FOLLOW ME

Rabu, 06 Februari 2013

CINTAKU DIBAGI TIGA chapter eleven


Melihat Yoga hanya dengan kaos buntung dan celana denim pendek memang sangat langka. Dia terlihat seperti masih bocah. Dan sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. Say hello? Takutnya nanti dianggap sok kenal sok dekat. Senyum? Aduh, aku takutnya Yoga jatuh cinta. Serba salah jadinya.
“Eh, lo yang minjam jas lab gue kemarin dulu itu kan?” aduh, dia masih ingat saja. Padahal itu kejadian kapan ya? Aku saja sudah lupa.
“Iya. Kan sudah aku balikin kak.” Yoga mengangguk dan tersenyum tipis. Yoga memang jauh lebih keren dari Beno. Haduh!
“Lo temen sekelasnya Beno ya?” tanyanya sambil melangkah mendekat. He’s so yummy. Aku hanya mengangguk. Bingung sumpah, secara dulu aku pernah ngefans gila-gilaan sama ni anak.
“Eh, kenapa lo Ben? Sekarat?” kali ini pertanyaan itu lebih diajukan untuk adiknya yang tengah terbaring dengan mata terpejam. Ini orang rada stress kali ya, udah tahu matanya merem gitu masih saja ditanya, jelas saja diam tidak menjawab.
“Iya kak, tadi Beno hampir pingsan di kelas.” Jawabku menggantikan Beno. Kan kasihan banget tu Yoga udah nanya kaga ada yang jawab-jawab.
“Pingsan? Serius lo?” Becanda Yog! Anak tengil kayak Beno mana mungkin bisa pingsan.
“Iya kak.” Sumpah, aku mati gaya.
“Eh, lo mau minum apa? Biar gue ambilin. Udah makan belom?”
“Terserah kakak saja, tapi kalau ada sih aku lagi pengen jus kak.” Kalian boleh bilang aku keterlaluan, tapi sumpah aku memang haus banget! Dan kayaknya minum jus buah itu sesuatu banget.
“Ya sudah, bentar ya.” Yoga keluar kamar lagi. Ternyata dia nggak semenyebalkan adiknya. Aku mengalihkan pandanganku dari Beno yang tengah tertidur pulas. Aku baru tahu kalau tenyata Beno ngefans berat sama Beyonce dan juga Twilight saga. Hampir di semua dinding kamarnya ada poster diva cantik itu dan juga beberapa poster Twilight. Ngefans atau obsesi pengen jadi Beyonce ya? Hhehe, becanda. Aku juga suka Beyonce, jujur aku akui performance Beyonce diatas panggung itu memang asyik banget.Tapi aku nggak begitu ngefans banget. Sekedar suka saja. Aku still big fans dari seorang Justin Timberlake. Bahkan kalau aku boleh jujur lagi nih ya, aku pernah menyumpah-nyumpahi Britney Spears karena dia begitu bodoh melepas Justin begitu saja. Seandainya aku yang menjadi Britney.
Hey! Ini hanya seandainya ya, bukan berarti aku pengen menjadi wanita. BIG NO!aku masih sangat bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki.
“woi, ngalamun aja!” Yoga menepuk punggungku pelan .Aku menengok dan tersenyum keki. Gila, sejak kapan nih anak masuk ya? Jangan bilang Yoga sudah lama masuk terus dia memergoki aku yang tengah senyum-senyum sendiri membayangkan bahwa aku adalah Britney Spears. Gila saja, tengsin abis bos!
“nggak kok.” Jawabku ngeles apa adanya. Jelas banget sudah ketahuan lagi ngalamun masih nyangkal.
“Ini jusnya. Sorry lama, gue kupas dulu kulitnya biar enakkan. Suka mangga kan?” gila, ini cowok baek banget. Padahal dulu aku kira ini anak jutek. Lagipula, jelas harus dikupas dulu lah. Emang ada gitu ya jus mangga beserta kulitnya? Lo kira gua kuda lumping!
“Makasih kak, maaf jadi ngerepotin.”
“gak apa-apa. Santai aja lagi. Kalau mau makan tu ada di atas meja makan. Gue tinggal ke kamar dulu ya?” ikut dong Yog, pengen banget aku jawab gitu.Tapi tetep ya, tengsin. Emang aku cowok cakep apaan. Cakep? Dari hongkong!
“Iya kak.” Selepas kepergian Yoga, aku kembali bengong. Mau ngebangunin Beno nggak enak, tu anak molornya udah kayak kebo. Mau lanjut ngalamun lagi juga udah males. Mending ikutan tidur sajalah.
Aku segera merangsak ke atas ranjang yang ditempati Beno. Anggap saja ini tidur siang seri kedua.
***

