FOLLOW ME

Sabtu, 27 April 2013

CERITAKU 9


CERITAKU 9




Rafky ternyata tidak langsung membawaku pulang, entah kemana dia membawaku. Aku hanya bisa diam. Terlalu letih bahkan hanya untuk bersuara. Rasanya hatiku sakit. Seperti ada ribuan jarum di dalam sana. Rafky membawaku ke sebuah tebing, berhenti dan menyuruhku turun.
“teriak”, kata Rafky tiba tiba. Aku agak tercengang, lagi lagi aku ingin tertawa. Dia menyuruhku berteriak? What a nice idea?
“lu aja. Gua kaga. Makasih”, jawabku kemudian. Rafky memandangku sesaat.
“aneh”, Rafky berujar singkat lalu mendekati bibir tebing.  Dan tanpa aku duga dia berteriak, cukup merdu hingga membuat perutku melilit.
“gua sering frustasi. Semenjak nyokap gak ada, kaga ada yang peduli lagi ma gua kecuali eyang”, Rafky berhenti sejenak. Dan aku mulai waspada. Dulu Andi pernah bercerita betapa-malangnya-nasibku sehingga membuat aku jadi tak tega dan berjanji akan membahagiakannya. Jangan sampai Rafky bercerita tentang hal yang sama supaya aku simpati padanya.
“but, my life must be go on”, Rafky tak menangis. Dia tersenyum ke arahku.
“gua harap lu juga. Jangan hanya gara gara Andi dan Rika lu jadi down. Masih ada gua”, Rafky melangkah mendekatiku dengan PD. Kini aku dan Rafky berhadap hadapan, kepalaku hanya mencapai pangkal lehernya. Oleh sebab itu aku mendongak menatap kedua bola matanya yang tajam. Dan saat aku menatap matanya, entah siapa yang memulai bibir Rafky sudah menempel di bibirku. Awalnya lidah Rafky hanya menjilat bagian luar bibirku, namun gerakan itu makin intens. Rafky memelukku, lidahnya memaksa untuk menerobos pertahanan bibirku. Di dalam mulutku lidahnya mencari lidahku. Saling bertaut, saling menghisap. Begitu intim. Lalu kesadaranku pulih, aku mendorong Rafky perlahan.
“maafkan aku”, aku berkata lirih. Rafky hanya diam sambil menaiki motornya.
“yok pulang.
***


