FOLLOW ME

Jumat, 17 Juli 2015

BOTTOM 15

Peringatan keras!!
Cerita ini penuh dengan adegan fulgar dan seks juga pertumpahan darah. Cieileh!! Jadi kalo engga suka dengan tema seperti ini harap jangan dibaca. Thanks!
***

Uki Bagus Walantaga
Aku menuju balkon apartment sambil menjinjing sebotol air mineral. Gak keren, huh? Seharusnya aku membawa sebotol Jack Daniel atau whiskie atau apalah. Tapi, aku bukan peminum. Seperti menegaskan lagi bahwa duniaku dan dunia Daniel begitu jauh berbeda. Sangat berbeda.
Aku mendengar suara langkah kaki. Aku tahu itu milik Daniel, dia menyusulku.
Dia duduk disampingku, dengan kakinya diselonjorkan keluar dari pagar besi. Kemudian menyerahkan handphonenya.
“Aku rekam tadi percakapanku sama Rasjid di telepon, kalau kamu pengen denger.” Aku menoleh, menatap wajah Daniel. Matanya sayu, bibirnya merah bengkak.
“Ki, kamu kenapa? Kalau ada apa-apa cerita dong.”
Aku menghembuskan nafas. Lalu terdiam lama, “Dibandingin Pak Bimo dan Rasjid, aku gak ada apa-apanya.”
Kening Daniel berkerut.
“Kamu emang pernah ketemu sama Rasjid?”
“Once.”
Daniel berdiri, memelukku dari belakang. Dan hanya diam. Tidak biasanya Daniel diam.
“Beberapa hari lagi kamu puasa.” Daniel bergumam lirih.
Aku membalikkan tubuhku, menatap Daniel bingung. Apa hubungannya puasa dengan apa yang baru saja terjadi? Enggak ada sangkut pautnya sama sekali, serius!
“Terus kenapa Dan?”
“Kita enggak bakal bisa peluk-pelukkan kayak gini lagi. Well, gak bakal cukup sering.”
Aku terbahak, “Pelukkan sesama lelaki gak bakalan membatalkan puasa kok sayang.” I just, well, kemana tadi galauku karena Rasjid? Daniel memang pintar mengganti topik. Appreciate it.
“Aku gak yakin penismu yang nakal itu akan berkata sama, Ki.”
Aku kembali terbahak.
Lalu termangu sebentar. Rasjid dan Daniel berpacaran cukup lama. Apa Rasjid pernah menjalani puasa bareng Daniel?
“Dulu, pas sama Rasjid gimana? Pas kalian pacaran? Di bulan puasa? Rasjid puasa kan?”
Daniel terlihat berpikir  sebentar, “Seingetku Rasjid cuman puasa dua hari awal dan dua hari akhir. Aku yakin kamu beda dengan Rasjid, pasti bakal full kan?”
“Insa Allah. Eh, kata Evan, bukannya Rasjid itu anaknya alim?”
Daniel menatapku cukup lama, yang membuatku sedikit jengah. “Kutu buku, bukan alim Ki. Itu dua kata tidak bersinonim ya. Tapi surprised juga, kami gali-gali info tentang Rasjid ke Evan.”
“Gak boleh?”
“Boleh, hak kamu kok. Aku kedalam ya Ki, ngantuk! Sebenarnya aku ngerti kamu mau menyendiri, tapi aku cuman mau bilang, kamu pacarku, kamu berhak kok ngelarang-ngelarang aku. Asal gak berlebihan.”
“Aku gak yakin laranganku bakal kamu patuhi juga ntar.” Aku menyunggingkan senyum.
“Just try.” Daniel mengedipkan sebelah matanya. Aku menepuk pantat montoknya sebelum gantengku itu masuk kembali ke apartment.
Aku merenunginya sekali lagi. Buat apa aku membandingkan diriku dengan Pak Bimo atau pun dengan Rasjid? Aku memang tak setampan mereka, tak segagah mereka. Tapi pasti ada sesuatu dalam diriku yang tidak mereka punya, ya kan? Well, aku juga gak bisa melihat bagian itu. Tapi Daniel pasti bisa, buktinya dia memacariku.
Aku menutup pintu kaca yang membatasi balkon dan ruangan dalam apartment, kemudian berjalan menuju kamar. Daniel berbaring dengan mata terpejam.
“I love you.” Bisikku pelan.
“Uuueeem.” Daniel menggumam tidak jelas dan tetap terlelap.
***

