FOLLOW ME

Senin, 30 Desember 2013

THE SERIES 14

Aku masih membasuh tubuh Herry dengan kain basah. Beberapa kali Herry meringis karena perih. Aku sendiri? Berusaha keras agar air mataku tidak jatuh. Aku harus kuat. Aku tahu siapa sekarang yang pantas aku perjuangkan. Dan aku tidak ingin kehilangannya.
“Pelan-pelan Sen, periih.”
“Iya.” Aku masih terkejut dengan kondisi tubuh Herry yang masih merah biru disana-sini. Bahkan di putingnya ada bekas darah.
“Maaf,” ucapku lirih. Aku tau kata maaf tidak akan cukup. Aku juga tau kata maaf tidak akan bisa menyembuhkan Herry, tapi aku bisa apa?
“Gak perlu minta maaf Sen. Ini bukan salahmu.”
“Seandainya aku gak dateng ke kota ini, kamu gak akan ngalamin kayak gini Her!”
“Kalau kamu gak dateng ke kota ini, aku gak akan pernah belajar mencintai seseorang setulus ini. Aku bahagia kenal mbeg kamu Sen, aku gak menyesalinya.” Aku terdiam, mendongak dan menatap wajah Herry. Wajahnya masih sama, kekanakan dan menggemaskan. Tapi sorot matanya berbeda. Dewasa dan cinta. Secara perlahan aku mendekatkan bibirku ke bibirnya.
“Aku cinta kamu Herry Prawira.” ucapku sebelum akhirnya melumat bibirnya. Kerinduan, dahaga akan Herry membuatku melahap bibirnya dengan rakus. Aku ingin mencecapnya. Merasai seluruh tubuhnya. Aku mencintai Herry dan aku ingin menunjukkannya.
Aku beranjak ke leher. Memberi gigitan kecil dan terpekik senang saat akhirnya Herry mengeluarkan desahan pertamanya. Melodi terindah. Berhenti agak lama di pangkal lehernya dan sedikit bermain-main disana.
“Aah, Senooo.”
“Iya Her? Kenapa? Kamu gak suka?” Herry menggeleng keras-keras.
“Lanjutin.” Aku tersenyum sebelum akhirnya berhenti di dadanya. Aku hanya menatapnya. Kalau aku gigit kecil putingnya, apa Herry akan kesakitan? Jelas bekas lukanya masih keliatan.
“Kenapa?” Mungkin karena aku lama terdiam, Herry jadi membuka matanya.
“Puting kamu masih perih?”
“Coba jilat.”
“Aku serius!!” kataku. Apa-apaan jawabannya tadi.
“Aku juga serius Seno, coba jilat!” aku ragu-ragu sebentar. Namun akhirnya lidahku mendarat disana. Mencecap rasanya dengan sangat perlahan. Aku takut menyakitinya.
“Aaarrgh, Senooo.”
“Perih?” tanyaku was-was.
“Iyahhh, tapi enakk. Lanjutin.” Aku jadi tersenyum geli melihat ekspresi Herry. Dia jujur dan sangat ekspresif. Aku menyukai keduanya. Eh, salah! Aku menyukai semuanya. Semua yang ada di Herry. Yah, SEMUANYA.
Aku turun setelah lama merasai dada Herry yang semakin bidang, aku menelusuri ke bawah. Menciumi setiap lebam merah biru dengan lembut. Aku berharap aku adalah seorang penyihir. Sehingga ciumanku bisa menyembuhkan lukanya. Sayangnya tidak. Luka itu tidak sembuh walau aku menciuminya berkali-kali.
Aku berhenti di celananya. Membuka kait celana Jeans Herry dan melorotkannya sedikit. Kejantanan Herry sudah tegang, sedikit mengintip lewat ban karet celana dalamnya. Aku mengabaikannya dan kembali ke atas. Aku mencium bibir Herry lagi. Kali ini, karena aku yakin bibirnya tidak ada luka aku menciumnya penuh nafsu. Bibir yang bertaut, lidah yang bekejaran. Aku menyukainya. Dan aku terbakar. Ada dua pilihan, berhenti dan gosong atau lanjut dan menjadi abu. Aku memilih option kedua. Aku ingin melebur bersama Herry.
“Kamu ues gak perjaka ya Sen?” tanya Herry saat aku melepaskan ciuman kita.
“Enak aja! Aku masih perjaka lah!”
“Yakin? Kok jago banget?” tanyanya kurang percaya.
“Mau bukti?” kataku sambil turun dari ranjang. Aku membuka kaosku, celana jeansku dan celana dalamku sekaligus. Herry sedikit membelalakkan matanya. Aku tak tahu, bahkan tidak bisa membaca ekspresinya.
“Kamu yang mancing lho Sen.” Kata Herry sebelum akhirnya dia menarikku kedalam pelukannya.
“Aku mungkin bukan yang pertama untukmu Her, but be my first.”
“Opo artine?” aku agak kesal. Uda romantis, malah dia kaga tahu artinya.
“Jadi yang pertama buat aku Her.” Herry mencium bibirku lembut sebelum akhirnya dia berdiri dan melepas celana jeans beserta celana dalamnya.
Glek!
Aku mungkin menyesali kata-kataku. Bagaimana mungkin benda sebesar itu akan muat di lubang pantatku? Oooh Shit!!
***

