FOLLOW ME

Jumat, 31 Januari 2014

THE SERIES 17

Jujur aku ketakutan setengah mati, walaupun aku tidak menunjukkannya secara nyata. Namun situasi ini benar-benar bikin aku ngeri. Aku dan Herry masih dalam kondisi telanjang bulat, dan pakaian kita sudah terlempar entah kemana. Aku manarik nafas secara perlahan. Taufik masih fokus dengan jalan yang menurutku semakin asing. Dia belum menyuruhku dan Herry melakukan hal-hal yang lebih aneh. Entahlah, apa rencananya kali ini. Herry sendiri terlihat cuek dengan melihat ke arah jendela. Tidak sepertiku yang masih malu-malu dengan menutupi kemaluanku, Herry tidak melakukan itu. Satu tangannya dibuat menyangga wajahnya dan satu tangannya lagi tergeletak begitu saja disamping pahanya.
Mungkin, dan hanya mungkin jika situasinya berbeda, aku mungkin akan terangsang dengan pemandangan yang disuguhkan Herry ini. Namun sepertinya rasa takut lebih mendominasiku saat ini. Alih-alih, berpikiran ke seks, aku malah sibuk memikirkan kehidupanku beberapa jam yang akan datang. Akankah aku masih hidup, atau nanti aku sudah bakal jadi bangkai?
“Kenapa kalian begitu pendiam heh? Biasanya kalian selalu mesra dimana saja.” Aku membuang mukaku ke arah jendela. Aku membenci Taufik. Dan aku yakin aku tidak akan pernah bisa memaafkannya. Tidak akan bisa.
“Dudu urusanmu.” Herry menjawab dengan ketus. Wajahnya pun masih menghadap keluar. Jawaban tadi sepertinya memicu kemarahan Taufik.
“Rasah macem-macem koe lonte cilik! Uripmu ra bakal dowo!” Taufik menghadap belakang. Matanya berkilat penuh kemarahan.
“Koe sing rasah macem-macem! Aku ra wedi mbek awakmu!” Herry agak memajukan wajahnya hingga wajah mereka begitu dekat. Aku ketakutan jujur. Bukan karena mereka akan berantem, tapi lebih ke kemudi mobil. Taufik menoleh ke belakang, sehingga jelas dia tidak melihat kedepan. Aku tahu jalanan sepi dan lurus, tapi . . .
“Fik, itu truck!” Aku berteriak sebisaku. Truck itu baru saja muncul dari arah berlawanan. Dengan kecepatan tinggi. Dan mungkin karena panik, Taufik langsung banting stir. Fatal, mobil kita menabrak pagar pembatas yang hanya terbuat dari anyaman bambu.
Aku masih sadar ketika mobil kita berguling-guling.
Aku juga masih sadar ketika Herry menarikku agar keluar dari mobil.
Namun saat aku mendengar ledakkan itu, pandanganku menggelap.
Terakhir yang aku ingat, Herry berada di atasku. Ya, dia melindungiku.
***

Beberapa kali aku menengok keadaannya dan semakin merutuki diri sendiri. Seharusnya aku lebih cepat! Pak Hadi dan Bu Lilies memang tidak menyalahkanku, tapi tetap saja aku merasa bersalah. Aku tahu malaikat kecilku akhir-akhir ini tengah bermasalah. Namun aku kira hanya masalah kecil. Seperti sedang berantem dengan pacar seksinya atau mungkin sekolahnya yang tengah membosankan.
Sampai Revan menceritakannya padaku. Sedikit terkejut juga. Dan tidak mengira, Taufik yang aku kenal begitu menyayangi malaikat kecilku tega melakukan semua ini. Jika ingat itu, ingin rasanya aku membunuhnya sekarang juga. Bedebah itu selamat. Sedangkan malaikat kecilku dan kekasihnya masih koma.
“Lih, Seno gimana?” aku mendongakkan kepalaku. Revan.
“Masih belum ada perkembangan Mas Revan. Masih koma.”
“Herry?” Aku menghembuskan nafasku perlahan.
“Masih sama. Dia juga masih koma Mas.” Revan memutuskan untuk duduk disampingku.
“Seharusnya waktu Seno pergi dengan mobilnya pagi itu gua ikutin! Seharusnya ini semua gak bakal terjadi, seandainya saja gua lebih peka, seandainya saja. . .” Aku melihat Revan menitikkan air matanya. Aku sadar yang sedih dan terpukul karena kejadian ini bukan hanya aku saja. Eyang Prawiro, Pak Hadi, Bu Lilis bahkan Bu Marini pun merasa terpukul. Dan Hendra.
Hendra dari tadi masih didalam. Setiap berkunjung, dia selalu mengajak berbicara Seno. Menceritakan kejadian-kejadian lucu di sekolah. Hal yang sama yang juga sering aku lakukan.
Aku sudah tau sejak lama jika Seno, malaikat kecilku. Aku menganggapnya seperti itu sejak dia menabrakku dan membawaku ke rumah sakit. Dan Herry mempunyai hubungan khusus. Cara mereka menatap satu sama lain sudah membuatku yakin bahwa aku tidak mungkin bisa masuk diantaranya. Namun harapan itu sempat tumbuh saat Seno pernah menatapku dengan cara berbeda.
Aku tidak pernah menuntut balasan akan perasaanku. Asal malaikat kecilku bahagia, itu lebih dari cukup. Asal malaikat kecilku bisa bangun lagi dari tidur panjangnya, aku rela melakukan apa saja. Apa saja.
Hendra baru saja keluar, seperti biasa matanya sembab. Dia menatapku dan Revan bergantian sebelum akhirnya memutuskan untuk ambruk di pelukan Revan. Tangisnya menjadi. Sudah hampir dua minggu Seno dan Herry koma. Namun kami masih berharap. Baru dua minggu, baru dua minggu. Itu yang selalu aku katakan untuk menghibur diriku sendiri.
***

Pak Hadi dan Bu Lilis baru saja pulang, malam ini aku menjaga malaikat kecilku lagi. Aku menggenggam tangannya yang sedingin mayat. Aku manatap wajahnya yang sekarang bertambah putih karena pucat.
“Den Seno, saya kangen lihat senyum Aden. Lihat wajah jahil Aden, lihat bandelnya Aden. Sampai kapan Aden bakal tertidur Den? Hendra setiap dateng nangis lho Den, Bapak dan Ibu juga. Aden enggak kasihan? Eyang juga drop kesehatannya karena mikirin Aden. Saya sayang sama Aden. Kalau bisa, saya pengen gantiin posisi Aden.” Aku masih saja mengoceh tidak karuan saat aku merasakan ada gerakan-gerakan kecil di dalam genggaman tanganku. Wajahku berbinar, tanpa menunggu lebih lama, aku langsung memanggil dokter jaga.
***

Kalian berisik! Ingin aku teriakkan seperti itu, namun bibirku kelu. Seperti ada yang diganjalkan di bibirku. Entah itu apa. Seberkas cahaya yang terlalu silau diarahkan ke kedua mataku secara bergantian yang membuatku ingin berteriak protes. Namun bibirku masih saja kelu.
“Seno, sayang. Ini Mama sayang.” Aku melihat samar-samar. Ya Mama, Seno dimana Ma? Nyatanya pertanyaan itu tidak keluar dari bibirku. Aku hanya seperti bergumam. Padahal setahuku, aku sudah mengatakannya dengan cukup lantang. Aku juga mendengar gumaman-gumaman lain. Ah, aku capek sekali. Bolehkah aku berbaring lagi? Karena rasanya berat sekali membuka kedua bola mataku. Herry? Oh iya, dimana Herry? Aah, mataku berat sekali. . .
***