Hari ini hari minggu dan dengan baik hati ibuku menyuruhku menjaga tokonya. Bukan, bukannya aku kaga mau. Tapi lebih manis jika Minggu ku di isi dengan renang bersama Rafky misalnya? Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan? Tapi aku memang sudah bertekad akan menghapus nama Andi dalam agendaku 2 minggu ke depan. Bukannya aku kejam, tapi sepertinya aku memang harus tegas.
“bang, lu beli makanan gih. Laper banget gua”, Reno nongol dari belakang sambil membawa sepiring gorengan. Aku memutar kedua bola mataku, what the fuck with my young brother?
“beli sendiri”
“panas kali bang”
“lha kalo lu ngerti panas, ngapain lu nyuruh gua? Uda kaga sayang lu ma gua?”, gua mulai sewot. Adikku dan ibuku adalah orang orang yang paling pinter membuat emosiku naik, but I love them. Beneran, aku sayang mereka.
“ye, apa salahnya sih nurutin kata adeknya”
“Heh!Seharusnya elu yang nurutin kata gua”, aku beranjak ke bagian belakang toko setelah mengambil mie rebus dan telur 2 butir.
“lu jaga bentar, gua mau masak mie”, kataku pada Reno.
“gua di bikinin sekalian lha bang. Tega amat lu ma adik sendiri juga”
“iye”, aku menjawab singkat. Toko yang merupakan hadiah terakhir ayahku untuk ibuku ini memang memiliki 2 bagian. Bagian depan yang luas untuk barang barang dagangan. Ada sembako, perabotan rumah tangga dan aneka kue. Sedangkan di bagian belakang sedikit lebih sempit dari bagian depan. Ada kasur lantai, tv, kompor kecil dan sedikit peralatan memasak ringkas. Aku terlalu focus pada mie rebusku (oke, ini memang sedikit berlebihan) hingga tak menyadari bahwa di depan posisi Reno sudah tergantikan. Aku tahu Reno sudah tidak ada saat aku keluar dari bagian belakang. Rafky sedang debat seru dengan pembeli. Aku hanya melongo dan mendengarkan perdebatan mereka tentang harga. Aku harus mengacungkan jempolku, Rafky mungkin bisa jadi penerus ibuku.
“Reno?”, tanyaku begitu sang pembeli sudah pergi dengan puas karena mendapatkan satu mug cantik.
“dia pergi tadi sama cewek. Eem, Nia kalau kaga salah namanya”.
Lalu aku menatapnya, bertanya dengan tatapan mataku kenapa dia bisa berada di sini.
“gua kaga sengaja tadi”, jawab Rafky kikuk. Bohong besar. Aku masih menatapnya dengan pandangan tak percaya. Karena setahuku Reno pun mungkin baru di kenal Rafky barusan. Dan kaga mungkin kalau tidak sengaja Rafky melihat Reno dan mampir. Kecuali mereka sudah lama saling kenal. Dan aku sudah mengatakan tadi, Reno pun mungkin baru dikenal Rafky barusan.
“come on. Jawab jujur RIRI”, sengaja aku tekankan kata Riri. Tapi nyatanya Rafky tidak marah.
“oke, gua uda tau tentang toko ini lama”, jawabnya kemudian. Wajahnya tampak kikuk.
“hha?”, aku hanya bisa membuka mulutku lebih lebar.
“gua memperhatikan lu uda lama. Lu suka pedes tapi paling kaga tahan sama pedes”, Rafky agak terkikik.
“paling doyan tidur, paling suka matematika. Kalau terlalu capek bakalan ngiler. . .”
“oke, stop it. Jadi lu penguntit? Gua koreksi, lu nguntit gua?”, aku memotong ucapan Rafky sekaligus bertanya padanya. Rafky ngakak, lalu aku teringat pesan misterius di ruang seni.
“lu liat gua nangis di ruang seni”
“hahaha, tampang lu asik gila waktu itu. Eehm, boleh kaga gua gantiin posisi Reno hari ini? Jagain toko? Bareng lu? Boleh?”, tampang Rafky di buat polos, seakan akan dia anak umur 5 tahun. Aku ngikik melihatnya, sama sekali tidak cocok. Tidak seperti Andi yang sangat ahli memasang tampang seperti itu. For God shake!! Aku sudah melanggar janjiku untuk tak menyebut nama Andi tadi. Aku berhenti mengikik, teringat tangan Rika yang menempel tepat di selangkangan Andi. Damn it!!
“hey, are you okey?”, Rafky menghampiriku.
“yah, gua baik baik aja. By the way, gua kaga nyangka kalo lu ngefans sama gua”
“sapa yang bilang gua ngefans ma lu?”, tanya Rafky sambil mengambil tempat duduk  di samping ku.
“terserah dah, bentar ada pembeli”, aku menyerah menanyai Rafky. Anak ini masih menyebalkan. Aku melangkah melayani pembeli, tapi tak ku pungkiri aku merasa senang. Kenapa tidak kamu lakukan hal ini dari dulu Raf? Kenapa baru sekarang? Saat hatiku sudah terikat terlalu jauh dengan Andi.
Pembeli tersebut pulang dengan puas. Harga yang aku beri terlalu murah, tapi aku tak peduli. Pikiranku masih kacau. Andi, aku kangen kamu. Ya Tuhan, perasaan ini menyiksaku.
“hey”, Rafky menepuk bahuku pelan.
“ya, sorry gua bukan temen yang baik saat ini”
“Gak papa, gua pengen nemenin lu. Boleh kan?”
“oke, gua tutup aja tokonya. Kita keluar sebentar”, kataku kemudian.
“woey, di sini aja”
“gua lagi pengen keluar”
“nyokap lu?”, tanya rafky sambil mengangkat  sebelah alisnya.
“dia pasti ngerti kok, katanya lu mau nemenin gua?”, aku menagih janjinya.
“iya deh. Terserah lu aja. Aku tersenyum, lalu siap siap menutup tokoku.
***


