FOLLOW ME

Rabu, 17 April 2013

CERITAKU 7


CERITAKU 7



Aku masih terpaku mendengar suara ayahku. Begitu ingin berlabuh ke dalam pelukannya.Tapi itu mustahil. Seperti ada tembok yang memisahkan aku dan ayahku.Tembok tak tampak yang di dasari oleh amarah.
“ayah?”, tanyaku bloon. Ayahku tersenyum tipis. Seperti tidak menyangka kalau aku akan datang mengunjunginya di sini.
“yok kesini Nan, kita ngobrol di dalam saja. Mah, tolong di buatkan sesuatu yang special dong.” Kata ayah pada Sri Indarwati. Dia menyuruh istrinya, bukannya menyuruh mbok Tum. Aneh. Aku hanya mengikuti ayah ke rumah bagian dalam dengan diam dan mengamati Sri Indarwati yang berlalu, mungkin ke dapur.
“jadi ada angin apa ini kamu datang ke ayah?”, ayah bertanya dengan antusias. Aku bingung. Sangat tidak mungkin aku bilang ke ayah bahwa aku datang karena aku kangen.Tidak, aku kaga bakal ngomong seperti itu. Walaupun sejak bertemu di rumah sakit itu, aku benar benar ingin dekat dengan ayahku seperti saat saat dulu sebelum aku tau artinya sebuah perceraian. Gengsiku terlalu tinggi untuk mengatakan bahwa aku kangen, walaupun itu kenyataanya. Jadi aku berpikir, berpikir keras.
“aku sepertinya kurang enak badan”, aku berkata kemudian. Demi Tuhan, ini adalah alasan paling bodoh, paling konyol dan memalukan. Itu sama aja aku minta di priksa gratis kan? Ada gitu ayah yang tega meminta uang dari anaknya? Stupid! Aku merutuk pada diriku sendiri. Lagi lagi ayahku hanya tersenyum tipis.
“ke sini Nan”, ayah menuntunku ke ruang praktiknya. Aku hanya diam sambil mengikuti ayah. Masih mengutuki diri sendiri.
“berbaring di situ Nak”. Aku menuruti perintah ayah. Berbaring di ranjang beralaskan sprei putih.
“memang ada keluhan apa?”, ayah bertanya sambil sibuk mencari sesuatu. Aku berpikir keras, mual? Pusing? Oh, please dah itu mah gejala ibu ibu angkatan mau hamil.
“kalau malam sering agak demam yah”, akhirnya aku berkata dengan nada lirih.
“ada gejala lain?”. Aku menggeleng. Ayahku memeriksa denyut jantungku. Lalu kemudian tekanan darahku. Kening ayahku bertaut, seperti berpikir keras.
“semua normal kok”, kata ayahku bingung. Ya iyalah, aku kan emang sehat wal afiat.
“mungkin kamu terlalu kecapekan aja sayang”. Tambah ayahku kemudian. Aneh kaga sih kalau seorang ayah memanggil anak lelakinya dengan sebutan ‘sayang’? Menurutku biasa saja, karena jujur justru itu yang aku inginkan. Merasa di sayangi oleh ayahku sendiri. Kasihan sekali ya nasibku? Biar lha.
“ayah beri vitamin saja ya?”