Hari ini Beno nggak masuk. Itu anak, sepertinya masih terkapar tidak berdaya diatasa ranjangnya. Dan dampak dari ketidakhadiran Beno di kelas ini sudah pasti membuat Tantra gelisah. Sepertinya Tantra kehilangan sense of cerianya hari ini. Bahkan, dia mencetuskan ide paling gila dan nggak banget. Nyembunyiin buku paket PKn nya si Genta. Cowok yang sekarang duduk sebangku sama Denny. Anehnya, anak-anak cowok belakang pada setuju banget. Termasuk aku. Bayangin saja, jam-jam segini ini kan otak sudah terkuras abis. Jadi sedikit keisengan mungkin bakal bikin otak jadi fresh sedikit.
“iseng aja.” Ini yang dikatakan oleh sang pencetus ide. Tantra Satriya. Dan bagaikan terikat dalam sebuah organisasi rahasia semua anak-anak cowok belakang mengangguk hikmat.
Pelajaran seperti PKn, Fisika, Bahasa Indonesia dan berbagai jenis pelajaran yang masuk dalam kategori membosankan, memang memerlukan kemauan yang lebih keras.Tekad yang membara dan semangat juang yang membaja. Kedengarannya memang seperti dilebih-lebihkan, namun itu faktanya. Apalagi keisengan yang dipelopori oleh Tantra ini bisa bikin sedikit hahahihi, minimal sepuluh menit pertama sebelum mulai belajar lagi, jelas adalah anugerah terindah.
Karena baru saja jam pelajaran kosong, banyak anak-anak yang masih nongkrong di luar atau di kantin. Dengan leluasa, Tantra menarik tas Genta yang disimpan didalam laci dan mengeluarkan buku paket PKn dari sana lalu melemparkannya ke arah Ian. Ian dengan gesit menangkapnya lalu menyembunyikannya di laci mejanya.
Begitu lima menit sebelum bel pergantian pelajaran berbunyi, anak-anak sudah memasuki kelas. Dan Genta langsung menyadari bahwa buku paket PKn nya raib saat dia hendak menyiapkan buku-buku untuk pelajaran PKn. Dan sepertinya Genta tahu bahwa yang menjahilinya adalah anak-anak deretan belakang. Genta langsung menghadap belakang dengan berkacak pinggang. Aku pura-pura pasang tampang tidak tahu. Walaupun dalam hati sudah cekikikan geli.
“Siapa yang ngumpetin buku paket PKn gue? Elo Gan?”
“Nggaaaak!Enak aja lu nuduh gua!” kataku dengan emosi dibuat kesal.
“Elo ya Tan?” kali ini mata Genta udah mulai melotot. Aku makin cekikikan dalam hati.
“Nggaaaaak!” Tantra menjawab sambil geleng-geleng kepala kuat-kuat. Melihat ekspresi tidak bersalah Tantra, cekikikan ku makin menjadi.Tapi masih dalam hati cekikikannya.
“Nggaaaaak! Bukan gue lho.” Belum ditanya Ian sudah menjawab. Kali ini aku cekikikan walaupun lirih.
“Ampun dah! Balikin buku gue dong cepet! Bentar lagi Bu Eka dateng nih!” si Genta kayaknya mulai gusar. Dan itu membuat Denny melemparkan pandangan garangnya ke arahku. Aku hanya mengangkat bahuku menjawab tatapan Denny yang jelas sepertinya iba dengan nasib teman sebangkunya.
Sampai Bu Eka dateng, nggak ada satu anak pun yang mengaku telah menyembunyikan buku paket milik Genta.
“Buku paket gue woi! Bu Eka udah dateng tu!” ucap Genta sambil menghadap belakang. Suaranya lirih dan memelas banget.
Namun tetap saja, cowok-cowok di deretan bangku belakang tidak ada yang mau mengaku. Mereka malah memandangi Genta dengan senyum-senyum. Tantra malah sudah makin menjadi cekikikannya. Anak-anak belakang, termasuk aku sama sekali tidak menyangka bahwa Genta akan bersuara lantang tepat sebelum Bu Eka membuka mulutnya untuk mengucap salam.
“BUUU EKAAA. . .! BUKU SAYA DIUMPETIN SAMA ANAK-ANAK COWOK BELAKANG!!!” awalnya aku hanya bisa tercengang, namun kemudian tawaku langsung meledak yang diikuti oleh Tantra, Ian dan anak-anak cowok belakang lainnya. Bahkan, sekarang seisi kelas ikut tertawa.
“woiy, Genta tukang ngadu! Nggak usah ditemenin aja!” seruku mengimbangi tingkah Genta yang mirip anak SD.