Joshua Daniel Pradipta
Aku berjalan di depan, dengan Uki mengikutiku membawa trolli belanjaan yang hampir penuh. Isinya? Ada sayur, daging, coklat, telur, macam-macam dah. Besok pagi, akan menjadi sahur pertamanya Uki. Berlebihan belanjanya? Itu hanya untuk stok kok. Coklat? Itu untukku, jangan ditanya lagi.
“Mau nyari apalagi Dan?”
Aku menoleh ke belakang, “Ovalet sama cream of tartar. Pengen bikin black forest.”
“Buat siapa? Emang ada moment spesial hari ini?”
Aku menggeleng.
Jadi, tadi sehabis pulang kerja, aku dan Uki langsung mampir ke Diamond. Selain belanja buat kebutuhan sehari-hari juga kebutuhan nanti untuk sahur. Hahaha, seakan-akan aku bakal ikutan sahur aja. But, well aku bakal berusaha nemenin Uki sahur sesering aku bisa.
“Buat dimakan aja lah Yank.” Mbak-mbak pramuniaga yang kebetulan berada di dekat kami langsung menoleh ke arah kami berdua dan tersenyum gak jelas. Mungkin dia funjoshi. Eh, bener kagak ini namanya? Atau fundoshi ya? Eh jangan-jangan fondasi? Haha. Never mind!
“Ntar buat sahur pertama kamu Yank, aku yang masak deh.”
Uki melirikku, namun tidak berkata apa-apa. Sudah berbulan-bulan tinggal bersama sepertinya membuatnya cukup untuk tidak berharap lebih. ‘bangun aja susah, apalagi mau masak?’ mungkin itu yang berada di dalam pikiran Uki. Kita semua tahu, Uki itu paling jago memendam sesuatu.
“Lho Daniel? Tumben ini belanjanya malem?” Guess who? Titris. Dan Bimo dan Damian. Happy familly. Well, mine too. Pikir kalian dengan menjadi gay, menikah dengan sesama pria, kalian bakalan enggak bahagia? Terserah dengan pendapat kalian, yang jelas aku bahagia. Bagaimana dengan anak, untuk yang itu, suatu saat aku juga akan memiliknya. Teknologi sudah canggih, kita tidak lagi hidup di jaman batu. Ya kan?
Oke, aku akui, memang Uki belum menikahiku. Ini hanya soal waktu, calm down, bitch!
“Wah Mbak, haha, iya nih kebetulan sekalian pulang kantor. Buat persiapan sahur juga ntar.”
Titris menampilkan wajah bingung, “Lho kamu ikut puasa, sekarang?”
“Enggak mbak, my boyfreind do.” Titris melihat Uki dan tersenyum. Terserah ya dia mengartikan boyfriend itu sebagai teman atau pacar. Her choice.
“Uncle Daniel udah lama gak main ke rumah Damian.”
Aku mencubit hidung Damian yang terlihat sangat nyaman dalam gendongan ayahnya. “Ntar kapan-kapan ya?”
“Promise?” Damian mengulurkan jari kelingkingnya. Mengajakku untuk berjanji kelingking.
Aku tersenyum, “Promise.”
“Kalau gitu aku duluan ya Dan, udah selesai ini.”
“Iya mbak.”
“Yok Dan, Ki” Bimo menatapku lama sambil menepuk bahuku. Dan mengangguk pada Uki.
“Pak Bimo masih cinta kamu. Aku bisa lihat dari cara dia natap kamu setiap hari di kantor. Barusan juga.”
Aku mengedikkan bahuku, “Mau dibahas sekarang?”
Uki hanya menghembuskan nafasnya secara perlahan, kemudian menggeleng.
***