“iya ayah”. Aku menjawab dengan senyum kaku. Percakapan ini terasa janggal, tapi wajar sih. Aku dan ayahku terakhir ngobrol, benar benar ngobrol itu sudah lebih dari 2 tahun lalu. Saat itu ayah ingin aku meneruskan SMA ku dengan tinggal bareng ayah dan istrinya yang sekarang. Oke, aku akui waktu itu kami tidak mengobrol dengan santai layaknya ayah dan anak. Kami debat waktu itu. Hampir saling teriak. Tapi itu masih masuk dalam kategori percakapan kan?
“bagaimana kabar ibumu dan Reno?”, kata ayah sambil menarik kursi untuk duduk di depanku.
“ibu baik baik aja yah, kalo Reno dia lebih dari baik baik saja”, kataku di plomatis. Ayahku tertawa kecil. Aku pernah bilang kan kalau Reno mewarisi hidung mancungnya dari ayahku? Ayahku sebenarnya berwajah cukup menarik, tidak bisa di bilang biasa biasa saja tapi juga tidak patut untuk di bilang rupawan seperti om Bimo. Akhirnya aku ngobrol seru dengan ayahku, hal yang sudah lama sangat aku impikan. Walaupun tetap aku jaga jarak, entah kenapa aku belum bisa menerima ayah seutuhnya.
Jam setengah 9 malam ayah mengantarkan aku pulang. Hanya sampai di depan gang, karena pada dasarnya mobil memang tidak bisa masuk ke dalam gang rumahku. Hanya sepeda motor yang bisa leluasa keluar masuk. Sebenernya mobil juga bisa masuk, tapi pasti akan ngepres banget. Nekad membawa mobil masuk itu berarti harus siap mendengar umpatan dari pengendara sepeda motor, seperti :
“ini bukan jalur mobil, bego!!”. Tenang, sapaan itu masih tergolong sopan. Dulu ada yang sampai di tegur seperti ini, “anjing!! Ini bukan jalan umum!!”.
Ngeri kan? Padahal jelas jelas itu memang jalan umum. Tapi sepertinya ada peraturan tidak tertulis bahwa mobil dilarang keras lewat.
Aku berjalan melewati gang tersebut, begitu sampai rumah aku langsung menuju kamarku. Ibuku menyusulku masuk ke dalam kamarku sesaat setelah mengetuk pintu kamarku.
“tidak makan malam Nak? Ibu uda siapin tadi”, kata ibuku sambil membelai rambutku.
“Nansa mau ganti baju dulu”
“mandi?” ibuku bertanya dengan kening mengkernyit.
“iya, Nansa bakal mandi”, kataku sambil mengambil handuk yang ada di dalam almariku. Ibuku hanya tersenyum ringan lalu berlalu dari kamarku. Aku mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi, hanya dengan berlilitkan handuk aku makan malam. Ibu sedang nonton tv, Reno ada di ruang tengah bersama Nia. Mungkin Nia tadi berniat mengambil mangkok rujak kemarin, tapi lalu berpikir apa salahnya bermain main sebentar dengan si cute Reno? Makanya sekarang mereka sedang asik cekikikan di ruang tengah. Bukannya aku cemburu, No!!! Sama sekali tidak, tapi agak kesal saja. Kesal dan cemburu itu berbeda, right? Setelah mencuci piring dan sendok bekas makanku aku langsung berlalu ke kamarku. Melepas handukku, dan karena aku begitu malas untuk sekedar mengambil celana dalam aku langsung menelusup ke balik selimut dan terlelap.
***