Aku tiduran telungkup dengan selimut yang menutupi hingga pinggang. Herry sedang ke dapur untuk mengambilkan air minum. Saat pintu kamar dibuka, aku menoleh dan melihat Herry tersenyum lebar. Senyum yang dulu sering ia pamerkan untukku. Aku masih menyukai senyum itu.
“Ada susu buat kamu. Masih anget.” Aku membayangkannya. Herry membuat susu masih dalam kondisi telanjang bulat. Sama seperti kondisinya saat ini. Damn! Aku terangsang! Lagi!
“Masih perih?” Herry bertanya sambil menyerahkan segelas susu padaku.
“Sedikit,” jawabku agak dusta. Harus kuakui diawal memang sangat menyakitkan. Panas, perih, mulas, rasanya campur aduk. Namun setelah agak lama jadi geli-geli enak. Stop! Berhenti mengingatnya atau Herry akan melihat tonjolan berbentu tenda di selimutku. Namun jujur, setelah sesudahnya, anusku memang agak perih.
Herry merebahkan tubuhnya ke dinding ranjang dan bergabung bersamaku dalam selimut kemudian menarik tubuhku ke pelukannya. Agak aneh memang, mengingat tubuhku lebih besar dari Herry.
“Sen, mungkin ini bakal jadi yang pertama dan terakhir.” Aku tersedak oleh susu yang baru aku minum. Aku meletakkannya di atas meja samping tempat tidur sebelum akhirnya menoleh. Berharap bahwa apa yang dikatakan Herry barusan adalah candaan dia semata.
“Aku gak ngerti Her maksutmu.” Herry mengacak-acak rambutnya sendiri. Terlihat agak frustasi.
“Aku gak mau membahayakan posisimu Sen! Kalau sampe Taufik tahu, kamu bakal abis. Aku gak mau itu terjadi. Aku gak mau!”
“Aku gak peduli.”
“Sen, itu masa depanmu!”
“Iya! Dan aku gak peduli.”
“Sen, aku lakuin ini semua biar kamu bahagia!” aku menggeleng perlahan.
“Gimana aku bisa bahagia, kalau aku tahu bahwa orang yang aku sayang enggak bahagia?”
“Aku bahagia Sen, aku ikhlas kamu sama Galih.” Deg. Darimana Herry tahu Galih? Perasaan mereka belom sempat bertemu atau bertegur sapa.
“Aku tahu dari Hendra kamu punya sopir baru. Dia suka kan sama kamu?”
“Jangan egois Her! Aku gak mau tambah korban lagi! Kalau Taufik tahu, Galih juga bakalan kayak kamu nasibnya. Mending aku yang pergi.”
“Pergi? Maksut kamu?”
“Kalo aku mati semuanya bakalan clear!!” mendengar kata-kataku Herry langsung memelukku erat.
“Jangan, jangan tinggalin aku. Kita hadapi bareng-bareng, aku gak akan lari lagi sekarang. Gak akan.”
***

Aku tengah berkutat dengan laptopku ketika mamaku masuk. Aku tersenyum pada mamaku. Seandainya mama tau kalau aku gay? Apakah beliau akan masih sesayang ini?
“Lagi ngapain sayang?”
“Nyelesain tugas sekolah ma. Banyak banget nih.”
“Ya udah, nih mama buatin coklat anget buat kamu. Tidurnya jangan larut-larut ya.”
“Iya.” Mamaku tersenyum sebelum akhirnya berlalu. Aku memusatkan mataku ke layar laptopku lagi dan tersenyum agak geli karenanya. Aku tengah browser cara bunuh diri yang elegan. Konyol. Tapi aku serius.
Seandainya aku mati, semua masalah akan beres. Herry akan terbebas dari Taufik. Mungkin Mama, Papa, Herry dan Hendra akan menangis kehilanganku. Mereka akan sedih, aku tahu. Tapi tidak lama kan? Paling beberapa hari, atau minggu? Tidak sampai bertahun-tahun kan? Jadi jelas, aku harus mati.
Aku brilliant, tapi aku terlalu pengecut untuk mengambil pisau dan memotong nadiku. Aku tak bisa. Atau minum baygon? Itu sama sekali tidak elegan.
Drrt drrt drrt
“Halo?”
“Hey ganteng, apa kabar?” gila! Ngapain si Revan nelpon gua?
“Nape lo Rev?”
“Gua uda di Magelang. Kata supirnya, 2 ato 3 jaman lagi gua nyampe tempat lo nih.” Aku hampir meloncat. Gila nih anak. Mau dateng kaga bilang-bilang.
“Lo kaga bilang kalo mau dateng.”
“Lha ini gua bilang barusan. Uda ya cyin, see you then!” bener-bener nyebelin ya tuh anak. Kayak belom pernah diperkosa orang sekampung aja. Ckckck.
Aku segera keluar dari kamar. Untung mama dan papa belum tidur. Mereka berdua masih nampak nonton tv bersama eyang. Sinetron kayaknya. Khas ibu-ibu Indonesia.
“Ma, Pa, Revan mau dateng.”
“Revannya mb. Nia?” aku mengangguk.
“Mau dateng kapan Sen?” gantian papaku yang nanya sekarang. Walaupun matanya tetap fokus pada layar televisi. Entahlah, kenapa papaku juga bisa menikmati sinetron seperti ini.
“Uda sampai Magelang katanya Pa.”
“Weleh?! Kok biso?” okay, ini pertama kalinya aku mendengar papaku berbicara bahasa jawa. Direct denganku. Bukannya papaku tidak bisa bahasa Jawa, tapi papa tidak pernah ngobrol denganku dengan bahasa Jawa. Jadi ini pertama kalinya. Dan ini karena Revan. Salut!
“Mana aku tahu Pa, Seno tidur dulu ya? Takut telat besok.”
“Engga nungguin Revan?”
“Engga ah. Masih sampai Magelang. Masih jauh. Seno uda ngantuk.” Mama dan papaku hanya mengangguk.
Sampai kamar tidur, aku langsung mengunci kamarku. Sesuatu yang jarang banget aku lakukan. Tapi sekarang harus. Bakal ada Revan, dan aku engga mau tiba-tiba ada yang ngegrepeku saat aku tertidur. Engga. Kecuali Herry, atau emm, Galih. Ah sudahlah.
***

