FOLLOW ME

Jumat, 26 Juli 2013

KEPERJAKAANKU

Nancy menggeliat saat mendengar pintu kostnya diketuk. Namun karena masih mengantuk, apalagi semalam dia harus lembur mengerjakan pekerjaan kantor membuat Nancy mengacuhkan ketokan pintu tersebut. Awalnya Nancy tidak terganggu, namun semakin lama ketokan tersebut semakin meningkat intensitasnya dan sekarang sudah berubah menjadi gedoran. Oh My God, what the heel?!
Dengan sedikit emosi Nancy turun dari ranjang dan membuka pintu kostnya. Awalnya Nancy ingin marah, tapi rupanya sang tamu lebih dulu mengungkapkan kemarahannya sebelum Nancy.
“lu nyuruh gua jemput jam 8!! Dan sekarang tampang lu berantakan!! Gua yakin banget lu belum mandi, gua ada kuliah jam 9 Nan!!”, Nancy melongo saat sadar bahwa dia meminta Satria untuk menjemputnya jam 8. Ya Tuhan, gua lupa!! Nancy menjerit dalam hati dan memberi Satria cengengesan tak berdosa.
“masuk dulu Sat, gua mandi dulu? Okay baby? Wait a minute ya? Gua cepet kok”, Nancy berusaha untuk tidak menggubris tatapan Satria yang menohok mata. Lalu dengan gedebak gedebuk Nancy memulai acara mandinya. Satria juga terpaksa mengeraskan volume mp3nya saat Nancy mulai bersenandung di dalam kamar mandi. Untuk urusan menyanyi memang Nancy jagonya. Jago sekali merusak lirik dan nada lagu. 5 menit kemudian Nancy sudah nongol dengan seragam kerjanya.
“cepet amat lu mandi”, Satria sedikit mengerutkan keningnya. 5 menit? Cewek mandi 5 menit? Apa iya bisa disebut cewek? Satria saja menghabiskan sekurang kurangnya 15 menit di dalam kamar mandi.
“mandi? Kaga sempet kali gua. Masih ada hal penting yang harus gua lakukan di depan!!Jadi gua cuman cuci muka sama semprot parfum tadi”, kali ini kerutan kening Satria semakin dalam.
“buruan!!, ntar gua kaga sempet sarapan!! Mampir di warung depan ya?”, Satria melangkahkan kakinya keluar dari kost kostannya Nancy. Ternyata, sarapan lebih penting bagi Nancy. Salut!! Anak cewek yang luar biasa. Satria agak menatap ragu ke arah warung yang ditunjuk Nancy saat melintas tadi.
“lu yakin mau makan disini?”, tanya Satria sekali lagi. Sudah 3 kali Satria mengajukan pertanyaan yang sama.
“iya, kenapa sih? Murah tahu!!”, jawaban yang sama yang keluar dari mulut Nancy juga untuk ketiga kalinya.
“buruan gih menepi, gua uda laper banget!! Cepetan ntar gua telat lagi!!”, sambung Nancy.
“iye bawel!! Lu sendiri yang bangun kesiangan, gua kena imbasnya!! Uda syukur lu gua jemput”
Nancy memberikan senyum termanisnya lalu turun dari mobil padahal mobil Satria belum benar benar menepi. Dengan berlari lari kecil Nancy masuk kedalam warung tersebut. Satria hanya geleng geleng kepala, lalu mengikuti Nancy yang sudah lebih dulu masuk kedalam warung.
“makan kaga lu?”, tawar Nancy. Satria melihat seluruh warung tersebut dengan mimik mengerikan lalu menggeleng.
“gua uda sarapan tadi di rumah. Lu aja yang makan”, Nancy tersenyum sebentar lalu segera memesan soto ayam plus es teh.
“eh nyet, hubungan lu ma Afif gimana?”, Nancy bertanya di tengah tengah mulutnya yang sedang mengunyah makanannya.
“hha? Maksut lu?”, Satria ganti bertanya.
“uda ML?”, pertanyaan Nancy barusan sukses membuat mata Satria melotot.
“gila!!”
“tapi memang seharusnya begitu kan? Kalian kan kaga ada resiko hamil, masa uda 3 bulan pacaran belom pernah ML?”, Nancy sepertinya benar benar penasaran. Tapi pertanyaan Nancy barusan sedikit menyadarkan Satria, selama 3 bulan masa pacarannya Afif belom pernah melakukan hal lebih selain ciuman. Itupun ciuman kilat yang tidak bisa disebut ciuman. Bukannya Satria merasa tidak bahagia, hanya saja kini ia merasa janggal sendiri.
“jangan jangan Afif kaga nafsu kali sama lu”, Satria sedikit tersentak mendengar perkataan Nancy.
“serius? Emang Afif pernah cerita ke lu?”
“eh? Apa? Gua Cuma bercanda kali Sat!! Mana mungkin lah Afif anggurin lu? Iya kan?”, Satria hanya mampu tersenyum tipis. Namun benaknya kini dihantui oleh sesuatu. Afif kaga nafsu sama gua? Masa sih? Beberapa kali Satria mencoba mengingat moment moment saat dirinya dan Afif sedang berduaan.Tak pernah sekalipun Afif terlihat mengajak Satria ‘ehm ehm’, padahal kalau di ingat ingat banyak sekali kesempatannya. Apa iya gua kaga nafsuin? Atau jangan jangan Afif nafsunya masih sama wanita? Ya Tuhan!! Masa gua bakal jadi perjaka tua? Sementara Satria sedang galau, Nancy masih dengan santai menyantap sarapannya. Tidak sadar bahwa pertanyaan pertanyaan ringannya membuat sahabatnya galau. Setelah  prosesi sarapan yang sangat dihayati oleh Nancy, mereka kembali menuju mobil.
“bisa kaga sih kalo lu kaga dandan?”,  Satria mengeluarkan pertanyaannya saat melihat Nancy yang sedang sibuk mengoleskan lip balm pada bibirnya. Padahal Satria melajukan mobilnya lumayan kencang.
“gua kan cewek Sat”, jawab Nancy sambil mengoleskan blush on. Tangan kiri Nancy sibuk mengarahkan kacanya ke segala penjuru wajahnya.
“tapi kaga perlu dandan kayak gitu juga kali. Kayak selebritis aja lu!!”
“gua itu cewek!! Jadi wajib banget buat tampil cantik!!”, Satria hanya menggeleng gelengkan kepalanya. 2 bulan terakhir ini Nancy hobi sekali dandan. Bahkan ikut kursus di salon. Gila, umur Nancy mungkin mempengaruhi. Maklum, Nancy sudah menuju 28 tapi belom mendapatkan tambatan hati.
“tapi kaga perlu pakai bedak 5 kilo gitu juga kali. Asli!!, kayak pakai topeng lu!!”
“lu rempong deh Sat!! Kan gua yang dandan.”
“hhhh”, Satria hanya bisa menghembuskan nafas perlahan.
“lu frustasi banget ya kaga bisa dapetin gua?”, Nancy yang sedang asyik mempertebal maskaranya langsung menoleh ke arah Satria begitu mendengar kata kata Satria barusan.
“guk guk guk!! Sialan lu!!”, hmm. Jawaban Nancy ini ngambang. Tidak mengiyakan juga tidak menyangkal. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam. Nancy masih sibuk dandan, sedangkan Satria fokus pada jalan.
“gua turunin lu di pertigaan aja ya? Gua ada kuliah ni soalnya. Buru buru banget”, Nancy hanya mengangguk sambil memastikan bahwa penampilannya sudah maksimal. Siapa tau nanti ada klien yang tertarik? No bodies who know.
“thanks Sat”, kata Nancy sambil turun dari mobil Satria.
“yo, salam tu buat bos lu. Kenapa sih lu kaga kawin aja sama dia?”, ucapan Satria barusan langsung mendapatkan makian.
“brengsek lu!! Udah bangkotan gitu!! Oh ya, salam juga ya buat suami lu!! Bilang gua kangen gitu”, Satria hanya tersenyum tipis. Jangankan Nancy, Satria saja sudah 2 minggu tidak bertemu Afif. Sibuk sekali pacar Satria ini. Berangkat pagi dan pulang malam. Satria menghembuskan nafasnya perlahan, sekarang Afif sudah gua dapetin. Tapi rasanya sama sekali tidak ada perubahan. Bener kaga sih apa yang gua lakuin? Satria tak henti hentinya bertanya tanya di dalam hatinya, apakah Afif benar benar menyayanginya? Atau hanya atas nama persahabatan? Sial!! Gua bisa telat ngampus ni!!
***