Aku tahu dia akan menanyakan kondisi kekasihnya, namun aku masih belum bisa memberikan jawaban. Herry sudah sadar juga. Namun kondisinya masih belum stabil. Aku kembali menatap wajah malaikat kecilku yang sekarang sudah nampak lebih hangat. Dia memang tampan. Dia memang seperti malaikat. Dia sempurna, dia malaikat kecilku.
“Buburnya mau lagi Den?”
“Seno sudah kenyang Mas.” Padahal baru dua suap. Bagaimana mungkin malaikat kecilku sudah kenyang?
“Atau Aden mau saya kupasin buah?” Lagi-lagi wajah tampan itu menggeleng. Aku menarik nafas perlahan.
“Kalau Aden makan saja susah, gimana mau sembuh? Gimana nanti mau ketemu Herry?” Malaikat kecilku menoleh ke arahku. Mata belonya menatapku heran seakan-akan tidak mengerti apa yang baru saja aku ucapkan.
“Herry butuh suport dari Aden, jadi Aden harus sembuh. Harus lebih kuat. Aden makan lagi ya?” perlahan wajah itu mengangguk.
Proses penyembuhan malaikat kecilku tergolong cepat kata dokter. Bahkan dokter bilang ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara medis tentang proses penyembuhan malaikat kecilku. Pernah suatu ketika aku melihat Seno seperti berbicara dengan orang lain. Padahal setahuku disana tidak ada orang. Pernah aku menganggap malaikat kecilku sedikit mengalami trauma dan gangguan kejiwaan. Namun anggapan itu salah. Respon Seno terhadap kita normal. Segalanya normal, hanya terkadang dia sering terlihat seperti berbicara dengan orang lain tapi tidak ada siapa-siapa.
Herry dan Seno berada di tempat yang sama ketika mobil itu meledak. Mereka juga divonis hampir sama. Namun proses penyembuhan Seno setelah bangun dari koma benar-benar luar biasa. Dia sudah bisa berbicara dengan normal, tidak memerlukan alat bantuan pernafasan lagi, hanya infus di tangan kirinya yang masih menempel. Jika dibandingkan dengan Herry yang masih memerlukan semua alat itu.
“Mas, bedebah itu dimana?” Aku sedikit kurang mengerti akan pertanyaan itu sebelum akhirnya aku paham.
“Dia kabur Den.” Itu faktanya. Lukanya memang tidak separah Seno dan Herry. Dan dia kabur saat semua orang sibuk mengurus Herry dan Seno yang memang sangat kritis waktu itu.
“Masih dalam pencarian polisi. Aden tenang saja, saya sudah tahu semuanya dari Revan.”
“Mama Papa? Sudah tahu juga Mas?” tanyanya sesaat setelah diam. Aku menggeleng. Yang tahu hanya aku. Bu Lilies dan Pak Hadi hanya tahu jika Taufik berencana menyulik Herry dan Seno. Itu yang dikatakan Revan. Setidaknya sewaktu Pak Hadi hendak memukul Taufik dan memaki-makinya, Taufik pun tidak mengelak. Dia juga tidak menceritakan kebenarannya.
“Tinggalin Seno sendiri mas, Seno pengen istirahat.” Aku mengangguk pelan sebelum akhirnya berjalan keluar.
***


“Dia dimana kek?” Aku menoleh kesamping menyadari kehadiran kakek buyutku. Sampai sekarang aku masih merasa aneh sendiri. Kakek buyutku sudah meninggal dan aku berbicara dengannya sekarang. Kadang aku merasa seperti orang gila. Bahkan tidak jarang aku menganggap diriku juga sudah mati, sehingga bisa berkomunikasi dengan orang mati juga. Namun sepertinya tidak benar.
Aku masih bisa merasakan tangan hangat Galih yang selalu menggenggamku. Kebiasaan dia jika tengah menyuapiku. Kebiasaan dia yang entah mengapa membuatku merasakan kenyamanan.
“Dia akan kembali, tapi kamu gak usah takut.” Aku menarik nafasku perlahan. Ya aku masih bernafas, tanda kalau aku masih hidup kan?
“Herry?”
“Dia baik-baik saja, dia akan sembuh.” Aku belum bertemu Herry. Aku tahu keadaannya pasti lebih parah dariku. Dia melindungiku sewaktu mobil itu meledak.
“Semua akan baik-baik saja.” Aku mengangguk pelan mendengar ucapak kakek buyutku sebelum akhirnya aku memejamkan mataku. Aku memang butuh istirahat.
***

Sejak aku keluar dari rumah sakit, aku sudah jarang sekali bertemu dengan kakek buyut. Bahkan jika aku seperti orang gila atau menirukan adegan-adegan sinetron dengan memanggil-manggilnya pun masih nihil.
Sudahlah, mungkin kemarin itu hanya efek obat-obatan yang terlalu banyak dijejalkan ke tubuhku. Mungkin membuatku sedikit berimajinasi. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar dimana Herry dirawat. Aneh, seharusnya Herry pun sudah diperbolehkan pulang sepertiku. Lalu mengapa dia masih disini? Sebetulnya, aku masih dilarang menjenguk Herry oleh Galih. Namun aku melanggarnya. Yah, bagaimanapun aku merindukannya. Aku merindukan pacarku, apa itu salah?
Tanpa mengetuk pintu, aku langsung masuk ke kamar dimana Herry sedang dirawat. Ada Ibu dan Bapaknya Herry yang langsung tersenyum begitu melihatku.
“Siang Bu, Pak.” Sapaku sambil tersenyum dan memusatkan perhatianku pada Herry. Dia agak kurusan sekarang. Tapi tetap ganteng.
“Hey Her,” Herry terlihat bingung sesaat sebelum akhirnya menoleh pada kedua orangtuanya.
“Ini Mas Seno Her, masa kamu lupa juga nak?” Perkataan Ibunya Herry langsung membuat alarm di otakku siaga satu. Jangan bilang, jangan bilang!!
“Sini Mas, Ibu perlu bicara sebentar.” Aku mengikuti langkah Sekar yang keluar dari kamar inap.
“Herry mengalami benturan keras di kepala Mas, jadi . . .”
“Dia hilang ingatan?” Sambarku langsung. Agak konyol memang, karena aku kira kejadian seperti ini hanya akan ada di televisi saja, maksutku sinetron.
“Iya dan tidak Mas. Herry hampir mengingat semua orang, kecuali momen setelah dia lulus SMP. Herry tidak mengenali Hendra, Mas Seno, Galih. Yang Herry ingat hanya masa-masa SMP kebawah Mas.” Aneh, maksutku ada gitu amnesia model begitu? Atau ini hanya akal-akalan Herry saja buat ngerjain aku? Bisa jadi, anak itu kan iseng!
“Bu, boleh saya ngobrol berdua sama Herry?”
“Iya Mas, boleh! Silahkan Mas!” Aku dan Ibunya Herry masuk lagi ke dalam kamar inap, namun tidak lama kemudian Sekar menarik suaminya untuk keluar.
“Her, kamu beneran gak inget siapa aku?” Tanyaku begitu merasa keadaan sudah cukup aman. Herry melihatku berkali-kali dari atas hingga bawah dan sebaliknya. Setelah agak lama, dia lalu menggelengkan kepalanya.
“Her! Please lah jangan bercanda! Gak lucu tauk! Masak kamu gak inget kalau kita ini paca . . .” Aku menghentikan diriku sendiri berkata bodoh. Iya kalau Herry bercanda, kalau dia lupa ingatan beneran gimana? Ngomong ke dia kalau aku ini pacarnya? Yang jelas dia kaga bakalan percaya! Jijik iya! Sial!
***