Aku yang memilih tempatnya. Dan di sinilah aku dan Rafky sekarang.  Di alun alun kota. Aku sedang asyik dengan batagor yang tadi aku pesan, berusaha melupakan Andi dan masalah yang dia bawa untuk ku. Rafky sendiri sibuk melihatku, mungkin sedang mempertimbangkan aku untuk di jadikan salah satu hewan peliharaanya. Melihat betapa lucunya aku makan batagor. Lupakan, aku hanya bercanda.
“lu lucu banget sih.” See? Mungkin dugaanku tadi benar.
“kenapa?”, tanyaku tanpa menatapnya.
“gua baru sadar kalo lu punya lesung pipit di pipi kiri lu”. Aku tersenyum tipis.
“dan gigi taring yang berlebih di sisi kiri”, tambah Rafky kemudian.
“itu gingsul”, kataku jutek.
“iya, gingsul. Gua suka. Pasti enak kalo di jilat pake lidah gua”. Aku tersedak. Ini anak sudah gila. Beberapa orang melihat ke arahku dan Rafky dengan pandangan aneh, tapi aku tak peduli. Masalahku sudah terlalu banyak dan aku sedang tidak bernafsu untuk menambah daftar masalahku.Tidak, terimakasih.
“lu diem aja”, Rafky berkata lagi. Ternyata anak ini lebih cerewet dari Andi. Ya Tuhan, aku menyebut namanya lagi.
“lagi makan guanya”
“hehe, iya. Gua suka lu”
“lu uda bilang kemaren lusa”, kataku pendek. Seharusnya kalau Rafky emang penguntit sejati, dia tau kalau aku paling kaga suka di ganggu kalau sedang makan. Aku mengangkat kepalaku, lalu aku tertegun memandang wajah Rafky.
“selama lu bareng gua, gua lom pernah liat lu ngerokok”, tanyaku pada Rafky. Rafky melongo.
“darimana lu tau gua ngerokok?”
“warna bibir lu berbicara banyak”. Rafky laqi lagi tertawa. Aku melihatnya, ternyata matanya pun bisa berseri. Walaupun dia tidak memiliki lesung pipit yang menggoda seperti Andi, tapi aku menyukainya. Seandainya dulu Rafky lebih jujur dan menyatakan perasaanya lebih dulu daripada Andi, aku tak akan sesakit ini. Hmm, hanya seandainya.
“lu kaga suka rokok, jadi buat apa gua ngerokok di depan lu? Gua kaga mau dapat pelototan lu lagi”
“gua kaga pernah melotot”
“masa? Lu hampir selalu melotot kalau ketemu gua”. Sumpah, percakapan ini gak penting. Aku melanjutkan makanku.
“lu uda pernah patah hati?”, tanyaku kemudian. Rafky menghembuskan nafasnya perlahan.
“gua lom pernah pacaran”, aku tersedak lagi. Jawabannya kaga nyambung, tapi aku penasaran dengan jawabannya.
“serius?”, tanyaku tak percaya. Cowok ganteng, kapten tim basket, seksi dan emm kalau yang ini menurutku lho agak sedikit cool. Okey, Rafky emang cool. Dan cowok spesies ini belom pernah pacaran? Kalian percaya? Kalau aku sedikit ragu.
“iya, serius. Gua nunggu lu”. Oh, shit!! Pernyataan ini membuat aku spheecless.
“seandainya lu lebih cepet ngomongnya Raf”
“hey hey”, Rafky memegang tanganku. Aku melepasnya, bukannya tak suka tapi ini kan alun alun kota.
“sekarang masih belom terlambat Nan, percaya ma gua”.
Aku member senyum manisku untuk Rafky.Terlihat Rafky berpikir tentang sesuatu.
“Nan?”
“apa?”
“gak, ada saos tu di sudut bibir lu”, aku memandangnya sekejab kemudian menjulurkan lidahku untuk menjilat saos-di-sudut-bibir-seperti kata Rafky tadi.
“stop!! Don’t do it!!”, Rafky berkata pelan. Aku menatapnya heran.
“kenapa?”
“eem, bikin gua horny”, kata Rafky lirih. Aku hampir tertawa. Ya Tuhan, Rafky lucu mampus. Aku menatapnya lekat lekat dan Rafky malah menunduk. Oh, aku ingin mengikik (ada kaga sih kosa kata mengikik? Kalau kalian kaga tau mengikik, itu adalah salah satu jenis tawa yang paling aku sukai).
“thanks Raf. Gua suka di temenin ma lu”
“ya. Sama sama”. Rafky tersenyum manis.
***

