FOLLOW ME

Kamis, 14 Februari 2013

CINTAKU DIBAGI TIGA chapter thirteen


Sadar atau tidak aku sadari, aku menjadi menghindari Radit. Aku juga tidak tahu, hanya saja aku sekarang menjadi gampang salah tingkah jika didekatnya. Aku juga tidak bisa bersikap seperti dulu lagi, memeluk dia atau mengacak-acak rambut ikalnya. Gila! Sejak Radit mengaku secara blak-blakan kalau dia menyukaiku, entah kenapa aku menjadi gugup dan entahlah! Aku tidak tahu!
Seperti saat ini, aku dan Radit hanya diam-diaman di kamar. Radit sedang membaca komik dan aku pura-pura tengah mengerjakan PR Fisika. Demi Tuhan, jika aku sedang tidak gugup parah seperti ini, aku tidak akan melibatkan diriku sendiri secara sukarela untuk menguras otakku dengan rumus-rumus Fisika yang hanya Tuhan yang tahu seberapa sulitnya.
Aku menyerah, aku memutuskan untuk membantu Mbok Parni saja yang tengah memasak.
“Gua ke belakang dulu ya Dit.”
“Hem.” Cih, cara jawabnya nggak niat banget.
Aku menemukan Mbok Parni yang tengah berkutat dengan seonggok ayam potong utuh.Terlintas begitu saja di otakku begitu melihat ayam montok yang tengah di pegang-pegang oleh Mbok Parni untuk sedikit iseng.
“Mbok, jangan dipotong-potong dulu ayamnya.”
“Aduh! Mas Gani ini lho, ngagetin aja! emang buat apa mas?” Mbok Parni bertanya penuh ingin tahu saat aku mengeluarkan ponselku. Aku memposisikan ayam montok itu dalam posisi duduk. Menyilangkan pahanya sedemikian rupa –ini agak susah- dan membuat dua sayapnya seolah-olah tengah berkacak pinggang. Setelah dirasa posisi itu ayam hot, aku langsung memotretnya. Dan kagum sendiri dengan hasilnya. Sip dah!
“Mbok, aku nggak jadi bantuin masak ya?” kataku sambil ngeloyor pergi.
“Ye! Mas Gani ini! Sekarang udah nggak pren sama si Mbok!” aku hanya terkekeh geli mendengar gerutuan Mbok Parni. Aku memang kadang-kadang suka membantu Mbok Parni memasak atau kadang membersihkan taman kecil di depan. Secara gitu, aku sadar ngekost disini dengan harga cukup bersahabat namun dengan fasilitas segudang sungguh keberuntungan. Apalagi dulu, tante Wasti sempat menolak kalau aku membayar tiap bulan.
“Dit, pinjem motor lu bentar dong.” Aku memeluk Radit dari belakang. Aku sudah memutuskan, sejak aku melihat seonggok ayam utuh itu –yang tentu saja sudah tidak berbulu- bahwa aku akan bersikap biasa-biasa saja terhadap Radit. Bersikap seperti dulu aku bersikap.Terima kasih ayam, karena entah bagaimana kamu telah menginspirasiku.
Radit agak sedikit terkejut dengan pelukanku.Ya, mengingat bahwa akhir-akhir ini aku sering sekali menghindarinya.
“tu kuncinya diatas meja. Mau kemana lo Gan?”
“best of my secret.” Kataku dengan intonasi penuh rahasia.
“gaya lo! Kayak pejabat mau korupsi aje!” aku hanya tertawa sambil keluar dari kamar. Kayaknya besok bakal asyik nih. Hhihihi, jadi nggak sabar.
***

Esok harinya, hari yang sangat aku tunggu-tunggu, lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai, aku memasuki kelas dengan Radit dibelakangku. Tangan kananku membawa selembar amplop cokelat besar yang biasanya digunakan oleh orang-orang untuk melamar pekerjaan. Aku melirik anak-anak cowok belakang yang tengah sibuk berkumpul disitu.Tumben-tumbenan si Beno udah berangkat. Namun justru ini semakin memuluskan niat isengku.
Dengan senyum yang aku buat semisterius mungkin, aku menghampiri sarang penyamun itu. Padahal aku kan duduk disitu juga, berarti aku penyamun dong? Beno memperhatikanku dengan seksama, ekor matanya mengikuti setiap gerak-gerikku. Aku jadi tertawa sendiri.
