FOLLOW ME

Jumat, 26 Desember 2014

BOTTOM 4

Peringatan keras!!
Cerita ini penuh dengan adegan fulgar dan seks juga pertumpahan darah. Cieileh!! Jadi kalo engga suka dengan tema seperti ini harap jangan dibaca. Thanks!
***

Uki Bagus Walantaga
Hari Minggu ini kita bertiga, aku, Daniel sama Acha masih berada di Semarang. Baru Senin sore besok kita balik ke Jakarta. Dan pagi ini, kita bertiga sedang menikmati sarapan di kamarku dan Daniel. Kita bertiga tadi meminta room service buat nganterin sarapan ke kamar. Daniel, masih memakai kaos buntung yang lobang lengannya digunting hingga pinggang. Show off banget, dan provokatif. Bikin aku gak konsentrasi dari tadi. Boxer pendek sepahanya juga tidak membantu.
Acha di sisi lain membuatku kagum. Dia sama sekali tidak merasa terintimidasi ataupun terpesona dengan penampilan Daniel. Kadang aku curiga dengan orientasi seksual Acha. Lesbi kah? Ah, not my bussiness.
Kita bertiga sarapan di balkon. Dan kenapa memilih kamarku dan Daniel bukan kamarnya Acha? Alasannya sederhana, kamar kami berdua lebih luas. Dan ada balkonnya.
“Finally, besok bisa balik Jakarta. I miss my apartment so much.” Daniel bicara sambil menggigit paha ayam panggang kecapnya yang kedua. Yeah, you hear me right, yang kedua. Dan belum ada tanda-tanda Daniel sudah kenyang.
“Lo gak gereja Dan?” Acha mengambil orange juice, menyesap pelan, mengernyit, mungkin karena agak asam. Namun habis dalam hitungan satu menit kemudian.
“Aah, gue kan gak tahu gereja daerah sini Cha.”
“Alesan lo! Bilang aja males!”
“Kan gak ada temennya.” Daniel tak mau kalah. Mulutnya masih penuh mengunyah. Aku baru tahu Daniel kalau makan persis kayak anak kecil, berantakkan! But, somehow itu ngebuat dia tambah cute. Shit!
“Huuuu!” Acha menoyor kepala Daniel dan berlalu kedalam. Mungkin mau cuci tangan. Aku sendiri masih sibuk merhatiin Daniel yang sepertinya belum ada tanda-tanda menyudahi sarapannya. Kalau aku jadi pacarnya, bisa bangkrut kali ya aku buat membiayai makannya saja. Eh, aku jadi pacarnya Daniel? Hush! Keracunan apa aku? Ya gak bakalan lah! Aku straight, aku straight!
“Kenapa sih Ki?”
“Nothing.” Kataku, kali ini sambil menahan tawa. Daniel mengangkat bahunya lalu mengambil udang tepung, mengunyahnya penuh semangat. Persis anak kecil yang baru saja makan udang. Aku makin susah untuk menahan tawa.
“Kenapa lagi Ki?”
“Lo tuh ya, cool tapi makannya berantakkan kayak anak kecil. Kayak adikku yang masih delapan tahun tahu!” Aku entah kenapa secara refleks mengambil serbet dan membersihkan pipi dan bibirnya dari nada kecap dan saos.
“Masa sih?” Aku mengangkat serbetku, bekas melap bibir dan pipinya untuk menjawab pertanyaan Daniel barusan.
“Barang bukti ya? Hahaha.” Daniel mengambil orange juice. Sudah kenyang sepertinya.
“Eh, tapi beneran lo punya adik delapan tahun? Lucu banget ya pastinya? Cowok atau cewek Ki?”
“Cowok, lucu gundul lo! Tiap gue balik, gangguin gue muluk! Bikin gak bisa santai di rumah. Padahal di kantor uda stres berat.”
“Tapi seenggaknya kan lo bisa ketemu keluarga lo tiap hari.”
“Lo juga kalau mau bisa ketemu keluarga lo tiap hari.”
“Giling! Gue balik kerja jam berapa? Jakarta Bandung lumayan bro! Weekend aja kadang males balik.” Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Daniel barusan. Dia itu emang gemesin ya? Aku baru tahu. Yah, beneran baru tahu. Selama ini kan aku emang jarang ada trip bareng dia, ketemu juga di kantor doang. Di kantor kan Daniel sengak abis. Beda aja sama sekarang.
“Eh ntar jalan-jalan ke pantai yuk! Kata Pak Robby deket lho.” Daniel usul setelah Acha muncul lagi di balkon. Rambut ikalnya sudah dikuncir kuda, membuat paras ayu khas jawanya makin nampak.
“Gue gak bisa. Mau istirahat aja di kamar hotel.”
“Gak asik lo Cha! Uki, lo temenin gue ya? Gue pengen liat pantainya.”
“Oke.” Jangan tanya kenapa aku jawab oke. Aku saja masih heran kenapa langsung refleks mengiyakan ajakkan Daniel.
***