Nancy menghempaskan pantatnya tepat saat Suryo, bosnya mendatangi mejanya. Sebisa mungkin Nancy memamerkan senyum termanisnya. Siapa tahu sang bos lupa kalau Nancy tadi telat 5 menit.
“semua bahan buat meeting sudah siap kan?”, sang bos bertanya dengan pandangan tajam. Seolah olah berkata punya-karyawan-kok-telat-mulu.
“sudah pak”
“bagus, jam 10 kita mulai”, Nancy hanya mengangguk menanggapi ucapan bosnya tadi. Sebenarnya sih, Nancy ingin sekali melempar vas bunga yang ada di mejanya tepat di kepala botak Suryo. Itu bos songong banget. Sambil merapikan mejanya, Nancy mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mencari nama Afif di kontaknya lalu mengsms teman baiknya itu.

‘lom pernah ML sm Satria kn?’

10 menit berlalu tidak dibalas. Padahal sumpah! Nancy penasaran gila. 3 bulan terakhir ini Nancy sibuk mensearching segala informasi tentang gay. Bukan apa apa, namun jika boleh jujur Nancy masih mengharapkan cinta Satria. Dan jika boleh jujur lagi, Nancy merasa sedikit senang saat merasakan bahwa hubungan Satria dan Afif belum sampai tahap yang mengerikan-menurut Nancy- itu. Aduh, sahabat macam apa ya gua? Bukannya dulu gua yang mendukung mereka? Nancy begitu sibuk bertanya tanya dalam hatinya saat handphonenya berbunyi.

‘gk pnting’