Sudah hampir seperempat jam ibu memarahiku. Walaupun aku menyesal, beneran aku menyesal.Tapi tetep aja kalau di marahin seperti emm, pernah dengar pidato guru yang membosankan saat upacara sekolah berlangsung? Kurang lebih rasanya seperti itu. Dan Reno juga tidak membantu, di balik punggung ibu, Reno sibuk mengejekku. Dasar adik durhaka. Aku tidak bisa berbuat banyak, menutup toko jam setengah 3 siang? Pada hari minggu pula!! Tamat sudah.
“jadi tadi kamu lebih milih main daripada bantu ibu?”. Oh jangan mempermainkan perasaanku dengan pernyataan ini. Pernyataan ini seperti menyudutkanku dan menggiring perasaanku pada rasa bersalah. Seakan akan ibuku bilang durhaka-sekali-kelakuanmu-kamu-menusuk-ibu-dari-belakang hampir seperti itu, hanya diperhalus.
“Nansa minta maaf bu. Janji kaga bakal di ulangi?”, kataku sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahku tanda damai.
“ibu bukannya marah tapi kamu seharusnya bisa lebih bertanggung jawab dengan bla bla bla. . .”, tidak, ini sama persis dengan kalimat pembuka ibuku tadi sebelum memarahiku. Ibuku tidak berniat akan melakukan siaran ulang kan? Aku hanya bisa menghembuskan nafasku perlahan.
“Nansa minta maaf? Okey? Bisakah kita kubur masalah ini dan kembali melangkah ke depan?”, kataku sedikit hiperbola. Ibuku menghentikan pidatonya, menatapku sebentar lalu menatap Reno yang sedang makan malam dengan kaki di naikkan ke atas kursi.
“Moreno Adiatama, sejak kapan ibu mengajarimu makan dengan cara duduk seperti itu?”, ibuku menghampiri Reno dan aku hanya bisa mengikik. Di belakang ibuku aku menggerakkan bibirku seperti bilang thanks-Reno-lu-baik-banget dan mendapat balasan tatapan tajam dari Reno. Aku langsung ngacir ke kamarku.
Aku berusaha memejamkan mataku, sebisa mungkin mencoba untuk terlelap.Tapi tak bisa, kejadian Andi dan Rika kemarin malam masih menggangguku. Seperti film yang di putar berulang ulang dalam otakku. Aku masih tak percaya, sesepele itukah Andi menganggap arti hubunganku dengan dirinya? Tidak, malam ini tidak ada acara menangis lagi. Stop!! Selama fase break ini, aku akan berusaha untuk kembali menyukai Rafky. Apa susahnya? Ya Tuhan, kenapa? Well, aku memang tak pantas mengadu pada Tuhan, cinta seperti yang kurasakan ini saja sudah pasti membuat Tuhan enggan menengokku dan sekarang apa? Aku terkena masalah karenanya! Mungkin di langit sana aku malah sedang jadi bahan tertawaan.
Stop Nansa!! Jangan mengasihani dirimu sendiri!! Wake up!!
“belom molor lu bang?”, Reno nongol dari balik pintu kamarku.
“belom ngantuk gua, lu ngapain ke sini?”, tanyaku balik.
“mau cerita gua, boleh? Ganggu kaga?”, tanpa permisi Reno berbaring di sisiku.
“apa?”
“Nia nembak gua tadi, gua mesti gimana?”.Aku menatap adik semata wayangku.
“trus? Lu suka kaga ma Nia?”
“suka”, jawab Reno polos.
“ya udah, pacaran!! Beres kan?”
“masalahnya gua sukanya dikit ke Nia, lebih banyakan ke Dewi”. Aku kembali menatapnya. Salah, aku melotot ke arahnya.
“Dewi? Lu masih ngarepin tu anak? Gua kaga suka ma Dewi, kaga setuju gua”
“lha? Kok lu yang sewot? Kan yang mau pacaran gua. Tapi gua kaga mungkin pacaran sama Nia kalau perasaan gua Cuma setengah setengah ke dia kan? Kasian Nianya juga kan?”, kata Reno panjang lebar. Aku memutar kedua bola mataku. Kalau sudah bisa secanggih ini menyimpulkannya, kenapa nanyain pendapatku coba?
“ya ntu lu uda tau”
“tapi gua kasihan ke Nia kalau gua nolak dia”.
“ya uda terima dia”
“tapi gua kaga suka suka banget ma Nia”. Aku geram, mengambil bantal guling di sisiku langsung kupukulkan tepat di wajah Reno.
“you suck!!”, teriakku. Tapi sepertinya Reno kaga terima, dia segera membalas perlakuanku. Dan pertarungan bantal pun di mulai. Lama juga aku dan Reno kaga duel bantal kayak gini. Uda berapa bulan ya kaga duel bantal? Ketahuan kekanakannya. Wew.
“Ardhinansa Adiatama, Moreno Adiatama”. See? Kalian tau pemilik suara ini? Ibuku.
“Reno yang mulai dulu bu!”, kataku lantang.
Bang Nansa bu!”, Reno tak kalah kenceng teriaknya. Pintu kamarku dibuka, lalu aku dan Reno mendadak diam. Tatapan milik ibuku sepertinya cukup efisien untuk membungkam kelakuan kekanakanku dan Reno.begitu ibuku keluar, aku langsung memeluk Reno.
“thank you brada”, Reno berusaha melepaskan pelukanku.
“apaan sih bang?”
“gak papa”, kataku sambil tersenyum. Sedikit banyak aku tau, masih ada Reno, ibuku dan oya Rafky. Masih ada orang yang menyayangiku. So, move on Nansa!!
***