Ada tampang kecewa di wajah Daniel. Aku juga sebenarnya, tapi yang ngebet ke pantai kan Daniel. Jadi begitu melihat pantai Marina yang, well let say it, kotor, Daniel kecewa. bukan hanya itu, kita juga gak bisa buat nyebur. Daniel masih duduk-duduk di batu beton dan melihat kearah laut, wajahnya benar-benar tampak kecewa.
“Es kelapa muda?” Aku menawari Daniel sambil duduk disampingnya.
“Thanks.” Diam dan hening. Antara aku ataupun Daniel tidak ada yang mau memulai percakapan. Bedanya diam dan hening itu apa ya? Kan sama saja.
“Ki, lo berapa bersaudara?”
“He?” Aku masih kaget. Yang dari tadi diam, mungkin ada lima menitan tiba-tiba Daniel nanya tentang sudara.
“Saudara lo berapa?” Daniel mengulangi pertanyaannya.
“Tiga, gue anak pertama. Kenapa Dan?”
“Enggak, asik aja kali ya punya saudara. Dari gue kecil, yang gue punya cuman nyokap doang.” Aku terdiam.
“Eem, - ” Beneran gak enak mau nanyanya. Tapi aku penasaran.
“Bokap gue?” Aku mengangguk.
“Gak tau deh Ki, Gue juga belum pernah ketemu sama bokap gue.”
“Meninggal?”
“Mungkin itu kedengeran lebih baik. Pulang yok, uda mulai sore nih!” Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan tapi, aku ragu dan sungkan.
Dengan gontai aku mengikuti langkah Daniel. Beneran kan ini, semakin aku mengenal Daniel, semakin aku merasa tidak mengenalnya. Dan semakin aku merasa tersesat dalamnya.
Belum juga rasa bingungku pudar, aku sudah dikejutkan dengan apa yang sedang dilakukan Daniel sekarang. Aku tadi memang berjalan cukup jauh dibelakang, dan sekarang aku melihat Daniel tengah berjongkok dengan seorang nenek-nenek penjual makanan ringan.
Daniel berbicara dengan tulus, tawanya selalu terdengar setiap beberapa detik sekali. Sang nenek, juga ikut tertawa walau wajahnya terlihat agak kaget. Mungkin dia tidak menyangka cowok setampan dan terlihat kaya seperti Daniel mau berjongkok dan mengobrol bersamanya lama-lama.
“Buat apa lo beli rempeyek sebanyak ini Dan?” Aku bertanya pada Daniel ketika kita berdua sudah sampai di hotel. Yah, Daniel memborong semua rempeyek yang dijual nenek-nenek tadi.
“Buat oleh-oleh anak-anak kantor besok.”
“Sebanyak ini?” Ada kali itu empat puluh bungkus dalam plastik kecil-kecil. Dan aku juga jadi korban ikut repot membawakannya tadi. Belum lagi, Daniel tadi masuk mall, dan aku menenteng-nenteng keresek besar berisi rempeyek, kalian tahu seberapa malunya? Dan begonya, aku mau-mau saja.
“Pasti habis lagi besok. Liat aja.” Iya sih, pasti habis. Anak-anak kantor adalah anak-anak yang menganut ajaran orang bijak, ‘barangku adalah barangku, barangmu adalah barang kita semua.’ Jadi, jangan heran kalau ada makanan nganggur di meja, dalam beberapa menit kemudian sudah raib. Hal serupa terjadi juga dengan bollpoint. Di kantorku, bollpoint dan makanan lebih berharga dari handphone dan dompet, for your information.
“Kasian lagi Ki neneknya, uda sore gitu rempeyeknya baru terjual lima bungkus. Jadi ya gue borong aja semua.” Gak cuman lo borong, lo juga ngasih duit sejuta ke itu nenek. Tentu saja itu aku ngomongnya dalam hati. Aku bukannya pelit, tapi memberi satu juta rupiah ke orang tidak kita kenal itu pemborosan. Dengan memborong semua jualannya saja, sebenarnya Daniel juga sudah membantu banyak.
“Cucunya besok ujian, dan belum dapet kartu ujian karena belum bayar spp.” Daniel berbicara sambil mengambil remote tv. Aku melongo, bukannya tadi Daniel sama si nenek ketawa-tawa ya?
“Lo-?” Aku tidak bisa melanjutkan pertanyaanku. Daniel yang berada di Semarang ini, yang sekamar denganku ini, yang tadi ke pantai denganku ini, jelas berbeda dengan Daniel sang technical food development. Berbeda dengan Daniel sang party goers jago clubbing.
“Kenapa Ki?”
“Enggak, gak papa. Gak nyangka saja.” Daniel diam, mungkin masih menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutku, “Gue gak pernah nyangka,- . . . Sorry kalo lo tersinggung Dan, well, nenek-nenek penjual rempeyek tadi. Aduh gimana ya, gue gak nyangka lo tipe orang yang . . . Eer, you know what I mean lah.”
“You don’t know me that well kalo gitu.” Daniel tersenyum. Anjir, efeknya masih sama, bikin jantung kebat-kebit.
“Serius? Masa?”
“Pengen banget kenal gue lebih dalam ya Ki? Ati-ati jatuh cinta lo.”
“Gue straight, not interest into man.”
“Asal tau aja Ki, gak ada cowok yang seratus persen straight di dunia ini. Dan gak ada cowok yang seratus persen gay.”
“Gak percaya.”
“Yakin? I can turn you into gay if I want.” Daniel tersenyum sebelum akhirnya melahap bibirku. Awalnya aku kaget, namun lama-lama aku semakin menikmati. Tiba-tiba saja, terlintas Rafky –tokoh utama dalam novel lelaki terindah yang pernah aku baca secara tidak sengaja- yang bingung saat Valen pertama kali menyentuhnya, mengajaknya menikmati surga dunia. Sama sepertiku sekarang. Namun aku bukan Rafky, aku Uki Bagus. Yang tentu saja takkan membiarkan diriku terbakar dalam nafsu gairah. Belum saatnya.
“I am not ready for this Dan.” Aku mendorong Daniel pelan. Dan Daniel hanya tersenyum. Takutnya, aku akan menyesali apa yang baru saja aku tolak barusan.
***