Dengan gaya sekalem mungkin, aku memecah kerumunan cowok-cowok itu. Setelah sebelumnya aku meletakkan tasku dulu di tempat dudukku.
“Hei, gua punya gambar telanjang loh. . .” bisikku cukup keras hingga kerumunan para cowok itu menghentikan aktifitasnya sementara dan melihatku dengan tatapan tidak percaya.
“Apa lo bilang?” tanya Ian dengan berbisik pula. Aku ingin sekali tersenyum geli melihat ekspresi ini anak-anak yang gokil abis. Mata mereka terbelalak maksimal.
“Gua punya gambar telanjang!” ulangku dengan nada meyakinkan.
“Nggak mungkin! Ngibul aja sih lo Gan!” bantah Ian setengah nggak percaya. Ni cowok satu emang rombeng.
“Ya udah kalau nggak percaya. Gua kan Cuma nawarin aja. Tapi bener nih pada nggak mau lihat? Hot banget, tau nggak?” aku bergaya seolah-olah hal ini memang nggak penting. Dan sepertinya itu sedikit membuat wajah-wajah yang tadi tidak percaya menjadi sedikit meragu.
“Beneran Gan, yang elo bawa itu gambar telanjang?” sekarang Derry yang bertanya dengan menelan ludah.
“Yee! Kan udah gua bilang tadi! Ck!” aku berlagak kesal, bersikap jengkel karena dituduh berbohong. Dan itu membuat ekspresi yang tadi ragu-ragu menjadi percaya bahwa yang aku bawa memang gambar telanjang. Emang gambar telanjang sih. Aku terkekeh geli dalam hati tapi.
“Bener Gan itu gambar telanjang?” sekarang Elliot yang bertanya. Dia sepertinya tidak percaya bahwa aku mampu melakukan hal gila seperti ini.
“Sumpah! Makanya amplopnya gua segel, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!”
“Mana? Mana? Mana? Sini buruan lihat!” Ian sepertinya memang nggak sabaran. Udah rombeng, nggak sabaran pula.Tangannya ingin merebut amplop cokelat dari tanganku. Namun dengan gerakan segesit mungkin aku menyembunyikan dokumen Negara yang sangat penting ini.
Aku melirik ke seisi kelas. Aku melihat Radit yang juga kaget dengan tindakanku. Aku sengaja tidak bercerita ke Radit, namanya juga rahasia. Apalagi Denny, tu anak kayaknya syok banget. Para anak-anak cewek juga sudah mulai membicarakan apa yang  tengah aku lakukan dengan bisik-bisik.
Aku memberikan amplop yang tengah aku bawa kepada Ian, yang kebetulan berada paling dekat denganku. Ian menerima dengan sigap, tapi aku menghimbau agar jangan dibuka terlebih dahulu.
“Lo ternyata parah banget ya Gan! Rusak moral lo.” Ucap Ian setelah menerima amplop cokelat itu dariku.
“Lu bilang gua rusak banget, tapi lo terima juga amplopnya, berarti lo rusak juga kan?”
Ian hanya meringis mendengar perkataanku. Tangannya sudah akan membuka amplop cokelat itu, namun aku segera mencegahnya.
“Tunggu dulu! Jangan dibuka sekarang dong! Gua nggak mau entar dituduh kalau  gua udah nyebarin gambar porno dikelas.”
Dengan gerakan cepat aku segera berlari keluar kelas. Mengamati mereka dari jendela.
“Emang, dia yang nyebarin kok! Ngapain juga pake acara dituduh!” aku masih mendengar ucapan Ian itu yang disambung oleh tawa dari cowok-cowok yang mengerumuninya.
Aku memperhatikan dari jendela dengan seksama, ketika cowok-cowok itu semakin merapat, lalu terdengar suara amplop disobek. Dan sedetik kemudian. . . terdengar suara makian dan sumpah serapah. Aku yang sadar situasi langsung berlari menjauh. Bersembunyi dibalik tangga yang menghubungkan ke koridor kelas tiga dengan tertawa keras-keras.
Aku masih mendengar sumpah serapah cowok-cowok itu.
“Gani sialan! Kurang ajar! Kirain gambar telanjang betulan!” ini seruan Ian. Kayaknya dia yang paling kecewa.
“Awas lo ya Gan! Jangan kira pulang lo bisa selamat.” Ini dari Derry.Tawaku malah semakin menjadi-jadi mendengar sumpah serapah mereka yang nggak karuan. Aku menunggu hingga suasana kelas menjadi agak aman lalu mengambil ponselku dan menghubungi Beno.