Cuma segitu balasan dari Afif. Buset dah. Nancy segera mempersiapkan bahan bahan yang semalam suntuk dia kerjakan. Salah satu alasan juga kenapa Nancy bangun kesiangan tadi pagi.
“Nan, disuruh keruangannya Pak Suryo tu”. Lanny, si mak lampir perawan tua yang selalu sadis terhadap junior berkata pada Nancy sambil tersenyum sinis. Nancy mengabaikannya dan langsung menuju ruangan Pak Suryo. Begitu masuk, sudah ada Pak Suryo, Pak Yoppie, Pak Asep dan lainnya. Kalau diperkenalkan satu satu takutnya ntar penulis lupa namanya. Kan berabe tu.
“ayo duduk disini Nan”, Pak Suryo menawarinya untuk duduk disisinya (ganti, disampingnya saja. Kalau disisinya kesannya kok seram ya?). Nancy memutar kedua bola matanya sambil tersenyum tipis lalu duduk disamping Pak Suryo. Setahu Nancy nanti bakal kedatangan tamu dari kantor pusat. Tapi sepertinya batang hidung mereka belum tampak. Seperti biasa, semakin tinggi jabatan seseorang berbanding lurus dengan intensitas keterlambatan seseorang tersebut. Baru setelah 15 menit berlalu dari jam yang dijanjikan, yaitu jam 10 mereka-orang orang dari kantor pusat- datang. Mereka mengenalkan diri secara singkat sambil berjabat tangan, dan Nancy lumayan tergetar saat tangannya berjabat tangan dengan seorang pria-kira kira 30 tahunan-berkepala plontos.
“Adrian”, Nancy sukses meleleh. Suaranya seksi gila. Ya Tuhan, ini sih nilainya lebih tinggi dari Satria. Okay, secara tampang Adrian masih dibawah Satria. Tapi secara sikap, Satria jelas bukan tandingan Adrian.
“Nancy”, ucap Nancy lembut. Sepanjang meeting, Nancy selalu curi curi pandang ke arah Adrian. Begitu juga sebaliknya. Ingin rasanya Nancy bercerita pada Satria atau Afif bahwa sekarang dirinya benar benar sudah terbebas dari jerat panah cinta Satria. Dengan catatan jika Adrian masih jomblo dan mau menjadi pacarnya Nancy. Oh bukan, Nancy tidak butuh pacar. Namun, yang Nancy butuhkan sekarang adalah calon suami.
Pada waktu jam pulang, Nancy sudah tidak sabar untuk bercerita pada kedua sahabatnya. Nancy segera mengambil ponsel didalam tasnya dan menghubungi no. Satria.
“heh Nyet!! Lu dimana?”, sembur Nancy begitu panggilannya dijawab Satria pada panggilan ketiga.
“dirumah Afif, kenapa lu? Ayan?”
“sial lu. Lagi happy ni gua!”
“ya udah, bawa makanan kalau lu mau kesini”
“siap!!”, kata Nancy sambil mematikan sambungan teleponnya.
***