Evan Sutedjo
Gue sedang duduk-duduk di Starbucks, nungguin Daniel yang masih di depan kasir. Gue perhatiin, banyak cewek yang curi-curi lihat ke Daniel. Dengan kemeja pas badan, lengan yang sudah digulung, dan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, Daniel memang benar-benar siap santap. Dia kemudian berjalan kearahku dengan santai, tidak begitu peduli dengan tatapan ngarep cewek-cewek dan juga ibu-ibu yang melihat kearahnya. Like I said before, he’s lucky bastard!
“Gimana liburan ke Semarang?” Gue bertanya sambil menggigit pelan brownies gue. Aah, manisnya.
“Liburan pala lo pecah! Gue kerja kali. Mana panas gila cong disana.”
“Uki?” Pertanyaan gue itu membuat wajah Daniel merona. Hem, pasti something telah terjadi nih bau-baunya.
“Hey, hallo? Are you there?” Gue melambai-lambaikan tangan gue didepan Daniel. Pertanyaan gue dijawab kaga, Daniel malah ngalamun.
“Oh. Ya Uki fine, baik-baik aja.” Gue masih menatapnya, dengan begini ntar juga dia bakal ngasih jawaban yang sejujurnya. Gue kenal Daniel sejak SD remember? Aah, sebenernya males gue ngingetin ini mulu ke kalian. Tapi serius deh, gue ngerti dalem-dalemnya Daniel itu kayak gimana, dan gue yakin pasti ada something ini sama dia sekarang.
“Oke, gimana kalau taruhannya kita batalin? Gue bakal kasih elo setengah gaji gue bulan ini gimana?”
“What’s wrong?” Gue mengambil capuccino gue dan menyesapnya pelan. Baru kali ini Daniel mengibarkan bendera putih, setahu gue itu anak paling anti sama yang namanya menyerah.
“Kayaknya gue jatuh cinta sama Uki.”
“What?” Oke gue hampir kesedak tadi.
“Lo gak lagi bercanda kan? Gak lagi mau ngerjain gue or something gitu?” Lanjut gue kemudian.
“Pengennya gitu, but no. Gila ya Van, lo tau sendiri kan gue sukanya kayak cowok model gimana? Bimo, Rasjid, trus Hendri, - ”
“Wait, we rewind for one second, Hendri siapa ya? Bimo? oke. Rasjid? Oke. Hendri who?” Beneran gue gak kenal Hendri. Bimo? Ya bos gue sama bosnya si Daniel itu emang laki banget. Secara penampilan juga sikap. Idola para battem gue jamin. Rasjid? Pacar serius pertamanya Daniel. Gue bilang, pacar serius pertamanya ya, jadi jangan salah paham. Karena sebelum Rasjid, Daniel sudah mencicipi hampir semua jenis ras lelaki yang ada di muka bumi ini. Chinese? Sudah, gue lupa namanya. Sunda? Western? Jawa? Batak? Ah, sudahlah tak perlu gue bahas sepak terjang Daniel.
Rasjid? Well, mereka pacaran sewaktu dua-duanya masih kuliah. Bertahan hampir tiga tahun kalau tidak salah. Sampai akhirnya Rasjid ketahuan selingkuh dengan cowok lain. Dan parahnya, cowok lainnya ini gak lebih bagus dari Daniel. Gak adil sebenarnya karena kadang Daniel juga pernah one night stand saat masih pacaran dengan Rasjid. Hanya saja, Daniel main cantik. Rasjid? Dia gak one night stand, dia beneran menjalin hubungan dengan orang lain selain Daniel.
Gimana dengan Daniel? Frustasi? Ya, namun dalam hitungan jam dia bahkan sudah move on. Perkataan yang masih jelas gue ingat diucapkan Daniel saat mendeklarasikan ke move on nya adalah, “Cowok dengan selera buruk macam Rasjid itu tak pantas untuk ditangisi.”
Dan demikian, bahkan saat Rasjid memohon-mohon untuk balikkan –mungkin dia sadar bahwa dia telah melepaskan berlian untuk mendapatkan perak, dia memutuskan untuk mengejar berliannya lagi- Daniel dengan angkuh menolaknya.
“Hendri Subakti, novelis idola gue.”
“I don’t know him.”
“Ah elo mah bacaannya men’s health mulu sih! Pokoknya, intinya, type-type gue itu kayak mereka-mereka itu. Uki? Far. . . Far . . . Far from them!”
“Oke, but, lo emang udah pernah ketemu sama who tadi? Hendri Subakti? Gue mau ngingetin aja, teknologi rekayasa foto itu ngeri banget di jaman 2014 ini”
“He eh, he’s totally hot!”
“Tapi lo sukanya sama Uki kan?” Gue bahkan gak bisa menahan diri untuk buat gak ketawa.
“Dia bahkan gak lebih tinggi dari lo! Trus entar siapa yang jadi topnya? Atau kalian beli dildo ntar?” Daniel merengut.
“Kata lo Uki straight?” Gue diem mendadak.
“Ya iya, tapi kalau Uki gay, gue bilang kalau ya, kalau lho. Kan gak lucu lo punya top yang lebih slim dari lo! Lebih pendek dari lo.” Gue menahan tawa. Karena mau gak mau, gue jadi bayangin. Cowok dengan body bak kontestan L’men macam Daniel digagahi cowok skinny macam Uki. Well, sebenarnya Uki itu gak kurus. Dia ideal, tapi lebih pendek dari Daniel. Daniel 180an, Uki mungkin hanya 165an, well, kalian tahu maksutku kan?
“Shut your hole bitch! Ada yang lebih genting nih dari itu.”
“Apa?”
“Uki nolak gue.”
“Jelas lah, dia kan straight.” Gue menyesap capuccino gue lagi, sebelum akhirnya gue sadar apa yang dibilang sama Daniel. Nolak? Nolak?
“Eh cong, lo gak nembak Uki kan?”
“Gue nyium dia.” Gue melongo.
“Di bibir.” Gue tambah melongo.
“Lima menitan.” Gue sukses mangap.
“Trus apa yang Uki bilang ke elo? Setelah elo nyium bibir dia selama lima menitan?”
“Dia dorong gue dan dengan santai bilang, ‘I am not ready for this.’ Hah, gue ditolak mentah-mentah. Rasa-rasanya belom pernah gue diginiin ama laki. Biasanya nih ya, mereka langsung ngajak ngesong abis gue embat bibirnya.” Gue, somehow antara pengen ketawa dan prihatin sama sahabat gue satu ini.
“Sabar ya nak, masih banya lekong menarik di luaran sana. By the way, lo masih inget kan nomor rekening gue?”
“Monyet lo!”
***