Aku dan Herry benar-benar tidak menyembunyikan bahwa “hubungan kami baik-baik” saja dari Taufik. Kami serasa baru pacaran kembali. Aku dan Herry maksutku. Hendra juga seneng, setidaknya dia mengira kalau aku dan Herry sudah tidak musuhan lagi. Hendra benar, aku dan Herry sudah tidak musuhan lagi. Bahkan kami pacaran lagi.
Aku tidak tau jam berapa Revan datang, hanya saja waktu aku mau berangkat sekolah tadi aku melihatnya masih tertidur dengan nyaman di ruang tidur tamu. Dan aku terlalu malas untuk membangunkannya.
Galih? Hari ini dia tidak mengantarkanku. Dia mengantarkan eyang untuk melihat beberapa kebun dan sawahnya. Dan aku? Sekarang aku dan Herry tengah berada di tempat pertama kali Herry mengajakku kencan dulu.
“Es teh beb.” Aku memelototinya karena jelas Herry tidak memelankan suaranya saat memanggilku beb tadi.
“Jangan sembarangan ah!”
“Aku lagi seneng aja. Enggak nyangka bisa meluk kamu lagi.”
“Hmm, luka kamu gimana? Masih perih?” Herry menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.
“Sedikit kok. Sen?”
“Ya? Kenapa Her?”
“Ajarin nyetir mobil.”
“Kirain apa, serius banget.” Herry memalingkan wajahnya. Rona merah terlihat samar di wajahnya. Aku bahkan tidak mengerti, apa yang membuatnya tersipu malu begitu?
“Aku pengen yang kayak kemarin sore.” Bisik Herry tepat di telingaku. Gantian aku yang sekarang merona. Ya Tuhan.
“Ke mobil yuk.” Ya ampun, Herry! Seperti kerbau dicucuk aku masuk kedalam mobil. Kaca mobilku gelap. Jadi tidak bakal kelihatan dari luar. Tapi ya ampun, ntar kan pasti goyang-goyang.
“Beb, yang kemaren masih perih?”
“Enggak kok.” Jawabku jujur dan agak malu.
“Coba nungging, aku pengen liat.” Gila!! Aku malu banget.
“Engga ah Her!”
“Nungging ah! Pengen lihat!” dengan perasaan malu, ganjil dan jujur agak excited, aku menurunkan celana abu-abuku beserta celana dalamku dan nungging. Ya ampun. Malu banget sumpah!
“Iya, merah ya warnanya.”
“Uda kan Her?” tanyaku masih dengan perasaan malu.
“Bentar.” Aku agak terperanjat saat ada jari yang menyentuh bagian sensitifku itu dengan lembut. Rasanya aaah, dasar bottom! Hahaha.
“Enak engga?” Aku hanya mampu mengangguk. Jujur, terlalu malu untuk menjawab. “Yah, enak banget!”
“Sini beb.” Herry menarikku kedalam pelukannya. Agak sulit mengingat mobilku yang agak kecil. Oke, mungkin aku harus mempertimbangkan untuk membeli trans jakarta. Sepertinya bakalan lebih luas untuk bercinta. Hahaha.
“Aku ketagihan mbek bibirmu Sen.” Tepat saat bibir Herry mau menyentuh bibirku, kaca mobilku diketuk seseorang. Dengan kecepatan yang hanya aku dan Tuhan yang tahu, aku segera membetulkan celanaku. Shit!
“Inggih Pak?” Herry keluar dari pintu mobil samping dan menyapa bapak-bapak pedagang siomay. Kita tadi memang sempat pesan siomay sebelum adegan mesum tadi terjadi. Dan setelah aku yakin bahwa aku rapi dan wujudku tidak begitu terlihat seperti perawan yang baru saja digagahi, aku keluar dari mobil dan tersenyum ramah pada bapak-bapak penjual siomay tadi yang agaknya sedikit curiga.
“Monggo den, siomaynya.”
“Iya Pak, makasih.” Aku berusaha mengabaikan bapak-bapak tadi. Serius, tatapan menyelidik si bapak siomay itu bener-bener aku abaikan. Aku abaikan. Walaupun jujur, sangat mengganggu. Dan Herry hanya senyum-senyum gaje. Sudahlah.
***