“BUUU! KATA GANI SAYA TUKANG NGADU! TRUS KAGA BOLEH DITEMENIN!” seru Genta makin kenceng. Mirip anak TK sekarang.
Seisi kelas tertawa lagi.Tawa yang agak berbeda dan sedikit membuatku menerawang masa-masa SD dulu. Hujan-hujanan sepulang sekolah saat musim hujan dengan sepatu yang dimasukkan kedalam tas. Atau kalau nggak nginjek sepatu baru teman-teman, istilahnya tu kenalan. Yang paling seru tapi nggak banget itu ngejek nama orang tua temen kita. Ya Tuhan, masa-masa itu. Masa SD ku dulu.
Siswa SD sekarang mana mungkin seperti itu. Anak-anak SD jaman sekarang mungkin sudah tidak mengenal petak umpet, beteng-betengan, kelereng atau nggak tongpolo. Mereka lebih mengenal internet, playstation atau game-game lain yang lebih modern. Jaman memang sudah berganti. Lha kok?
“Kalian ini apaan sih?” Bu Eka memandang anak-anak belakang dengan dahi berkerut dalam. “Kayak anak SD saja. Kembalikan buku milik Genta! Kita akan mulai pelajaran. Jangan buang-buang waktu!”
Segera saja, buku yang tadinya disembunyikan oleh Ian sudah berpindah tangan kepada pemilik aslinya. Namun, sepertinya Bu Eka tidak bisa begitu saja menyia-nyiakan kejadian tadi. Keluarlah pidato ala Bu Eka, dimana beliau mengatakan bahwa menyembunyikan buku yang bukan miliknya sendiri merupakan perbuatan tidak terpuji. Bahkan, Bu Eka dengan jelas mengatakan bahwa hal ini sangat bertetangan denga sila-sila Pancasila.
Aku memutar kedua bola mataku bosan. Merasa jengah sendiri dengan pidato Bu Eka yang paling tidak akan memakan waktu kurang lebih setengah jam sendiri. Bu Eka attack!
Istirahat kedua aku gunakan untuk merapikan catatan biologiku yang awut-awutan. Dengar-dengar dari kelas sebelah sih, kemaren ada pemeriksaan catatan gitu, jadi aku mau tidak mau harus merapikan catatanku. Untung Elliot komplit banget catatannya. Rapi jali lagi. Lagi asyik-asyiknya nyalin catatan Biologi milik Elliot, aku merasakan ada orang yang duduk disampingku. Dan sedikit surprise saat tahu bahwa Denny lah yang duduk disampingku.
“kamu sekarang kayak dulu lagi. Iseng, pemales dan tukang bolos.” Aku sedikit terusik. Apa maksutnya tu kata-kata Denny tadi? Dia mau mengingatkan aku atau gimana? Mengingatkan bahwa semasa aku pacaran dengan dia, aku tidak sebandel sekarang begitu?
“aku kan udah bilang dulu,  jangan deket-deket Beno.” Aku menghentikan kegiatan menyalinku sebentar lalu menghadap Denny.
“mau kamu apa sih Den?” Denny sepertinya agak tercekat mendengar nada bicaraku yang agak ketus.
“aku Cuma pengen kamu jadi anak yang berprestasi. Itu saja!”
“otak kamu sama otakku tu beda. Maaf, ini aku yang sekarang.” Kataku cuek sambil kembali nyalin catatan Biologi milik Eliiot. Untung dikelas nggak ada bocah sama sekali.
“bukan disitu masalahnya! Kamu itu beda tahu sekarang! Udah diapain aja kamu sama Beno? Kissing? Pitting? Atau malah udah ngeseks?” Ya Tuhan. Apa separah itukah aku dimata Denny sekarang? Dia pikir aku semurah itu mengobral tubuhku kemana saja?
“Den, kalau aku boleh bilang kamu mending get away from me for a while! Ini hidup aku! Dan kamu bukan siapa-siapa aku lagi sekarang.” Denny menarik nafas panjang perlahan.
“Didn’t  you remember the last time we had sex?” aku tercekat. Aku tidak pernah lupa Den! Demi Tuhan! It’s my first time. Bahkan sangat ingat tempat-tempat dimana kamu menyentuhku dan membuatku serasa orang paling bahagia di dunia.Tapi itu dulu.Sekarang semua sudah berubah.
“aku masih ingat dengan jelas. Dan aku masih berharap, suatu saat nanti kamu akan berada dipelukanku lagi.” Kata Denny lirih sebelum akhirnya meninggalkanku yang terpekur sendiri.
Aku hampir bisa menghapusmu dari hatiku Den! Kenapa sekarang kamu ingatkan aku lagi dengan kenangan itu? Niatku untuk menyalin catatan Biologi milik Elliot jadi hilang. Persetan!
***