Joshua Daniel Pradipta
Kemarin hari Senin, aku langsung ngajak Evan ketemuan. Begitu meletakkan barang-barangku secara sembarangan di apartment, aku langsung ngajak Evan buat ngopi bareng. Apalagi, kalau bukan membahas masalah Uki? Tapi bukannya mendapat solusi, malah aku makin pusing. Saran Evan yang menyuruhku untuk menyerah soal Uki jelas bukan karakterku. Menyerah sama sekali tidak masuk dalam kamus hidupku. Oke, well! Yang taruhan sama Evan kemarin itu tidak masuk hitungan ya.
Aku meletakkan rempeyek satu meja besar ke pantry.
“Wo, ini boleh dimakan ya? Bilang aja sama anak-anak, kalau mau tinggal ambil.” Sebenarnya, tanpa aku ngomong seperti itu, ini rempeyek juga bakalan habis. Kantor ini penuh dengan jiwa-jiwa lapar akan makanan gratis.
Aku naik keatas, dan di lantai dua aku berpapasan dengan Uki. Aku tersenyum canggung begitu juga dengan Uki. Sepertinya sejak ciuman, yang aku lakukan secara spontan dan kemudian aku sesali dalam-dalam setelahnya, aku dan Uki mungkin tidak akan lagi bisa bersikap seperti dulu. Eh wait, emangnya aku dan Uki dulu romantis, mesra-mesra gitu? Aah, dulu juga sudah jutek-jutekkan bukan? Tapi dia yang di Semarang itu beda. Perhatian, terus lembut, pengertian, top idaman banget, secara sifat ya.
“Mas, Ini ada sample banyak banget dari GMC.” Andi, asistenku langsung menyambutku dengan pekerjaan. Kalau dia bukan asisten andalanku, sudah aku marah-marahi dia. Baru datang sudah dihadapkan pada pekerjaan. Nanya kabar dulu kek.
Aku memeriksa beberapa sample. Dan ketika melihat kalender aku baru ingat bahwa FIA itu sebentar lagi. Apa itu FIA? Well, FIA adalah Festival Ingredient Asean. Semacam Pesta rakyat Jakarta, hanya saja disini stand-standnya adalah makanan. Kebanyakkan makanan-makanan dengan ingredient unik dan baru. You know what? Karena yang datang adalah bos-bos besar seperti Indofood, Nutrifood, Forissa, Mayora dan lain-lainnya itulah, maka disini perusahaan seperti Savior ini bisa unjuk gigi. Secara kita kan jualan ingredient, jadi ya kita harus bisa memasarkan flavour kita secara maksimal dengan produk baru. Sapa tahu formulanya nanti dibeli Mayora atau Indofood ya kan? Jangan Forissa, ribet dan nawar mulu. Apalagi Sosro, aku paling sebal dengan RnD wanita tua yang dulu sempat discuss denganku. Membicarakan rencana pengembangan teh ocha yang bakalan dijadikan teh botol.
Karena kelamaan dan kebanyakkan teoriku dicaci habis-habisan. Dia bilangnya sih kritikkan, tapi dilihat dari cara dia mengkritik, aku lebih memilih menggunakan kata mencaci. Lebih tepat. Maka aku langsung beralih ke Garudafood yang kebetulan tengah membuat anak cabang perusahaan baru yaitu Suntory Garuda. Walaupun Mirai Ocha hasilnya agak melenceng dari trial akhir, biarlah. Yang pasti itu perusahaan masih membeli tea flavournya dari kita.
“Keep di kulkas aja dulu Ndi. Masih jetlag nih gue. Masih belum bisa mikir.”
“Gaya lo mas, cuman dari Semarang juga.”
“Bodo.” Aku berjalan ke ruanganku. Menghidupkan komputer. Sambil menunggu komputerku benar-benar ready, aku berjalan ke laboratorium lagi. Membuat kopi dari mesin coffee maker –I need cafein- dan menambah sedikit cream dan susu.
“Lo sakit atau ngantuk sih mas?” Andi asistenku memang dekat denganku. Jadi penggunaan kata lo-gue, gak pernah membuatku tersinggung. Berbeda dengan Herman yang selalu sungkan denganku.
“Stress gue Ndi. Eh, lo tolong bikinin tea soda yang Minggu lalu gue kasih formulanya itu ya? Mau gue evaluasi bareng Pak Bimo ntar.”
“Mau jam berapaan evaluasinya?”
“Jam sepuluhan.”
“Sip Bos.” Aku berlalu kembali ke ruanganku. Mengecek beberapa email. Membalas email dari Pak Deddy yang meminta sample. GMC juga, lalu Vina, Pak Bimo, Paul Manings dari corporate. Haduh, baru juga gue tinggal empat hari. Hari libur gak diitung dong ya?
Dengan cepat aku mengeprint beberapa sample yang harus disiapkan oleh Herman. Oya, aku mempunyai dua asisten. Andi, tugasnya lebih sering trial error denganku, mengembangkan sebuah produk. Dia yang harus menimbang secara teliti formula-formula yang sudah aku beri agar menjadi sebuah produk.
Herman, cowok jawa manis itu lebih ke stock barang-barang di laboratorium. Termasuk market sample, yang kebetulan selalu aku beli lebih agar bisa dimakan sewaktu-waktu jika warga lab mengalami kelaparan. Market sample adalah produk-produk baru, new release yang harus kita evaluasi. Fungsinya? Supaya kita tidak ketinggalan dengan issue apa yang sedang hits diluar sana. Dan tugasku pula untuk mereview apakah produk baru itu akan bertahan lama dipasaran atau akan jatuh beberapa saat kemudian.
Dan tugasku pula, apakah kita juga harus ikut nyemplung atau biarkan lewat saja karena itu produk tidak bakal menjanjikan. Contoh gampangnya, Indomie goreng cabe hijau. Walau sempat terjadi euforia namun aku malah mengusulkan pada Indofood untuk membuat mie keriting. Keluarlah bulgogi dan semacamnya. Walau belum booming-booming amat.
Aku menyerahkan semua daftar yang sudah aku print rapi ke Herman, beserta surat pengantarnya. Herman sudah hafal apa yang harus dia lakukan. Suara Michael Bubble mengalun lembut dari entah handphone milik siapa. Aku tidak pernah melarang assistenku untuk mp3an, main handphone, internetan di lab, whatever, karena aku toh juga melakukannya. Asal, kerjaannya beres. Kalau masih berantakkan, jangan salahkan aku kalau surat peringatan melayang.
“Jam sepuluh harus sudah siap tea sodanya ya Ndi? Ntar Pak Bimo bakalan keatas.”
“Oke mas.” Ini sebenarnya yang aku takutkan. Evaluasi new produk, new formula itu dilakukan oleh aku as technical, Pak Bimo sang bos besar dan sales. Termasuk Uki. Bertemu Uki dan Bimo secara bersamaan? Aku belum siap. Aku belum ngobrol apa-apa ke Bimo. Sudahlah, aku sepertinya sudah tidak jatuh cinta lagi padanya. Bukan berarti Bimo jadi buruk rupa, he is still hot like a fuck!
FYI aja, aku suka dengan cowok-cowok pintar. Rasjid contohnya, penggila perpustakaan itu langsung membuatku jatuh cinta saat aku pertama kali bertemu dengannya. Dia cool, penggila gym but smart. Di kampus, tongkrongan favoritnya saja Perpustakaan. Bukan untuk tidur sepertiku dan Evan, tapi beneran untuk belajar. Satu-satunya cowok yang tidak bisa aku kalahkan dalam berdebat.
Tapi siapa sangka cowok penggila perpustakaan itu ternyata selingkuh? Aah, lupakan.
Then Bimo. Di usianya yang masih awal 30an, sudah bisa menjadi general manager di US Company? Jelas bukan karena faktor tampang ya, karena interviewnya sendiri di US bersama Paul Manings, sama sepertiku dulu saat sudah lulus interview dengan Bimo. Aku exactly ngerti banget Paul Manings gak bakalan mempan disogok wajah ganteng. Dia straight.
Bukan berarti fisik jadi terlupakan. Aku gak mungkin memacari cowok yang gak mungkin gak bisa aku peluk karena dia bau badan kan? Don’t get me wrong, brain number one, wallet number two and fisic actually number three.
Aku tetap profesional ketika Bimo, Deddy, Vina dan Uki sudah berada di lab. Deddy, Vina dan Uki adalah sales food divison. Sebenarnya mereka juga diperbolehkan untuk mempromote fragrance, hanya saja untuk food divison saja mereka sudah kewalahan, mana sempat promote divisi lain?
“Sodanya berasa sih, tapi terlalu asem ini kalau menurut gue. Untuk tea lho ya, emang lo pakein acid berapa persen Dan?” Deddy ini seniornya para sales. Karena dulu dia juga technical, sebelum akhirnya banting setir jadi sales, dia paham betul beberapa formula yang aku pakai.
“Satu persen.” Aku menjawab santai. Masih menunggu pendapat dari Bimo, Uki dan Vina.
“Kalau saya sih pas. Karena kan sodanya nendang banget, asemnya gak begitu kerasa, ditambah tea nya yang kerasa tapi gak ganggu. Uda pas sih. Gimana Vin? Ki?” Bimo oke nih ya. Jangan bilang karena faktor aku adalah bfnya, dia bilang ini oke.
“Terlalu asem. Aneh, bener kata Pak Deddy, ini kan tea, jadi kalau asem gini malah jadi aneh.” Uki ini balas dendam atau gimana sih?
“Kalau aku sih Oke. Pas kok, asemnya justru bikin tea flavournya makin boosting.” Vina, the sexiest woman in Savior ini memang sopan santunnya ngalahin cewek-cewek keraton.
“Jadi dua sama nih? Kalau gitu besok Rabu pas evaluasi sama RnDnya Mayora saya bikin dua prototype saja ya? Satu tanpa acid dan satu lagi yang ini. Gimana? Yang lainnya sudah oke kan? Atau perlu ada yang dikurangi?”
“Oke.” Akhirnya. Tumben evaluasinya lancar gak alot seperti biasanya. Kita memang biasa evaluasi secara internal dulu sebelum di evaluasi dengan custumer. Sebelum di evaluasi internal, tentu saja sudah aku dan Andi evaluasi terlebih dahulu.
***

