan piyama yang tidak dikancing dan boxer pendek pas badan. Damn!
“Jangan ikut memperparah mood gue yang lagi down.”
“Wanna cokelat?” Daniel tersenyum sambil mengangkat kue yang entah kenapa sudah tinggal setengah potong. Ini yang selalu gue iri dari Daniel, dia makan sebanyak yang dia mau dan gak pernah gendut.
***

Joshua Daniel Pradipta
Aku pernah bilang, aku benci hari Senin kan? Jadi gak perlu lah ya aku ulang-ulang lagi alasannya kenapa. Seperti pengendara motor didepanku yang dari tadi bikin aku gemas sendiri. Dua motor, berjalan pelan, saling ngobrol dan kedua kaki mereka dikaitkan ke motor satu sama lain. Mereka pikir ini jalan milik kakek mereka? Mereka pikir mereka lagi parade?
Dan di jalanan yang cukup padat ini sama sekali tidak memungkinkanku untuk menyalip. Shit! Setengah menyesal juga lewat rute jalan sempit kayak gini.
But, it’s okay. Hari ini adalah hari resmi dimulainya taruhanku dengan Evan. Dua minggu dari sekarang. Lumayan kan kalau dapat satu bulan gajinya Evan? Bisa buat liburan ke Raja Ampat. Barang dua hari. Wkwkwkwk.
Kemacetan tadi di jalan tidak membuat senyumku pudar, walau jujur aku cukup kesal tadi. Tapi sudahlah ya, bayangan liburan di Raja Ampat lebih menarik.
Bahkan Iin pun sempat heran karena aku sapa tadi.
Aku naik ke lantai dua. Dan mendapati meja Uki kosong. Uki Bagus Walantaga belum hadir. Aku melihat jam dinding yang terletak persis di atasku. Shit! Masak si rajin itu telat ngantor? Kan gak mungkin banget.
“Eh, si Uki belom dateng nih Hit?” Aku bertanya pada Hita yang kubikelnya sebelahan sama kubikel milik Uki. Jujur, aku gak bisa membayangkan bekerja di kubikel sekecil ini. Thanks ruanganku cukup besar bahkan untuk aku guling-guling gila disana.
“Dia hari ini gak ngantor.”
“Sakit?” Bukan karena aku khawatir tentu saja, hanya saja semua rencanaku bisa failed.
“Enggak, ada ketemu klien di Indesso. Trus lanjut ke Heinz ABC.”
“Thanks.” Aku berlalu dan naik ke lantai tiga. Kecewa, mogol atau apalah bahasanya. Dan entah kenapa, kejadian-kejadian menjengkelkan si motor yang gandengan mesra tadi kembali membayang dan membuat kekesalanku semakin meningkat.
Arrrrgggggggggggggggggh!!


TBC

THE SERIES LAST EPISODE

Too much drama. Kayaknya memang seperti itulah hidupku. Aku sudah sadar dari pingsan memalukanku tadi. Bukan karna hal gaib, tapi karena trombositku turun. Begitu kata dokter yang tadi memeriksaku. Eyang masih menatapku cemas walaupun aku sudah bilang kepadanya bahwa aku baik-baik saja. Sepertinya eyang merasa bersalah, yah mungkin. Tapi sekali lagi aku meyakinkan Eyangku bahwa jika aku tidak diajak eyang tadi, aku tidak akan pernah bertemu Lucca dan Lucci. Oh iya, aku juga tidak akan bertemu Jarwo. Si seksi yang mungkin, hanya sekedar mungkin adalah kekasih eyang.
“Mas Galih mana ma?” Aku bertanya pada Mamaku yang kebetulan tengah mengupas buah mangga untukku.
“Pulang sayang, kasihan dia udah jagain kamu dari semaleman. Ini mangganya Mama potong kecil-kecil ya?” Aku hanya mengangguk pelan. Pingsanku lumayan lama juga toh.
“Mama mau kasih kamu gambar gembira, sekaligus kabar sedih buat Mama sebenarnya.” Aku membetulkan posisi dudukku agar bisa leluasa menghadap Mama.