Aku ingin sekali meluapkan emosiku dengan curhat.Tapi sepertinya itu juga tidak kesampaian. Radit tengah sibuk dengan klub Rohisnya. Dan mungin juga tengah sibuk dengan cem-cemannya si Risky. Aku bingung, curhat sama siapa ya? Nggak mungkin sama Elliot. Gila, yang tahu aku maho kan Cuma Radit sama Denny doang. Masa iya curhat sama Denny? Nggak deh! Orang yang mau dicurhatin kan tentang dia!
Akhirnya aku membuka facebook lewat ponselku. Berhubung aku pelajar yang uang kirimannya belum dikirim terpaksa aku menggunakan zero facebook. Halah, ngeles banget! Langsung tanpa basa-basi aku update,

Get away from my mind!!

Berhubung hari ini juga Beno nggak masuk, terpaksa lah aku naek bus.Tapi aku tidak sendiri, aku barengan Elliot jalan ke terminalnya.
“lo langsung pulang Gan?” tanya Elliot sambil menggigit batagor yang barusan kita beli didepan sekolah.
“he eh. Pengen molor gua.”
“bukannya hari ini lo jadwal fitness ya? Masih sebulan lagi kan member lo abis.” Damn it! Aku lupa. Iya ya, mending fitness aja lah daripada bengong di rumah. Yang ada ntar malah kepikiran sama omongannya Denny.
Saat didalam bus, kebetulan bus yang aku tumpangi dengan Elliot berbeda. Jadi kita tadi Cuma sampai terminal doang jalan barengnya. Aku kembali membuka akun facebook ku. Masih dengan zero facebook tentunya. Ternyata sudah ada yang komen.