“Ben, gua uda bisa masuk nggak nih?” tanyaku begitu sambungan teleponku diangkat.
“belom! Mereka malah bilang kalau kamu berani masuk kelas, kamu mau ditelanjangin!”
“masa sih? Lu ngibul ya? Gua kan Cuma becanda doang. Pada nggak asik nih! Becanda gitu doang langsung marah!”
“mereka ngomongnya gitu kok. Kamu dimana sekarang?” aku bisa mendengar Beno terkekeh geli disana.
“dibalik tangga. Gimana Ben? Bentar lagi masuk nih!”
“kamu tunggu aja disitu, aku jemput.” Beno mematikan sambungan teleponku.Tidak beberapa lama dia muncul. Aku tersenyum geli menyambut kedatangannya dan tidak lama tawaku lepas lagi.
“kamu tuh ya! Ngrepotin aja!” aku hanya meringis. Dengan segera aku berjalan dibalik punggung Beno. Gimana pun juga, Beno adalah salah satu anak cowok yang disegani oleh para penghuni di kelasku jadi ya minta tolong ke dia itu adalah keputusan yang sangat tepat.
“Gimana guys? Seksi kan? Pahanya oke banget kan? Kayaknya sih itu ayam korea deh, soalnya putih mulus gitu.” Kataku begitu sudah masuk kedalam kelas. Ian, Derry bahkan Elliot dan teman-teman cowok lainnya menatapku dengan tatapan membunuh. Melihat ekspresi itu aku semakin tertawa geli.
“Gua masih punya satu lagi lho, mau pada liat nggak?” tanyaku usil.
“Bener-bener aku tinggal nih ya? Aku pindah bangku nih!” ancam Beno yang melihat tingkah usilku yang semakin menjadi-jadi.
“Jangan! Jangan Ben!” emang sudah agak lama aku tukeran duduk sama Tantra yang kini duduk bareng Elliot dan aku satu bangku dengan Beno! Aku merangkul Beno dengan gaya sok asyik.
“Peace okay? Damai, damai.” Kataku sambil nyengir. Dan tidak berapa lama para cowok itu ikut-ikutan tersenyum geli. Hhihihi.
***

Sejak kejadian iseng itu, Beno jadi protektif terhadapku. Dia takut aku akan melakukan keisengan-keisengan yang lebih fatal lagi. Kemana-mana harus bareng! Bahkan ke toilet sekalipun! Kalau nggak bisa bareng, harus ada yang nemenin! Gila! Dan ancamannya adalah dia bakal pindah bangku kalau aku melanggar. Jiah, kayak anak SD saja.Tapi anehnya, aku menurut juga.
Seperti kali ini, aku tengah kelaperan berat.Tadi pagi nggak sempet sarapan dan di istirahat pertama ini Beno nggak keluar kelas. Dia lagi sibuk nyalin PR Biologi.Tumben-tumbenan itu anak nggak ngerjain PR. Itu artinya, aku juga nggak boleh keluar kelas. Pokoknya harus bareng.
“Kenapa Lo Gan?” tanya Ian yang baru saja memasuki kelas.
“Laper banget gua!” aku menjawab denga suara yang aku buat sekeras mungkin. Tujuannya jelas, biar Beno denger! Aku melihat Ian melirik Beno sekilas.
“kalau laper ya ke kantin lah Gan!”
“nggak boleh pergi sendiri.” Kataku memelas.
“Ya udah, sini bareng gue! Ben, Gani ke kantin bareng gue! Lo tu ya, pacar lo hampir semaput gitu! Ngapain sih lo?” mendengar perkataan Ian, aku tabok tu mulut rombengnya. Walaupun kenyataannya sekarang mereka memang sering sekali ngecengin aku sama Beno. Cinta terlarang antara Yonathan Beno Wicaksono dengan Gani Prasetya. Padahal faktanya itu adalah hoax semata. Aku berharap sih, tapi Beno? Cuih!
“Ini ngerjain PR Bio. Eh Gan, kan kamu udah aku kasih roti tadi?” Beno sama sekali tidak menghentikan aksi menyalinnya. Ya iyalah, PR Biologi kan bejibun gitu. Selesai dalam lima belas menit aja udah alhamdullillah banget.