“Lo pulang jam berapa?” Uki tiba-tiba muncul di Lab disaat aku tengah membuat mie rebus dengan microwave. Oke, sebenarnya salah menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan perut, tapi diluar sedang hujan deras. Males banget kan kalau mau keluar? Herman sedang kebawah, dia tengah memeriksa stock susu. Andi sedang ada beberapa keperluan yang perlu dibicarakan dengan HRD.
“On time. Jam enam langsung balik gue. Kenapa?”
“Makan yuk. Bakmi GM. Bill for me” Aku memutar kedua bola mataku.
“Lo mau nraktir gue di Bakmi GM? Really? Gak sekalian McD?”
“What can I say? I am cheap. Kan lo harus siap buat makan sederhana kalo lo pacaran sama gue.” Aku langsung keselek mouse komputer. Apa tadi Uki bilang? Pacaran sama dia my ass! Mau dong tentu saja.
“Kayak gue gak tahu gaji lo sebulan berapa.” Uki tertawa.
“Terus kamu maunya ditraktir dimana?” Aku diam sejenak. Mikirnya harus benar-benar serius. Aku gak tahu Uki mentraktirku dalam rangka apa, itu tidak penting kan?
“Partico? Atau Cork and Screw?”
“Aku kan gak minum Dan. Gila kamu!”
“Social House then.”
“Oke, kamu ke apartment dulu ntar pulangnya. Kita berangkat pake mobilku aja.”
“Oke.” Uki masih tersenyum ketika meninggalkan lab. Dan ketika aku kembali akan berkonsentrasi dengan mie rebusku, Evan sudah muncul disampingku sambil cengengesan.
“Ciye yang udah aku-kamu an ama yayang.”
“Anjrit! Sejak kapan lo nguping? Sembunyi dimana lo tadi?”
“Gak penting lagi gue kasih tau persembunyian gue. Jadi sekarang pacaran lo sama Uki?” Evan bertanya sambil mengunyah rempeyek yang tadi pagi aku bawa.
“Anjing gila! Gue aja masih bingung kenapa tiba-tiba Uki ngajak gue makan malam bareng.”
“Mau nembak elo itu pasti. By the way, rempeyeknya enak banget. Lo beli dimana sih?”
“Di Semarang. Ah, masa Uki nembak gue. Lo masih inget gak ucapan lo apa? Uki itu straight!”
“Gue koreksi sekarang ya, gak ada cowok straight manggil cowok lain dengan sebutan aku kamu. He’s totally fall for you.” Kriuk, kriuk, kriuk. Itu suara Evan ngunyah rempeyek jadi bikin pengen.
“Oke, berarti bisa dong gue minta balik duit yang udah gue transfer ke elo?”
“Hahaha, ntar gue beliin lo baju bagus di Zara deh.”
“Kayak gue gak tahu di Zara lagi ada diskon aja.”
“Hahaha, uda ya, gue cuman mau minum teh botol di kulkas aja tadi. Eh, malah denger lo sama Uki aku-kamu aku-kamu an. Hahaha, gue kebawah dulu ya. Oya Dan, be ready aja, jangan lupa kondom. Pasti kejadian deh ntar malem.”
“Sinting lo!” Dan Evan hanya tertawa sambil berlalu.


TBC . . .

Minggu, 21 Desember 2014

BARISTA 11

Chapter Sebelas

Gani Pov
Oke, let’s face it. Aku lupa berapa usia Lita for sure. Tapi yang jelas masih SD. Aku dan Denny sudah keliling gak jelas dan belum mendapatkan hadiah yang pas. Ngado anak sekarang gak segampang ngado anak jaman dulu. Dulu, jamanku masih SD, dikado buku satu pack aja udah girang kayak menang lotre. Sekarang? Siap-siap aja buat di black list dari daftar teman baik. Well, it’s hard you know?
“Gimana kalau Iphone?” Aku menoleh kearah Denny dengan gaya dramatis.
“You’re kidding.” Gila! Anak SD di kasih Iphone? Hape ku kalah saing.
“Serius, Papa sama Mama sih maunya ngado itu.”
“Dan Lita jadi punya double Iphone? Give me one then.” Aku mungkin terlalu sarkastis.
“Excuse me? Can we adjust the attitude?” Denny menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
“I am sorry, this test exam is actually killing me. And my personal life is hanging by a thread, that’s all.”
“That’s why aku mau ngajak kamu having fun. Mama sama Papa nitip aku buat beli Iphonenya. Kita beli aksesorisnya aja kali ya? Sekalian.”
“Oke.” Pengen banget aku teriak, kalau udah tahu mau ngado apa, ngapain keliling gaje tadi? Ini lama-lama bikin pahaku segede paha para pemain bola.
Finally, kita akhirnya ke Ibox di MOI. Aku tidak begitu memperhatikan ketika Denny sibuk dengan pramuniaga. Aku mengamati beberapa aksesoris lucu yang dipajang secara standar dan membosankan. Mungkin, kalau mereka butuh penata gaya untuk toko mereka, aku bisa mengusulkan beberapa hal.
Bukan berarti ini store jelek, sepertinya ini store memang diperuntukkan untuk mereka yang katanya ‘high level’, penataannya sederhana namun yah, memang berkelas gak terlalu ‘rame’ atau norak. Hah, aku terlalu banyak menggunakan tanda kutip.
“Den, beli kondom yang ini gimana?” Denny menoleh ke arahku dan agak melotot. Namun setelah dia tahu bahwa maksutku adalah sarung pelindung handphone dia akhirnya mengangguk. Kenapa sih aku selalu dikelilingi orang-orang yang berpikiran  jorok?
“Uda selesai check, ngechecknya?” Denny mengangguk.
***