“Aku enggak tahu ya motif kamu masak hanya dengan kain yang bahkan enggak sukses buat nutupin pantat kamu itu.” Aku berbalik dan tersenyum pada Uki yang baru saja beres mandi. Jangan tanya padaku kenapa dia harus mandi dulu sebelum sahur. You know? We just did a little bit sin. Oh, the big one, I am forgot.
“Apa emang karena di dapur panas, atau kamu sengaja biar aku enggak ikut puasa pertama hari ini?”
Aku menggeram pelan, sebelum akhirnya mengambil boxer dan memakainya. “Puas?”
Uki tersenyum lalu memelukku. “Jadi aku sahur apa hari ini?”
“Roti panggang isi daging sapi, plus telur mata sapi. Eum, aku bikin jus jeruk juga. Dan ada susu. Well, baiknya kamu makan buah dulu.”
“Gak kebayakkan tuh?”
“Aku udah itung semua kalorinya, dan enggak, kamu gak bakalan ngerasa kekenyangan. Trust me, karena aku anak tekhnologi pangan, oke?”
Kerutan di dahi Uki terlihat makin dalam. Kurang ajar! Dia gak percaya dengan kemampuan pacarnya menghitung kalori? Eh, tapi aku juga asal sebut sih. Lagian, kalau aku yang makan segitu, itu belum kenyang. Itu sudah aku sesuaikan dengan kebutuhan tubuh Uki yang hanya 165cm an itu.
“Teknologi pangan bukannya beda sama gizi ya?”
“Kita mau berdebat, atau kamu mau sahur?”
Uki tersenyum lebar, mencium pipiku sebentar lalu mulai menyantap menu sahurnya. Oke, janjiku adalah menemaninya sahur sebanyak yang aku bisa kan? Bukan ikutan makan? Eh, atau ikutan makan ya? Aku lupa dengan janjiku sendiri!
“Kamu gak ikutan makan?”
Aku menggeleng sebagai bentuk jawabanku.
“Kenapa?” Uki menghentikan aktifitas makannya sebentar, kemudian menatapku. Aku menyukainya. Aku suka ketika Uki fokus denganku saat dia tengah bertanya padaku.
“Gak lapar. Lagian ntar pagi aku juga sarapan.” Aku bangkit berdiri. “Ki, aku beneran mau nemenin kamu makan tapi aku bener-bener ngantuk. Aku boleh tidur lagi gak sekarang?”
“Go ahead, my lovely sleepy head.” Uki berkata sambil menoel pantatku.
“Puasa!”
“Not yet. Hahaha.”
***

