FOLLOW ME

Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2014

It's Me

Well, jadi Barista ke sebelas mungkin bakal gue update kalau gak Senin ya Selasa. Paling telat ya Rabu.

Selasa, 29 Juli 2014

CATATAN NGACO SEORANG ARDHINANSA ADIATAMA


Aku, Ardhinansa Adiatama. Aku gay, dan ini kisahku. Sebenarnya, aku tidak begitu bangga mengucapkan kata ‘aku gay’. Coba tebak, siapa yang mau jadi gay? Kalau kalian bisa memilih? Naif, karena kebanyakkan orang straight tak kan pernah mengerti gay, atau lebih spesifiknya tidak akan mengerti kondisiku. Ketika aku memutuskan untuk berterus terang dengan temanku, rata-rata mereka akan bilang, “Lo sakit?”
Sakit? Aku sehat! Aku bisa berkomunikasi, aku bisa bersosial, aku bisa melakukan apa yang orang straight bisa lakukan. Kenapa aku dibilang sakit? Bahkan oleh beberapa gay sendiri? Kenapa mereka mengejudge diri mereka sakit?
Jujur, aku tidak mau dibilang sakit! Aku memang tidak tertarik dengan perempuan, walaupun jujur aku bisa menghamili mereka kalau aku mau. Memangnya ada perbedaan berarti antara sperma gay dan sperma straight? Kecuali kalian impoten.
Bukankah hanya disitu letak perbedaanya? Straight menyukai dan tertarik dengan lawan jenis, sedangkan gay tertarik dengan sesama jenis? Lalu kenapa? Sama seperti straight yang tidak mungkin sembarangan menyosor semua kaum lawan jenisnya, gay juga tidak sembarangan menyosor. Kita punya cinta, kita punya kriteria, kita juga punya hati. Oh! Kecuali beberapa bajingan yang hanya mementingkan seks dan seks. Tapi bukankah straight juga banyak? Banyak yang hanya memetingkan seks?
Lalu kenapa aku gay?
Aku jadi ingat, waktu itu aku masih 13 tahun. Remaja tanggung yang selalu ingin tahu. Saat itu, aku tidak tahu bahwa lelaki yang suka lelaki disebut gay. Boro-boro, karena aku juga belum bisa mendiskripsikan perasaanku kalau aku bertemu atau mengobrol dengan Sani Satrio Wibowo. Perasaan deg-degan. Pengen barengan terus, atau perasaan tiba-tiba kesal menyebalkan jika perhatiannya teralih dariku. Aku masih ingat betul cara dia memperlakukanku, berbeda dengan cara dia memperlakukan teman-teman prianya yang lain. Aku merasa spesial, aku masih ingat pangkuannya, pelukan hangatnya.
Puncaknya saat aku berusia 14 tahun. Aku mempunyai pembimbing rohani, namanya Hendra. Dan karena aku dibesarkan dengan keluarga yang taat beribadah dan terbiasa bercerita apa saja dengan Hendra, aku menceritakan masalahku. Perasaan anehku ke Sani yang sama sekali belum aku mengerti.
Hendra diam setelah mendengar ceritaku. Dia malah lalu bertanya,  apakah aku dekat dengan Papaku? Apakah sewaktu kecil aku lebih suka mainan perempuan daripada robot-robotan atau mainan anak cowok lainnya? Aku yang waktu itu masih 14 tahun hanya terdiam lalu menggeleng.
Kini, aku bisa tersenyum geli.
Tidak ada yang salah dengan keluargaku, tidak ada yang salah dengan cara mendidik ibuku, tidak ada yang salah dengan masa kecilku dan bagiku gay juga bukan kesalahan. Mau menyalahkan siapa? Tuhan?
Aku terlahir dengan 3 saudara. Kakak pertamaku perempuan, selisih hampir 12 tahun dariku karena Mamaku nikah muda. Lalu kakak keduaku laki-laki bernama Bimo. Dan adikku Ragil. Masa kecilku bahagia dan menyenangkan. Aku juga tak pernah kekurangan kasih sayang seorang Papa. Lalu kenapa?