“Apa Ma?”
“Mama sudah ada hubungin teman Mama yang di US, dia seneng kamu mau kuliah disana. Nanti dia bakal kirim info-info, tapi kamu bakalan jauh.”
“Ma, itu masih lama.”
“I know it dear. Mama engga nyangka kamu tumbuh secepat ini. Seinget Mama, dulu kamu masih kecil dan suka buang-buang kosmetik Mama di jalanan.”
“Come on Ma! Itu aku waktu masih tujuh tahun!”
“Hahaha, Mama keluar dulu sebentar ya Sayang? Ini mangganya jangan lupa dimakan lho.” Aku menatap punggung Mamaku dengan sendu. Apa bisa aku hidup sendirian tanpa beliau? Aku menghembuskan nafas dengan jengah.
Aku mendengar Mama mengobrol dengan seseorang, sebelum akhirnya pintu kamar inapku dibuka lagi dan aku melihat Herry disana. Iya, Herry. Herry!
“Masuk sana, Seno baru juga bangun.”
“Iya Tante. Makasih.”
Herry masuk dengan malu-malu. Semburat merah jambu menghiasi wajahnya. Dia masih tampan, masih terlihat sama. Dan terlihat sedikit dewasa. Dan masih membuat jantungku bertalu-talu.
Aku masih mencintainya. I admit it.
“Apa kabar?” Kata itu terucap setelah kita berdua hanya diam dan saling tatap sedari tadi.
“Great. Never better.”
“Jangan pake Inggris, aku ndak ngerti Sen.” Aku terkekeh geli. Saling tatap lagi, dan akhirnya kita tertawa bersama. Aku melihatnya, melihat Herry dengan tawanya yang dulu. Tawa yang selama ini menghantuiku didalam mimpi.
Ketika tawa kita berdua mereda, ada akward moment. Kita berdua sama-sama salting. Mungkin memang benar, cinta bisa menghancurkan sebuah persahatan ketika cinta itu tidak lagi ada. Dulu kita berawal dari sahabat, lalu timbul benih cinta lalu kandas dan sekarang apa? Kita seperti anak baru memulai perkenalan lagi. Tidak peduli seberapa kuat rasa ingin memeluk Herry itu menyergap, aku tetap sungkan.
“Eh, masih suka mangga? Kok ndag dimakan?”
“Aku udah kenyang.”
“Buat aku aja kalau gitu.” Aku tersenyum. Herry yang rakus, aku memperhatikan ketika dengan lucunya Herry mulai memakan potongan-potongan mangga yang memang sedari tadi sudah Mama kupaskan untukku.
“Aku kangen kamu Her, apa kamu masih lupa dengan aku? Dengan kita? Apa kamu dateng kesini karena paksaan dari Hendra?”
Herry menghentikan aksi makan mangganya. Dia menatapku dengan pandangan mata serius.
“Aku pengen bilang sesuatu sama kamu.”
“Iya?” Hening, bahkan ketika aku dengan sabar masih menunggu Herry berbicara.
“Her?”
“Aku gak pernah amnesia.” Aku merasa seluruh duniaku luruh. Apa?
“Bisa diulangi Her? Mungkin ada yang salah sama pendengaranku, aku denger tentang amnesia-amnesia gitu tadi.” Aku kacau, aku hanya ingin Herry berbohong. Mengatakan bahwa tadi dia hanya berbohong, bahwa memang sebenarnya dia memang amnesia, bahwa yang dia katakan tadi hanyalah sandiwara untuk menggodaku dan menjahiliku saja. Dan mungkin sekarang ingatannya telah pulih.
“Aku gak pernah amnesia Sen, semua cerita sesudah kecelakaan itu murni aku buat-buat. Aku. . . Aku . . .”
“Lo bisa keluar dari kamar gue sekarang.”
“Sen, aku pengen ngejelasin semuanya. Kasih aku kesempatan tho?”
“Nanti? Aku butuh istirahat Her, please? Bisa tolong kasih waktu buat aku untuk istirahat?”