Evan Sutedjo
“Menurut gue, puasa itu sekarang udah jadi kayak ritual tiap tahun.” Daniel dan Maya sama sekali tidak mengindahkan omongan gue sama sekali. Mereka berdua masih sama-sama mengagumi detil-detil otot yang ditampilkan oleh –well, gue gak tahu nama aktornya-, but di film ini tuh aktor hampir jarang banget pakai baju.
“Emang ritual tiap tahun kan? Lagian kayak lo ikutan aja.” Suara Maya. Setelah lima menit mereka diam tidak menjawab pertanyaan gue.
“Bukan gitu, hanya saja dulu pas gue masih kecil, puasa itu lebih ke sesuatu yang well, lebih spiritual. Apa ya bahasanya, khidmatnya tuh dapet. Sekarang? Ya mereka puasa, tapi ya itu, cuman puasa, sekedar you know, menjalankan kewajiban, bukan karena mereka love to do it.”
“Boo, lo kenapa sih? Reno bukannya enggak puasa juga ya? Why you so busy talking about something that you never inside it?” Daniel berbicara sambil menatap gue tajam. Well, dia emang bukan tipe yang mau berpikir rumit. Dia suka, dia lakukan. Dia benci, dia jauhi. He’s so simple. As that.
Tapi bener juga sih, gue kan emang belum pernah puasa. I am should not  judging.
“Ini film apa sih?” Gue akhirnya nyerah dan bergabung dengan mereka duduk diatas sofa dan mengamati sang aktor yang sekarang tengah menampilkan titit tembemnya secara frontal.
Maya mengibas-kibasan tangannya, “Film gak jelas. Dari Prancis. Eh, Dan, kemarin gue gak sengaja ketemu Hendri.”
“Trus?” Daniel menjawab tanpa menolehkan kepalanya.
Shit, film apa yang mengijinkan aktornya masturbasi tanpa sensor seperti ini?
“Dia nanyain elo tuh. Kayaknya masih ngarep ya? Udah berbulan-bulan juga kan lo gak kontakan sama dia?” Maya berkata sambil mengambil remote. “Serius ya, kita ganti aja nontonnya. Lama-lama gue bisa becek sendiri nih!”
Gue dan Daniel langsung ngakak barengan. Padahal, dia sendiri yang ngebet pengen nonton ini film tadi. Katanya dapet dari OB di kantornya. Dasar geblek! Mungkin itu koleksi bokep kali ya? Tapi ada ceritanya.
Maya mengambil kantong kresek dan mengeluarkan seluruh isinya. Dia memperlihatkan beberapa cover CD yang well, isinya sangat amat tidak menjanjikan.
“Tuh, yang Asian aja. Kayaknya Thailand kalo gak Filiphina deh.” Daniel menunjuk salah satu cover yang dipegang tangan kiri Maya. Gambar covernya? Dua cowok hanya memakai sempak putih.
Maya melihat CDnya dengan detil, sebelum akhirnya memasukkannya ke DVD player. “Well, gak ada yang doyan vagina juga diantara kita bertiga. That’s why I love watching bokep sama kalian berdua.”
Gue dan Daniel langsung memutar kepala secara barengan.
“Trus gimana Dan?” Maya bertanya lagi.
Kali ini Daniel menoleh ke arah Maya, “Gimana apanya May?”
“Hendri, sama elo. Gimana?” Maya menatap lurus kearah layar tv, “Ih, gue heran ya kenapa kalau Thai sama Jepang biasanya jemberewinya kemana-mana. Geli gak sih?”
“Hahaha, emang punyanya Banyu, jemberewinya gak kemana-mana?” Gue nanya iseng.
Maya mendelik kearah gue, “Gue selalu memastikan jembrewi laki gue, agar terlihat rapi dan enak dilihat oleh gue.” Maya mengalihkan pandangannya ke Daniel, “Gimana Dan? Jangan pura-pura gak tahu lagi ya apa yang gue tanyain ke elo tadi.”
“Ya gak gimana-gimana May. Kalau gue ngarep sebuah hubungan sama dia, gue pasti bakal jawablah semua sms, BBM, Line yang rajin banget dia kirim tiap pagi. Malesin! Gue mau fokus ngurus laki gue nih!”
“Cuman mau ngingetin aja Dan, sifat Hendri itu agak sedikit dangerous. Dia kaga bakal nyerah, selama apa yang dia mau belum dia dapetin. Rumornya sih gitu, that’s why, dia sukses. He’s arrogant and know exactly what he wants.”
Daniel mencium puncak kepala Maya, “Thanks sister.”
“Kalian berdua ini kan emang adek-adek gue yang wajib dan mesti gue jaga.”
Daniel melirik gue dan membuat senyum sinis. Well, gue tahu Daniel sayang sama Maya, sebesar gue sayang sama dia. Begitu pun sebaliknya. Persamaan diantara kita bertiga, sama-sama anak tunggal.
***