“Lo ada sodara lo berkunjung juga malah pulang malem.” Aku mengabaikan celotehan Revan. Keluar dari mobil dan menutupnya tanpa sekalipun menatap Revan.
“Lo tahu gak gua mati garing disini tadi kare. . .” Mulut Revan langsung berenti ketika melihat Herry turun dari mobil. Aku rasa hampir semua cowo gay juga akan melakukan hal yang sama. Mengingat, aku melirik pacarku itu dari samping. Body Herry yang sekarang memang sangat seksi.
“Eh, temannya Seno ya? Kenalin gua Revan. Sepupunya Seno.” Entah pendengaranku yang memang agak keliru atau bagaimana tapi, sejak kapan Revan jadi sok laki begini? Cara bicara dia barusan kaga ada logat ngondeknya sama sekali. Bahaya!
“Dia laki gua. Awas lo macem-macem!” kataku cepat. Harus banget mengubur harapan-harapan indah yang mungkin sudah diangan-angankan oleh Revan begitu melihat ‘the young hot boy’.
“Eh? Serius?” Revan sepertinya agak tidak percaya. Namun melihat anggukan kikuk dari Herry sepertinya sudah lebih dari cukup untuk Revan.
Dan hal yang paling menyebalkan adalah Revan mengikutiku dan Herry ke kamarku. Entahlah, aku ingin berduaan dengan pacarku. Serius, aku kangen Herry dan you know what lah, aku pengen agak esek-esek sama dia. Tapi kalau ada Revan? Masa kita mau threesome? Sama Revan? Mending Galih aja, Eeh?
“Gimana kalian bisa jadian?” Aku langsung menoleh ke arah Revan dan menyuruhnya agak memelankan suaranya. Kalian tau kan banci kalau uda kepo bawelnya bisa ngalahin cewe? Karena jujur, aku juga kadang begitu. Ha? Lupakan!
Herry memang rencananya mau nginap disini. Besok akan ada ulangan, kita mau belajar bareng. Okay, aku akui ini Cuma buat modus doang. Yah, alesan sebenarnya sih emang dasarnya aku kangen. Jadi aku paksa Herry untuk menginap disini.
“Tapi kalian gak cocok! Masak bottomnya lebih tinggi dari topnya sih?!” Aku yang tengah berkutat dengan laptopku langsung menoleh sadis ke arah Revan.
“Bottom apa Rev?” Tanya Herry.
“Panggil dia Revi Her,” kataku sebelum akhirnya bantal empuk bersarang dikepalaku. Fakta bahwa sesudah Revan tahu kalau Herry pacarku, sifat machonya di awal sudah lenyap.
“Lo gak tau bottom sama Top Her?”
“Lagian kayak lo yakin aja gua yang jadi bottomnya!” Sahutku sengit. Revan memandangiku atas bawah.
“Lo emang gak ngondek Sen, tapi gua yakin lo jelas bottom. Yakin!”
“Sial lo!” gantian aku yang melempar bantal tepat ke kepalanya.
“Lha emang bottom sama top apa artinya Rev?” Ni anak masih aja nanya.
“Bukan hal penting kok Her,”
“Tapi aku pengen ngerti Sen.” Herry sepertinya ngotot. Hmm, ingatkan aku untuk menggantung Revan nanti di pohon mangga samping rumah.
“Top itu yang masukkin, kalo bot itu yang dimasukkin.” Revan benar-benar menjelaskannya. Gila!
“Ooh, tapi aku gak keberatan kok jadi bot.”
“Uda lah, bisa kita ganti kali topiknya?” Aku akhirnya menyampaikan keberatanku. Bagaimanapun juga, aku takut ada yang mendengar percakapan kita bertiga.
“Maaf den mengganggu, bisa saya pinjam kontak mobilnya? Sudah waktunya di service den.” Aku menoleh ke pintu dan melihat Galih disana. Dan entah kenapa tiba-tiba hatiku nelangsa. Salahkah jika aku mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan?
“Iya mas, sebentar Seno ambilin.” Aku sempat menangkap beberapa kali Galih dan Herry sama-sama saling curi pandang.
“Ini mas.”
“Inggih Den, monggo.” Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tertahan.
“Ee Ee, kamu ketahuan, matanya jelalatan!”
“Sial lo!” kataku sambil menjitak kepala Revan. Revan langsung kabur dengan memeletkan lidahnya. Ck, dasar anak kecil!
“Galih ganteng, kamu cocok sama dia.” Aku menoleh ke arah Herry dan agak terkejut mendengar kata-katanya.
“Dia dewasa juga Sen.”
“Oke, kalau itu mau kamu. Aku bakalan pacaran sama Galih.” Kataku agak jengkel.
“Lho kok ngono sih?”
“Lha kan kamu yang nyuruh tadi?”
“Guyon! Aah, ra ngerti dicemburui.” Aku tersenyum sejenak sebelum akhirnya memeluk Herry.
“I love you.”
“Sen, mama denger ada Herry ya?”
Deg.


Bersambung . . .