Aku bermain robot-robotan, tamiya, kasti, renang di sungai bahkan kadang-kadang Mamaku harus mencariku di sawah karena aku masih bermain layang-layang hingga sore hari. Aku melakukan permainan laki-laki sewaktu kecil.
Mamaku membesarkan tiga anak lelaki. Kami diperlakukan sama, tidak ada cerita-cerita mamaku ingin anak perempuan, sehingga aku didandani seperti perempuan, tidak ada juga cerita-cerita mamaku ngidam Tessi atau Olga, karena aku yakin jaman itu Olga juga belum nongol di tv, aku juga ragu keluargaku sudah punya tv.
Jadi berhentilah kalian menyalahkan mamaku! Dia wanita yang hebat, seorang wanita yang bisa membuat suaminya betah hingga puluhan tahun, membuat anak-anaknya betah mendengar dongengnya ketika mau tidur, membuat anaknya tidak pernah takut untuk bertanya tentang apapun ke mamanya. Mamaku luar biasa!
Jangan juga menyalahkan masa kecilku. Aku berteman dengan laki-laki, melakukan permainan laki-laki. Dan tidak ada yang keliru. Oh, kecuali saat-saat aku lebih suka didapur membantu Mama, mengiris bawang putih, tanya ini itu. Tapi apakah itu salah? Apakah itu tanda-tanda aku akan gay?
Ada saat-saat dimana aku merasa kotor, saat-saat dimana aku merasa tidak layak ke gereja karena aku gay, saat-saat dimana aku merasa aku adalah anak gagal yang tidak mungkin bisa membahagiakan orang tuanya. Apakah kalian pernah mengalami perasaan itu? Perasaan hina itu?
Hendra tidak pernah memberiku solusi, dan aku perlahan-lahan mundur dari kegiatan gereja. Aku hanya datang setiap ibadah hari Minggu, itupun bersama keluargaku. Seperti yang aku katakan tadi, ada perasaan bersalah kepada Tuhan, ada perasaan tidak pantas bertemu Tuhan.
Sejak perasaan aneh ke Sani perlahan aku pahami, aku malah jadi menarik diri. Jadi pendiam, minder dan merasa kecil. Sampai akhirnya kakakku tahu. Ya, Bimo tau dari buku kecil diariku. Aku menulis semuanya disitu, acak-acakkan, berantakkan, tapi aku merasa hanya buku itu yang mengerti aku. Bukan Hendra, bukan juga para pendeta yang hanya bisa mengatakan bahwa aku salah. Tanpa aku tahu, salahku dimana. Aku gay, ya itu dia salahku. Aku gay dan aku salah. Oya, atau teori kedua yang lebih gila lagi. Bahwa roh sodom dan gomorah merasukiku, demi Tuhan!! Aku sehat dan tidak kerasukkan.
Mas Bimo menjauh, aku merasakannya. Dia yang biasanya mengajariku mengerjakan PR, kini tak melakukannya lagi. Tapi aku masih beruntung, dia tidak mengadukanku ke Mama atau Papa. Aku belum siap mengecewakan mereka. Aku belum siap menjadi alasan para tetangga menggunjing kegagalan orangtuaku mendidikku karena aku menjadi gay. Aku tidak mau hal itu terjadi, sungguh.
Lalu beberapa hari kemudian, ketika rumah sedang sepi dan aku tengah menonton tv, aku ingat waktu itu acaranya Wiro Sableng, Mas Bimo memelukku sambil sesenggukan.
“Maafin Mas Dek,” Aku bingung. Apa yang perlu dimaafkan? Bukan salah Mas Bimo aku jadi gay. Dia tidak ada andil, sama sekali! Namun adegan selanjutnya adalah kita tangis-tangisan bareng sambil pelukan. Sampai-sampai adikku yang baru pulang main melongo melihat kita berdua. Dan masih melontarkan joke-joke menghina ke aku ataupun mas Bimo setelahnya, bahkan hingga saat ini. Hingga hari ini.
Hendra juga sama, tidak pernah menceritakan apa yang pernah aku utarakan ke kedua orang tuaku.
Hingga saat ini, orangtuaku tidak tahu. Mungkin mereka tahu, mungkin.