 “Kamu gak bilang kalau ini cuman syukuran satu keluarga.” Dan Denny hanya nyengir. Tadi dia bilang bakal banyak temen Lita yang datang. Dan sekarang apa? Hanya ada orangtua Denny, Dito dan sekarang taraaa, aku dan Denny yang masih memakai seragam sekolah.
“Eh kalian sudah datang, Gani! Kamu sekarang tambah ganteng aja, tante kangen lho sama kamu. Udah jarang main kesini sekarang.” Aku hanya tersenyum saat Mamanya Denny memeluk dan membelai rambutku ringan.
“Sekarang banyak kegiatan tante.”
“Sudah, sudah. Mbak Walmi, tolong kuenya yang tadi dibawa kemari. Kita tiup lilin.” Setiap kali aku melihat Papanya Denny, aku jadi tahu darimana ketampanan Denny berasal.
Lita histeris, bahagia ala anak sembilan tahun. Kalian tahu seperti apa anak sembilan tahun jaman sekarang kan? Yah, bila dilihat bahwa dia dikado Iphone, aku yakin dalam hal technologies mungkin Lita lebih jago dariku. Dulu, waktu aku masih sembilan tahun, aku masih renang di kali, manjat pohon jambu tetangga. Oh, it’s old school now.
Setelah peniupan lilin, kemudian pemotongan kue. Fakta bahwa Lita memberikan kue pertamanya untuk sang Ibu memang tidak mengejutkan. Hampir semua anak juga akan begitu kan? Kue kedua untuk Denny, bukan untuk Papanya. Wow, just wow. Mungkin fakta bahwa Denny memang lebih dekat dengan Lita. Mungkin. Fammily bussines. Dan aku gak perlu ikut campur.
***

Beno Pov
Kenapa akhir-akhir ini aku sering cemburuan ke Gani ya? Entahlah, kadang aku merasa bahwa cintaku untuk Gani lebih besar daripada cinta Gani untukku. Atau mungkin aku sedang mengalami tanda-tanda posesif? Jangan sampai, Gani paling benci dengan orang posesif.
“Hei Ben, Gani kemana?” Tantra bertanya sambil menyenggol lenganku. Memberiku kode agar maju selangkah. Kita sedang mengantri di KFC. Hah, tumben-tumbenan ini tempat makan cepat saji rame banget.
“Sama Denny tadi.”
“Oh, cuman berdua? Atau bertiga sama Radit?”
“Berdua doang, ngapain lo nanya-nanya pacar orang?” Tantra hanya cengengesan tapi tak menjawab pertanyaanku. Bikin curiga kan ini anak? Setahuku, Tantra gak pernah deket sama cewek dah. Jangan-jangan sekong juga ini anak?
Hush! Ini otakku konslet gara-gara ujian hari ini atau gara-gara mikirin Gani? Mungkin kombinasi keduanya.
Akhirnya setelah dapat giliran order, kita sekarang bingung nyari tempat duduknya. Full! Kampret! Biasanya ini KFC sepi juga.
“Ben, sini gabung gue.” Diantara banyaknya kenalanku, kenapa makhluk ini yang ada disini dan nawarin tempat duduk?
“Tuh Ben ada yang nawarin, yok gabung! Uda laper banget ini gue.” Shandy nyengir ketika melihatku dan Tantra berjalan mendekat kearahnya. Mau gak mau, karena gak mungkin kan aku berdiri lama-lama kayak orang bego?
“Oh iya Ben, kenalin ini temen gue Tian.” Aku mengulurkan tangan. Menyalami cowok yang usianya aku taksir lebih muda dari Shandy.
“Beno, ini temen gue Tantra.” Aku mengenalkan Tantra hanya sebagai basa-basi. Toh Tantra sepertinya tidak bisa membaca aura tidak sukaku terhadap Shandy. He’s stole my kiss. Aku gak akan lupa tentang itu.
“Lo berdua masih sekolah?” Pertanyaan bodoh dari Tian dan jujur cukup bikin garing. Aku dan Tantra masih mengenakan seragam sekolah, jadi pertanyaan tadi terlihat sangat basi sebasi-basinya.
“Maksut gue, kalian sekolah dimana?” Tanya Tian kemudian, setelah aku dan Tantra tidak ada yang berinisiatif menjawab pertanyaannya yang tadi. Tantra menjawab pertanyaan Tian dengan becandaan. Tidak lupa Tantra juga mengatakan kata Garing, untuk pertanyaan pertama Tian, yang dijawab kekehan ringan oleh Tian.
Dalam sekejab, Tian dan Tantra sudah terlibat perbincangan seru. Syukurlah, karena itu berarti aku tidak perlu berbasa basi dengan Shandy. Males juga mau ngajak itu anak ngobrol. Jadi yah, aku memilih untuk menikmati ayam dan kentang gorengku. Beberapa kali Shandy melirikku namun tak aku gubris.
Aku malah masih kepikiran Gani. Hhh, aku percaya Gani, tapi Denny? Bukan perkara sulit untuk menebak jika Denny masih menyukai Gani. Dan yang jelas, dia juga masih berusaha ingin mendapatkan Gani kembali. Kalau sampai Gani khilaf? Aargh! Kampret, bisa-bisanya aku malah galau.
“Abis ini kemana Ben?” Aku mendongakkan kepalaku. Tantra masih menatapku, menungguku menjawab pertanyaannya.
“Pulanglah.” Aku menjawab seadanya.
“Bareng Shandy aja ya? Gue mau main ke rumahnya Tian, katanya dia punya koleksi one piece lengkap!” Aku sukses bengong. Mereka baru kenalan belum ada satu jam yang lalu. Dan setahuku, Tantra itu sulit untuk cepat akrab dengan orang baru.
“Gue ntar gampang naik taksi.” Mendengar jawabanku, Tantra malah menyipitkan matanya. Menatapku curiga.
“Kalian ada something?”
“Enggak!” Jawabku dengan intonasi agak naik. Shit, Tantra malah semakin curiga.
“Oke, gue balik bareng Shandy.” Tantra itu kalem, namun jiwa keponya bisa bangkit dan bisa dalam tahap yang mengerikan jika dia penasaran terhadap sesuatu.
“Nah, gue kan jadinya gak khawatir.” Halah!
***