Uki Bagus Walantaga
Godaan puasa hari kesembilan. Harus ke customer bareng Pak Bimo. Well, ada Pak Jaswoyo juga sih, sopir kantor. Tapi tetap saja, Pak Jaswoyo fokus di jalan. Lha aku? Masak mau diem-dieman saja sepanjang perjalanan?
“Ki, gimana sama Coca Cola? Saya denger project kita gak goal ya?” Thanks Bimo bahas topik kerjaan, instead ‘Kamu sama Daniel gimana?’ mati aku kalau sampai dia nanyain itu.
“Iya Pak, belum sepenuhnya cancel. Tapi mereka menginginkan sesuatu yang agak berbeda. Fruitty soda.”
“Daniel gak bisa bikin?”
Sebenarnya wajar bawa-bawa nama Daniel. Dia technicalnya. Tapi kok, aku merasa Bimo sengaja nyerempet-nyerempet ya?
“Ini colournya Pak. Bukan aplikasi sweet.” Apa aku terlihat membela Daniel? Enggak ah. karena faktanya memang begitu. Daniel sudah lepas tangan dari divisi colour beberapa bulan yang lalu. Dia sekarang fokus dengan sweet dan savory.
Bimo mengambil nafas dalam. “Pak Hans kan masih technical baru. Kamu harus bantu dia juga Ki, Daniel juga.”
Sabar. Sabar. Sabar.
Aku paling tidak tahan jika ada yang menyalahkan Daniel, even itu memang salahnya. Iya, sebuta itu cintaku buat Daniel. Tapi disini, aku tidak melihat pointnya Pak Bimo menyudutkan Daniel.
“Bukannya Pak Hans sebelumnya berpengalaman di Firmoney? Secara usia juga bukannya Pak Hans lebih senior dari Daniel?” Okay, aku hanya mengucapkan kalimat itu dalam hati. Iya, aku memang sepengecut itu. Daftar perbedaanku dengan Daniel agaknya bertambah lagi.
“Iya Pak.” Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibirku.
Pak Bimo menolehkan kepalanya, menatapku. “So, how are things with Daniel?”
Weleh, si Bimo ini sekarang udah gak basa-basi. Langsung nanya. Tapi ya, dia patut membenciku. Aku ngerebut pacarnya. Aku memang merebut Daniel, aku tidak akan menyangkalnya. Aku mulai mendekati Daniel disaat mereka berdua masih bersama. Aku orang ketiganya. Aku setannya.
“Just answer in English, so the driver won’t know.” Tambahnya.
“Everything’s fine, Pak.” Jawabku. Dan, kalau Bapak ngasih THR dua kali lipat lebaran besok, pasti bakal lebih dari fine.
“It’ll be serious one? Or you still hope end up with woman?”
“Well, I have met Daniel’s mother, and he has met mine. But . . .” Aku langsung menghentikan ucapanku. Jangan jadi malah curhat!
Pak Bimo masih menatapku. Aku jadi tidak bisa menyalahkan Daniel kalau dia sempat jatuh cinta pada Pak Bimo. Kegantengan dan kharismanya itu lho, bahaya!
“But, what?”
“Nothing.” Aku menjawab cepat. Aku tidak akan menceritakan ke Pak Bimo kalau ibuku masih melarang keras hubunganku dengan Daniel.
Pak Bimo mengambil nafas panjang, “Ki, I really feel happy for you both. But on the other hand, I also feel a bit disappointed and angry about Daniel choice over you instead me.”
“But sometimes we just have to make choices, right, Pak?” Kataku.
“True, I just hope you and Daniel made the best decision. Have you thought about your future? Would you have babies with him? Holand is not too far if you want to marry.”
“Not just yet, Pak.”
“Really? You are so organizing person. I thought you already done.” Aku hanya tersenyum. Karena aku sendiri masih bingung.
***

Aku mengabari Daniel bahwa aku tidak bisa berbuka di rumah. Ini sudah jam enam dan aku baru balik dari customer. Belum lagi aku harus mengerjakan laporan tentang seberapa potensial keuntungan yang akan kita dapat dari calon customer baru.
“Ki, ini aku tadi beli kolak di depan. Kamu mau? Aku sengaja beli dua. Kamu belum buka kan?”
“Oh, makasih ya Hit. Udah sih tadi minum teh manis. Ini juga abis kelar sholat.”
Hita tersenyum, “Lembur nih?”
“Kayaknya bakalan iya. Mau enggak mau.”
“Aku juga. Ada beberapa jadwal pengiriman yang belum aku report. Eh, aku sholat dulu ya Ki.” Aku jawab dengan anggukan.
Aku memperhatikan punggung Hita yang menjauh dan hilang dibalik pintu. Lalu perkataan Bimo kembali terngiang. Wanna have babbies? Hita pasti akan menjadi calon ibu yang hebat. Sholehah, pintar, dan sopan. Ya Tuhan, apa sih yang tengah aku pikirkan? Buruan kerjain reportnya biar cepat pulang!
Aku hampir selesai mengerjakan laporanku ketika aku mendengar pekikan pelan dari meja sebrang, Hita.
“Kenapa Hit?”
“Ini Ki, komputerku error. Keyboardnya gak mau berfungsi.”
“Biarin aja dulu. Terlalu heavy mungkin. Atau restart aja.”
“Aduh, ntar datanya gak ke save dong? Masak harus mulai dari awal?” Ujarnya. Suaranya perpaduan antara frustasi dan mau nangis.
Aku melangkah menghampiri mejanya, “Sini aku lihat.”
Dan tepat disaat posisi seperti itu, Hita duduk, aku setengah berdiri dibelakangnya. Kalau dilihat sekilas seperti tengah memeluk dari belakang, pintu terbuka dan munculah Daniel. Kalian tahu? Aku selalu membenci adegan didalam sinetron yang selalu menampilkan slow motion. Tapi sekarang, aku merasakannya. Seakan-akan, semua hal disekelilingku berjalan dengan lambat. Aku melihat rahang Daniel mengeras sebentar. Lalu kemudian tersenyum lebar.
“Eh, jadi yang lembur cuman berdua nih?” Suara Daniel wajar. Namun, aku bisa merasakan sinis didalamnya.
“Iya. Sama security dibawah Dan. Elo sendiri lembur juga?” Hita yang menjawab. Aku masih syok.
Daniel menggeleng, “Enggak. Tadi mampir Beard Papa trus mau ngambil sesuatu yang ketinggalan di kantor.”
“Beard Papanya buat aku?” Aku tidak sengaja nyeletuk. Kesalahan.
Daniel menatapku, bibirnya tersenyum. “Gue balik dulu Ki. Ayo Hit, duluan.” Gue? Daniel memakai ‘gue’ tadi?
“Iya Dan, hati-hati di jalan ya.”
“Oke.”
Aku masih terpaku. Aku ingin mengejar Daniel, namun sepertinya hanya akan meninggalkan kecurigaan untuk Hita.
“Eh, udah bisa lagi nih Ki, makasih ya.” Kali ini Hita benar-benar memelukku. Mungkin karena dia saking senengnya atau apalah. Dan sialnya, Daniel masih sempat melihatnya. Mampus aku!
***