“Roti kecil gitu mana kenyang! Dibagi dua lagi sama lu! Cuma ngotorin gigi aja, tau nggak!” kataku sambil berdiri dan berjalan mengikuti Ian menuju kantin.
“kalau gitu aku nitip.” Seru Beno begitu aku dan Ian sudah sampai di ambang pintu kelas.
“bodo!” jawabku cuek. Ian yang berada disampingku tertawa geli.
“nitip apa lo Ben?” tanyanya.
“apa aja yang bisa bikin perut gua keisi. Lemper kek, tahu isi kek. Bakwan juga oke.”
“sip.” Kata Ian sambil mengacungkan jempolnya.
“Gila, sendirinya kelaperan gitu, masa iya nyuruh gua nunggu jam istirahat kedua. Sableng tu anak.” Dumelku pada Ian. Ian hanya tertawa geli.
“Ngomong apa kamu Gan?” jiah, ternyata Beno masih ngedenger aja. Aku mengabaikan pertanyaannya. Keburu bel nanti coy!
Akibat dari proteksi Beno yang berlebihan hanya karena keisenganku tempo dulu, anak-anak cowok jadi berasumsi negative terhadapku.
“Lo pernah nyolong ya Gan waktu maen ke rumah Beno? Makanya dia ngawasin lo ketat baget, takut lo nyolong lagi di tempat lain.” Ini kata Ian. Rombeng emang.
“Pasti lo itu mata keranjang ya Gan? Makanya Beno nggak biarin lo jalan sendiri, takut lo nancep ke lain hati.” Ini kata Tantra denga senyum-senyum jahil. Gila, emang mereka kira aku dan Beno pacaran?
“nggak gitulah, Gani tu punya penyakit ayan! Epilepsy gitu! Makanya Beno jagain dia ketat banget! Takut kumat sewaktu-waktu. Ya kan Gan?” Yang ini perkataan Derry yang cukup bikin dada sedikit nyesek. Ini sebenarnya aku tahu niatnya bela aku, tapi caranya itu lho.
Otomatis omongan-omongan itu bikin aku bête.
“kalian tu ya? Masa yang jelek-jelek doang. Tukang nyolong lah, mata keranjang lah, lebih parah lagi, apa kata lu tadi Der? Gua ayan? Enak aja! Trus apa lagi hah? Kurang asemb?!” aku mendengus sebal dari bangku Radit.
“lha terus apa dong alesan Beno sampai segitunya sama lo?”
Aku berdiri dan berjalan ke bangkuku. Menatap Beno yang tengah menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
“Ya, karena Beno tu cinta banget sama gua! Dia itu nggak bisa hidup semenit pun tanpa gua, tau!” kataku asal. Sebodo amat lah.
“beuh! Homo attack bo!” seru Derry.
“romantic cyinn.” Ini kata Ian lagi.
“emang. Makanya, elu- elu pade kaga usah berisik. Mengganggu kemesraan kita tau!” ujarku sambil duduk dibangkuku. Aku menoleh pada Beno yang tengah tercengang menatapku.
“hi, darling. Mereka ngiri banget sama kita. Katanya, kita itu mesra banget!” kataku dengan nada seriang mungkin tapi muka makin bête. Syukurin aja Lu Ben! Emang gua maling apa di proteksi segitu ketatnya. Harus lapor satu jam sekali. Tamu aja cuman lapor 24 jam sekali! Aku masih ngedumel dalam hati. Sama sekali tidak menyangka bahwa Beno akan meraih kepalaku dan mengecup pelan di keningku. Aku syok, apalagi anak-anak sekelas.
“CUIH, BETE!!”
“NORAK! KAMPUNGAN!”
“MAHO BOO!”
“UDIK!”
Aku mendengar ucapan-ucapan mereka, tapi tidak begitu peduli. Beno barusan ngecup keningku. Ini betulan. Aku mengusap keningku perlahan dan semburat merah jambu menjalar dipipiku. Beno sialan! Aku malu banget!
***

Aku menatap Beno yang tengah memakan ayam bakarnya dengan ekspresi serius.Tanya nggak ya? Tanya? Nggak? Tanya? Nggak? Eem, tanya aja lah. Daripada nanti mati penasaran.
“Ben,” panggilku lirih.
“hemm?” Beno tetep nggak menoleh. Dia asyik dengan ayam bakarnya. Aduh, ayam bakarku kan tinggal tulang, masa iya aku pura-pura tengah makan ayam bakar lagi?