“Lo itu makin ganteng ya Ben?” Aku mengabaikan Shandy. Bukan hal yang sulit kok.
“Gue naik taksi aja, bye Shan.”
“Oke, tapi jangan salahin gue kalau gue langsung ke rumah Tian lalu cerita ke Tantra tentang ciuman kita pas di rumah gue.”
“Lo yang nyium gue. Sama sekali bukan ciuman kita!! Itu ciuman lo!”
“Apa bedanya?” Tantra memamerkan deretan gigi putihnya. Aaargh! Sambil menahan amarah aku naik ke boncengan. Serius, kalau dihadapkan dengan pilihan, siapa orang yang pengen aku bunuh saat ini, jawabannya tak lain adalah Shandy!
Diatas motor, aku berusaha memberi jarak. Walau ujung-ujungnya aku jadi agak mepet keujung, tapi itu bukan masalah besar. Daripada harus merapat ke Shandy?
“Eh Ben, itu bukannya bf lu?” Shandy bertanya pada saat kita berhenti di lampu merah. Aku mengikuti arah tangan Shandy. Tadinya aku  mengira bahwa Shandy hanya bercanda. Berusaha membuatku tambah kesal.
Tapi itu beneran Gani. Dan Denny, mereka tertawa. Rangkulan. Mungkin, terlihat normal bagi orang lain, tapi aku tahu benar hubungan masa lalu mereka. Hatiku mendidih. Katanya Lita ulang tahun? Lalu kenapa mereka berkeliaran disini? Mesra lagi! Gila, berani-beraninya Gani bohong!
“Samperin yuk!” Shandy membuyarkan pandanganku.
“Club lu buka jam berapa? Gue pengen kesana.”
“Gak nyamperin bf lu dulu?”
“Turunin gue, gue bisa naik taksi.”
“Oke, oke, gue anterin lu.” Kamu yang mulai duluan Gan!
***

Shandy Pov
Sudah dua botol, dan Beno sudah setengah mabuk. Gak ngerti sih kenapa itu anak jadi tiba-tiba kayak kesambet gini. But, whateverlah. Yang penting, Beno menghabiskan waktunya bersamaku. Walaupun, dia sama sekali tidak mengajakku mengobrol. Dia larut dalam pikirannya sendiri.
“Gue mau pulang.” Baru juga jalan dua langkah, Beno sudah ambruk. Haduh, mabuk ampe pingsan ini anak. Eh, bukankah ini kesempatanku?
Muntahnya banyak banget. Ampun dah, kalau bukan Beno sudah aku tinggalin kali tadi. Aku memapahnya, menitipkan motorku pada Rendy dan segera mencari taksi yang biasanya banyak mangkal di depan.
Beno berat mampus, mana ngoceh gak karuan lagi. Ini anak kayaknya gak bisa minum banyak. Baru juga dua botol, uda teler.
Sesampainya di rumah, aku berterimakasih karena kedua orang tuaku tidak bertanya macam-macam melihat kondisi Beno. Aku menggeletakkan Beno. Dia bener-bener ganteng. Dalam kondisi tak berdaya begini? Dia makin nafsuin. Detak jantungku memburu, mendekati wajah putih mulusnya, mencium pipnya pelan. Mengusap-usapkan pipiku ke bibirnya. Aah, inikah rasanya?
“Gani?” Ucapan lirih itu keluar dari bibir Beno. Gani? Kenapa tidak? Semalam saja, aku ingin merasakan seperti apa menjadi Ganinya Beno.
“Jangan tinggalin aku please?” Aku mengusap bibir Beno lembut.
“Gak akan Ben,” Lalu aku mengecup bibirnya. Pelan, lalu kemudian mengintimidasi. Aku ingin mengecap rasa bibir Beno seluruhnya. Beno mengerang, membuatku makin bernafsu. Dengan cekatan, aku melepas seluruh pakaian Beno. Eh, masa momen seperti ini aku biarin begitu saja? Aku bangkit dan berdiri, kemudia merogoh ponselku. Aku melihat Beno yang sudah tergeletak tanpa mengenakan selembar pakaianpun. Ini pasti bakalan jadi video laris manis nantinya.
Setelah yakin bahwa ponselku berada di posisi yang tepat, aku kembali mendekati Beno. Tuhan pasti meluangkan waktu lebih lama saat menciptakan Beno. Dia begitu indah. Maafkan aku Ben, tapi aku benar-benar ingin memilikimu seutuhnya.
Aku baru saja akan mengoral Beno, ketika ponsel milik Beno berbunyi. Sialan, ganggu saja. Aku mencari-cari di saku celana Beno. Gani! Tepat waktu. Aku mengangkatnya.
“Ben, lagi dimana? BBMku gak kamu bales.”
“Tenang aja, dia aman kok. Dia lagi have fun.”
“Kok, Handphone Beno ada di tangan lo? Kok bisa? Lo . . .”
Aku memutuskan sambungan telepon, lalu menonaktifkannya. Ada hal yang lebih penting daripada sekedar menanggapi bocah labil marah-marah.
Beno, here we go.
***

Gani Pov
“Kita mau kemana sih Gan?” Tantra menanyakan hal itu berulang-ulang sejak tadi. Terpaksa aku meminta bantuan Tantra karena Radit masih bersama Mamanya dan belum pulang. Besok masih ujian, dan aku sama sekali tidak mau Beno kenapa-napa. Mungkin mereka beneran lagi having fun, tapi aku tak peduli. Akan aku geret Beno pulang. Walaupun harus aku seret paksa.
Begitu sampai di depan rumah Shandy aku langsung mengetuk pintu. Atau dalam kasusku, bisa dibilang hampir menggedor-gedor. Aku tengah emosi, peduli setan tentang nilai-nilai kesopanan!
“Relax Gan! Biar gue yang ngomong.” Seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Aku ingat betul itu ibunya Shandy.
“Kamar Shandy dimana Bu?” Wanita tersebut kaget, cukup lama sehingga membuatku berinisiatif untuk mencari kamar Shandy sendiri. Tantra dibelakang sana, entah sedang ngobrol apa dengan ibunya Shandy. Menjelaskan bahwa aku sebenarnya baru saja kabur dari rumah sakit jiwa? Mana aku peduli!
Aku membuka pintu pertama dan darahku langsung mendidih. Shandy yang nyaris telanjang dan Beno yang telanjang dan tampak tak sadar. This bitch! How dare!
Aku meraih rambut Shandy, menamparnya beberapa kali. Tetep ya, walaupun aku pernah karate, yang keluar malah jurus gamparan. Haha, it’s called ‘sekong naluries’. Hush, lagi emosi!
“Lo ntar adep-adepan sama gue bajingan!” Aku menggeret Beno. Berat sebenarnya, tapi terpaksa.
“Tantra bantuin gue monyet!”
“Hei, mau bawa kemana Beno?!”
“Diem lo pelacur!” Kalau lagi emosi gini, antara macho dan ngondek bisa ke switch dengan sempurna.
Tantra muncul dan langsung menggendong Beno. Gila, aku acungin jempol buat tenaganya. Aku sibuk mengambil pakaian Beno yang berserakkan.
“Urusan kita belum selesai, ngerti lo?!” Kataku sambil membanting pintu. Maunya sih biar agak dramatis, nyatanya malah pintunya gagal kebanting.
***