“Den Seno belum makan dari tadi pagi,” Galih masuk ke kamarku dan duduk diatas ranjang. Aku tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Aku masih mengamati foto-foto Herry di ponselku. Aku tahu ini konyol, tapi yang terjadi pada Herry memang benar adanya. Sudah dua minggu kita berdua masuk kelas lagi dan Herry memang tidak mengenali semua orang. Para guru, teman-teman barunya. Kecuali teman-teman dia sewaktu SMP.
Kata dokter, ingatannya bisa saja pulih. Namun itu semua tergantung waktu dan kondisi psikis Herry juga. Dan sialnya lagi, di kelas dua ini aku dan Herry beda kelas. Bisa saja aku meminta kepala sekolah untuk menukar kami agar kami satu kelas lagi. Namun itu akan terdengar sangat kekanakan sekali.
“Den?”
“Seno gak laper Mas,” Aku menjawab masih dengan tatapan ku ke ponsel.
“Aden jangan egois.” Mendengar nada bicara Galih yang agak emosi aku akhirnya menoleh juga. Aku menatap wajahnya dan agak terkejut. Wajahnya terlihat lelah dan kurang tidur.
“Aden sibuk memikirkan orang yang bahkan tidak bisa mengingat Aden, tapi Aden tidak memikirkan perasaan Ibu, Bapak, Eyang yang setiap hari cemas akan kondisi Aden yang mengurung diri di kamar terus. Pulang sekolah langsung ke kamar, makan sedikit, tidak teratur. Bisa kan Aden memikirkan perasaan mereka? Mereka yang sayang sama Aden.” Aku sebenarnya ingin menyanggah. Tapi aku membungkam mulutku lagi. Galih benar, aku tidak seharusnya terpuruk seperti ini hanya untuk Herry.
Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk membantu memulihkan ingatannya. Menunjukkan poto-poto dia dan aku. Poto-poto Herry bersama aku dan Hendra. Bahkan diary nya juga aku tunjukkan.
Herry sama sekali tidak berusaha ingin ingatannya pulih. Dia terkesan bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Selama ini aku selalu beranggapan bahwa Herry hanya sedang sakit. Dia lupa ingatan. Namun fakta bahwa dia sekarang bahkan tidak menggubrisku maupun Hendra aku abaikan. Hendra sudah lelah, dia pernah bilang dia tidak akan memaksa Herry lagi mengingat persahabatan kita. Karena itu konyol. Dia seakan-akan tidak berusaha mengingatku atau Hendra. Lalu apa yang aku lakukan selama ini? Apakah yang dikatakan Galih benar? Aku egois? Tapi bukankah aku juga terluka?
“Seno pengen jus mangga Mas.” Galih tersenyum sebelum akhirnya berdiri.
“Ayo keluar Den, mumpung mangga di sebelah rumah lagi berbuah. Banyak yang udah mateng lho.” Aku memaksakan diriku untuk bangun dari tempat dudukku.
“Duluan aja Mas, Seno mau cuci muka dulu.” Galih lagi-lagi tersenyum.
“Iya, Mas tunggu di depan.” Eeh, apa dia bilang tadi? Mas tunggu di depan? Biasanya dia panggil dirinya sendiri dengan sebutan ‘saya’.
***

“Makasih mas.” Kataku pada Galih sebelum akhirnya keluar dari mobil.
“Iya Den, ati-ati.” Sekali lagi aku tersenyum. Hari ini berbeda, aku tahu ini akan sulit. Cobaan dalam cinta sejati bukanlah saat kita harus memaafkan saat dia berbuat salah. Seperti selingkuh misalnya. Tapi adalah saat kita melepaskannya. Aku melihat Herry sekarang bahagia, tanpa aku. Ironinya begitu. Jadi, aku hanya perlu menemukan kebahagiaanku sendiri. Aku pernah mengalaminya dulu. Melepaskan Herry. So, ini tidak akan sulit. Yah, aku pasti bisa!
“Hey Sen!” aku menoleh pada orang yang baru saja menepuk punggung balakangku. Hendra.
“Jiah, tumben lo berangkat siang?” kataku sambil mensejajarkan langkahku dengan langkahnya. Ini memang hampir jam tujuh. Yah, kalian tahu lah aku memang tidak pernah datang lebih awal dari setengah tujuh.
“Angkotnya penuh tadi. Liat tuh Sen, banyak adek kelas ngelirik kamu tuh!”
“Ngelirik elo kali! Lo kan panitia MOS!” Hendra tertawa perlahan. Namun memang iya, banyak adik kelas yang melirikku atau Hendra aku tidak tahu. Namun aku tidak tertarik. Masih pada bau kencur!
Aku tengah berada di kelas. Menyalin catatan Hendra. Sedikit sih, tapi aku harus mengejar ketinggalanku selama tidak masuk kemarin.
“Kamu reti ra Sen?” Hendra membawakan siomay pesananku dan juga es teh manis.
“Ngerti apaan?”
“Ada adek kelas nembak Herry!” hampir saja aku menjatuhkan siomay yang sedang aku makan.
“Dimana?” aku melongo sesaat. Maksutku, anak-anak sekarang berani sekali ya?
“Di depan kelasnya Herry. Kayaknya sih dikerjain anak kelas tiga.” Aku hanya bisa ber oooooo panjang. Aku kira sungguhan. Tapi tega amat itu kakak kelas. Maksutku kan MOS sudah berakhir. Jerit malam juga sudah dilaksanakan kalau tidak salah. Kok masih aja itu adik kelas mau dikerjain?
Dan saat itu juga ada anak kelas satu yang malu-malu di depan pintu. Cowok, cukup cute walaupun agak klemar-klemer.
“Ayo! Ayo tembak! Awas nek lenjeh ngono bakal diwudohi rame-rame!” Dibelakangnya, anak-anak kelas tiga sibuk memberi suport. Jiah, satu korban lagi. Namun, aku mengerti kenapa anak ini dikerjai kakak kelas. Dia agak lenjeh. Malu-malu, walaupun kalau diperhatikan dia cute, seperti yang aku bilang tadi.
Dengan malu-malu dan didorong anak-anak kelas tiga dia maju ke arahku dan Hendra. Aku dan Hendra saling menatap bingung. Namun masing-masing dari kita tetap stay cool.
“Kak Seno, ini surat dari saya.” Jangan baca selancar tulisan ini. Anak ini mengucapkan kalimat sependek tadi hampir membutuhkan waktu dua menit. Kalian tau lah.
“Surat cinta itu, surat cinta!!” Gemuruh anak-anak kelas tiga yang norak dan heboh sendiri. Untung bel masuk kelas berbunyi. Mereka segera berhamburan keluar dari kelasku. Anak itu juga akan keluar, namun aku pegang tangannya sebentar.
“Lo mau aja gitu dikerjain sama mereka?” Anak itu menunduk.
“Trus kenapa mereka milih gua? Itu mereka kayaknya harus dibikin inget siapa gua!” Aku sebenarnya tidak berniat mengucapkan itu, hanya saja aku terlalu kesal.
“Mereka gak milih kakak.” Jawaban yang keluar dari bibir anak ini membuatku sedikit bingung.
“Lha terus?”
“Aku yang milih sendiri mau nembak siapa. Mereka hanya ingin kita nembak kakak kelas. Kita bebas milih.” Anak itu memang menjawab dengan malu-malu. Dan kepala tertunduk.
“Terus lo milih gua? Maksut gua, lo homo gitu?” Wajah anak itu semakin memerah.
“Aku disuruh harus nembak cowok kak,” Kata anak itu sebelum akhirnya berlari keluar kelas. Ya, mungkin karena gayanya yang agak terlalu kalem itu, anak-anak kelas tiga jadi ngerjain dia semakin aneh.
“Aneh.” Gumamku pelan sebelum aku memasukkan surat yang tadi diberi adik kelas tadi ke dalam tas.


Bersambung . . .

