FOLLOW ME

Rabu, 10 April 2013

CERITAKU 5

CERITAKU 5



Andi hanya menoleh sesaat, sedangkan aku merasa malu sendiri. Yang tadi batuk di buat buat itu seorang kakek. Andi kembali merangkulku, aku terpaksa melepasnya. Bukan apa apa, tapi hey di sini kan ada kakek kakek? Well, mungkin ada kemungkinan kakek ini rabun atau sebagainya. Tapi tetap saja, bermesraan sambil diliatin banyak (koreksi satu) orang itu malu banget.Karena maaf saja aku bukan eksibis.
“kenapa sih?”, tanya Andi yang kaga terima pelukannya aku lepas. Aku hanya menganggukkan kepalaku ke arah kakek itu yang sekarang duduk di depanku dan Andi.Kening Andi mengkerut. Bingung, “trus?”.Ingat, hobby Andi yang suka mencontek PR ku? Ditunjang kalimat yang di ucapkan Andi barusan mungkin akan membuat kalian tau seberapa besar daya tangkap otak pacar pertamaku ini.
“malu lha?!”, kataku agak sedikit emosi.
“kenapa?”. OMG!! Terbuat dari apa otak cowok baruku ini?
“sesama cowok saling gelendotan!?”. Andi meringis.
“iya, aku paham.”
Aku dan Andi hanya ngobrol biasa. Sumpah!! Ini bikin aku gondok setengah mati, kenapa kakek yang tidak diketahui namanya ini stay cool di depanku dan Andi? Tidak adakah niat mulia dari hatinya untuk membiarkan aku dan Andi sedikit merajut tali kemesraan? Halah! Bahasane uis mulai lebbe kiey.
***


Sehabis Isya Andi sudah mengantar aku sampai di depan teras rumahku.
“thanks”, kataku setelah turun dari motornya Andi, “masuk dulu yok?”, tambahku.
“kapan kapan aja, uda di smsin mama suruh cepet pulang.”
“mmm, ati ati di jalan”. Asli, aku grogi berat.Bayangin aja, Andi pacar pertamaku. Bener bener pertama karena akupun belum pernah pacaran sama yang namanya perempuan.
“iya, sini bentar”, Andi menyuruhku agak mendekat.
“apaan?”, tanyaku penasaran.
“kupingnya siniin dong”. Aku mendekatkan telingaku tepat di bibirnya.
“sebenernya aku pengen meluk kamu malam ini”, bisik Andi lalu mencium pipiku sekilas. Kontan, wajahku langsung memerah.Andi hanya nyengir lalu tancap gas.Meninggalkan aku yang masih merona seperti gadis pingitan.Haha. .
***