Sekitar setengah 5 aku terbangun karena ingin kencing, lalu aku menyadari bahwa aku tidak tidur sendiri. Sejak kapan aku berbagi ranjang dengan Reno? Dan posisi ini, antara suka dan tidak suka. Reno memelukku sedemikian rupa, sehingga tanganya tepat berada di pusarku. Turun sedikit saja dia akan tau bahwa ‘adik’ kecilku sedang menggeliat bangun.
Shit!! Aku segera turun dari ranjang, mengambil boxer langsung mengenakannya sekenanya. Daripada hanya kencing mending aku mandi sekalian, daripada ntar telat lagi. Huuu, kaga bakal!!
Jam 6 lewat 15 menit aku sudah berada di depan gang. Aku berencana untuk naik angkot ketika sebuah motor berhenti di depanku.
“naek”, si empu motor tanpa melepas helm berkoar. Aku sangsi, melihat seragam yang di kenakan sih dia juga pasti siswa dari sekolahku.Tapi melihat gelagatnya aku jadi ragu.
“buruan!!”, aku yakin sekarang. Rafky. Sejak kapan dia mau memberiku tumpangan ke sekolah? Melihat aku saja dia melengos.Tapi ini namanya kesempatan. Pengiritan pula, tidak perlu keluar uang Rp 1000,00 untuk angkot. Jadi aku dengan PD naik. Tak menunggu sampai pantatku beradaptasi dengan jok motornya, Rafky langsung tancap gas. Dasar brengsek!!
Begitu sampai di parkiran sekolah aku jadi grogi sendiri, bahkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih saja aku masih pikir pikir. Pantes kaga sih Rafky di beri ucapan terima kasih? Sopan Nansa, lu kan uda di boncengin!!
“thanks Raf”, aku sudah mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh memanggilnya Riri.
“hmm”, gondok setengah mati. Tanggapanya hanya ‘hmm’. Aku berlalu dari makluk neraka ini tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Daripada ntar nyesek. Dengan gontai aku melangkah masuk ke dalam kelas. Lalu memilih duduk di baris no 2 dari belakang, posisi nyaman dan aman. Tak berapa lama kemudian Andi masuk, tersenyum manis padaku lalu duduk di sampingku.
“mau siomay?”, tawarnya sambil mngangkat siomay tepat ke depan bibirku. Sudah di gigit, terlihat dari plastik yang sudah porak poranda ujungnya di perkosa giginya Andi. Aku tertegun, berarti ini ciuman tidak langsung. Tunggu dulu, selama aku pacaran dengan Andi sepertinya belum ada adegan dimana Andi menciumku dengan ganas dah. Atau sudah ada tapi aku lupa? Kalau pembaca pernah membaca Andi pernah mencium bibirku, tolong hapus scene itu dari ingatan kalian. Anggap aku belum pernah melakukan french kiss dengan Andi. Karena seingatku Andi hanya pernah mencium di pipi dan di keningku.
“mau kaga sih? Pegel ni tanganku”, Andi bermaksut menurunkan tangannya. Aku cegah sebelum terlambat, langsung  memakan siomay dari bekas gigitan Andi. Deg deg sir rasanya. Dan saat adegan itu, saat aku memegangi tangan kanan Andi dan sedang dengan nikmat menggigit siomay-bekas-gigitan-Andi-itu, Rafky masuk kelas. Aku salting sendiri, sedangkan Andi dan Rafky sepertinya biasa biasa saja. Apakah hanya aku sendiri yang merasa bahwa sesama lelaki saling suap suapan siomay itu aneh? Karena penghuni lain di kelas ini sepertinya biasa biasa saja. Berarti aku harus segera ke psikiater. Terkena gejala gila ringan.
“semalem kemana aja? Smsku kaga di bales”, Andi manyun. Lucu sekali, terlihat seperti anak kecil. Tapi memang wajahnya seperti anak kecil sih, terlihat lugu dan polos.
“kaga ada pulsa”, aku menjawab jujur, walau tak sepenuhnya benar. Karena sampai saat ini aku belum sempat membuka hpku.