Minggu, 26 Januari 2014

THE SERIES 16

Tak terasa sudah akan liburan semester lagi. Bedanya, setelah liburan aku bakal naik ke kelas dua. Haha. Namun ada beberapa hal yang masih mengganjal.
Pertama, mengapa Taufik masih saja diam? Bukannya aku menginginkan dia berkoar-koar pada keluargaku kalau aku gay. Bukan seperti itu. Hanya saja, diamnya kali ini membuatku ngeri. Aku selalu berpikiran jika dia sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Sesuatu yang mungkin mirip dengan penyiksaan atau semacamnya.
Kedua, Revan. Anak ini masih ada disini. Jelas aku bingung karena dia punya butik di Jakarta. Bagaimana bisa Revan meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang begitu lama? Apakah dia tidak merindukan keluarganya? Atau dia tidak takut bisnisnya hancur dia tinggal begitu saja? Ah, entahlah.
Ketiga, test semester dua. Dari dua hal diatas hal ini yang paling mendesak. Karena besok Senin kita sudah akan mengikuti test semester genap. Engga salah kan jika aku, Hendra dan Herry kali ini belajar bareng? Di rumah Herry kali ini. Jujur, Herry pernah cerita kalau dia agak paranoid ke rumahku sekarang. Katanya rumahku dekat dengan rumah Taufik, jadi ya begitulah. Akhir-akhir ini aku memang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah Herry.
“Hey, ngalamun aja.” Herry memelukku dari belakang sambil mengarahkan mug yang baru saja dia bawa ke bibirku. Susu. Aku suka susu memang. Yang ditambah gula atau creamer. Itu enak sekali. Sungguh. Hendra sedang keluar membeli makanan kecil by the way.
“Makasih Her,” aku meregangkan tubuhku. Kemudian menyandarkan kepalaku pada dada Herry yang memang masih dibelakangku.
“Trus, kita mau mulai belajar darimana?” Herry masih dibelakangku. Tangannya juga masih memelukku.
“Besok Matematika sama Bahasa Inggris. Kita fokus di dua mata pelajaran itu aja dulu.” Kataku sambil melepaskan diri dari pelukan Herry.
“Hei, sorry suwi. Warungnya agak jauh jeh.” Hendra baru saja nongol. Aku tahu karena suara langkahnya. Hendra tidak pernah berjalan dalam diam. Itu salah satu alasan aku melepaskan diri dari pelukan Herry. Walau jujur, itu berat. Kalian boleh menamaiku berlebihan, but to be honest dada Herry adalah salah satu tempat ternyaman di dunia.
“Haha, pancen sih. Makanya aku males pergi tadi. Hahaha,” Jawaban pacarku ini langsung disambut bantal melayang oleh Hendra.
“Matematika dulu atau Inggris dulu?”
“Dua-duanya menyebalkan.” Kataku menjawab pertanyaan Hendra. Aku bukan anak bodoh. Aku pernah menceritakannya pada kalian, hanya saja aku juga bukan siswa cerdas luar biasa. Aku cukup pintar untuk masuk limabelas besar tapi cukup bodoh untuk masuk sepuluh besar.
“Aku artikan Matematika lebih dulu. Ini kisi-kisinya, aku juga punya materi soal. Nih,” Hendra mengeluarkan beberapa lembar soal dan menyerahkannya padaku dan juga Herry.
“Kalian jawab dulu, nanti jawabannya bakal aku periksa.” Lanjut Hendra.
“Yakin jawabanmu bakal bener Hen?”
“Aku gak mungkin jadi juara dua seprovinsi kalau menjawab soal-soal itu saja ora bisa.” Jawab Hendra agak kesal. Ya ya, ranking satu semester kemaren juga Hendra. Dia memang pintar.
“Oke. Gua harap pemerasan otak gua kali ini bakal ada manfaatnya buat rapot gua besok. Minimal masuk lima besar lah!” kataku mulai membaca soal-soal yang tadi diberikan oleh Hendra. Oke, matematika. Untuk bahasa Inggris sepertinya aku tidak begitu buruk. Setidaknya aku agak jago. Setidaknya . . .
***

Kalian tau? Classmeting kali ini berbeda. Kenapa aku sebut berbeda? Karena aku bisa menikmati classmeting kali ini bersama pacarku. Herry. Haha, berbeda dengan tahun lalu dimana aku hanya menikmatinya bersama Hendra. Kali ini aku memang tidak tampil. Sengaja, karena aku juga tidak punya banyak waktu untuk latihan. Penerimaan rapot masih minggu depan. Namun setidaknya, dari apa yang dapat aku kerjakan selama test kemarin aku yakin bakal masuk sepuluh besar. Hmm, yakin!
Aku tengah berada di kantin bareng Herry. Rasanya malas saja bergabung bersama anak-anak yang lain di aula sekolah. Yah, paling acaranya juga itu-itu aja. Beda dengan HUT sekolahku kemaren dimana kelasku menampilkan acara tarian specta. Atau classmeting semester lalu dimana aku tampil akustik dan tengah galau hebat. Classmeting kali ini pasti hambar. Hahaha.
Hendra? Dia anggota OSIS dan kebetulan juga salah satu panitia classmeting semester ini. Jadi dia sibuk luar biasa. Mondar-mandir seperti setrikaan.
Aku menyesap es teh ku sekali lagi. Bukan berarti karena classmeting lantas kantin jadi sepi. Kantin tetap rame. Yah, sepertinya mereka juga bosan dengan classmeting semester ini. Jelas karena aku tidak ada dalam daftar pengisi acara. Kalian boleh mengataiku sombong, tapi faktanya aku memang selebritis di kota kecil ini.
“Kita mau kemana Her? Bosen nih?” kataku setelah kembali dari dalam kantin. Aku minta tambah es teh.
“Lha emang boleh keluar beb? Kan gerbange dijaga Pak Satpam.” Aku mendesah pelan. Iya ya. Anak-anak boleh pulang setelah jam satu. Dan ini, masih jam sepuluh pagi.
“Nonton aja yuk? Sopo ngerti ada yang seru!” Aku mengedarkan pandanganku dengan malas.
“Iya deh.” Kataku akhirnya setelah aku melihat bahwa kantin ini juga mulai membosankan.
Saat aku dan Herry ke aula, sudah ada Widi dan Nahayu disana. Mereka sepertinya sangat menikmati band yang tengah berada di atas panggung. Aku melihat Hendra tengah sibuk dengan beberapa anak senior. Dan sempat melambaikan tangan padaku dan Herry.
Hmm, setelah liburan aku bakal jadi senior juga. Kelas dua. Katanya sih, kelas dua itu lagi bandel-bandelnya. Haha.
Bakal punya adek kelas juga. Kaga kebayang sumpah!
Band yang baru saja tampil dan membawakan lagu –entah itu apa aku tidak tau judulnya- baru saja turun. MC nya yang baru saja berbisik-bisik dengan Hendra dan terlihat Hendra mengangguk antusias membuatku agak merinding. Pasti ada kaitannya denganku. Pasti!
“Oke, pagi guys! Masih semangat dong ya?!” MC nya cewek dan cowok. Semuanya angkatan senior. Yang cewek aku kenal sedikit. Namanya Lisa, dulu baik banget waktu MOS. Maksutku, dia hampir tidak pernah menghukumku walaupun tahu aku salah. Entah karena dia takut atau karena dia suka padaku.
“Kali ini bakal ada surprise dari salah satu adek Junior kita, cowok yang paling digandrungi seantero sekolah, ada yang tahu siapa?”
Dan anak-anak mulai melirikku dan meneriakkan namaku. I feel bad for this akward moment.
“Oke, kayaknya tanpa menebak-nebak juga semua uda pada tau ya?! Kita sambut Arseno Erlangga Prawiro!!” Norak! Aku sama sekali gak tahu skenario ini. Dan aku juga tidak ada dalam list pengisi acara? Kenapa bisa? Aku melirik Hendra yang tengah senyum-senyum sendiri sambil mengacungkan dua ibu jarinya. Si kunyuk!! Tega bener tu anak!
Mau tidak mau, aku akhirnya naik ke atas panggung. Aku tidak mau nanti ada seruan, “disuruh tidak mau, memalukan!” Tidak, aku tidak ingin.
“Waduh, makin ganteng aja nih si Seno, iya gak guys?” dan seruan itu makin kencang. Aku mengabaikannya sedikit.
Beberapa teriakan konyol seperti, “Uda punya pacar belom?”
“Gimana sunatnya? Berhasil?” atau
“Seno sama Herry pacaran ya? Lengket banget tiap hari.” Oke, kabar waktu itu kalau aku disunat memang menyebar tanpa aku tahu siapa yang menyebarkannya. Aku tidak ingin menduga-duga. Toh tidak penting juga. Dan persepsi mereka tentang aku dan Herry yang pacaran, aku tahu mereka hanya bercanda.
Aku mengambil gitar, bukan gitarku. Dan mulai menyetingnya agar sesuai keinginanku. Seruan-seruan gaje agak teredam saat aku mulai memetik gitar. Aku memutuskan untuk menyanyi Thousand Years, Christina Perrie. Setidaknya, itu perasaanku saat ini.
***