Minggu, 08 Desember 2013

THE SERIES 13

Cowok terceroboh sepanjang massa, kalian boleh melabeliku seperti itu. Aku akan terima dengan lapang dada. Sungguh. Bagaimanapun juga, bagaimana mungkin aku meninggalkan mobilku begitu saja di rumah sakit dan melenggang santai pulang ke rumah. Oh ya, diantar mantan pacar lagi. Hebat!
Walaupun papa dan mama tidak begitu mempermasalahkan soal itu. Karena Paman Pri dan Lek Tien terus meyakinkan kedua orangtuaku bahwa mobilku aman. Tidak akan ada yang mencurinya. Aku juga sangat yakin itu. Terlebih lagi, hampir semua orang di kota ini tau kalau itu mobil milikku. Aku juga yakin akan hal ini.
Yang jadi masalah adalah, keesokkan harinya aku dan Galih harus mengambil mobil itu berdua. Ya berdua. Kurang jelas? BERDUA!!
Awalnya hanya Galih yang akan mengambil mobilnya. Namun, mama dan papaku sepertinya sedang mengajariku rasa tanggung jawab. Karena dengan dalil tanggung jawab tersebut kedua orang tuaku menyuruhku –akan lebih tepat kalau aku sebut memaksa sebenarnya- untuk menemani Galih mengambil mobilku di rumah sakit. Galih sudah sehat kalau kalian ingin tahu. Daya sembuhnya luar biasa.
Walaupun dia masih memakai jaket lumayan tebal walaupun udara lumayan cerah disini. Kita naik angkot untuk pergi ke rumah sakit. Bukan, ini bukan pengalaman pertamaku naik angkot, bukan! Aku pernah naik angkot dulu bareng Hendra. Tambahan lagi, disini tidak ada taksi. Jadi ya begitulah. Terdamparlah aku dengan manis di dalam angkot ini.
Beberapa penumpang mengajakku mengobrol dengan gaya sok kenal yang membuatku muak. Namun aku masih tahu sopan santun. Aku menanggapi mereka dengan sopan, walau terkesan sebal. Aku tidak bisa menutupinya. Perasaan sebalku.
Setelah sampai depan rumah sakit. Aku harus mengucapkan terima kasih kepada sopir angkot karena sebenarnya jalurnya tidak sampai depan rumah sakit. Namun karena sopir angkotnya berkeras bahwa dia ingin membalas budi eyang dengan sedikit menyenangkan cucunya, ya sudahlah. Aku hanya bisa berterima kasih. Eyangku sepertinya sangat baik sekali.
“Den?” Galih memanggilku. Ampun deh, aku dan Galih memang sama sekali tidak mengobrol sejak tadi. Bagaimanapun juga, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Galih menciumku dan mengatakan kalau dia mencintaiku. Dan aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Pada kenyataannya aku juga masih mencintai Herry. Aku tidak bisa menerima Galih karena hatiku masih bercabang. Aku juga tidak bisa menolaknya karena jujur, aku mulai menyukainya.
“Iya?” suaraku kaku. Bahkan agak dingin.
“Maaf, saya kemaren . . .”
“Uda mas, gak papa. Itu mobilnya mas. Buruan yok, makin panas nih!” aku berusaha sekeras mungkin agar perhatian Galih teralihkan. Agar dia menjauhi topik ini untuk beberapa waktu kedepan. Mungkin ciumannya memang lebih hebat dari Herry, tapi aku tidak akan membandingkannya. Galih berusia 20’an awal sedangkan Herry seumuranku. Jelas bahwa secara jam terbang Herry kalah. Apalagi, aku adalah cinta pertama Herry. Jelas sekali jam terbang Herry adalah NOL BESAR. Galih? Aku yakin pemuda setampan dia mempunyai pengalaman seksual yang lebih. Mungkin. Hanya mungkin.
Didalam mobil, kondisi tidak menjadi lebih baik. Aku dan Galih seperti terjebak dalam suatu keadaan rumit. Aku apalagi, aku tidak tahu harus memulai percakapan. Dulu, aku bersikap masa bodoh dan ketakutan. Jadi memang aku menghindari mengobrol dengan Galih. Kalau sekarang, situasinya jelas berbeda. Galih suka aku, aku suka dia. Seharusnya kita pacaran. SEHARUSNYA.
Namun kondisi yang terjadi adalah sebaliknya. Kita menjadi kikuk antara satu sama lain. Di luar, Galih tetap tampak tenang seperti biasa. Tapi aku yakin bahwa hatinya juga ketar-ketir. Dia baru saja nembak aku dan apa yang telah aku lakukan? Aku belum menjawab pernyataan cintanya. Sudahlah, bahkan hingga sampai rumah pun kita sama sekali tidak mengobrol. Hubungan kita jadi sangat aneh. Huft.
***