“dari siapa?”, Afif bertanya saat Satria sudah menyelesaikan panggilannya.
“Nancy. Dia mau kesini sebentar lagi”, Satria menjawab dengan sedikit ketus. Bukannya Satria tidak senang mereka bertiga bisa berkumpul lagi setelah 2 minggu. Tapi, untuk saat ini Satria benar benar ingin berduaan saja dengan Afif. Salahkah? Namun sepertinya Afif tidak menginginkan hal yang sama.
“waduh, mesti masak ni”, Afif berkata sambil bangkit dari tempat duduk. Niatnya sih pengen pergi ke dapur, namun tangan Satria menarik Afif untuk duduk lagi.
“kaga usah yank, Nancy bakal bawa makanan banyak kok”, kata Satria sambil merebahkan kepalanya di bahu Afif. Dalam hati, Satria bertekad bahwa kalau bukan dirinya yang agresif maka mimpi bahwa dirinya akan menjadi perjaka tua akan kejadian. Beuh, jangan sampai deh. Amit amit. Tangan Afif membelai kepala Satria dengan lembut. Waktu untuk mereka berduaan seperti ini memang jarang sekali ada.
“manja banget hari ini”, Afif membelai pipi Satria dengan jari jarinya. Walaupun di dalam hatinya masih merasa ganjil dengan hubungannya bersama Satria, tetapi Afif tidak ingin menunjukkannya didepan Satria. Sebisa mungkin Afif berusaha untuk terlihat nyaman bersama Satria.
“hmm”, Satria hanya mengguman kecil. Tangannya dengan gaya santai membelai perut Afif. Jujur dan tidak bisa dipungkiri bahwa Afif merasa gairahnya tergugah dengan belaian tangan Satria di perutnya.Terbukti dari kejantanannya yang perlahan lahan mulai menunjukkan kekuatannya. Namun hati kecilnya mengusiknya, apakah yang dia lakukan bersama Satria ini adalah benar? Apakah, Afif benar benar menyayangi Satria seperti Satria menyayanginya? Atau hanya sebuah ilusi atas nama persahabatan? Perdebatan didalam hatinya membuat Afif diam tak bergerak.Takut untuk menanggapi pancingan pancingan yang sedang Satria luncurkan.
Satria benar benar tidak mengerti mengapa kekasihnya tetap diam tidak bergeming. Padahal Satria tahu gairah Afif sudah berkobar. Lalu mengapa Afif masih belum juga balik menyerangnya? Ditengah tengah kegalauan mereka berdua masing masing, Nancy muncul. Afif menghembuskan nafas lega, setidaknya Satria akan sedikit bersikap sopan dengan tidak mengusik gairahnya seperti tadi. Sedangkan Satria hanya mengerucutkan bibirnya. Menganggap bahwa Nancy adalah pengganggu. Seperti hama yang menjadi musuh petani. Seperti itulah perasaan Satria terhadap Nancy saat ini.
Dengan cengiran kudanya, Nancy segera duduk didepan Afif dan Satria. Menaruh barang bawaannya dan segera mengajukan pertanyaan yang lebih patut diajukan kepada pasangan yang baru menikah.
“so, apa gua mengganggu aktivitas kalian?”. Afif terbatuk, sedangkan Satria hanya memutar kedua bola matanya.
“gak kok, kan kita uda lama kaga ngumpul bertiga. Iya kan Sat?”, pertanyaan dari Afif barusan sukses membuat Satria semakin dongkol.
“he e”, jawab Satria singkat. Sementara itu Nancy yang sudah hapal luar kepala sifat Satria langsung tertawa ngakak.
“sorry deh Sat. Gitu aja ngambek”, Afif sedikit mengkerutkan keningnya. Tidak mengerti apa maksut dari perkataan Nancy barusan. Satria ngambek? Kenapa? Perasaan Satria biasa saja kok. Satria kembali mengkerucutkan bibirnya dengan gaya lucu yang membuat Afif gemas. Sambil pura pura masih ngambek, Satria membuka bungkusan yang tadi dibawa oleh Nancy. Satria langsung melongo.
“kok?”, kening Satria langsung mengkerut.
“hhehehe, ini kan akhir bulan Sat. hhehehehe”, seperti biasa, Nancy hanya memberikan cengengesan tidak berdosanya.
“mana kenyang nih kalau kayak gini!!”, Satria mulai ngedumel.
“gua masak aja”, Afif segera menuju dapur.
“aku bantuin yank?”, Afif segera melotot menanggapi tawaran Satria barusan. Afif masih waras dan masih ingin dapurnya baik baik saja.
“gak Sat, thanks”, kata Afif sambil lalu.
“hhahahaha, dikacangin ni ye”, Nancy langsung berkoar begitu Afif sudah berlalu. Namun tetap saja, suara Nancy yang seperti toa masih bisa didengar Afif yang berada di dapur. Afif hanya bisa tersenyum sendiri di dapur, sedangkan Satria langsung melotot.
“heh, lu kenapa sih happy banget?”, Satria berusaha mengalihkan suasana hatinya.
“gua baru aja ketemu cowok cakep tau!!”, Satria sejenak melongo lalu langsung tertawa ngakak.
“tiap hari lu juga ketemu cowok cakep kali. Ni yang lagi didepan lu”, Nancy mengibas ngibaskan tangannya begitu mendengar perkataan Satria barusan.
“yang ini beda tau Sat. Begitu ketemu tu gua kayak ada gimana gitu”, Nancy berapi api sambil sesekali mengambil kentang goreng yang tadi dibawanya dan mengunyahnya. Dengan berapi api juga.
“trus lu uda ngobrol sama dia?”, Nancy menggeleng.
“Cuma sempat kenalan doank”
“dia jomblo?”, Nancy kembali menggeleng.
“gua kaga tau”
“udah ada pemikiran buat langkah selanjutnya belom?”, sekali lagi Nancy menggeleng.
“gua cuman tau namanya doank”. Kali ini Satria yang geleng geleng kepala.
“dan lu langsung bisa membuat kesimpulan kalau lu jatuh cinta sama dia?”, tanya Satria heran
“lu kaga usah sok gitu Nyet!! Lu dulu juga jatuh cinta pada pandangan pertama kan sama Afif? Hha?”, Nancy tidak terima jika rasa yang sedang membuncah di dadanya ini diremehkan oleh Satria.
“sstt!! Berisik lu!! Tengsin gua kalau Afif tau!!”, tapi tetap saja Afif bisa mendengar percakapan mereka berdua. Lha wong mereka curhat tapi seperti ngomong di lapangan.
“trus siapa nama tu cowok?”, Satria kembali bertanya sambil tangannya mengambil kentang goreng yang dibawa Nancy.
“Adrian, seksi kan?”, lagi lagi Satria harus memutar otaknya. Adrian? Seksi? Darimananya? Orang Cuma nama doang bisa disebut seksi gitu? Nancy sarap parah nih.
“emang ciri ciri dia gimana?”, tanya Satria sambil tangannya sibuk mencari cari kentang goreng yang masih tersisa di dalam kantong plastik. Mendapati tangannya membawa hasil kosong, Satria langsung menurunkan pandangannya pada kantong plastik tempat kentang goreng tadi diletakkan.
“kok abis?”, Nancy cengengesan menanggapi pertanyaan Satria barusan.
“hhehehe, dia itu ganteng. Matanya tajam, hidungnya macung. Badannya oke punya. Pokoknya seksi dah!!”, perhatian Satria sepertinya belom teralihkan dari kentang goreng yang telah dihabiskan Nancy  tadi walaupun Nancy sudah sangat bergairah menjelaskan sosok Adrian.
“lu bawa sendiri, dihabisin sendiri. By the way, lu tadi nyritain gua ya?”
“monyet lu!! Gua nyritain Adrian tau!!”.
Afif nongol di ruang tengah tepat saat Nancy sedang menjitakki kepala Satria.
“makan malam?”, Nancy segera menghentikan aksinya menjitakki kepala Satria begitu mendengar tawaran Afif.
“siap!”, kata Nancy langsung berlalu ke ruang makan. Afif tersenyum ringan memandang tingkah laku Nancy kemudian mengalihkan pandangannya pada Satria yang masih duduk manis di sofa.
“kaga laper?”, Satria melengos. Tahu bahwa kekasihnya ini sepertinya sedang merajuk, Afif menghampiri Satria.
“kenapa dek Iya?”, Satria langsung tersenyum saat Afif memanggilnya dengan panggilan kesayangannya.
“pengen kentang goreng yank”, Afif sukses tersenyum. Memandangi Satria sebentar lalu mencium pipi lelaki yang sudah dipacarinya selama 3 bulan ini.
“aku masak ayam goreng”
Belum sempat Satria menjawab, sudah terdengar raungan Nancy dari ruang makan, “kalian mau makan kaga? Kalau kaga gua habisin ni!!”.Tanpa ba bi bu, Satria langsung bangkit dari tempat duduknya.
“jangan sentuh ayam gua!!”, teriak Satria tidak kalah kenceng.
***