“Iya.” Nanti? Aku tidak yakin aku akan memberikan waktu ‘nanti’ pada Herry untuk menjelaskan. Entahlah, mungkin aku bahkan tidak ingin berbicara dengannya nanti. Aku menghembuskan nafasku dengan asal-asalan. Sebenarnya apa yang aku mau? Bukankah ada Galih disampingku? Lalu aku juga masih menginginkan Herry? Siapa yang sebenarnya brengsek? Aku atau Herry?
***

Aku menoel pantat Galih yang sedang sibuk merebus mie di dapur. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum.
“Yang sudah sembuh sekarang bisa jahil ya?” Gantian aku yang tertawa geli.
“Tumben Mas masak mie instan?”
“Lagi pengen Dek, masak ndag boleh? Adek mau?” Aku menggeleng. Rumah hari ini sepi, mama dan papa tengah mengecek kebun eyang yang bermasalah. Paman Prie dan Lek Tien entah dimana, sedangkan Eyang diajak Revan. Katanya sih mau ajak jalan-jalan.
“Mas, Seno tahun depan ke Amerika.” Galih diam.
“Sebenarnya Seno berat mau ninggalin Mas, Mama, Papa, tapi Seno bener-bener pengen pergi kesana.”
“Apakah keinginan pergi kesana lebih dari keinginan buat bareng-bareng sama Mas disini? Adek kan bisa kuliah di Jogja, tiap Minggu masih bisa pulang.”
“Seno pengen yang terbaik Mas.” Aku mulai berdebat.
“Jadi pendidikan di Indonesia kurang baik?”
“Bukan itu maksud Seno,”
“Uda Dek, mas mau makan dulu. Belum sarapan dari tadi.” Discuss enough. Galih ngambek, walau ini pertama kalinya Galih ngambek. Aku benar-benar tidak ingin ini terjadi, beneran! Dan aku harus memberitahunya secepat mungkin.
Aku menghembuskan nafas perlahan sebelum akhirnya mengambil kunci mobil dan memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Aku butuh udara segar sepertinya. Aku memutari alun-alun sebanyak dua kali sebelum akhirnya memutuskan untuk memarkirkan mobilku.
Setelah memesan siomay dan sop buah, aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Aku pernah kencan dengan Herry disini. Hhh, aku memejamkan mataku sejenak. Mencoba mensyukuri apa yang Tuhan beri. Semua kenikmatan dan kemudahan. Lalu bayang wajah Herry melintas, kenapa aku tidak bisa bahagia? Begitu banyak hal yang membuat aku dan Herry berpisah dan terus berpisah. Takdir memang sepertinya tengah mempermainkan garis nasibku dan Herry.
“Ini Mas siomaynya, tumben sendirian?” penjualnya juga masih sama ternyata. Aku gak notice tadi.
“Matur nuhun mas.” Sahutku sambil tersenyum. Dan mengabaikan pertanyaan si penjual siomay tadi. Mungkin aku terlalu menikmati siomayku sehingga tidak menyadari kehadirannya.
Tepat ketika aku mendogak dan melihat Hendra tengah menatapku dengan pandangan minta penjelasan.
“Sejak kapan lo Hen?”
“Belom lama Sen, boleh ikut pesen tak?” Aku mengangguk. Kita berdua makan dalam diam. Aku tahu ada yang ingin Hendra tanyakan. Dan serius jika melihat gelagatnya yang juga tak kunjung membuka percakapan seperti biasanya.
“Jalan-jalan bentar yok Sen, ke kebun teh yang dulu itu? Kangen aku kesana.” Aku memandangi Hendra beberapa saat. Dan Hendra hanya bisa memalingkan wajahnya. Pura-pura bahwa aku tidak sedang menatapnya.
“Oke.”
Dalam mobil pun kita berdua sama-sama saling diam. Tidak ada diantara kita yang mencoba untuk membuka percakapan.
Aku memarkirkan mobilku dekat dengan pondok yang baru saja dibangun. Ini atas usulan Revan, agar kalau ada yang mau menginap disini tidak perlu repot-repot ke hotel yang kalau bisa dibilang tidak ada hotel disekitar sini.