Aku melihat Beno yang sepertinya tidak ada tanda-tanda akan bangun. Antara dia mabuk berat atau molor kayak orang pingsan. Sebetulnya, aku juga marah pada Beno, tapi dalam kondisi seperti ini, aku belum bisa melampiaskannya kan?
“Gue balik ya Tan?”
“Lha Beno?” Aku menggeleng pelan. Menatap Beno yang masih tertidur pulas.
“Terserahlah, bukan urusan gue lagi sekarang.”
“Gue anter ya?” Aku menggeleng lagi.
“Gak usah, Denny jemput gue.” Biarlah. Aku tak ingin memutuskan sesuatu saat ini. Aku masih terlalu emosi. Aku pernah melihat suatu tulisan, entah di twitter atau di facebook aku lupa. Intinya gini, jangan membuat keputusan saat kamu marah, jangan membuat janji saat kamu sedang bahagia, karena sesalnya di kemuadian hari.
“Are you okay?” Denny bertanya saat aku keluar dari gerbang rumah milik Tantra. Dengan kondisi Beno yang teler parah, membawanya pulang hanya akan membunuhnya, dan membunuhku tentu saja.
“No, I am not okay Den. I am not okay.” Sepanjang perjalanan, air mataku mengalir. Gimana Beno bisa bareng Shandy? Gimana Beno bisa berakhir di kamar Shandy? Mereka sudah ngapain saja? I am not okay! I am not okay!
***

Sama sekali gak bisa konsentrasi! Sekuat apapun aku mencoba untuk fokus terhadap soal-soal ujian, aku tetap tidak bisa menjawabnya. Aku melirik kiri kanan. Elliot terlalu  jauh. Denny lumayan, tapi aku tak yakin dia mau memberiku contekkan. Mati ajalah aku! Payah!
“Kak, ini.” Adek kelas yang duduk disebelahku memberiku sebuah kertas. Jadi, ujian ini memang gabungan isinya. Setengahnya berisi anak-anak kelas dua, lalu setengahnya lagi anak-anak kelas satu dengan duduk yang diselang-seling. Tujuannya? Biar gak gampang nyontek!
Aku membuka kertas tersebut setelah aku menilai bahwa situasi dalam kondisi aman dan kondusif. Aku menelan ludah. Jawabannya lengkap dari soal pilihan ganda nomor satu sampai lima puluh. Sampai essay nomor lima puluh satu sampai lima puluh lima. Dibawahnya ada nama Denny dengan emot senyum. Thanks Den.
Aku sudah tidak mikir lagi, ngebut dengan kecepatan super. Mencontek dengan sedikit modif pada jawaban essay.
Aku keluar ruangan ujian dengan lega. Ujian terakhir, dan senyumku tersungging. Bibirku masih belum tertutup saat tiba-tiba Beno ada didepanku, menarik paksa tanganku untuk mengikutinya.
“Semua beres kalau kamu mau minta maaf.” Ini dibelakang laboratorium biologi. Dulu, kita sempat berbuat mesum disini. Dulu, waktu masih hot-hotnya.
“Minta maaf? Buat apa?”
“Kemarin ngapain sama Denny? Gak usah bohong!” Shit! Amarahku sukses tersulut.
“Kamu yang ngapain sama Shandy hah? Telanjang-telanjangan di kamar Shandy?”
“Jangan ngarang buat ngalihin topik!”
“Ngarang? Tanya sama Shandy sono! Apa Tantra! Beneran lupa atau pura-pura doang?” Aku mengeluarkan nada sarkastis campuran menghina level tinggi.
“Kamu ngomongnya ngawur! Minta maaf atau kita putus!”
“Putus? Fine! Kita putus!” Aku langsung meninggalkan Beno. Aku telah membuat kesalahan, membuat sebuah keputusan saat sedang marah. Tapi, kalian tahu posisiku kan?
Aku masuk kedalam toilet, menguncinya sebelum akhirnya sesenggukan disana. Aku menyalakan air dari kran, supaya tidak ada yang mendengar isakanku. Beno, how dare you!!
Entah berapa lama aku menangis sampai akhirnya ada yang mengetuk pintu.
“Ini gue, gue tahu lo didalam. Pulang yok Gan, uda sore.” Aku membuka pintu dan melihat Radit. Dibelakangnya ada Denny dan Tantra.
“Dit, gue- ”
“Yok pulang aja dulu, jangan nangis disini.” Radit menuntunku. Untungnya sekolah sudah benar-benar sepi.
“Thanks guys, biar Gani sama gue aja.” Denny ingin mengajukan keberatan namun tidak jadi. Dia membiarkanku dituntun Radit untuk masuk kedalam mobil. Aku tidak terkejut dengan kekhawatiran Denny. Aku tidak bodoh, aku tahu Denny masih ada rasa. Tapi Tantra?

Aku nanti bawakan boneka Zorro ukuran bantal guling ya?

Aku sedikit tersenyum membaca BBM dari Tantra. Ada empat miscall, 10 what’s up, dan 12 pesan dari Denny. Tidak ada satupun dari Beno. Benar-benar sampai disinikah? Beno benar-benar tidak ingat peristiwa semalam? Apakah salahku? Siapa tahu Beno dijebak ya kan? Apa aku terlalu gegabah? Seperti saat dulu memutuskan Denny?
Apakah disini, akulah bajingannya?
“Dit, apa gue salah ambil keputusan lagi?”
“Ssst, jangan dipikirin dulu! Mending lo tiduran dulu, nangis itu nguras banyak energi tauk!” Sebenarnya aku ingin sekali mendebat teori Radit, namun aku benar-benar lelah. Beno, mungkin besok aku bakalan minta maaf dan kita bisa baikkan lagi. Biasanya juga begitu. Ah ya, pasti bisa besok baikkan lagi.


Bersambung . . .