Aku mengikuti Herry dan Taufik dengan sangat hati-hati. Sangat hati-hati banget malah. Mungkin aku berbakat menjadi detektif. Hari ini seperti sebelumnya, Herry menjadi dingin lagi padaku. Lebih menjaga jarak bahkan terkesan tidak mengenalku. Aku semakin curiga.
Dan begitu kesempatan itu datang –aku menyebut bahwa melihat Taufik dan Herry pergi berdua secara diam-diam adalah kesempatan- aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Maksutku, kapan lagi? Kapan lagi aku akan mengetahui ada apa di balik semua ini!
Aku harus menahan perasaanku saat Taufik beberap kali meremas pundak Herry dengan mesra. Semoga mereka tidak menyadari kehadiranku. Beberapa hari ini aku getol belajar bahasa jawa, bagaimanapun juga aku sangat membutuhkannya. Mereka pasti ngobrol pake bahasa jawa kan? Hallo?
Baru kali ini juga aku mengumpat tinggi badanku. Seandainya tubuhku lebih mungil, mengintai Taufik dan Herry akan lebih gampang aku lakukan.
Mereka sekarang berada di lingkungan sekolah yang bahkan aku tidak tahu. Maksutku, ini masih di lingkungan sekolah. Aku tahu itu karena kita belum keluar gerbang. Hanya saja aku belum pernah kesini sebelumnya. Gedung yang baru dibangun untuk menambah kelas baru.
Mereka berdiri berhadap-hadapan. Taufik menatap Herry sedangkan Herry memalingkan wajahnya. Ingat? Tinggi badan Taufik bahkan lebih tinggi dariku. Hal yang tidak aku duga selanjutnya adalah Taufik membuka kait celananya, menurunkan resletingnya kemudian menurunkan celana abu-abu beserta celana dalamnya.
Glek! Baru kali ini aku melihat batang kejantanan Taufik. Kecil banget!! Okay, itu belum ereksi, tapi ya ampun! Aku tidak tahu ada laki-laki yang mempunyai ukuran penis sekecil itu. Tidak sebanding dengan tubuh tinggi dan kekarnya. Huft, bikin geli daripada bikin nafsu.
“Emut!” itu kata pertama Taufik untuk Herry. Dari tadi mereka belom mengobrol, sejauh yang didengar telingaku. Herry semakin menunduk dan memalingkan wajahnya. Ini yang aneh, kalau mereka mempunyai hubungan khusus, seharusnya engga perlu Taufik memerintah Herry seperti itu kan?
“Emut goblok!!” oh, jadi sifat kasar Taufik memang tidak akting waktu MOS dulu. Mengerikan. Aku melihat Herry masih enggan.
“Oh, berarti koe pengen Bu Lilis karo Pak Hadi ngerti nek anak’e kiey homo!!” deg. Jadi ini ancaman Taufik? Orangtuaku? Herry menekuk kedua lututnya, namun mulutnya masih enggan untuk. . .
Aku sebenarnya ingin kesana. Tapi apa itu akan membantu Herry? Bagaimana kalau ancaman Taufik tidak main-main? Bagaimana kalau Taufik benar-benar mengadukanku? Aku sama sekali belum siap keluargaku tahu akan hal ini. Sama sekali belum siap!
Air mataku merembes keluar saat melihat Herry dengan terpaksa mengulum penis Taufik. Dia berkorban demi aku! Ya Tuhan, pria yang aku cintai melakukan hal hina ini untuk melindungiku! Tidakkah Engkau tersentuh untuk membantu jalan cinta kami Tuhan?
Aku . . .
Aku bahkan tidak sanggup melihatnya. Apalagi Herry yang menjalaninya? Apa yang harus aku lakukan? Aku menoleh kesekeliling dan melihat cat kaleng itu. Masih penuh. Setidaknya, aku bisa membuat kegaduhan dan membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak hanya berdua saja disini. Aku mengambil kaleng cat tersebut. Ada lima kaleng dan melemparkannya secara liar kearah mereka. Tidak ke tubuh mereka tentu saja. Dan aku langsung lari sekencang-kencangnya. Setidaknya yang aku lihat sebelum aku lari adalah Taufik buru-buru memakai celananya.
***

Aku memikirkannya seribu kali sebelum aku membuat keputusan ini. Ke rumah Herry. Aku sengaja memakai jumper berhoding untuk menutup kepalaku. Naik angkot, tidak membawa mobil sendiri. Pergi secara diam-diam. Semua ini aku lakukan agar kepergianku tidak terlihat oleh Taufik. Bagaimanapun juga dia tinggal dibelakang rumah eyang. Beberapa hari ini aku juga jadi kepikiran bagaimana kalau selama ini Taufik memata-mataiku? Agak gila memang daya khayalku. Namun melihat apa yang dilakukan Taufik pada Herry, aku tahu kemungkinan itu ada. Sangat ada. Jujur, aku juga masih geli melihat ukuran penis Taufik. Oke, out of story I think.
 Aku mengetuk rumah Herry dengan agak pelan juga. Lebay sih, tapi ya itu aku paranoid. Untung saja Herry langsung membukanya. Syukurlah dia yang membuka.
“Seno?!” Aku mendorongnya masuk dan langsung menutup pintu. Tingkah lakuku persis orang mau merampok.
“Kamu sendirian?” haduh, pertanyaanku juga seperti orang mau merampok. Herry mengangguk pelan.
“Ibu sama Bapak lagi kondangan ke rumah sodara.” Herry sepertinya masih linglung kenapa aku tiba-tiba ada disini dan bertingkah sangat aneh.
“Ke kamarmu aja.”
“Sen, kamu mendingan pulang!!” aku menoleh kearahnya dan mendelikkan mataku.
“Jangan bertingkah seolah-olah kamu gak mencintai aku lagi!”
“Opo tho koe kiey! Kita ues putus Sen!!”
“Bukan berarti kamu gak cinta aku lagi kan?!”
“Aku mbek Taufik sekarang!” aku menggelengkan kepalaku.
“Dan itu karena aku kan? Aku tahu semuanya Her, please? Kenapa kamu gak cerita?” Herry tampak kaget sesaat dan dia menolehkan kepalanya. Menghindari tatapanku.
“Jadi yang kemarin lusa itu kamu?” aku mengangguk.
“Kamu mau cerita kan?” Herry dengan lesu akhirnya  mengangguk sebelum selama lima menit dia hanya diam saja.
***