Maksutnya aku ya?

Itu isi komen dari akun dengan nama Beno D’ Junas. Aku sedikit berpikir. Ini akun punya Beno atau bukan ya? Maklum sajalah, zero facebook itu kan nggak keliatan fotonya coy!

Bukan kok, tapi my ex.

Langsung aku bales komennya. Sambil nunggu, aku memasang earphone ke telingaku.

Owh, emang udah ada mantan? Gimana tadi sekolah?

Huft, berarti ini memang akun milik Beno. Jelas saja aku tadi ragu. Setahuku dulu dan itu baru sekitar seminggu yang lalu nama akunnya masih Jonathan Beno Cullen. Ini anak satu emang maniak pengen menjadi salah satu dari keluarga Cullen. Dan nama akunnya berubah-ubah setiap waktu. Tipikal alay sepertinya. Aku langsung keluar dari facebook ku dan langsung mengirim sms ke nomor Beno.

Asik bgt td d skul. Lo gmna? Ud baekan?

Tanpa menunggu lama, Beno sudah bales smsku

Blom ni. Pgen drwat km. hhihi.
Mntan km sp si?

Ini anak kena virus apa ya? Smsnya kok bahasanya kayak sama pacar sendiri gini.

Bleh, sklian gw jg mau cba obat bru.
Sp tau mmpan d elo.
Mw tau aj, kan elo mntan gw

Agak lama juga aku menunggu balasan dari Beno. Mungkin itu anak sudah molor lagi.Tiba-tiba ponselku bergetar lagi. Sedikit menginterupsi Justin Timberlake yang tengah bernyanyi ‘cry me a river’ tepat di kupingku. Ya iyalah, aku kan pake earphone.

Kok mntan sih?
Aku kan pcar km.
Hhihi, obat cinta ya?

Ini anak sarap. Mungkin gara-gara panas badannya kemaren dia terjangkit penyakit aneh. Aku memutuskan untuk tidak membalas sms Beno. Selain aneh, juga sedikit memberi efek kejut terhadap jantungku yang menjadi lebih cepat berdetak. Please lah Gan! Ini kan Cuma sms dari Beno! Your ex enemie! Kataku pada diri sendiri. Jadi nggak penting banget buat deg-degan hanya karena Beno. Nggak penting! Lagian, mungkin Beno lagi iseng. Atau ini malah jangan-jangan Yoga yang ngebales? Buat ngejain aku? Tapi aku masih sangat mengharapkan jika itu memang sms balasan dari Beno dan dilakukan dengan kesadaran penuh tanpa paksaan. Jiah. Ngarep ceritanya.
***