Aku membereskan pekerjaanku. Lalu agak sedikit ngebut. Untungnya, di bulan ramadhan seperti ini, jalanan agak sepi kalau sudah sedikit larut malam. Memarkir mobil dengan asal-asalan dan langsung naik ke atas. Sedikit mengutuk lift yang terasa lama.
Hatiku mencelos begitu masuk kedalam apartment. Tidak ada kehadiran Daniel disana. Sepi. Aku berjalan masuk ke kamar. Berharap Daniel sudah terlelap disana. Namun nihil. Daniel tidak pulang.
Aku lebih berharap mendapat omelan Daniel daripada ditinggalkan seperti ini. Rasanya perih.
Iphoneku bergetar. Evan.
“Ki, Daniel nginep tempat gue. Gue kasih tahu lo biar lo gak khawatir.”
“Oke, gue kesana deh.”
“Mending jangan. Lo tahu kan kalau Daniel maunya A ya A? Nah dia pengen nginep di tempat gue, jadi biarin gitu aja. Lagi ada masalah?”
Aku menghembuskan nafas perlahan, “Salah paham.”
“Ya udah, gue masuk dulu. Takut Danielnya curiga. Bye.”
“Bye, thanks ya Van.”
“Oke.” Klik. Sambungan telepon dimatikan. Apa mungkin aku masih galau? Masih belum tahu siapa yang benar-benar aku cintai? Karena jujur, saat dipeluk Hita tadi, rasa-rasanya luar biasa.
Namun, begitu aku masuk apartment dan menyadarri Daniel tidak berada disini, ada sesuatu yang perih.
***

Evan Sutedjo
Gue sudah pernah bilang belum kalau gue iri sama bentuk tubuh Daniel yang selalu hot, even dia makannya kayak orang gak makan dua hari? Sepuluh biji beard papa ludes. Dan sekarang, mulutnya sedang mengunyah martabak manis. Buset kan? Tetep saja six pack! Envy gue!
“Dan, lo beneran mau nginep sini? Uki gimana besok sahurnya?”
“Dia bisa masak kok.” Daniel menjawab acuh tak acuh, “Toh, biasanya memang dia yang masak kan?”
Gue putar otak. Sahur sendiri itu pasti enggak enak banget. Dan gue gak mau cowok sebaik Uki, yang seharusnya bisa sahur bareng keluarganya malah sahur sendiri karena keegoisan Daniel. Entah apa masalah diantara mereka berdua.
“Dan lo gak mau cerita ke gue masalah lo sama Uki?”
“Kita baik-baik aja Van. Jangan lebay deh.”
“Halah, kalau baik-baik aja, gak mungkin lo nginep disini. Ada anak orang noh yang mesti lo urusin.”
“Jadi gue gak boleh nginep sini?”
Gue nahan ketawa. Daniel ini kalau ngambeknya level menengah, ya kayak gini. Kayak anak kecil. “Terserah lo deh Dan. Kayak gue baru kenal lo satu dua tahun aja.”
“Gue lihat Uki sama Hita peluk-pelukkan, gila gak?”
“Trus?” Gue menjawab sekenanya.
“Ya gue bete. Gue udah bela-belain beliin beard papa buat dia ya! Eh, malah dia indehoy di kantor sama Hita! Bikin males banget gak, menurut lo?”
Gue melirik sepuluh biji beard papa yang sekarang sudah tidak menyisakan sisanya sama sekali. Gue rasa, Uki juga belum makan itu beard papa. “Bukannya dihabisin sama elo beard papanya?”
“Menurut lo? Gue udah dibikin bete, trus gue masih gitu ngasih beard papanya ke dia? Mulia banget gue.”
Jahat, kok bangga. “Dan, Uki itu jauh dari keluarganya lho. Dia itu anak rumahan, butuh sesuatu yang hangat. Dia bukan tipe orang yang bisa survive kalau hidup sendirian. Gue sih liatnya gitu. Dan satu-satunya orang yang dia percayai buat hangatin hati dia kan elo? Apalah arti Hita jika dibandingin dengan Daniel Pradipta, ya kan? Gak ada apa-apanya lah Dan! Teteknya aja gedean punya lo!”
“Sialan lo ya! Tetep aja punya dia meki, gue punya kenti. Beda! Udah ah, gue mau molor.”
Gue menghembuskan nafas perlahan. Susah memang membujuk anak kecil.
***