Aku sudah menyiapkan diriku sedemikian rupa agar siap mendengar cerita Herry. Setidaknya aku benar-benar menyiapkan diriku untuk mendengar cerita yang paling mengerikan sekalipun. Namun kenyataannya, aku bergidik. Dan hanya bisa memeluk Herry. Herry tidak bercerita namun dia menyerahkan sebuah buku kecil bergambar Satria Baja Hitam. Sebenarnya, bisa saja aku menertawakan Herry karena memiliki buku harian bergambar Satria Baja Hitam, hanya saja waktunya tidak tepat. Benar-benar tidak tepat.
***

16 Juli 2012.
Aku memperhatikannya. Anak yang katanya cucunya eyang Prawiro itu. Dan senyum-senyum sendiri. Dia tidak mengenal takut pada kakak kelas. Hah, mungkin karena dia dibesarkan dengan segala yang ada dengan orang-orang yang selalu menurutinya, jadi mana mungkin dia harus merasa takut? Dia punya kuasa. Bahkan yang aku dengar dia bisa saja membeli sekolah ini. Ya, eyangnya adalah orang yang memberi sumbangan terbesar di sekolah ini tiap tahunnya. Aku yakin, pihak sekolah akan menjilat habis-habisan padanya. Namanya Arseno Erlangga Prawiro.

Ps. Dia manis dan tampan sekali.

28Juli 2012
Kita ada PERSAMI. Akan ada jerit malam juga katanya. Dan kalian tahu? Aku seregu dengan Seno! Aku senang. Bagaimanapun, aku ingin menjadi teman dekatnya. Sepertinya dia orangnya asik. Sejauh yang aku tahu dia tidak seperti orang-orang kaya kebanyakkan. Dia bahkan bergaul dengan siapa saja.

Ps. Semakin hari dia semakin tampan. Aku suka.


31 Juli 2012
Capek karena PERSAMI masih kerasa! Tapi aku bahagia. Kenapa? Karena aku bisa mengobrol panjang lebar dengan Seno. Sesuai dugaanku. Dia asik banget. Oya, juga gaul. Haha, dia kan anak ibu kota. Wajar dia gaul.

Ps. Seno tidak hanya tampan, dia keren dalam penampilan.

12 Agustus 2012
Tau gak? Hari ini aku mengajak Seno dan Hendra ke kali kedu. Sebenarnya sih, aku pengen ngajak Seno doang. Tapi ini idenya Hendra. Jadi ya mau tidak mau tuh anak ikut juga. Sebal! Beberapa kali aku mancing Seno dengan bugil didepannya. Mukanya merah, manis sekali!

Ps. Sepertinya aku makin tergila-gila dengan Arseno Erlangga Prawiro.


5 September 2012
Uda lama ya aku gak cerita sama kamu? Kamu tau engga? Hehe, pasti engga ya. Kemaren Seno ngajak aku nginep di rumahnya. Berdua! Gak ada si kunyuk Hendra! Dia pengen tau perasaanku ke dia. Sebenarnya aku sudah lama tau kalau aku memang suka Seno. Abis dia manis!
Tapi selama ini aku pura-pura biasa. Aku semata-mata takut Seno gak ada perasaan yang sama denganku. Tapi . . .
Ah. . Aku tidak tahu bagaimana menceritakannya. Aku bahagia. Belum pernah sebahagia ini. Aku juga ciuman lho sama Seno. Bibir sama bibir. Hehe, akhirnya aku bisa juga mencecap bibir merah tipisnya yang selama ini Cuma ada di angan-angan.

Ps. Ini hari jadi aku sama Seno. Herry Prawira love Arseno Erlangga Prawiro. Norak ya? Biar!!

7 September 2012
Semalam aku menginap lagi lho di rumah Seno. Tapi ada si kunyuk sekarang. Hih! Tapi aku tetep seneng. Aku semalam juga liat tititnya Seno. Lucu! Belom disunat. Hahaha. Bibirku juga sudah mencecap rasanya. Manis sama seperti bibirnya. Tapi kali ini kepergok sama Taufik. Huh, tu orang ganggu aja.

Ps. Aku cinta Senoku.


14 Sepetember 2012
Aku mengajak Seno jalan-jalan sebelum dia disunat. Aku mengajak dia ke tempat favoritku. Tadinya aku takut Seno gak suka. Dia kan anak ibu kota. Aku pikir, mungkin Seno sukanya nongkrong di cafe ato apa itu tempat minum-minum kopi? Starbuks? Ah, entahlah. Aku hanya pernah mendengarnya di radio.
Tapi waktu aku melihat senyumnya, aku jadi lega. Dia suka! Ya Tuhan, semakin hari aku semakin mencintainya.

Ps. Semoga cinta ini bertahan lama.