“Ini pondok baru dibangun ya Sen?”
“He eh, sebagian belum jadi. Tapi kamar tidur sama kamar mandi sudah siap pakai. Mau lihat kedalam?” Hendra menggeleng.
“Kita duduk disitu aja Sen? Adem kayaknya.” Aku mengikuti langkah Hendra. Mengangguk ke beberapa pekerja yang tersenyum dan menyapaku.
“Kayaknya lo mau ngomong sesuatu sama gue. To the point aja Hen, lo kayak sama siapa aja.”
“Aku bingung Sen meh mulai darimana.” Aku menghembuskan nafasku perlahan.
“Tentang?”
“Herry.” Sepi, aku diam dan Hendra pun tak kunjung melanjutkan ucapannya.
“Kamu ndag pernah cerita kalau kamu mbek Herry pernah pacaran.”
“Itu kan gak wajar Hend, sesuatu yang gak umum.” Aku mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapanku.
“Gue takut lo nganggep gue gak normal, gue aneh, dan gak mau temenan sama gue lagi. Karna jujur Hen, gue hampir gak punya temen yang setulus lo.”
“Kamu kan emang ndag normal.”
“Eh?” Aku menengok ke arah Hendra.
“Nih, dengerin aku, kamu itu kayak hidup dalam mimpi. Punya keluarga kaya yang siap manjain kamu kapan aja, punya Eyang yang dihormati di kota ini, kurang apa lagi coba? Semua penduduk kota itu segan ama kamu.” Aku tertawa getir.
“Justru yang paling gue pengen malah yang sering nyakitin gue.”
“Herry?” Aku mengangguk.
“Pernah denger gak Sen? Kalau orang yang paling kamu rasa kamu pengenin didalam hidup kamu itu adalah orang yang lebih baik kamu buang dalam hidup kamu.”
“Gue buang Herry gitu maksut lo?”
“Ah, aku curiga kepintaran kamu selama ini cuman tipuan, ya gak harus lah Sen. Kalian kan masih bisa temenan.” Aku memalingkan wajahku.
“Susah kali Hen, gue gak bisa ngontrol emosi kalau deket Herry.”
“Kamu kan belom nyoba Sen.”
“So, lo gak marah sama gue?”
“Eem, aku lebih marah karena kamu boong sih. Bukan karena kamu pacaran sama Herry.” Sekali aku menoleh ke arah Hendra dan tersenyum.
“Gue mau mencoba berdamai sama Herry kalau gitu.”
“Aku boleh ikut tak?”
“Ntar stay di mobil aja tapi ya?” Hendra menggembungkan pipinya, tapi toh dia mengangguk juga.
***

Walaupun aku sudah membulatkan tekad, namun begitu mobilku sudah terparkir manis di depan halaman rumah Herry, semangatku padam. Sama seperti api yang berkobar-kobar namun langsung padam karna tersiram hujan yang deras.
“Sen?” Aku menarik nafas dalam-dalam.
“Oke, doain gue ya Hen!”
Hendra mengacungkan dua jempolnya, “Always Sen!!”
Sekali lagi aku menarik nafas, tidak begitu memedulikan fakta bahwa barusan Hendra berbicara bahasa Inggris, dan keluar dari mobil. Aku mengetuk pintu rumah Herry dengan tangan gemetar. Gila, anjir, uda lama banget aku gak kesini. Tak tik tuk tak tik tuk, lima menit berlalu sebelum akhirnya pintu rumah Herry terbuka.
“Eh, mas Seno. Masuk mas, Herry ada di kamar langsung masuk aja mas. Ini Ibu mau ke rumah tetangga sebentar.”
“Eh, Iya bu. Makasih.” Ibunya Herry juga tidak berubah banyak. Yaiyalah Sen! Lo pikir lo gak ketemu ibunya Herry uda berapa tahun?
Penataan rumah Herry agak berubah sedikit, namun aku tetap hafal dimana letak kamar Herry. Yah, kalau ntar salah masuk kamar bapaknya, take it as a keuntungan lah ya. Tapi aku juga gak yakin Bapaknya Herry ada di rumah.