Uki Bagus Walantaga
Hatiku masih nelangsa sama seperti saat semalam aku pulang dan mendapati Daniel tidak berada di rumah. Aku tidak bisa tidur. Untungnya hari ini hari Sabtu, jadi aku tidak perlu repot-repot ke kantor. Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi, sebelum sahur. Sendirian. Well, biasanya juga sendirian. Karena Daniel akan masak, nemenin sebentar, habis itu dia tidur lagi. Namun kali ini, tidak ada dia sama sekali. Nelangsa itu semakin terasa, menohok keluar.
Mataku langsung melek kedalam level maksimum ketika aku melihat ada ayam goreng, sop daging, tempe goreng, nasi putih hangat. Makanan Indonesia. Siapa? Gak mungkin Daniel kan? Dia gak bisa masak sop. Apalagi tempe goreng. Padahal itu lebih simple ketimbang bikin steak.
“Aku nyiapin sahur, bukan berarti kita udah baikan ya. Aku tetep masih marah.” Ucapan Daniel mengagetkanku. Namun perasaan bahagia yang menerpaku hampir-hampir membuatku ingin menitikkan air mata.
Aku berbalik kemudian memeluknya erat. Memeluk gantengku ini, “Makasih sayang.”
Daniel diam.
“Aku cemburu. Rasanya gak enak, ngeliat kamu dipeluk begitu sama orang lain. Rasanya ada yang sesak Ki.”
Aku memeluknya makin erat. “Maafin aku Dan.” Aku terdiam sesaat, “Temenin sahur ya? Menunya banyak banget.”
“Oke, aku juga laper. Tapi bukan aku yang masak. Aku beli didepan kostnya Evan. Kata Evan sih enak.” Sudah aku duga.
“Makasih udah mencintaiku Daniel.”
Daniel berbalik dan menatapku lama, “Imsaknya masih lama gak? Kalau misalnya, kita main cepet lima belas menit trus kamu harus mandi, masih harus sahur juga, keburu gak?”
Aku sama sekali tidak suka mengubur dalam-dalam imajinasi Daniel, tapi waktunya tidak akan cukup.
“Ya udah deh, ciuman aja.” Kata Daniel sebelum akhirnya bibirnya melumatku.
Pelajaran hari ini yang aku dapat adalah, cara orang mencintai seseorang itu berbeda-beda. Ada yang mencintai dengan cara simple, seperti Daniel. Menunjukkan dengan perkataan dan perbuatan. Dia dibesarkan dengan kasih sayang full dan terungkap oleh Sophia. Dan begitulah cara dia mencintai seseorang juga.
Ada juga yang sepertiku. Malu-malu. Jarang bisa mengutarakan perasaan di depan umum. Bukan malu, tapi karena tidak terbiasa. Aku tidak di didik untuk bilang I love you segampang bilang aku mau makan. Namun, aku benar mencintai Daniel.

P.S. jangan pernah memaksa seseorang untuk mencintaimu dengan cara yang sama seperti kamu mencintainya. Setiap orang punya caranya sendiri. Lihat matanya, karena mata adalah jendela hati, bukan? Dia akan menatapmu dengan cara berbeda dengan orang lain. Kamu akan merasa istimewa hanya dengan ditatap olehnya. Kalau dia benar-benar mencintaimu, tentu saja.


Bersambung . . .