Beberapa teman tahu, sejak Mas Bimo bilang bahwa aku tetap adiknya apapun keadaanku, bahkan jika aku jadi penjahat sekalipun, aku tetap adiknya, dia akan tetap menjagaku, dia akan tetap berada di garis depan yang membelaku.
Aku yakin orangtuaku akan melakukan hal yang sama. Adikku? Walau kita sering berantem, rebutan ayam goreng kalau sudah tinggal satu, rebutan sandal, rebutan saluran tv, tapi aku tidak pernah ragu kalau dia menyayangiku. Bahkan jika mungkin dia tahu bahwa kakaknya ini gay. Kakak yang selalu dia peluk saat tidur, kakak yang selalu dia repotkan dengan cerita cewek-cewek yang naksir berat ke dia. Aku juga menyayangi adikku. Aku mencintai keluargaku.
Aku bangga memiliki mereka, aku bersyukur lahir dan besar diantara mereka, di antara kasih sayang yang melimpah. Yang tak pernah sedikitpun meragukan keputusanku. Aku mencintai mereka dan akan selalu.
Mama, aku menyayangimu. Mungkin aku belum bisa memberikan apa-apa, tapi aku berusaha menjadi anak baik. Aku akan menjaga nama Mama di depan tetangga-tetangga di kampung. Mama akan tetap dianggap Mama yang hebat karena mempunyai 4 anak yang mengagumkan. Aku pasti akan menjaga nama baik Mama, aku janji.
Papa, terimakasih buat semua ajarannya. Permainan catur, lawan tanding badminton yang paling kece yang tak pernah bisa aku kalahin. Buat nasehat-nasehat konyolnya, terima kasih buat pesawat terbangnya, pasti capek harus menggendongku, mas Bimo dan Ragil bergantian. Aku janji aku bakal jadi ayah yang hebat. Ayah yang hebat lho ya, bukan suami yang hebat.
Mbak Lestari, wanita terkuat yang pernah aku kenal. Bisa merobohkan adik-adiknya padahal adik-adiknya cowo semua. Hahaha, mbak selalu bisa membuat adik-adik cowoknya tidak berdaya, sepertinya nurun dari Mama. Aku sayang sama Mbak. Pengakuan jujur kalo aku sempat naksir dengan Mas Galih. Tapi tenang, aku tidak makan sodara sendiri, apalagi suami mbak sendiri. Tapi ada moment-moment ketika aku ke rumah embak, terus mendapati Mas Galih mondar-mandir hanya memakai celana dalam. Jelas itu bukan salahku, itu keberuntunganku.
Teman curhat paling handal dan bisa dipercaya, Mas Bimo. Aku bisa curhat apa saja ke dia. APA SAJA karena dia sudah tahu semuanya. Aku update semuanya ke dia, mulai dari lagi deket sama siapa, cowok mana yang sedang aku taksir dan minta pendapat apakah cowok itu cukup baik atau tidak. Trimakasih buat malam-malam pilu, malam-malam dimana aku merasa adik paling beruntung sedunia.
Si bawel dan si anak bungsu yang menganggap kalau dia lebih pantas jadi kakakku daripada adikku, aku sayang padamu. Ragil, selalu berdiri di garis depan kalau aku sedang berantem dengan anak tetangga. Tetapi selalu jadi yang tercepat mengambil jatah susuku tiap pagi. Padahal sudah ada tiga gelas susu. Berakhir dengan Mama yang harus membuatkan segelas lagi untukku. Kenapa tidak pernah mengambil jatah Mas Bimo? Dan jawabanmu selalu bikin aku emosi, selalu bikin kita berantem dan terpaksa harus membuat kita mendengarkan pidato setengah jam ala Mama.
“Menjahili adik sendiri itu wajib hukumnya!”
Kita memang selisih tidak ada satu tahun, tapi hukum alam tidak bisa ditentang Ragil, aku tetap Mas mu.  Terbukti secara naluriah kamu memelukku, meringkuk dipelukanku setiap malam. Sedih rasanya kita sudah tidak berbagi ranjang lagi sekarang. Tidak rebutan bantal guling karna hanya ada satu.
Aku Mencintai Keluargaku Lebih Dari Apapun dan Akan Selalu Begitu.