Tanpa mengetuk, aku membuka kamar Herry, kebiasaan dulu. Tidak tampak ada tanda-tanda kehidupan. Aku berjalan ke arah meja belajar Herry, mengambil salah satu fotoku dan Herry yang ditempel disitu. Lalu ada fotoku sendirian, bukan hanya satu tapi cukup banyak. Dulu sewaktu kita masih pacaran, kayaknya gak ada foto-foto ginian dah.
“Eeeeeum, Bu?” Suara itu bersumber dari ranjang.
Aku kira gundukkan selimut itu guling, ternyata Herry molor tha? Aku menyingkapkan selimut dan membuat Herry bangun saat itu juga.
“Seno? Kok?”
“Baru sampai tadi. Sore-sore gini kok tidur?”
“Tadi tidur siang. Baru bangun ini. Eeh, kamu kok ada disini?”
“Eem. . .” Kasih saran dong, darimana aku musti mulai ngomong?
“Kamu mau maafin aku atau mau lanjut marah-marah? Eh, ibuku . . .”
“Katanya mau ke rumah tetangga tadi. Aku gak bisa segampang itu ngasih maaf. Tapi,” Herry menunggu dengan sabar kelanjutan ucapanku. Aku sendiri berasa kayak bencong abis kegaruk satpol pp. Cengo! Takut apa yang menjadi keputusanku ini berdampak negatif ke depannya.
“Kita bisa mulai dari awal.” Herry tersenyum.
“Jangan senyum-senyum dulu, mengulang dari awal bukan berarti kita pacaran lagi ya?”
“Iya, aku tahu. Nah, karena kita mau memulai dari awal, ikut aku ke sungai yok! Sekalian nemenin aku mandi.” Uugh, not again.
“Kayaknya aku harus pulang deh Her . . .”
“Ayok!” Herry bangkit dari ranjang. Membuat selimut yang tadi menutupi tubuhnya tersingkap. Boxer tipis itu membalut kulit Herry dengan sempurna. Bahkan membuat khayalanku lebih liar ketimbang jika boxer itu di lepas.
“Ntar aku telepon, sampai besok di sekolah ya Her.” Aku terburu-buru berjalan keluar. Aku harus ingat bahwa aku masih mempunyai Galih sebagai kekasih. Aku tidak bisa egois.
“Sen?”
“Ya?”
“Makasih ya.” Dan aku membalas dengan senyum termanis yang aku punya.
***

Galih membawaku ke antah berantah. Oke, aku berlebihan. Ini bukan antah berantah sebenarnya, karena aku toh juga pernah kesini sebelumnya. Ya entah kapan tepatnya, aku tidak ingat. Lalu kenapa aku menyebutnya antah berantah? Ya, karena kalau bukan karena Galih, aku mungkin bisa kesasar. Sangat mungkin.
“Ini tempat apa sih mas?” Galih menoleh dan melemparkan senyum sok rahasia. I hate this one, seriously.
“Ini masih di jalan dek, belom sampai ke tempatnya.” Mobil yang dibawa Galih menembus jalan kecil yang kanan dan kirinya hanya berupa pohon-pohon besar. Mirip saat dibawa eyang ke tempat si Jarwo. Tapi aku yakin, ini bukan ke tempat Jarwo. Jalanannya yang penuh dengan batu juga membuatku capek sendiri karena terlonjak terus-terusan dari tadi.
Oke, ada beberapa rumah warga sudah mulai nampak.
Oke, aku akan membuat pengakuan.
Sebenarnya, ini bukan hutan atau apa, hanya saja jarak satu rumah dengan rumah yang satunya lagi cukup jauh. Hh, aku tak akan mau kalau malam-malam harus lewat desa ini sendirian.
Kita melewati suatu gapura yang diatasnya ada tulisan jawanya. Yah, ha na ca ra ka gitu. Jangan tanya padaku apa artinya ya?