Hari ini tidak seperti biasanya, aku benar benar kesiangan. Biasanya aku bangun jam 5 pagi, yah walaupun ntar tidur lagi dan baru bangun jam enam. Tapi setidaknya aku jam lima selalu bangun. Sekarang berbeda, aku baru bangun setengah tujuh. Setengah tujuh!! Itu artinya, aku bakalan telat.Andi sudah sms semalam bahwa hari ini tidak menjemput. Berarti benar benar akan terlambat. Aku tidak mandi, tidak ‘setor’ ke belakang, pokoknya benar benar membuang semua agenda yang akan semakin membuatku lebih terlambat. Aku gosok gigi, cuci muka, semprot parfum, lalu sarapan.Maaf, dibandingkan mandi sepertinya sarapan lebih penting.Jadi sarapan tidak menjadi agenda yang aku buang hari ini. Menyambar tas lalu berlari lari kecil ke depan gang sambil berdoa semoga para sopir angkot tidak sedang mengikuti rapat rutin mingguan.
Sehebat apapun rencanaku, Tuhan lah yang berkehendak.Aku tetap terlambat. Pak Roni sudah tersenyum beringas di depan gerbang. Senang sekali dapat mangsa yang bisa di hukum.Aku melirik ke kanan kekiri, lalu tersenyum kecil saat melihat ada satu anak lagi yang lebih terlambat daripada aku.Senyumku mulai sirna saat anak itu semakin mendekat, itu Rafky. Damn it!!
“maaf pak, saya terlambat”, kataku sedikit ekspresi sedih di depan pak Roni.
“baik saya maafkan, tapi baris di sini dulu sampai upacara selesai. Kamu juga!!”.Tunjuk pak Roni ke arah Rafky yang dengan PDnya tetap melangkah memasuki gerbang.Rafky terlihat kesal, namun akhirnya ikut berbaris juga di sampingku.Hanya aku dan Rafky yang terlambat. Sial! Mungkin kejadian buruk bakal terjadi, sekarang aku jadi bertanya tanya kenapa dulu aku begitu buta oleh aura ketampanan dan kejantananya? Padahal sifatnya minus semua?Akhirnya, upacara selesai. Aku menghembuskan nafas lega, lalu dengan santai mengambil tas ranselku. Senyumku sirna saat melihat pak Roni, satpam satu ini tak mungkin membiarkan aku masuk kelas begitu saja. Aku tau, sangat tau bahwa hukuman sudah menanti di depan mata.
“kenapa kamu terlambat?”, tanya pak Roni sambil menunjuk Rafky. Wajahnya ramah sekali.
“ban motor saya kempes pak”, jawab Rafky singkat. Humpt, alasan yang cukup kuat di bandingkan denganku.
“kenapa bisa?”, tanya pak Roni. Aku memutar bola mataku, ini satpam mungkin otaknya sudah mengkerut.
“tertusuk paku pak”, Rafky menjawab dengan kalem. Aku agak tertegun, Rafky bisa sopan juga ya?Aku baru ngeh.
“kalo kamu?” kali ini pak Roni menunjukku. Aku berpikir sejenak, sangat tidak tepat kalau aku mengatakan bahwa aku bangun kesiangan. Selain alasan itu klise, juga sama sekali tidak membantu.
“angkot yang saya tumpangi kecelakaan pak”. Ampuni aku Tuhan, ini bohong demi kebaikan.
“kamu tidak apa apa?”, tanya pak Roni sedikit khawatir.
“iya pak, saya baik baik saja kok.”
“pembohong”, desis Rafky pelan, sangat pelan sehingga kalau saja aku sedang tidakfokus mungkin aku tidak mendengarnya.
“ya sudah, bapak jadi tidak tega. Ini surat ijin masuk kelas, minta tanda tangan guru piket dan wali kelas.” Kata pak Roni kemudian.
Aku menghembuskan nafas.Lega rasanya, tapi tunggu dulu. Guru piket hari ini kan bu Ella? Oh, shit!!
“surat ijinnya satu saja buat berdua ya?”, pak Roni membuyarkan lamunanku.
“iya pak, trimakasih”, jawabku lemas. Lepas dari kandang macan masuk kandang singa.Aku mengikuti Rafky dari belakang. Punggung yang kokoh, mungkin akan nyaman jika bersandar di sana kataku dalam hati saat memandang sosok Rafky dari belakang. Hush!! Buang jauh pikiran itu Nansa, buang!!
“mana surat ijinnya?”, kata Rafky jutek. Sudah bawaan orok kali sifatnya yang satu ini. Tanpa menjawab, aku mengulurkan surat ijin yang di beri oleh pak Roni tadi. Rafky mengambilnya lalu mengeluarkan bolpen dari tasnya, mencorat coret  surat ijin naas tersebut lalu menyerahkannya lagi padaku. Aku melongo, tanda tangan palsu.Apa iya, Rafky sering terlambat sehingga hafal tanda tangan wali kelas dan guru piket? Atau ini bakat terpendam?
“kok?”, tanyaku agak melongo
“kenapa? Kaga suka? Mau menghadap bu Ella?”.Aku mengkeret.Bu Ella adalah salah satu guru yang masuk daftar hitam.Sebisa mungkin jangan sampai bertemu denganya.Dulu ada siswi yang di jemur di lapangan hanya karena ketahuan sedang makan permen di kelas.Apalagi kalau terlambat? Mungkin akan di panggang di tiang bendera.
“mau masuk kelas atau jadi patung selamat datang di situ?”, suara jutek itu kembali bersua. Aku mandengus kesal lalu mengikuti Rafky yang sudah berjalan di depanku.Dia mempesona, batinku. Sex appealnya kuat, bahunya lebar, badan yang bagus. Hush, hush, hush.Tolak.Tolak.Tolak. Jauhkan pikiran mesum ini dari hambamu yang manis ini ya Tuhan. Pikiranku ngaco.
Tok tok tok. . .
“ya, masuk”, kata pak Imam guru bahasa inggris yang sedang mengajar di kelasku dari dalam. Aku dan Rafky melangkah masuk di iringi tatapan dari satu kelas.Di mata mereka seperti ada ungkapan terima kasih karena mungkin dengan kedatanganku dan Rafky, pelajaran agak terhambat.
“maaf pak kami terlambat”, kata Rafky tanpa rasa berdosa. Barusan dia menyebut nama kami bukan aku. Hmmm. . .
Pak Imam membaca surat ijin tersebut lalu mengangguk, “oke, please sit down”
“thank you sir”, jawabku perlahan lalu mengedarkan pandanganku ke penjuru kelas. Sial, duduk sebangku dengan Rafky again.Dengan wajah tidak sehat, aku terpaksa menghempaskan pantatku di bangku sebelah Rafky.Bayangkan saja, kalian pernah mengalami masa masa buruk dan kalian disuruh mengulanginya lagi?Mau?Kalau aku sih ogah, trimakasih.
Aku mengedarkan pandanganku sekali lagi dan tepat saat itu pandanganku bertemu dengan mata Andi, bibirnya bergerak.Kalau tidak salah seperti mengucapkan, “kenapa telat bareng Rafky?” aku hanya menggeleng dan menggerakkan bibirku mengucapkan ‘nanti’.Andi sepertinya mengerti.
***