Untuk merayakan kesembuhan Beno dan ini juga paksaan dari dia sendiri, Beno mengajakku makan malam bareng. Aku tidak akan menyebut ini romantic dinner. Karena pada dasarnya ini memang nggak romantic. Kita makan nasi goreng harga ceban di pinggir jalan dekat rumah Beno. Walaupun ceban, tapi enak. Sumpah!
Aku yang tadi memang sengaja memesan yang pedas, agak kewalahan sekarang. Kayaknya ini penjual harus di training dulu agar bisa bedain antara pedas dengan pedas banget. Aku mengambil es batu kecil yang mengapung dengan indahnya diatas es tehku lalu mengunyahnya perlahan agar rasa pedasku agak berkurang.
“Don’t you know how hot you look when you’re all hot the chilli and chewing ice like that?” aku sukses hampir menyemburkan es yang sedang aku kunyah mendengarkan perkataan Beno barusan.
“Haha, serius nih?” tanyaku yang langsung disahut dengan anggukan cepat Beno.
“you are so funny.” Kataku lirih sambil kembali meminum es teh ku.
“one of my many admirable qualities.” Aku sukses tertawa lagi. Apakah Beno sedang menggodaku? Kalau iya, dia berhasil. Maksutku, aku jadi berharap lebih tentangnya.Tentang perasaannya. Padahal, bukankah dulu aku yang meyakinkan diriku sendiri bahwa Yonathan Beno Wicaksono adalah lelaki straight dan aku pantang jatuh cinta dengannya? Lalu kenapa sepertinya aku mulai melanggar sendiri keyakinanku itu? Sedikit demi sedkit aku yang mulai bergantung padanya. Selalu merepotkannya. Kalau aku boleh melibatkan seseorang yang terlibat dalam hal ini, aku bisa menunjuk seorang Raditya Putra. Coba saja dia tidak sok sibuk dengan Rohisnya, mungkin aku tidak akan sedekat ini dengan Beno.
“kamu besok ada acara apa?” tanya Beno sambil melap bibirnya dengan tissue. Aku menggeleng pelan. Besok hari Minggu, lagipula tante Wasti (mamanya Radit) sedang keluar kota. Jadi mungkin besok aku hanya akan menghabiskan hari Mingguku dengan bermalas-malasan.
“mau ikut aku futsal nggak besok sore?” aku pura-pura berpikir sebentar. Padahal sudah pasti aku akan menolak. Hallo? Masih ingatkah Beno bahwa aku nggak bisa olahraga?
“nggak kayaknya.”
“kok gitu? Ayolah! Temenin aku! Ya? Ya? Ntar aku traktir wes.” Sepertinya semua orang tau bahwa kelemahanku adalah mendengarkan kata traktir.Tidak Beno tidak Radit selalu saja menggunakan kata ‘traktir’ agar aku memenuhi keinginan mereka. Dan sejauh ini masih berfungsi.
“okay.”
“sip, besok sore aku jemput.” Aku mengangguk malas. Demi traktiran, demi traktiran.
Sama seperti Denny, Beno adalah tipe cowok yang tepat waktu. Haruskah aku membandingkan cowok manapun dengan Denny? Sepertinya sadar tidak sadar aku memang melakukannya. Denny itu pacar pertamaku, jadi mungkin wajar saja.
Feelingku sudah mengatakan bahwa lapangan futsal adalah tempat yang tidak sesuai denganku begitu aku tiba di tempat. Dan ternyata dugaanku benar. Saat aku mengedarkan pandanganku, aku menemukan dia yang tengah bermain-main bola dengan kakinya. Ternyata selain jago basket, dia juga jago sepak bola.Tapi kenapa harus dia?
Dan sepertinya dia menyadari kehadiranku, sebelum dia yang menhampiriku duluan aku berjalan ke arahnya dengan senyum kecut.
“So, yo’re stalking me now?” Tanyanya begitu aku sudah dihadapannya. Denny masih memainkan bola di lututnya. Katakan padaku, apa sih namanya? Drible bolakah? Atau apa? Maaf saja, bukan hanya skill olahragaku yang payah. Pengetahuanku juga tidak bisa diharapkan tentang olahraga.
“bukannya kamu ada pertandingan basket hari ini?” tanyaku berusaha mengalihkan topic pembicaraan dan juga mengalihkan pikiranku dari kenyataan bahwa Denny terlihat sangat seksi dengan pakaian informalnya hari ini.
“kenapa? Kangen lihat aku maen ya?” tanya Denny sambil tersenyum menggoda. Tidakkah Denny takut ada yang mendengar perkataannya? Aku memutar kedua bola mataku sebelum akhirnya aku merasakan sebuah benda menghantam kepalaku.
Shit! I knew going to the futsal place was a bad idea! Dan pendangan di sekitarku pun menjadi buram sebelum akhirnya gelap.

Tbc. . .
See you in chapter 12,.
As soon as possible,.
Tapi nggak janji,.
Hhehe,.

1 komentar:

leave comment please.