“Lagu itu buat aku ya?” Herry senyum-senyum sendiri.
“Ge eR!” aku menjawab singkat sambil membuka pintu mobilku setelah aku mematikan alarmnya tadi.
“Haha, ngaku! Eh beb, itu kotak apa yang ada di depan kaca mobil?” aku melongokkan kepalaku dan keluar lagi dari mobil.

Untuk yg sedang berbahagia, Seno dan Herry
Aku menelengkan kepalaku bingung, siapa? Maksutku siapa yang memberi kotak ini? Dengan perasaan agak linglung aku membawa kotak itu kedalam mobil.
“Untuk kita katanya.” Kataku sambil menyerahkannya pada Herry. Aku menghidupkan mesin mobil. Sudah jam tiga lebih, otomatis kita sudah boleh pulang tentunya.
“ASSUUU!” aku hampir menginjak pedal rem saat mendengar umpatan Herry.
“Kenapa Her?” Herry menunjukkan sebuah kertas dengan tulisan warna merah. Bukan darah, karena tidak ada bau amis. Itu hanya spidol dengan warna merah.

Sebentar lagi permainan akan dimulai, kalian pemainnya, aku sang sutradara.
Taufik

Setidaknya Taufik tidak pengecut. Dia menyertakan namanya di dalam surat itu. Umpatan Herry juga beralasan. Ada bangkai tikus didalam kotak itu yang tadi langsung dilempar keluar oleh Herry.
“Si Taufik edan!” Herry mengumpat tidak jelas. Sumpah serapah keluar dari bibirnya. Aku sendiri bergidik ngeri. Jika dulu Taufik bisa menyiksa Herry sedemikian rupa, dia juga sangat mungkin bisa menyiksaku. Sangat mungkin. Apalagi Taufik masih mempunyai kartu as ku. Dia tahu rahasia terbesarku. Kalian mungkin akan memberikanku ide gila serupa, “Kenapa tidak lapor polisi?”. Yah, itu ide hebat. Apalagi jika mengingat aku cucu eyang Prawiro, polisi juga pasti akan cepat mengusutnya. Dengan konsekuensi, Taufik akan membeberkan semua rahasiaku. Mungkin keluargaku tidak akan percaya, namun bisa jadi mereka percaya. Dan aku tidak mau bertaruh pada hal besar ini. Tidak, aku tidak berani.
***

Aku menceritakannya pada Revan. Setidaknya dia tahu juga kalau aku gay dan menceritakannya pada seseorang mungkin akan sedikit membantu meringankan pikiranku.
“Ini mah gila Sen!”
“Gua kaga ngerti mesti gimana lagi, bingung, takut gua!”
“Sen, serius deh. Lo kenapa gak come out aja sih sama Bulek sama Pak Lek?” Aku menatap ngeri ke arah Revan begitu mendengar saran gilanya.
“Beda kali Van! Lo punya sodara, lha gua anak tunggal! Gua takut mereka kecewa terus gak nganggep gua lagi! Gua butuh mereka Van.”
“Kecewa sih pasti Sen, orang tua mana sih yang pengen anaknya gay? Tapi gua yakin Bulek sama Pak Lek pasti ngerti lo kok. Mereka kan sayang banget sama lo Sen.” Aku menghela nafas berkali-kali. Berharap bahwa ancaman Taufik hanya iseng belaka. Tapi. . .
Jika Taufik bisa membuat Herry merah biru seperti yang dulu itu, bukan hal yang tidak mungkin dia juga akan melakukannya padaku. Mengoral penis Taufik? Aku mual membayangkannya. Jijik!
“Entahlah Van, gua bingung. Liat ntar nya aja gimana.” Aku baru saja mau berbaring ketika pintu kamarku diketuk seseorang.
“Ya?” Aku membuka dengan agak malas. Mengingat, aku baru saja curhat tentang masalah terberat sepanjang usiaku.
“Ditunggu Ibu sama Bapak di ruang makan Den.” Entah sejak kapan Galih mulai memanggil kedua orang tuaku dengan sebutan Bapak dan Ibu. Dulu masih dengan sebutan Den Besar. Ah, taulah! Secara Galih kesayangan Papa dan Mama.
“Iya Mas,” kataku tersenyum sambil menoleh ke arah Revan.
“Makan malam kaga lo?”
“Jiah, kaga usah lo tawarin juga gua bakal makan malam.” Aku menggelengkan kepalaku dan mengikuti Galih ke ruang makan. Semuanya sudah ada di ruang makan. Paman Pri, Lek Tien, Papa, Mama, Eyang dan Taufik. Ya Taufik dan Bu Marini. Bu Marini memelukku sesaat dan menciumi pipiku.
“Bener-bener makin gagah dan ganteng ya Angga sekarang.” Bu Marini masih memandangiku dengan ekspresi gemas.
“Ya kan Mamanya super model Jakarta.” Sahut Papaku sambil mengerling genit pada Mama.
“Mantan model Pa.” Mamaku tersipu juga mendengar pujian Papa secara tidak langsung itu. Ampun dah!
Aku melirik Taufik sekilas, tumben amat Bu Marini dan Taufik ikut makan malam bareng keluargaku? Maksutku, Taufik akan membeberkannya sekarang?
“Seno, sini cu eyang ambilke nasinya.” Eyang mengambilkan piring bersih untukku. Kali ini aku tidak protes dengan nasi yang diambilkan Eyang yang pastinya cukup untuk membuat kenyang dua orang kuli bangunan. Pikiran dan mataku terpusat pada Taufik. Aku benar-benar takut dia akan membocorkan hubunganku dengan Herry sekarang.
“Liburan semester besok kamu mau liburan kemana Sen?” Papa bertanya padaku yang masih dengan ogah-ogahan memasukkan nasi ke mulutku.
“Sepertinya di rumah saja Pak Hadi, saya dan Dek Angga sudah punya planning liburan, ya kan Dek?” Aku mau tidak mau mengangguk. Benar katanya, dia sutradara, aku pemain.
“Bagus donk kalo gitu, Papa pengen kamu mulai belajar soal perkebunan. Manajemennya bagaimana, Taufik saja bisa dipercayai satu perkebunan.”
“Aku gak yakin bisa Pa.”
“Lho? Kamu kan belum mencoba Sen, jangan pesimis dulu lah.”
“Ues-ues tho rasah ngomongke kebun-kebun dhisik! Seno masih terlalu bocah! Makan yang banyak Cu, ayam bakarnya mau lagi ndak?”
“Uda Eyang, Seno uda kenyang.” Aku memaksakan senyum sebelum akhirnya meninggalkan meja makan.
“Seno duluan, Seno ngantuk.” Terdengar tidak sopan memang. Tapi aku muak melihat wajah Taufik di meja makan. Senyumnya mengandung muslihat, tipu daya. Hah, dia benar-benar psycho!
***