“kenapa telat? Kok bisa bareng Rafky? Pasti kaga mandi ya?”, Andi bertanya bertubi tubi. Aku agak melongo, masih sempat ya dia menanyakan aku mandi atau kaga?
“tadi bangun kesiangan dan maaf aku kaga bareng Rafky telatnya”.
“owh. Tapi masih sempet mandi kan?”.Aku diam sejenak.
“penting ya?”, aku bertanya agak kesal.
“penting lha, soalnya aku suka aroma kamu yang ini”. Aku melotot, ini di kantin!! Dan ramai!! Walau tak urung juga perkataan Andi barusan sukses membuat wajahku kembali merona.
“hehe, maaf tadi kaga jemput”, terlihat guratan penyesalan di wajah manisnya.
“bukan salah kamu ko”.
“emang bukan, kan kamu yang pelor”. Aku manyun, dasar pacar tak tau diri.Hibur kek, kasih support kek, kasih duit kek, hehe.
“Nan, ntar maen bentar ya sehabis pulang sekolah”.Aku yang sedang makan mie bakso mendongak, “kemana?”
“ada tempat yang pengen aku kunjungi sama kamu”. Aku berpikir sejenak, “bukan makam kan?”
Andi cekikikan, “emang mau pacaran di makam?”
“ssstt, ini kantin!!!” kataku dengan mata melotot.
“hehe, mau kan ntar  jalan?”, sepertinya Andi tidak menggubris ucapanku.
“ya”, jawabku singkat.Aku kembali fokus pada mie baksoku.Dan tanpa aku sadari, Rafky sedari tadi menatap ke arahku dan Andi.
“An?”, panggilku pelan. Andi mendongak, membatalkan suapan kedua  siomay yang hampir saja hilang di bibirnya.
“apa?”
“kamu bisa tukar tempat duduk dengan Rafky kan?”
“ha? Kenapa emangnya?”.Aku memutar bola mataku.
“aku kurang nyaman An”. Andi diam sejenak.
“oke, ntar aku ngomong ke Rafky”. Aku tersenyum, membayangkan kejadian kejadian indah seandainya nanti aku duduk sebangku dengan Andi.Andi kembali menyantap siomaynya yang tadi sempat tertunda. Aku memperhatikan seraut wajah manis di depanku, kekasihku. Aku tersenyum sendiri, seakan tak percaya kalau Andi sudah menjadi milikku.
“baksonya kaga dimakan?”, tanya Andi perlahan. Lagi lagi wajahku memerah, ketangkap basah sedang memandangi Andi dengan wajah mesum pula.
“eeh, dimakan kok. Bentar lagi”, jawabku agak gugup.
“cepetan, hampir bel ni. Pake acara ngelamun lagi tadi.”
“sapa yang ngelamun? Ngarang banget dah”, aku berusaha ngeles.
“haha, ketauan jelas ko. Kaga usah ngeles ah.Ngelamunin aku ya? Pas tempo dulu aku di gambar bugil?”.Wajahku memerah.Andi cekikikan.
“iya kan?”, Andi kembali bertanya.
“kaga”
“iya ah. Ayo ngaku! Pasti ngelamun yang jorok jorok”, Andi semakin mendesakku.Untungnya bel masuk berbunyi, itu menyelamatkanku dari keharusan aku menjelaskan kepada Andi bahwa aku sedang berkhayal duduk di atas kejantananya.Hihi >.<
***