Desa yang kita masuki ini agak mendingan. Sudah terlihat seperti perkampungan walaupun masih agak ngeri juga sebenarnya. Galih memberhentikan mobilnya di depan rumah bata berwarna merah maroon. Satu dari empat rumah yang sudah berbatu bata. Lainnya masih dari kayu. Begitu kita berdua turun dari mobil, ada bapak-bapak yang tadi sedang memandikan ayam –aku juga heran kenapa ayam harus dimandikan actually, jadi jangan tanya why ya- menghampiriku dan Galih.
“Wah, mas Galih? Nandi wae mas? Lagi wae kethok, niki mas kuncine. Aben esok ues bapak rapi-rapi tur resik’i lho.” Jangan tanya ke aku apa artinya, please?
Galih menerima kunci yang disodorkan bapak-bapak pemandi ayam tadi. Jujur, aku gak ngerti harus memanggil bapak itu dengan sebutan apa, kita belum berkenalan, remember?
“Wah, matur nuhun Pak Madi, kulo mlebet rumingin.”
“Inggih, monggo-monggo.” Oke, jadi memang gak akan ada basa-basi perkenalan sepertinya. Si bapak pemandi ayam juga tak mengenaliku sepertinya.
Galih memasukkan anak kunci ke lubang pintu rumah berbatu bata merah maroon. Wkwkwk, komplit amat aku nyebutnya.
“Ini rumahku.” Galih berjalan masuk, dan aku mengikutinya sambil mengamati sekeliling. Penataannya sederhana.
“Rumah perjaka ya gini, gak ada apa-apanya. Mau kopi atau teh? Aku rebusin air dulu tapi.” Aku paling benci tawaran seperti ini. Menawarkan tapi ada kata ‘tapinya’. Kayak gak niat nawarin minum aja.
“Teh dong, tapi kalau ada kopi susu juga boleh.” Aku juga menggunakan kata tapi. Biar saja dikata tamu kurang ajar juga, toh Galih pacarku.
“Bentar ya dik, mas NIMBA air dulu.” Penekanan kata nimba tidak membuatku membatalkan pesananku. Haus tahu! Aku mengikuti Galih ke belakang, ada sumur kecil disitu dan tempat untuk mencuci baju sepertinya. Bersih.
“Sering digunakan warga, jadi meski mas tinggal, tempatnya tetep bersih.”
“Oh,” Aku hanya mampu manggut-manggut kayak orang bego.
“Mas mau ngomongin tentang kamu yang mau pergi ke Amerika.”
“Mas setuju atau gak setuju, aku bakal tetap pergi kesana mas.” Aku memotong ucapan Galih cepat. Aku sudah memikirkannya masak-masak. Mau dikata egois juga aku tak peduli.
“Iya, mas gak papa kok.”
“He?”
“Mas gak pengen jadi penghambat keinginan kamu dik.”  Aku sukses melongo. Bukannya kemarin lusa dia masih ngambek gara-gara ini? Lha sekarang?
“Mas pengen yang terbaik buat kamu. Dan mas pengen kamu tahu tentang mas yang sebenarnya. Makanya mas bawa kamu kesini.” Aku tersenyum. Siap mendengar kisah masa lalu Galih.
***

Sejak aku memutuskan untuk memaafkan Herry, beban pundakku berkurang. Ditambah Galih yang sudah enggak ngambek lagi, maka bisa dikatakan aku bisa menikmati sisa masa SMA ku dengan normal. Tambahan lagi, Taufik yang sudah aman berada di dalam bimbingan kepolisian.
Kalian tahu? Galih ternyata memang bukan asli penduduk sini. Dia asli Jakarta, namun memutuskan untuk belajar kebudayaan tempat ini yang Galih rasa masih ‘dark’. Saat aku menceritakan ke Papa kalau Galih sebenarnya adalah sarjana pertanian, papa memutuskan untuk menyuruh Galih membantu Revan. Revan, by the way, entah kenapa dia semakin betah di tempat ini dan jarang pulang ke Jakarta.