Atas saran Nancy, Satria menginap di rumah Afif. Kata Nancy tadi, ini adalah malam yang tepat untuk melepas keperjakaan Satria. Dan Satria memang sudah mempersiapakan segalanya dengan sangat detail. Mengenakan celana dalam seksi yang rencananya  akan Satria pertontonkan hanya untuk Afif. Kalian tau celana dalam yang hanya menutupi kemaluan kalian namun pantat kalian terekspos untuk segera digarap? Itulah jenis celana dalam yang sekarang dikenakan oleh Satria. Meskipun Satria merasa kurang nyaman, karena beberapa kali seperti ada yang menyelip di antara belahan pantatnya tapi Satria rela. Demi Afif.
Afif sedang mengganti bajunya, seperti biasa tanpa malu malu didepan Satria. Haduh, kalau seperti ini ceritanya Satria bisa kalah sebelum berperang nih. Masa sudah terangsang duluan? Bukannya tujuannya ingin membuat Afif terangsang? Bodoh!! Dengan gaya PD, walaupun sebenarnya grogi minta ampun Satria melepas kaos yang dipakainya. Banyak teman teman sekampusnya yang iri dengan bentuk tubuh Satria yang ideal dan proposional. Otot otot yang ada sangat pas dan proposional. Namun malam ini Satria seperti kehilangan kepercayaan dirinya saat didepan Afif. Setelah menata dan memantabkan hatinya kembali, Satria melepas celana jeansnya. Sekarang terlihatlah Satria dengan celana dalam seksinya. Percaya diri, percaya diri! Kata Satria memotivasi dirinya sendiri.
“yank. . .”, panggil Satria perlahan. Afif yang sedang menggantungkan celana panjangnya menoleh. Melongo sesaat saat memandangi penampilan Satria. Dan Afif tak sanggup menahan tawanya.
“kamu make apa sih dek?”, Afif bertanya sambil masih terkikik. Satria sendiri tidak bisa berbuat apa apa. Karena melihat penampilan Afif yang sekarang. Sama dengan Satria, hanya memakai celana dalam. Hanya saja, celana dalam Afif masih tergolong ‘normal’. Namun justru itu yang membuat Satria tidak bisa menyembunyikan kelelakiannya yang sudah meronta ingin keluar dari kain tipis yang menutupinya. Kikikan Afif pun berhenti saat menatap kepala kontol Satria yang sudah nongol dari ban karet celana dalamnya. Afif berjalan perlahan menghampiri Satria, tangannya dengan lembut menyentuh kelelakian Satria.
“nongol ni dek”, kata Afif dengan nada serak. Tangan kanannya dengan lembut membelai bagian terintim dari kekasihnya tersebut. Satria merasa dirinya seperti melayang, baru kali ini bagian yang tidak pernah disentuh orang lain itu di belai secara lembut oleh pacarnya. Dan Satria juga tak ingin tinggal diam. Tangannya mulai aktif menggerayangi Afif, dan Satria merasa sangat luar biasa bahagia hanya dengan menyentuhkan tangannya ke seluruh bagian tubuh Afif tanpa terkecuali. Rasanya ingin Satria menunjukkan kepada dunia bahwa Afif adalah miliknya. Akhirnya Afif mencium bibirnya dengan mesra, ciuman terdalam yang pernah dirasakan oleh Satria. Satria merasakannya, benar benar merasakannya saat tangan Afif sedikit menelusup di balik seutas kain yang menutupi belahan pantatnya. Sedikit mendesah saat jari jari Afif berusaha untuk masuk.
“beneran udah siap dek?”, bisik Afif tepat di telinga Satria. Satria hanya bisa mengangguk, membiarkan Afif mengeksplore daerah yang Satria pun belum pernah melihatnya. Satria benar benar merasa bahagia luar biasa, bukan karena sentuhan sentuhan ini. Namun lebih karena yang menyentuhnya adalah Afif, lelaki yang selama 3 tahun terakhir ini selalu menghantui pikirannya. Malam yang luar biasa.
Afif mendorongnya jatuh di atas ranjang. Saat Satria sudah diatas ranjang, dengan sekali sentak Afif meloloskan celana dalam seksi Satria. Afif kemudian berdiri, mengobrak abrik laci untuk mencari kondom dan rubrican. Melorotkan celana dalamnya dan bersiap memakai kondom.
“jangan pakai kondom, please?”. Suara dengan sedikit desahan itu keluar dari mulut Satria. Satria saja sampai tak sadar jika suaranya bisa seperti itu, kalau boleh jujur hampir  mirip pelacur. Afif kemudian membuang kondom yang hampir disarungkan ke kejantanannya yang sudah mengacung hingga menyentuh pusarnya. Dengan tanpa malu malu, Afif kembali ke atas ranjang, namun belum sempat Afif beraksi Satria sudah menyelomoti batang kontolnya. Bahkan, Afif sendiri tidak menyangka. Lelaki yang sangat suka kebersihan itu begitu bernapsu mengulum dan memainkan alat kencingya. Namun, yang lebih membuat terkejut Afif juga tanpa risih melumat bibir Satria yang jelas jelas tadi telah digunakan untuk menyelomoti perkakasnya.
“Fif, aku siap”, kata kata itu dibisikkan Satria tepat di telinga Afif. Dan Afif mengerti. Afif mengambil rubrican yang tadi ditaruhnya disamping ranjang. Mengolesi jarinya dengan rubrican dan kemudian berusaha menembus lubang keperawanan Satria. Satu jari berhasil masuk, Satria agak merintih.
“sakit dek?”, Satria menggeleng. Dua jari kini berusaha Afif masukkan, Satria kembali merintih.
“kalau sakit kaga usah diterusin dek. Ini baru jariku lho”, kata kata Afif barusan sukses membuat Satria sedikit tersenyum kecil.
“I’m fine. Trust me”, Afif mengangguk kecil. Mengeluarkan kedua jarinya lalu mengolesi batang kelelakiaanya dengan cairan pelumas dan berusaha menembus lubang kecil milik Satria yang Afif tau belum pernah disentuh siapapun. Satria merasa pedih luar biasa saat kepala penis Afif berusaha untuk menembus lubang keperawanannya. Mules, mual dan panas. Namun Satria tidak menunjukkannya didepan Afif. Satria ingin menjadi milik Afif seutuhnya.
Dengan sekali sentak, Afif berhasil membenamkan seluruh batang penisnya. Dan tanpa bisa dicegah, Satria kembali merintih.
“are you okay? Sakit sayang?”, kata Afif sambil menciumi pipi dan hidung Satria. Satria menggeleng, air matanya mengalir namun bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman manis.
“aku bahagia Fif”, Afif tersenyum mendengar pengakuan Satria yang diucapkan dengan sangat lirih. Dan kemudian bibirnya kembali melumat bibir Satria sambil pantatnya mulai bergoyang. Butuh waktu 20 menit untuk Afif memuntahkan lahar pertamanya didalam lubang milik Satria. Setelah itu, walau awalnya ragu tapi Afif akhirnya mau juga melumat penis Satria hingga muncrat. Satria sendiri merasa bahagia walaupun kalau boleh jujur, pantatnya panas luar biasa. Afif memeluknya, memberikan lengannya untuk dijadikan bantal oleh Satria.
“I love you”, kata itu terucap dari bibir Afif. Kembali air mata Satria tak kuat untuk tak jatuh.
“I love you too”, jawab Satria sambil membenamkan kepalanya di bahu milik Afif.
“so much”, sambung Satria lirih.
***