“Gua merinding liat senyum Taufik tadi di sepanjang makan malam! Setelah lo cerita plus kasih liat surat ancaman itu, gua jadi takut setengah mati sama tuh anak! Bener-bener monster! Lo kayaknya mesti hati-hati deh Sen!” cerocos Revan begitu dia masuk kamarku.
“Percuma juga, dia punya kartu AS gua, gua bisa apa?”
“Lo masih rutin latihan karate kaga sih?” tanya Revan. Aku memang sempat cerita ke dia kalau aku sempat latihan karate.
“Uda jarang.”
“Mending lo rutinin lagi lah Sen, lumayan kan lo ada bekel buat ntar ngelawan itu psycho!”
“Ya kali ya? Uda ah, keluar lo! Gua mau molor nih!”
“Jiah, boleh kali gua meluk elo sekali-kali. Lagian yang dibilang Bu Marini bener juga, lo emang makin seksi Sen. Tapi masih seksian laki lo sih.”
“Keluar kaga lo?”
“Jiah, galak amat.”
***

Aku memikirkan saran Revan berkali-kali. Namun sama sekali belum menemukan manfaatnya. Jika Herry yang pandai berantem saja takluk di bawah Taufik, apalagi aku? Aku memang tidak buruk dalam karate, tapi aku belum pernah berantem sungguhan. Latihan, dan berantem sungguhan itu dua hal yang sangat berbeda.
Herry memang tidak latihan karate, tapi dia sering berantem. Dan sering menang. Setidaknya setelah pacaran denganku dia tidak atau mungkin jarang berantem lagi. Faktanya, dia belajar beladiri secara real.
Aku? Aku dalam latihan memang lumayan jago, tapi bagaimana nanti dalam berantem sungguhan? Aku tidak yakin. Aku tidak yakin bisa memukul sekuat tenaga, aku tidak yakin bakal setega itu. Apalagi mengingat Taufik adalah anaknya Pak Karyo dan Bu Marini.
Argghh, pusiang!!
Drrt drrt drrt. Ada sms masuk.

Aku tunggu di lapangan basket

Taufik

Aku mengerutkan keningku sebentar sebelum akhirnya masuk kedalam mobil. Ini hari libur semester, memang sih sekolahku tetap buka. Namun buat apa Taufik mengajakku ketemuan disana? Tapi bisakah aku menolak, jawabannya? sudah pasti. TIDAK BISA!!
Aku terkejut saat memarkirkan mobilku dekat lapangan basket dan melihat motor Herry juga terparkir disitu. Jadi yang diundang bukan hanya aku ternyata.
“Oke, kita pakai mobil Dek Angga saja, kamu gak keberatan kan Dek?” kata Taufik sambil mengulurkan tangannya. Dalam diam aku memberikan kunci mobilku. Dengan saling lirik, aku dan Herry masuk ke pintu belakang.
Taufik menghidupkan mesin mobil. Aku tidak tahu aku dan Herry mau dibawa kemana, tempat-tempat yang kami lewati masih asing.
“Oke, kalian boleh melepas semua pakaian kalian sekarang! Tidak usah sungkan. Khekhekhe.”
“Edan!” Umpat Herry.
“Emm, kalau kalian macam-macam ada temanku yang bakal menyerahkan foto-foto hot kalian pada Bu Lilies dan Pak Hadi Prawiro. Jadi, kalian harus menjaga keselamatanku. Hihihi.”
Bedebah! Gaya bahasanya benar-benar psycho!
“Ayolah, lepas baju kalian. Permainan kita tidak memerlukan satu helai benangpun nantinya.”
Aku menatap Herry yang mengangguk perlahan dalam diam. Dia mulai melepas kaos dan celana panjangnya. Hal yang sama yang aku juga lakukan.
“Eiy, eiy, kan Kak Adi bilang, semuanya Dek, SEMUANYA dilepas? Masa Dek Angga dan pacarnya yang ganteng ini engga ngerti?”
Sekali lagi aku dan Herry pandang-pandangan sebelum akhirnya kami berdua melepas pakaian terakhir di tubuh kami. Aku secara otomatis menutupi barang berhargaku dengan kedua tanganku.
“Bagus! Dan kalian tidak butuh ini.” Kata Taufik sambil memungut semua pakaian kami dan melemparkannya lewat jendela.
Sial!!
“Kak Adi jamin kita bertiga akan bersenang-senang. Akan bersenang-senang. Hihihi.”


Bersambung. . .

Kamis, 02 Januari 2014

THE SERIES 15

Posisiku dan Herry yang tengah berpelukan jelas seperti orang pacaran. Dilihat dari segi kaum homo tepatnya. Karena mamaku ternyata tidak berpikir demikian. Dia biasa saja. Atau aku yang terlalu berlebihan ya? Entahlah. Hanya saja, fakta bahwa mamaku begitu antusias melihat Herry yang sekian lama tidak bermain ke rumah sepertinya membuatku merasa agak tenang. Calon mantu yang ideal kan ma? Hahaha.
“Kalian boleh belajar, tapi jangan tidur terlalu larut. Okay? Besok kalian harus sekolah.”
“Okay Mom,” jawabku sambil menutup pintu. Oh iya, kunci! Aku tidak menginginkan kehadiran Revan lagi. Tidak untuk malam ini.
“So, kita sampai mana Her tadi.”
“Kamu bilang, ‘I Love You’,” Aku menimpuk kepalanya dengan bantal.
“Maksutku pelajaran yang kita pelajari tadi.”
“Emang kita tadi belajar? Aku malah belom buka buku sama sekali Sen.” Oh yeah, kita memang belum belajar. Shit, bahkan buku pelajaran kita pun masih tertutup dengan indah. I am sorry mom, mungkin aku dan Herry bakal tidur larut. Karena belajar. Yah, karena belajar. Don’t think the dirty things guys.
***

Aku menguap beberapa kali. Semalam, kita belajar hingga jam 11 malam dan bangun jam 5 pagi. Di Tangerang dulu, mungkin bukan hal yang waw, tapi semejak pindah kesini, jam tidurku mulai lebih panjang. Normalnya, jam 9 aku tidur dan bangun jam 6. Jadi aku tidak perlu menjelaskan kepada kalian kenapa aku menguap beberapa kali. Aku ngantuk!
Namun jika dilihat dari 8 soal yang aku yakin jawab dengan benar dan dua sisanya aku yakin 70 persen benar, aku merasa begadang semalamanku ada manfaatnya juga.
“Soal no. 5 dan 8 tadi sulit. Aku lupa teorinya.” Yah, kita lagi di kantin dan masih membahas soal ulangan yang tadi. Khas pelajar yang baik kan kita?
“Emang yang lainnya koe iso jawab Her?” Pertanyaan Hendra emang agak kurang ajar. Tapi jika diliat dari kebiasaan Herry yang biasanya bertanya padaku atau Hendra selama ulangan berlangsung –kalian bisa bilang mencontek, aku tidak keberatan- aku rasa pertanyaan Hendra tadi masih terdengar sangat sopan.
“Biso Hen, Cuma kui no. 5 karo 8 susah poll.”
“Kenapa gak tanya sama aku atau Hendra tadi?” tanyaku sambil memasukkan sebongkah bakso ke mulutku.
“Aku pengen tanya sama kalian kalo pas belajar, kalo pas ulangan aku pengen usaha sendiri.” Aku dan Hendra langsung berpandangan mendengar jawaban Herry. Agaknya, pacarku ini bukan hanya fisiknya saja yang semakin seksi. Cara berpikirnya pun, seksi.
“Tumben banget Her!”
“Aku kan pengen pinter Hend!” mereka –Herry dan Hendra maksutku- sedang terlibat adu mulut hebat ketika Taufik masuk kantin. Mereka mungkin tidak memperhatikan kedatangan Taufik, tapi aku melihatnya. Dan sorot matanya. Benci, amarah, dendam? Dan?
“Jesus Christ!” pekikku agak tertahan.
“Sen, ono opo Sen?” Herry agak panik mendengar pekikkanku tadi. Aku memang jarang menyebut nama Tuhanku, jujur. Kecuali aku tengah ketakutan atau sangat bahagia.
“Gak papa Her,” Dan kali ini karena ketakutan. Sekelebat pemandangan tadi. Seperti penglihatan dan agak mengerikan. Ya Tuhan, aku harap itu hanya imajinasiku. Hanya imajinasiku. Hanya imajinasiku.
“Sen? Ke kelas yo!”
“Eh eh, iya ya.”
***