“mau aku isiin yank?”, aku menoleh ke samping. Baru kali ini Andi memanggilku dengan sebutan ‘sayang’. Dan jujur, buatku hal hal kecil seperti ini sudah mampu membuatku bahagia. Sungguh.
“kaga usah, ini ntar rencana sepulang sekolah bakal aku isi kok”
“kenapa?” tanya Andi dengan ekspresi ada-yang-salah-denganku-ya? Saat aku masih belum memalingkan wajahku, masih mengagumi seraut wajah manis di depanku.
“kaga. Lagi menikmati wajah manis kamu aja”. Andi hanya nyengir geli.
“mulai pinter ngegombal ni”, kata Andi sambil mencolek daguku. Lalu aku mulai sadar situasi dan kondisi. Ini di kelas, dan bukan tempat yang tepat untuk sayang sayangan. Dan memang ada beberapa anak yang bisik bisik tetangga sambil melihat aku dan Andi. Tapi aku jamin mereka tidak bakal macam macam. Mau nilai mereka jeblok saat ulangan atau test? Bukan apa apa sih, tapi nilai nilai mereka ada dalam genggamanku. Bukannya sombong, tapi sumber jawaban saat ulangan ataupun tes semester di kelas ini adalah aku. Jadi kalau mereka macam macam, aku pastikan mereka tidak bakal mendapatkan jawabanku saat ulangan atau tes sedang berlangsung. Kejam? Masa bodo ah.
Kelas yang tadinya ramai bak pasar langsung diam begitu bu Ella melenggang masuk. Aku pun melongo keheranan, karena setahuku bu Ella tidak di tugaskan untuk mengajar di sini. Dia dapat jatah kelas satu dan kelas tiga, kasihan sekali mereka. Jangan salah, aku juga pernah mengalami masa masa itu. Masa masa dimana aku dan seisi kelasku hanya diam terpaku saat bu Ella yang mengajar. Dan sekarang sosok feminim namun gahar itu ada di depan kelasku.
“anak anak, pak Jatmiko hari ini tidak bisa mengajar jadi beliau meninggalkan tugas ini untuk kalian kerjakan. Setelah selesai kumpulkan di meja saya”, biasanya kelasku paling heboh jika ada pelajaran kosong.Tapi kali ini tidak terdengar hawa gembira tersebut. Kelasku masih senyap, seakan akan menangisi pak Jatmiko yang tidak bisa mengajar hari ini.
“dan satu lagi, perkenalkan ini ada anak baru. Rika, ayo masuk. Coba perkenalkan diri kamu”. Seorang gadis manis masuk ke dalam kelas. Para cowok langsung heboh tapi dalam hati hebohnya. Ingat? Masih ada bu Ella di depan.
“nama saya Rika Anggraeni, temen temen bisa panggil saya Rika”. Gadis itu mengenalkan dirinya dengan cukup formal. Aku belum tau bahwa datangnya gadis ini kelak akan membawa pengaruh yang fatal buatku. Kaga fatal juga sih. Biasa saja.
“ada yang mau bertanya?”, tanya bu Ella ramah. Namun anak anak tetap tak bersua.
“baiklah, Rika silahkan duduk. Anak anak ibu tinggal dulu, kalau sampai suara kalian terdengar sampai telinga ibu kalian tau resikonya”.Kata bu Ella kalem. Jujur, bahkan tatapan Susanna milik ibuku pun kalah jauh di bandingkan milik bu Ella. Mungkin beliau  masih saudaraan kali sehingga tatapan bu Ella lebih ‘Susanna’ daripada tatapan ibu ku. Anak itu tersenyum pada Andi dan aku menangkap ekspresi ganjal pada pacarku saat kedua mata mereka bertatapan.
Roni, sang ketua kelas langsung memberi kertas berisi tugas itu padaku. Aku menerimanya dan langsung tersenyum. Hanya 5 soal padahal jam pak Jatmiko mengajar adalah 3 jam pelajaran. Pak Jatmiko memang baik hati. Aku langsung mengerjakan tugas itu pada sebuah kertas. Dan langsung saja mejaku seperti digunakan untuk rapat meja bundar dengan posisi aku berada di tengah. 45 menit kemudian aku sudah berada di kantin, menikmati segelas jus jambu. Sendirian, karena teman temanku masih sibuk menyalin tugasku. Aku jadi kepikiran kejadian tadi, arti dari tatapan Rika ke Andi, mereka seperti sudah saling mengenal.