Kali ini aku tidak nebeng Rafky, tapi dia sengaja menjemputku. Menunggu dengan manis di depan teras, tersenyum penuh rahasia dengan Reno (untuk yang satu ini aku harus menyelidikinya, siapa tau Reno ngomong macem macem seperti dulu yang pernah kejadian dengan Andi) dan mencium tangan ibuku dengan sopan. Perfect, calon menantu ideal. Hahaha, seandainya saja bisa seperti itu. Lagi lagi hanya seandainya.
Di sekolah Andi berusaha untuk berbicara denganku dan aku berusaha menghindar. Di tambah Rika yang selalu melekat erat di sampingnya membuat Andi semakin tak punya kesempatan untuk berbicara empat mata denganku, tapi aku tak peduli. Aku masih marah dan rasanya ingin mencincang Rika.Tapi setelah aku pikir pikir, Rika matipun belum berarti masalah selesai. Yang ada nantinya aku mendapatkan satu tiket ekspres gratis sauna ke neraka plus liburan gratis menginap di hotel prodeo. Tidak, aku masih waras.
“ntar temenin gua bentar ya?”, kata Rafky saat pergantian jam pelajaran terakhir.
“kemana?”
“latihan basket”, kata Rafky singkat.
“sip”, jawabku sambil memberikan Rafky senyum termanisku. Pelajaran terakhir berlangsung alot. Banyak siswa yang sudah lebih memilih alam mimpi daripada mendengarkan pak Edi yang sedang menerangkan tentang masalah jaringan bla bla bla. Termasuk Rafky, anak ini sudah terlelap dari 30 menit sejak pak Edi masuk ke dalam kelas. Aku tengah melukis wajah Rafky yang sedang tidur dengan pensil. Sama sekali tak menyadari pak Edi yang berjalan ke mejaku.
“Nansa, bagus sekali catatanmu”, kata pak Edi sambil tangannya menjewer telinga Rafky. Mata Rafky terbuka dengan wajah kebingungan khas orang bangun tidur. Bahkan wajah setampan Rafky pun akan sedikit berkurang saat dia ber ekspresi seperti ini. Dan aku gelagapan, masalahnya di gambarku Rafky terlihat sensual sekali. Shit!!
“nanti sepulang sekolah kalian berdua temui saya”. Damn it!!

Tbc. . .




Ardhinansa

4 komentar:

  1. Anonim4/28/2013

    hahaha.. gak nyangka ya, di balik keangkuhannya selama ini, ternyata rafky romantis dan lucu :p pasti nansa jadi bingung, mau pilih andi ato rafky.

    BalasHapus
  2. Nansa, d'tunggu lagi ceritanya.... :)))) jadi galauuu andi atau rafky y_??? Umm... Rafky ajj deh..!!! ªªH ª ...h ª ...=D H ª ...h ª ...:D H ª ...h ª ...=D H ª ...h ª

    BalasHapus

leave comment please.