Aku seperti berada di gurun yang sangat luas. Sangat luas. Dan aku merasa haus. Tempat ini panas sekali. Aku baru tahu di kota ini ada gurun. Lalu mengapa aku bisa ada di tempat ini? Mama? Papa? Eyang? Herry? Hendra? Dimana mereka? Kenapa aku sendirian?
Ya Tuhan, aku haus sekali.
Danau? Itu danau? Air?
Aku menuju kesana, tempat dimana aku melihat danau dan air yang begitu jernih. Aku membuka semua bajuku dan berendam di danau. Aku juga meminumnya. Airnya jernih, dan aku tidak peduli karena aku haus sekali. Aku haus sekali.
“Senoo.” Suara parau itu. Kakek buyutkah? Ular itu? Sudah lama sekali aku tidak bertemu ular tanpa ekor itu. Kenapa dia ada disini? Bukannya dia disawahnya eyang?
Aku menyadari kakiku dibelit. Tapi tidak sakit. Belitan ini sangat terasa seperti pijatan. Lalu tiba-tiba kabut putih dan. . .
“Eyang buyut?” kataku tidak yakin. Jelas wajahnya terlihat sama seperti yang aku lihat di rumah eyang. Hanya saja, terlihat lebih muda? Dan benar kata eyang, kakek buyut sangat tampan.
“Canggahku, mreneo le.” Aku merasa sungkan. Aku sedang tidak berpakaian. Dan aku malu untuk keluar dari air danau ini.
“Rasah isin, mreneo canggahku. Canggahku sing bagus dewe.” Aku keluar dari air dan memakai celanaku secara cepat. Dan kakek buyut hanya tertawa melihat tingkahku.
“Eyang?” kakek buyut tersenyum sambil menepuk-nepuk pasir disebelahnya. Mengisyaratkan agar aku duduk disana.
Lama aku duduk disebelah kakek buyut dan kakek buyut hanya terdiam. Sebelum akhirnya beliau mengambil nafas panjang.
“Pesenku siji Seno, ati-ati. Ati-ati.” Kata kakek buyut sebelum kabut putih itu muncul dan kakek buyut lenyap.
Aku kelabakkan, dengan gusar aku mencari ke segala arah. Berharap bisa menemukan kakek buyut lagi. Hati- hati? Apa maksutnya? Aku bahkan tidak mengerti.
“Eyang buyut?! Eyang! Seno engga ngerti eyang!”
“Aden, kenapa Aden Seno ada disini?” Orang itu. Aku mengenalnya.
“Pak Karyo?” aku masih tidak mengerti. Kemana kakek buyut dan kenapa ada pak Karyo disini?
“Den Seno, bapak titip Taufik Den, Taufik tersesat Den! Taufik tersesat!”
“Pak Karyo! Taufik jahat pak, Taufik. . .” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku kabut putih itu kembali datang. Dan pak Karyo lenyap. Aku meratap. Dan aku kembali ke gurun tadi. Kemanapun aku melangkah, tetap sama. Gurun yang panas. Dimana danau yang tadi?
“Seno pengen pulang, Seno pengen pulang.”
“Ssst, jangan nangis Den. Saya jadi sedih.”
“Mas Galih?”
“Iya, ini Mas Den. Sini Den, kita pulang bareng.” Aku segera menggapai tangan Galih yang terulur. Eyang buyut sudah meninggal begitu juga dengan Pak Karyo. Galih masih hidup. Galih hidup, aku ikut dia.
Aku terlonjak dari tempat tidurku. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Mimpi, tadi itu Cuma mimpi. Tapi. . .
Aku merasakan ada orang lain ditempat tidurku. Aku menyalakan lampu kamarku dan melihat Galih.
“Tadi Aden, teriak-teriak. Maaf lancang, saya hanya ingin memastikan Aden Seno baik-baik saja.” Aku mengusap wajahku frustasi. Mimpi tadi masih menghantuiku. Terlihat sangat nyata dan begitu mengusikku.
“Saya permisi Den.” Aku memegang tangan Galih saat dia melewatiku.
“Mas, temani Seno tidur ya? Seno takut mimpi buruk.”
***

Apa yang aku minta semalam ke Galih itu gila! Oh ya, dan tidak tahu malu. Bagaimana mungkin aku meminta Galih menemaniku tidur? Bagaimana mungkin aku bisa mengucapkannya? Oh shit! Aku sudah mengucapkannya. Bahkan terbangun di pelukannya! Double shit!
“Heh, lo ngapain sih uring-uringan? Uda bunting lo ya?”
“Sialan lo!” aku melempar bantal yang sedari tadi aku peluk tepat ke arah Revan.
“Lagian, lagak lo kayak ibu-ibu lagi hamil muda!”
“Emang lo pernah ngrasain?”
“Belom, tapi hampir mirip gua liatnya.”
“Sial lo! Tumben lo dirumah, biasanya juga ngelayap.”
“Haha, ini masih pagi, buruh-buruh eyang lo belom pada keringetan. Jadi gua ngapain pergi? Kaga ada yang diliat ini.” Revan mulai centil. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. RCD, Revan Curhat Dimulai.
“Ganjen lo ye.” Kataku sambil mengganti-ganti chanel tv.
“Eim, abis gimana Sen? Biasanya buruhnya kalo istirahat atau jam sore gitu ganti bajunya suka digubuk terbuka. Ganti kolor juga kadang disitu.” Aku hampir tersedak remot tv yang aku pegang.
“Serius lo?” Njirr, kok aku jadi agak interest gini?
“Eim, ngapain gua bohong coba? Lo kaga tau?”
“Gua kan jarang ke kebun Rev.”
“Ntar sore lo ikut gua deh. Kaga bakal nyesel tauk!” aku menimbang-nimbang sesaat.
“Engga deh, lo aja!”
“Jiah, gaya lo! Lo gak pengen liat?” Ini banci satu bener-bener jago bikin iman goyang.
“Yakin, gua uda punya laki ini.”
“Yaelah, lo kan Cuma ngeliat doang. Lo juga kaga bakal jalan sama tukang kebun lo sendiri kan? Ayolah? Ntar banyak titit-titit berayun-ayun bebas lho.”
“Sial lo ya Rev! Iya deh gua ikut ntar.” Sial, imanku goyah. Imanku goyah.
“Nah, itu baru sepupu gue.” Hih!
***