Walau sudah 2 hari berlalu namun Satria masih samar samar bisa merasakan penis Afif didalam dirinya. Dan anehnya, Satria ingin lagi. Walaupun Satria juga tidak bodoh bahwa itu sakit, namun sepertinya ada sesuatu didalam dirinya yang ingin mengulangi peristiwa 2 malam lalu. Tanpa pikir panjang, Satria segera mengarahkan mobilnya ke arah rumah Afif. Didalam hatinya sudah membuncah bahagia ingin bertemu dengan kekasihnya tersebut. Kekasih yang sangat dicintainya. Satria lumayan terkejut saat didalam halaman rumah Afif ada dua mobil. Mobil Afif yang pertama dan yang kedua, Satria tidak lupa. Selama menjadi sahabat Afif selama 3 tahun, Afif pernah sangat tergila gila pada seorang wanita. Dan Satria hapal mobil itu, milik Andini. Wanita yang dulu sangat digila gilai Afif. Kenapa wanita itu kembali? Bukannya seharusnya wanita itu sudah kembali ke Semarang? Bersama selingkuhannya yang dulu sempat membuat Afif  meradang? Sekarang Satria yang meradang, jika saingannya laki laki Satria percaya diri. Toh wajahnya bisa terbilang tampan. Namun kalau saingannya perempuan? Satria bisa apa? Satria merundukkan kepalanya hingga menyentuh stir mobilnya. Entah berapa lama Satria tak sadar. Satria baru sadar ketika ada seseorang mengetuk  jendelanya. Dan karena reflek, Satria membuka kaca jendelanya. Satria juga baru sadar ternyata matahari sudah terbenam.
“sampai kapan mau disini dek? Kaga masuk?”, itu wajah Afif yang nongol. Satria salah tingkah. Tidak tau apa yang mesti dia lakukan. Terpergok disini, oleh Afif mungkin bisa menimbulkan spekulasi negative yang sedang dipikirkan di kepala kekasihnya tersebut.
“kamu tadi ada tamu”, jawaban formal dan kaku yang ditujukan untuk seorang pacar. Afif tersenyum ringan.
“mau masuk? Sedikit mendengar curhatanku?”, Satria melajukan mobilnya masuk kedalam pekarangan rumah Afif. Setelah memarkirnya, Satria turun dari mobilnya.
“tadi itu Andini kan?”, Satria langsung menutup mulutnya begitu mendengar dirinya menyebut nama Andini. Bodoh!! Ini sama saja gua ngomong ke Afif kalau gua sudah dari tadi memata matainya. Bangsat!! Gua keceplosan!! Satria terus menerus mengumpat didalam hatinya.
“iya, dia baru putus sama pacarnya”, mata Satria langsung melotot dan semua indranya langsung waspada. Terutama hatinya, siap siap jika nanti dia akan mendapatkan kenyataan pahit. Dicampakkan setelah keperjakaannya direnggut, itu kedengarannya gak asik banget.
“masuk yok? Aku uda masak tadi”, Satria memaksakan untuk mengumbar senyum manis. Perkataan Afif barusan sedikit mengobati kekesalannya. Satria lapar dan makanan adalah hal pertama yang sangat dibutuhkannya sekarang. Afif merangkulnya, walaupun agak kesulitan jika dilihat dari tinggi badannya yang selisih 10cm dengan Satria. Dengan baik hati, Satria yang merangkul Afif. Afif tersenyum lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Satria. Kalau dilihat seperti ini maka Afif terlihat seperti bottomnya Satria. Kenyataan berbicara sebaliknya.
“enak dek?”, Afif bertanya saat Satria sudah menghabiskan semangkok pudding dan sepiring nasi goreng. Satria mengangguk.
“tadi Andini minta balikan. Ingat gak ceritaku dulu dulu?”, Satria menunduk mendengar pengakuan Afif barusan. Minta balikkan? Cerita cerita Afif dulu? Cerita yang mana? Cerita dimana Afif begitu mendamba Andini? Atau malam malam dimana Afif begitu murung ketika baru saja putus dari Andini? Semua cerita itu kabar baik untuk Andini, namun mimpi buruk buat Satria. Jangan jangan putus?
“aku menolaknya”, Satria sukses tercengang. Kata kata Afif barusan diluar dugaan Satria.
“memang aku belum yakin dengan hubungan kita kedepan, kalau aku boleh jujur. Tapi aku pengen mencoba. Setidaknya, bersama orang yang sangat mencintai aku”, saat mendengar pengakuan Afif barusan justru hati Satria yang tercabik. Apa yang bisa Afif dapatkan dari dirinya? Anak? Aduh, jangan yang terlalu muluk dulu. Restu orang tua saja belum tentu mereka dapatkan. Satria menghembuskan nafasnya secara perlahan, mengapa cinta harus dibatasi oleh jenis kelamin? Ini menyebalkan!!
“hey, kok ngelamun?”, Satria menggeleng gelengkan kepalanya.
“gak kok Fif, apa?”, Satria balik bertanya.
“aku pengen yang kemaren, boleh?”. Satria agak tertegun untuk sesaat. Agak agaknya kekasihnya ini mulai kecanduan.
“I bet I won’t”, kata Satria sambil memeluk Afif merapat ke tubuhnya. Saat bibir Afif sudah hampir menempel tepat pada bibir Satria, ponsel Satria berbunyi.
“damn it!!”, sambil mengumpat Satria menjawab panggilan teleponnya.
“halo”, nada emosi jelas tampak saat Satria menjawab panggilan telepon itu
“Sat, gua butuh elu”, suara diseberang adalah milik Nancy. Dan Nancy menangis bahkan suara isakannya terdengar jelas.
“okay, lu dimana? Gua sama Afif bakal kesana!!”, Satria mulai panik sekarang. Nancy jarang sekali menangis.
“gua di kostan. Sat. . .”
“iya? Apa?”
“bisa lu aja yang datang?”, Satria agak berpikir sejenak dengan permintaan Nancy barusan yang terdengar sangat aneh.
“Sat? Please?”, ini pertama kalinya Nancy memohon dengan sangat benar.
“okay. Tunggu bentar. Gua kesana!!”, kata Satria sambil mematikan sambungan ponselnya.
“siapa dek?”, pertanyaan Afif yang diiringi dengan pelukan mesranya dari belakang.
“mama, emm mama sakit. Aku pulang dulu sayang”, kata Satria spontan dan cepat tanpa memikirkan efek yang dia ucapkan. Satria mencium bibir Afif kilat dan langsung berlalu. Namun Satria tidak sadar bahwa Afif mencurigainya. Bicara dengan mamanya pakai elu-gua? Percakapan Satria ditelepon tadi membuat Afif benar benar curiga dan memutuskan untuk membuntuti kekasihnya.
Satria masih tidak sadar jika dirinya dibuntuti, kepanikkannya akan suara Nancy tadi benar benar membuatnya kalut.
***