“ehm”, suara berdeham itu sempat membuatku kaget. Aku mengira suara itu berasal dari guru atau pak Roni yang sedang keliling sekolahan.Tapi itu suara berdeham milik Rafky. Dan setelah dia mengambil siomay dia duduk tepat di depanku. What’s happen with him? Kenapa dia memilih untuk duduk di depanku? Padahal masih banyak bangku yang kosong. Dulu, mungkin aku bakal senyum senyum kaga jelas jika Rafky memilih duduk di depanku. Tapi dulu hal itu tidak pernah terjadi, sekarang saat aku sudah hampir mengubur rasa suka ku, dia ‘seolah olah’ ingin dekat denganku. Ya, ‘seolah olah doank’.
Aku dan Rafky tidak mengobrol sama sekali, hanya saling diam. Dan dengan diam diam pula aku mengamatinya. Dia masih tetap tampan, wajah yang tidak sempurna memang  jika melihat hidungnya yang agak sedikit bengkok. Tapi justru itu membuat Rafky terlihat menarik. Apa yang ada di tubuhnya sepertinya sudah sangat pas dan sempurna.
Aku memilih untuk segera kembali ke kelas, daripada mata dan pikiranku terus terusan melakukan zina. Aku melangkah meninggalkan Rafky, setelah membayar jus ku aku langsung berlalu. Aku masih melangkah santai saat aku akan memasuki kelas, tapi langkahku seakan terhenti saat aku mendengar suara Rika dan Andi sedang mengobrol. Mereka hanya berdua. Kok bisa ya? Bisa aja lha, namanya juga cerita.
“kamu inget gak janji masa kecil kita dulu?”, suara Rika terdengar kecentilan di telingaku. Walaupun mungkin dia biasa saja.Tapi bagiku terdengar sangat manja. Masa kecil? Apa mungkin Rika adalah teman masa kecil Andi dari desa tempat kelahiran Andi?
“ingat”, Andi hanya menjawab singkat.
“kapan ya janji itu bakal terealisasi?”, ini cewek ganjen amat yak. Tapi aku kaga emosi, bahkan biasa saja.
“mungkin sudah tidak berlaku Rik”, yes!! Aku ketawa dalam hati.
“kok bisa? Dulu kan kamu janji mau menjadikan aku istri kamu”.Oke, sekarang aku hanya bisa cekikikan. Hey itu janji masa kecil bego! Ingin aku katakan itu pada si ganjen Rika. Akhirnya aku berdehem dan masuk kelas. Rika seperti salah tingkah sedangkan Andi biasa biasa saja.
“kaga makan An?”, tanyaku ke Andi. Rika sudah kembali ke tempat duduknya semula.
“ntar aja pas istirahat, emang kamu uda makan?”
“lom. Cuma minum jus jambu doang tadi di kantin”.Tak berapa lama anak anak mulai masuk ke dalam kelas. Wajar sih, ini sudah mau mulai jam pelajaran ke empat. Lalu aku menangkap ekspresi itu, ekspresi kesal pada wajah Rafky saat melihat aku sekilas.
***



Aku menunggu hingga lumutan. Benar benar di buat garing. Andi janji bakal menyusulku ke lapangan parkir 5 menit. Dan ini sudah 15 menit. Tadi sewaktu aku keluar kelas, Andi sedang membereskan buku bukunya. Karena merasa gondok setengah mati aku berniat kembali ke kelas. Aku berjalan menyusuri koridor dengan wajah masam. Lalu aku berpapasan dengan Rika, dia sempat tersenyum ke arahku. Aku tidak ambil pusing, benar benar tidak kepikiran atau mencurigai sesuatu sama sekali. Kemudian aku melihat Andi keluar dari kelas, tidak ada yang aneh dengan penampilannya. Lalu saat pandanganku menurun aku melihatnya, menyadari sesuatu.
“resleting kamu kebuka. . .”, kataku pelan

Tbc. . .







Ardhinansa

2 komentar:

  1. Anonim4/22/2013

    nansa, ceritamu bagus-bagus. kemaren sempat baca yang "cintaku dibagi tiga", dan sekarang, kecanduan lagi sama "ceritaku". terus dilanjutin ya. btw updatenya jangan lama-lama donk. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, di usahakan secepatnya kok. Oke sip??

      Hapus

leave comment please.