17 September 2012
Aku tadi tidak pergi ke sekolah. Aku kaget setengah mati waktu Taufik tiba-tiba datang ke rumahku pagi-pagi sekali. Dan ucapannya membuatku uring-uringan. Dia akan mengadukan hubunganku dengan Seno ke orang tua Seno. Dia bilang, bisa saja Seno didepak dari rumah dan dicoret dari daftar ahli waris. Seno bakal jadi gembel. Membayangkannya sudah membuatku muak. Aku tidak mau hal itu terjadi. Syaratnya hanya satu, menuruti semua permintaan Taufik. Sial!!

Ps. Aku kangen Seno

25 September 2012.
Ini hari terberat dalam hidupku. Setelah kemarin-kemarin aku menjauhi Seno, hari ini aku resmi memutuskannya. Aku menangis semalaman. Bapakku bilang, laki-laki tak boleh nangis. Tapi yang ini beda. Aku melepaskan Seno. Melepaskan orang yang paling berarti dalam hidupku. Paling aku cintai. Aku ingin dia bahagia. Biar saja aku yang berkorban melayani nafsu bejad Taufik.

Ps. Hari ini aku memandangi foto Seno berjam-jam. Aku tak kan pernah bisa memeluknya lagi.

18 Oktober 2012
Menyebalkan! Hari ini Taufik mengajakku ke toko buku. Aku muak sekali melihat tampangnya. Katanya, aku tambah tampan saja. Aku jijik mendengarnya. Oh ya, aku bertanya-tanya kenapa ya dengan Senoku? Kenapa akhir-akhir ini dia murung sekali? Aku mengkhawatirkannya. Apa ada hubungannya denganku?
Bahagialah Senoku, aku mohon! Hatiku serasa dicabik-cabik melihatmu yang selalu murung. Aku ingin memelukmu. Tapi aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa. Bukan berarti aku tidak mau.

Ps. Rindu ini membunuhku. Aku kangen SENOOOOO.

8 Januari 2013
Wah, sudah lama aku tidak bercerita pada kamu. Kamu adalah sahabatku yang selalu ada, hehe. Ini pertama kalinya sejak liburan semester satu kemaren aku melihat Seno. Dia semakin tampan saja dengan gaya rambut spike barunya.
Liburanku sendiri tidak menyenangkan. Aku menghabiskan liburanku dengan membantu para buruh bapakku menambang pasir. Bapakku menentang habis-habisan, tapi daripada tidak ada kegiatan dan membuatku merana karena memikirkan Seno?
Kelakuan Taufik makin menjadi-jadi. Ini pertama kalinya dia memintaku mengoral penisnya. Jijik! Punya Taufik tidak seindah punya Seno. Ukurannya sangat kecil! Penis terjelek yang pernah aku lihat!
Sudahlah, aku jadi mual mengingatnya. Taufik benar-benar bajingan!

Ps. Seandainya aku bisa mengacak-acak rambut spike Seno. Dia pasti bakal mencak-mencak. Aku kangen banget.

25 Januari 2013
Seno emang keren! Dengan mobil barunya dia makin keren. Hari ini dia menyetir sendiri. Oya, Seno kan belom jadi mengajariku nyetir mobil. Tapi sekarang aku tak bisa menagihnya. Lagipula, dia punya sopir ganteng sekarang. Sudah sejak lama sih. Tapi sesudah liburan, mereka seperti tambah akrab saja. Aku cemburu!
Aku? Hariku semakin suram kurasa. Tadi Taufik menyodomiku. Tidak begitu kerasa sakit karena punyanya hanya sebesar jari telunjuk. Tapi kemudian dia pake timun. Anusku perih sekali. Bahkan masih perih hingga sekarang.

Ps. Aku benci Taufik, ingin aku bunuh dia rasa-rasanya.

27 Januari 2013
Aku mencium Seno! Aku tidak bisa menahannya. Setelah kemarin menjenguk Hendra dan tidak sengaja Seno datang juga, aku jadi hilang kendali. Sekali lagi saja, aku ingin bisa jalan bareng Seno. Sekali saja.
Dan dia mau, walaupun dia hanya diam saja. Tapi aku sudah senang. Bisa melihatnya makan dan sesekali wajahnya yang merona merah. Aku senang. Aku bahagia, setelah sekian waktu aku lupa apa itu bahagia.

Ps. Taufik melihatku mencium Seno. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu

02 Februari 2013
Tubuhku masih merah biru disana sini. Tadi Taufik menghajarku habis-habisan. Dada, puting dan testisku diberi tetesan lilin. Sakit sekali. Anusku juga masih perih karena hajaran Taufik. Kali ini dia pakai timun yang ukurannya lebih besar. Aku benar-benar ingin membunuhnya aku rasa. Aku muak padanya.
Dia bilang jangan sentuh Senonya –adiknya yang sangat berharga- dan jangan mencoba selingkuh. Selingkuh? Aku tidak merasa aku pacaran dengan Taufik!!

Ps. Hatiku lebih sakit daripada tubuhku. Sakit didera rindu. Aku kangen Senoku.
***

Aku menjatuhkan buku bergambar Satria Baja Hitam itu. Buku harian itu sudah tak tampak lucu dimataku.
“Buka bajumu Her.” Kataku pelan.
“Buat apa?” Herry bertanya tidak tahu.
“Buka aku bilang!!” Herry membuka bajunya walaupun dengan pandangan bertanya-tanya. Dan aku terkesiap. Tubuh atletisnya tak lagi mulus. Memar-memar merah biru melintang disana sini. Oh Herry ku. . . .


Bersambung. . .