“Lo gak bilang kalau kita bakal dianter Galih.” Aku membisikkan kata-kata itu cukup pelan. Sehingga aku yakin Galih yang duduk di belakang kemudi tidak mendengarnya.
“Bokap lo bilang, lo boleh pergi kalau dianter Galih. Gua bisa apa?” Revan juga tidak kalah pelan dalam berbisik. Aku membuang muka.
Bagaimanapun juga, melihat orang ganti baju itu bukanlah tindakan terpuji. Dan aku diantar oleh Galih. Perfect!
Aku turun dari mobil dan memakai kaca mata hitamku. Matahari masih cukup terang sehingga membuat mataku agak silau. Revan didepan, dia sepertinya sudah sangat hapal dengan daerah ini. Padahal dia baru beberapa hari disini. Aku? Aku bahkan belum pernah ke kebun kopi yang ini. Eyang belum pernah menunjukkan yang satu ini.
“Ini kebunnya eyang juga Mas?” tanyaku pada Galih. Maksutku, aku takut Revan salah.
“Iya Den, ini kebun milik eyang Prawiro.” Aku mengangguk. Mungkin masih banyak kebun dan sawah milik eyang yang aku tak tahu. Eyangku orang kaya. Ya ya ya, I knew that.
Revan menarikku untuk berjalan bersebelahan dengannya.
“Siap-siap, mereka masih muda-muda. Pura-pura tidak tertarik, jangan melihat ke arah titit mereka terlalu lama. Okay? You hear me?”
“I heard you. Kaga usah ngajarin gua!”
“Okay, this is paradise for a gay like us.” Kata Revan masih berupa bisikkan. Revan menyibak sebuah dahan dan aku terkesiap. Ada gubug disitu. Beberapa buruh sedang bekerja, beberapa diantaranya tengah beristirahat. Tidak ada titit bertaburan seperti kata Revan. Hanya mereka memang bertelanjang dada. Dan anehnya, kenapa buruhnya masih muda-muda? Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Oh yeah, bahkan kebun ini pun belum pernah ditunjukkan eyang padaku. Lalu bagaimana Revan tahu dan aku tidak tahu?
Melihat kedatanganku mereka yang beristirahat seperti agak sungkan. Yah, sepertinya mereka memang sudah mengenalku. Jadi mungkin melihat mereka telanjang akan mustahil. Mereka akan segan padaku, right?
“Kebun ini dikelola oleh Mas Taufik.” Galih menyebutkan nama itu di telingaku. Revan? Dia sudah bergenit ria dengan para buruh.
“Taufik? Kok bisa mas? Dia kan masih sekolah? Dan Eyang? Kenapa bisa? Ke Taufik? I don’t get it.” Aku gak ngerti. Kenapa eyang menyerahkan kebun ini untuk digarap Taufik? Oke, aku tahu kebun dan sawah eyang terlalu banyak. Tapi ada Paman Pri ada Papaku juga sekarang. Atau mungkin orang lain. Tapi Taufik? Mengingatnya saja sudah membuatku muak.
“Kalo yang itu saya ndak tau Den. Tapi kebun ini memang dibawah pengawasan Mas Taufik.” Begitu banyakkah hal yang aku tidak tahu?
“Permisi Den.” Aku mengangguk dan tersenyum samar ketika ada buruh muda lewat didepan kami. Dan aku agak terkesiap ketika samar-samar aku melihat bekas luka di punggung pemuda itu.
Wait? Herry juga pernah ada bekas luka seperti itu. Taufik? Aku melihat sekeliling. Semua buruh disini muda. Wajahnyapun tidak ada yang jelek. Taufik? Ini juga korban si psycho keparat itu? Itu sebabnya dia merekrut buruh muda?
Aku mengejar pemuda yang tadi lewat didepan kami.
“Ini luka kenapa Mas?” pemuda itu memalingkan wajahnya.
“Terkena ranting kopi Den. Permisi Den.” Pemuda itu pasti tidak akan mengaku. Dari ekspresi ketakutannya tadi. Dia pasti tidak akan mengaku. Aku berkeliling, dengan Galih dibelakangku. Tidak semua pemuda mempunyai luka biru. Hanya ada dua. Pemuda yang tadi dan yang sekarang tengah berada di gubuk. Aku juga baru sadar, ada beberapa yang tidak muda lagi. Mungkin 30an. Yang tadi beristirahat di gubuk sementara yang lainnya bekerja ketika aku sampai tadi.
Ada 3 yang berusia 30an. Mereka kaki tangan Taufik kah? Dilihat dari badan mereka yang kekar berotot jelas, hantaman mereka pasti akan menyakitkan. Ya Tuhan, aku telah berprasangka yang bukan-bukan! Padahal hanya dua orang yang terluka, dan mungkin memang benar karena luka terkena ranting kopi. Mungkin Taufik tidak sejahat yang aku pikir.
Tidak sejahat yang aku pikir? Heh, dia bisa menyiksa Herry begitu rupa. Dan wait? Kenapa sampai sekarang Taufik belum mengadukanku? Jelas dia sudah melihat aku dan Herry pacaran lagi sekarang. Bahkan lebih mesra. Kenapa seolah-olah dia diam? Taufik merestui hubunganku dengan Taufik? Mustahil! Bahkan lebih mustahil jika seandainya Taylor Swift berpakaian seperti Gaga.
Herry? Ya Tuhan, aku belom mendapat satu sms pun darinya sejak tadi pagi. Aku mengambil ponselku dan langsung memencet nomor yang jelas sangat aku hapal.
Tidak ada jawaban.
Aku coba lagi, hingga tiga kali.
Nihil. Tetap tidak ada jawaban.
“Mas, Taufik biasanya dateng jam berapa?” Tanyaku pada salah satu buruh.
“Oh, hari ini Mas Taufik tidak berangkat. Ada urusan katanya Den.”
Shit! Herry, Herry, Herry!!
“Mas Galih, kita pulang sekarang.”
“Tapi Den. . .”
“Sekarang!” Revan dan Galih yang tidak tahu apa-apa ikut cemas melihat kepanikkanku. Bahkan, Galih tidak keberatan aku yang pegang kemudi. Aku ngebut. Dan aku seperti kesetanan. Aku baru sadar, Taufik psycho. Dan dia bisa melakukan apa saja, apa saja! Aku merinding tiba-tiba. Ya, Taufik bisa melakukan apa saja.
***

Kekhawatiranku mungkin berlebihan. Herry baik-baik saja. Dia sedang berada di teras saat aku datang. Handphone nya sedang tidak ada pulsa. Dan sewaktu aku menelepon tadi, dia sedang mandi. Ya ampun, aku cemas sekali. Dan karena aku meminta, aku tidur di rumah Herry hari ini. Kebetulan besok Senin, kakak kelas ada UAN. Jadi aku dan Herry libur. Galih dan Revan pulang. Dan ketika melihat wajah Galih, rasa bersalahku kembali muncul. He love me, and I hurt him. Again and again.
“Maaf Den Seno, tempatnya seadanya.”
“Gak papa Bu, justru Seno yang minta maaf. Uda ngrepotin  Ibu.”
“Sst, gak popo. Yo ues, Ibu tinggal dulu ya?” Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Calon mertua kamu baik tho?” Herry muncul dari balik pintu dan menutupnya. Oh ya, dia juga menguncinya.
“Apaan sih?!” aku agak tersipu.
“Kamu tadi kenopo Sen? Mukamu pucet banget lho tadi.”
“Gak Papa, coba buka bajumu Her,” Herry langsung tersenyum misterius.
“Apaan sih! Jangan piktor lah!” kataku agak keki.
“Aku cuman pengen liat lukamu aja. Uda sembuh belom.” Sambungku.
“Lihat yang lain juga boleh kok beb.” Kata Herry sambil melepas bajunya. Ketika dia akan melepaskan celana kolornya, aku menimpuknya dengan bantal.
“Yang itu enggak usah dilepas!” Herry tersenyum mesum lalu berbaring di ranjang. Aku melihat punggungnya. Lukanya memang sudah agak samar-samar.
“Coba balik badan.” Herry membalikkan badannya dan langsung menyilangkan tangannya ke dada.
“Aku malu.” Katanya sok imut.
“Jangan kayak anak perawan!” kataku sambil memegangi tangannya dan mengangkatnya ke atas. Luka depannya juga sudah agak kering.
“Hey, I love you.” Jika saja bukan Herry yang mengucapkannya atau minimal bukan logatnya, aku mungkin akan terbuai. Suasananya pas sekali. Tapi Herry, dengan logat Inggris medoknya sama sekali tidak romantis. Dan aku . . .
“Jangan ditahan kalo mau ketawa.” Kata Herry agak cemberut.
“Sorry, sorry. I love you too.”
“Bikin bayi yuk beb.” Aku terperangah sedikit dengan kata-katanya sebelum tanganku menyusup ke celana kolornya.
“Pakai tongkat sakti ini ya?” kataku sambil tersenyum mesum. Dia kira aku tidak bisa mesum? Dia jelas salah besar.


Bersambung. . ,