“bagus Nan, pancing sahabatmu itu kesini”, suara pria itu terdengar mengerikan ditelinga Nancy.
“what do you want?!”, Nancy berteriak histeris
“gua cuman pengen ketemu Satria. Saat gua lihat foto Satria di dompet lu, gua jadi teringat seseorang di masa lalu gua”
“please Adrian, Satria sahabat gua”, Adrian menyeringai yang membuat Nancy bergidik. Suara mobil yang direm mendadak membuat Adrian langsung waspada.
“jangan membuat suara mencurigakan”, peringatan yang bukan sekedar main main diucapkan oleh Adrian sambil dirinya bersembunyi dibalik pintu. Tak selang berapa lama pintu dibuka oleh Satria.Tanpa ba bi bu, Satria langsung memeluk Nancy yang berada di pojok ruangan.
“hey, are you okay? Lu baik baik aja kan?”, tanya Satria ditengah tengah isakan Nancy.
“maafin gua Sat. maaf”
“sshh, gak papa. It’s okay”, kata Satria sambil tangannya membelai belai rambut Nancy.
Plok plok plok
Tepukan tangan itu membuat Satria menoleh. Melihat pria plontos yang dirasa masih asing oleh Satria. Namun radar didalam dirinya menyatakan kewaspadaan tingkat dewa.
“lama tidak bertemu Afriawan Satria”, Satria sedikit memelengkan kepalanya kekiri.
“siapa?”
“orang yang 9 tahun lalu begitu kamu banggakan”, kejadian mengerikan yang Satria simpan rapat rapat didalam kekelaman masa lalunya kembali menghantam ingatan Satria.
“Adrian”, ucap Satria lirih.
“bingo!!”, jawab Adrian sambil menjentikkan jarinya.
“kamu tumbuh menjadi pria yang tampan Awan, kak Ian suka”. Lanjut Adrian. Satria gemeteran, masa lalu yang dikira sudah terbuang jauh dari kehidupannya kini mengusiknya kembali.
“kenapa diam saja Awan? Tidak adakah kata kata yang ingin kamu ucapkan untuk kakak? Atau pelukan? Ciuman mungkin?” Satria semakin gemeteran. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan punggungya. Nancy yang tadinya juga ketakutan kini malah lebih mengkhawatirkan kondisi Satria.
“Sat? lu gak papa? Ya Tuhan!! Sat!! Maafin gua Sat!!”, Nancy berusaha membuat Satria ‘kembali’, tangan Nancy tak henti hentinya menepuk nepuk pipi Satria.
“dia dulu mau memperkosa gua”, kata kata itu di ucapkan sangat lirih dan terbata bata oleh Satria. Bayangan bayangan saat dirinya dimasukkan ke gudang, tangan dan kakinya diikat. Lalu kemudian ditelanjangi secara paksa. Tamparan, tendangan bahkan saat dirinya akan disodomi kembali membayang didalam ingatan Satria. Satria berteriak histeris.
“pergi!! Please!! Jangan ganggu gua lagi!!”
“oh Awan, kak Ian kangen tahu”, kata Adrian sambil mendekati Satria. Nancy langsung menghadang.
“jangan ganggu dia Adrian!! Please? Lu bohong!! Bukan gini tadi perjanjiannya!!”, Nancy tak kalah histeris berteriak.
“jangan ganggu jalang!! Lu Cuma bidak. Dan peran lu sudah berakhir”, kata kata itu diringi dengan tembakan pistol yang diarahkan tepat ke arah Nancy.
“it’s over”, kata Adrian santai. Melihat Nancy yang berlumuran darah, Satria langsung menubruk Adrian dengan membabi buta. Namun tak sedikitpun Adrian oleng. Adrian diam tak bergeming. Dengan sekali sentak Adrian merobohkan Satria.
“diam atau gua tembak?”, Satria kembali menerjang. Kemana tenaganya? Kenapa rasanya seperti tidak punya tulang?
“tembak!! Gua kaga takut!!”, Satria meradang. Emosinya meluap luap. Ya Tuhan, selamatkan Nancy!!
“kak  Ian berubah pikiran. Sepertinya lebih asik kalau kamu kakak jadikan boneka kakak. Jadi tidak bisa protes, bagaimana Awan?”, Adrian mengarahkan moncong pistol tepat ke arah Satria. Satria hanya bisa pasrah.
“jadilah boneka yang baik untuk kakak ya?”, ucap Adrian lagi sambil menarik pelatuk pistol.
Door!! Bruug!!
Tembakan itu meleset karena pukulan benda keras tepat di kepala Adrian. Afif bersyukur Satria masih baik baik saja. Namun kemudian memandang ngeri ke arah Nancy.
“Sat, bantuin aku ngangkat Nancy ke mobil”, Satria bertindak cepat.
***