Katanya, disini Revan bisa jadi diri sendiri. Tambahan lagi, doi bisa leluasa jalan sama pemuda desa yang rata-rata masih polos. Bejad emang moralnya.
Herry dan aku? Kita berteman, tak ada niatku sama sekali untuk kembali berpacaran. Selain karena ada Galih, Herry sendiri sepertinya cukup sungkan untuk menggodaku tentang pacaran. But we are fine.
Seperti hari ini, kita bertiga,  aku, Herry dan Hendra bakalan sedikit main-main. Nostalgia lah ceritanya. Di rumahku.
Aku mengetuk-ngetukkan jariku di stir mobil. Kita berdua masih menunggu Hendra yang masih sibuk dengan urusan kesiswaan. Lupa? Hendra kan masih anggota OSIS.
Hape ku bergetar. Sms dari Hendra. Aku melongo sendiri saat membaca isi smsnya.
“Dia nyuruh kita duluan Her, dia bakal nyusul katanya.” Herry hanya mengangguk.
Canggung, kalau hanya berdua seperti ini. Aku sendiri memilih untuk berkonsentrasi pada jalanan di depan. Sejak Galih membantu Revan, aku membawa mobil sendiri ke sekolah. Bukan masalah besar juga dan untungnya papa dan mama setuju-setuju saja.
Herry sibuk dengan gadget barunya. Dia bilang, ayahnya lagi banyak rejeki, makanya dia diberi hadiah spesial.
***

Aku meletakkan tasku dan langsung rebahan di ranjang. Uuh, rasanya capek sekali hari ini.
“Kamarmu ndag banyak berubah ya Sen?” Herry memilih duduk di kursi dekat meja belajar.
“He eh. Males juga mau ngerubah-rubahnya.”
Tok tok tok. Hhh, sapa sih ini?
Dengan ogah-ogahan aku berjalan ke arah pintu.
“Mas?”
“Aku denger Herry main kesini ya?” Shit, jangan bilang Galih cemburu. Momennya kan gak pas banget. Tapi mau aku larang juga terlambat, Galih sudah masuk ke kamarku. Aku menutup pintu dan menguncinya.
“Hei bocah!” Aduh, mereka bakalan berantem?
“Iya mas.” Aduh, syukur deh Herry jawabnya kalem. Gak ada nada emosi di suaranya. Sebaliknya, Galih malah tersenyum sinis, berjalan ke arahku dan secara tiba-tiba mencium bibirku.
Tadinya aku melawan, namun lama-lama aku menikmati juga. Aku bahkan hanya ingat samar-samar kalau ada Herry disini.
Galih melepaskan ciumannya, tangannya bergerilya melepas kancing bajuku satu persatu lalu menanggalkannya dengan mudah.
“Mas, ada Herry!”
“Oh ya aku lupa, hei bocah mau bengong disitu aja atau ikut gabung?”
“Mas jangan gila kamu ah!!” Gila, threesome gitu? Hanjir!
“Kenapa hah? Kamu masih cinta kan sama ini bocah? Ya kan? Kamu bisa dapetin kita berdua sekaligus, kurang apa coba?” Aku diam. Bahkan aku tidak tahu kalimat pembelaan mana yang harus aku keluarkan. Karena pada dasarnya, semua tuduhan Galih benar. Aku masih mencintai Herry.
“Hei bocah? Gimana?” Aku menatap Herry, berharap bahwa dia menolak ajakkan Galih. Namun begitu Herry maju dan mulai merengkuh tubuhku ke pelukannya, aku mulai was-was.
“Aku join mas.” Galih tersenyum puas. Tanpa menunggu lama lagi Galih langsung berjongkok dan berkutat dengan celana abu-abuku. Sementara bibirku dicecap dengan rakus oleh Herry. Logikaku menolak, ini gila!!
Namun aku hanyut. Ciuman Herry yang memabukkan dan isapan Galih pada batangku yang membuatku lupa daratan. Kombinasi yang mengerikan. Hingga timbul pikiran gila, kalau dua-duanya bisa aku miliki, kenapa harus puas dengan satu? Aku pun mengembangkan senyum sinis.


TAMAT