Catatan Ngaco Seorang Ardhinansa Adiatama

Sabtu, 05 Juli 2014

HIP HIP DOR

Di Balik Barista dan Cintaku Di Bagi Tiga


TAAARAAA !!!!
SUMPAH, GUE ISENG BANGET --,--
Ehm, sebelumnya cuma warm you gays aja, agak susah sih ngebayangin tokoh-tokoh ini make baju seragam SMA, but yoweslah. Buktinya, di ganteng2 serigala banyak yang uda ABG uzur perannya jadi anak SMA. So, enjoy this picture.
Tapi sebelum itu, aku bakalan ngajuin disclaimer nih. Karena gambar ini aku nemu di google, twitter sih lebih banyak, jadi buat siapa saja yang merasa itu adalah gambar kamu segera hubungi aku. Maka jika kalian keberatan, gambar itu akan aku ganti dengan gambar orang lain. Ngerti kan? Hehehe, maaf-maaf sebelumnya. Bukan ajang promosi juga. Hahahaha
Denny Prayoga
Pemain basket, cool dan seksi. Hahaha,




Raditya Putra, gak nemuin sisi bawelnya nih. But, biarlah.




Beno. Agak susah juga sih cari karakter ini anak satu, tapi semoga yang ini tidak mengecewakan kalian semua,.
 Yonathan Beno Wicaksono





Shandy tokoh utama juga nih di Barista


Gani Prasetya, si tokoh utama. Oops, nemuin gambarnya cuman atu. :)


Minggu, 06 Oktober 2013

Agnez Mo Coke Bottle



(feat. Timbaland & T.I.)

I got tallest, got you imagine
You give me love, doing Independent woman
I'll be at peace, so they can see me
I'll be like dance, now they tryna hit oh me
But I just doin up, me don't care about em
It's like I'm on the club, me don't care about em (dance)
I got it from my mama
I think of everything, everything that keep their eyes on me


I, I, I, I got to make, he know that [2x]
he proudly has no chance
but he keep lookin' lookin looking for that deep
that he cant get a little try get-get-a little try

I see you're lookin at my curves, coke bottle [2x]
I got that box, some box, some poppin like rubberband [2x]
I see you're lookin at my curves, coke bottle [2x]
I got that box, some box, some poppin like rubberband [2x]

[Timbaland]
Can u pop it? Like I'm rubberband on the trip for me
You dropped it to the floor (babe)
Bring it back to me
But man in em world, gotta pop what em would be
A girls makes they go crazy, that's why its B an insane
A coke bottle shape, yeah they scream on my name
But wait wait she said she got on me
The way she move it move it move it
Got me in the trance
I got to, I got to tell her that I'm a fan (yeah)

[Agnez Mo]
Fast car, you'd never catch me
You looking hot you need a neck prey
Is it cuz separate in our official outfit on me (Get away)
(Do-don't touch me)

I, I, I, I got to make, he know that [2x]
he proudly has no chance
but he keep lookin' lookin looking for that deep
that he cant get a little try get-get-a little try

I see you're lookin at my curves, coke bottle [2x]
I got that box, some box, some poppin like rubberband [2x]
I see you're lookin at my curves, coke bottle [2x]
I got that box, some box, some poppin like rubberband [2x]

[T.I.]
Yep okay you strip Agnez shift me
I love it broadband five on Pic G
The hard rock on gift me, brand fifth G was Jay shit free
I can't drop my time, waste time for
Trunk your prankly bathtup
Even a chick got decide too
But no-no matter how i fuck it
I can't, I-N-G, but i asked somebody
Hold on shawty, holdin your back
Got a 4 fools, let it go, get it back
But they asked Timbo, he knows I'm back
It was lookin A-M-O bring the cup, grab by me
I ain't to go
He wouldn't go
As what different us
She said you sharp, so goin up bring it up to the world

I see you're lookin at my curves, coke bottle [2x]
I got that box, some box, some poppin like rubberband [2x]
I see you're lookin at my curves, coke bottle [2x]
I got that box, some box, some poppin like rubberband [2x]

Minggu, 28 Juli 2013

Britney Spears and Justin Timberlake

Ø They grew up together on MICKEY MOUSE CLUB





Ø She’s PINKY and He’s STINKY




Ø Justin enjoyed the Britney’s album

Ø Justin was infatuated with Britney from the moment he saw her

Ø They won teen choice award 2000



Ø They have same print shirt



Ø Nih ah lihat aja videonya sendiri
Ø Gua mewek liat video ini.

Ø Mudah-mudahan gua bukan satu-satunya orang idiot yang berharap mereka bisa balikan lagi.