Keadaan Nancy membaik walaupun sempat kritis beberapa hari karena kekurangan darah. Namun sekarang semuanya baik baik saja. Hanya saja, Afif sepertinya berubah sikap. ‘Mendiamkan’ Satria begitu saja, seolah olah Satria tidak tampak olehnya walaupun mereka satu ruangan. Seberapa seringnya Satria mengajak Afif berbicara, namun Afif tidak menanggapi. Atau pura pura tidak mendengar.
“Afif kecewa sama gua kayaknya Nan”, suara itu keluar dengan nada putus asa. Nancy yang sedang berbaring tidak bisa berkomentar apa apa, karena dirinya pun tidak tahu apa yang menjadi dasar perubahan sikap Afif.
“dia kecewa karena gua adalah korban sodomi? Korban penganiayaan?”, Nancy membelai pelan tangan Satria. Mencoba memberi dukungan.
“Afif gak mungkin seperti itu Sat”
“tapi buktinya? Udah seminggu Afif kaga nganggep gua ada!! Gua sayang dia Nan!! Sayang banget”, Nancy mengutuk perbuatannya beberapa hari lalu. Mengapa dia begitu bodoh?
“ini semua gara gara gua Sat, gua bodoh!!”
“sst, bukan salah lu kok. Kalau jodoh kan kaga kemana? Iya kan? Lu sendiri yang bilang dulu”, Satria miris sendiri mendengar kata kata yang baru saja diucapkannya. Jodoh? Naïf sekali pikirannya. Jelas Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, bukan Adam dan Steve. Ponsel Satria bergetar.

‘kita perlu bicara’

Itu sms pertama dari Afif selama hampir seminggu ini.

‘dimn? Kpn?’

Balas Satria cepat.

‘d rmhku. Skrg, bsa?’

Satria mengantongkan ponselnya kembali. Hatinya waspada, benarkah apa yang Satria takutkan selama beberapa hari terakhir ini akan terjadi? Dicampakkan oleh Afif? Setelah pamitan dengan Nancy, Satria langsung mengendarai mobilnya ke arah rumah Afif. Hingga sampai di pekarangan halaman rumah Afif, Satria bingung. Sepi sekali, bahkan mobil Afif pun tak tampak. Dengan ragu ragu Satria melangkah masuk. Awalnya ingin mengetuk, namun Satria urungkan saat menyadari bahwa daun pintunya sudah sedikit terbuka. Satria menemukan Afif sedang duduk di kursi didepan tv. Saat mendengar langkah Satria, Afif menoleh.
“hi”
“hi juga”, jawab Satria kaku. Afif tersenyum, sambil menepuk nepuk kursi disampingnya. Satria mengerti kode itu dan tanpa membuang waktu Satria duduk disamping Afif.
“Andini ingin mengajakku menikah”, Satria diam. Sengaja karena tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Afif.
“aku berpikir bahwa mungkin aku masih mencintainya. Aku juga berpikir bahwa mungkin aku akan memiliki anak bersamanya, satu atau dua. Lima anak mungkin? Dan kita mungkin akan menjadi keluarga yang bahagia”, jujur Satria sesak mendengar pengakuan Afif barusan. Berusaha mati matian menahan air matanya supaya tidak keluar.
“lalu seminggu ini aku menguji untuk tidak menggubrismu, mencoba untuk membuat kamu seolah olah tak ada. Dan aku tak bisa, semua pikiranku tentang keluarga pada ‘umumnya’ buyar. Aku tak mungkin bisa bahagia kalau bukan kamu yang disampingku Sat. Aku mencintaimu”, Satria tidak kuat lagi menahan air matanya. Jebol sudah dan membanjiri pipinya.
“aku juga mencintaimu. Sangat!!”
“ya, aku tahu. Tapi jangan bohong lagi, bisa?”, Satria mengangguk yang langsung dihadiahi ciuman manis dari Afif.
***


Nancy baru saja akan terpejam saat ada seseorang masuk kedalam kamarnya. Pak Suryo, ngapain dia kesini?
“kantor sepi tanpa kamu”, Nancy hanya tersenyum tipis mendengar kalimat pembuka yang di ucapkan pak Suryo. Seharusnya pak Suryo mengucapkan ‘semoga cepat sembuh’. Tapi ya lumayan, ucapannya ini tidak begitu buruk.
“dan terlebih saya yang sangat merindukan kamu”, Nancy sukses melongo.
“jangan bikin saya khawatir lagi”, Nancy kemudian tersenyum. Kenapa dia tidak menyadarinya? Ada cinta yang sedekat ini dengan dirinya?
“maafkan saya pak. Saya akan berusaha lebih baik”, jawab Nancy sambil tersenyum. Kali ini sepertinya calon suami sudah pasti ada didalam genggaman.


The End


Ardhinansa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.