“Itu tadi apa?” kini Beno mendongakkan kepalanya, menatapku dengan tatapan bingung.
“apa gimana?”
“itu yang tadi di kelas.” Sebenarnya sih, inti dari pertanyaanku itu adalah apakah ciuman Beno di kening tadi memiliki arti yang special buat dia atau hanya iseng doang. Karena buat aku, itu sesuatu yang luar biasa sekali.
“yang mana?” Gila nih anak! Masa iya aku harus menjelaskan adegan cium kening itu ke Beno. Dia harusnya ngeh dong ya!
“Yang itu. . .” cih, sulit banget sih. Ayo Gani, ngomong ayo!
“Lihat deh Gan, tu cewek seksi banget ya? Tipe aku banget.” Hha? Aku sukses melongo. Cewek?
“Lu suka cewek?” Tuhan! Aku keceplosan! Kini Beno menatapku dengan pandangan aneh. Aduh, ini mulut kenapa bisa keceplosan gini sih! Bego, bego, bego banget!
“lha, emang aku suka cewek Gan! Kamu kira aku homo gitu? Emang ada tanda-tanda kalau aku homo?” pengen banget aku mengingatkan kejadian saat dia sering merangkulku, memijat-mijat kepalaku atau membelai-belai rambutku. Dan jangan lupa kejadian yang masih fresh, baru keluar dari oven, Beno mencium keningku! Tadi siang! Catet ya, tadi siang! Gila aja, masa sih Beno udah lupa? Pikun amat! Bukankah itu sudah cukup bukti kalau Beno menyukaiku? Ya kan? Iya dong!
“Gua suka sama lu! Lebih dari teman. Gua pengen jadi pacar lu Ben!” nanggung! Mending aku ungkapin sajalah. Beno menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.Tatapan terluka, tatapan bahagia sekaligus kecewa pada saat yang bersamaan.
“sorry Gan, aku nggak bisa.” Aku lemas. Beno memberi aku harapan, namun ternyata hanya aku saja yang kege eran. Faktanya Beno tidak menganggapku lebih dari seorang sahabat .Malam itu aku jadi pendiam, saat Beno mengantarku pulang aku juga hanya mengucapkan kata-kata seadanya saja. Pengennya sih tadi pas di rumah ayam bakar aku langsung pergi begitu Beno menolakku. Namun aku mikir-mikir juga, masa iya aku mau naek taksi? Sayang ongkos. Hemat. Hemat. Gila ya, demi hemat batinku teraniaya.
Begitu nyampe kamar, Radit yang melihatku tanpa gairah hidup langsung memelukku.
“Gan? Lo kenapa?” aku menatap Radit sesaat lalu menangis di pelukannya. Ditolak oleh orang yang kita cintai itu begitu menyakitkan. Sungguh! Rasanya sesak.
Setelah tangisku reda, aku segera bangkit dari pelukan Radit. Membasuh wajahku sebentar agar tidak terlihat begitu menyedihkan.
“Gan?” lagi-lagi Radit bertanya.
“Nggak apa-apa kok. Nanti gua cerita ya Dit? Gua mau tidur dulu bentar.” Radit tersenyum dipaksakan.
“Okay. Sleep well Gan.” Aku tersenyum tipis. Aku berusaha memejamkan mataku, namun justru kenangan-kenangan bersama Beno berseliweran di kepalaku.
Kenapa kamu berhenti bersikap menyebalkan Ben?
Kenapa kamu harus jadi baik?
Kenapa kamu harus jadi orang yang bisa aku andalkan?
Kenapa?
Kenapa sifat menyebalkanmu menghilang?
Aku mencintaimu Ben! Demi Tuhan! Tidakkah kamu melihatnya dari tatapan mataku?
Tidakkah kamu tahu semua sifatmu selama ini membuat benteng yang sudah lama aku ciptakan hancur? Benteng yang memagari hatiku agar tidak jatuh hati padamu? Kalau seandainya kamu tidak ada rasa, kenapa kamu harus berubah menjadi sebaik ini? Kenapa kamu tidak bertahan saja dengan sifat menyebalkanmu? Aku merutuki diriku sendiri.
Tuhan, kenapa aku tidak jatuh cinta saja pada Radit? Dia jelas-jelas mencintaiku! Sakitnya mencintai lelaki straight!
Penulisnya ikutan ngegalau. Bersambung aja yok.
See you in chapter 14 ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.