Aku sedang berada di tempat parkir, menunggu Andi yang masih ada sedikit urusan dengan pak Miftah.Cukup ngeselin tadi. Rafky tidak mau tukar tempat duduk dengan  Andi. Jadi rencana indahku untuk sedikit bermesraan saat aku dan Andi duduk sebangku tadi tidak dapat di realisasikan.Misalnya saja saat saat aku sedikit meraba celana bagian depannya harus kandas. Ada apa sih dengan Rafky? Toh dia duduk sebangku denganku pun dia tidak dapat manfaat apa apa. Aku dan Rafky hampir tidak mengobrol sama sekali saat duduk sebangku tadi. Lupakan, Rafky kan emang aneh. Masih tak percaya kalau Rafky dan Andi adalah saudara satu ayah.
Aku menoleh ke kanan, melihat Andi yang sedang berlari lari kecil ke arahku. Aku tersenyum, senyum manis yang ku punya. Hehe, secara kan dia pacarku.
“lama ya?”, tanya Andi sambil menstater motornya.
“lumayan”. Aku menjawab singkat.Andi hanya tersenyum simpul, lalu menyuruhku untuk naik ke atas motornya.Tidak seperti biasanya, Andi melajukan motornya layaknya orang kebanyakan.Aku tidak memeluk pinggangya, ini siang hari dan aku cukup tau diri untuk tidak mengundang pandangan aneh dari orang orang di sekitarku.Andi membawaku ke sebuah bukit.Di tempatku bukit ini di namakan bukit cinta, bukan karena tempat ini adalah tempat yang mempertemukan dua hati jadi satu.Tapi karena tempat ini tersohor sebagai tempat persinggahan orang orang yang tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa hotel. Keningku mengkernyit, untuk apa Andi mengajakku ke tempat seperti ini? Bercinta?Maaf saja, kalau tujuan Andi ke tempat ini untuk mengajakkku bercinta, dia harus gigit jari.
Tempat ini memang indah sebetulnya, ada kebun kopi jika kita mau turun sedikit dan menemukan tempat tempat khusus untuk bercinta.Kalau yang ini aku pernah memergokinya sekali dulu saat aku masih SMP. Dan aku mendapatkan uang 5 ribu rupiah dari sang pria agar aku tak bercerita pada siapa siapa. Dan dari sini juga aku mengetahui bahwa aku sedikit menyimpang, begitu senang saat melihat ‘perkakas’ sang pria agak sedikit mengintip dari celananya yang belum tertutup sempurna. Sejak itu aku selalu penasaran dengan bentuk ‘barang’ cowok lain.
“oey”, Andi menepuk bahuku pelan.
“e eh, ya?”. Aku tidak bisa menutupi rasa kagetku.
“ngelamunin apa sih? Asik banget kayaknya”
“kaga kok”, aku agak tersipu.
“bener ni? Yok ikut aku sini”, Andi menggandeng tanganku dan aku membiarkannya.Tidak ada orang dan aku pun sekarang sedang tidak peduli dengan pendapat orang.Andi mengajakku melewati jalan kecil, tapi untungnya karena banyak pohon jadi tidak terasa panas.Menerobos semak semak, melompati parit kecil.Tapi ini tidak menuju kebon kopi, aku tau itu.
“mau kemana sih?”, aku bertanya akhirnya. Penasaran banget.
“ke hatimu. Hihi”.
“aku serius ni”.
“udah, ikutin aja. Okey?”.Aku diam, tapi kemudian mulutku ternganga.Andi membawaku ke tempat yang begitu damai.Sungai yang jernih, dari sebuah air terjun, bukan air terjun.Curug mungkin?Atau air terjun mini?Mengingat ukurannya yang tidak bisa di katakan air terjun.Tidak ada kesan angker, karena sinar matahari bisa masuk dengan leluasa.
“bagus kaga?”, Andi bertanya seolah olah dia yang membuat tempat ini.
“hehe, amazing”. Aku menjawab jujur.
“itu, di sana”. Andi menunjuk sebuah tempat, “adalah tempat kelahiranku Nan.Aku sempat tinggal di desa ini selama 10 tahun sebelum akhirnya pindah ke rumah ayah.”
Ada nada sedih dalam suara Andi.Aku hanya diam, membisu. Tak tau harus ngomong apa.
“sini”, Andi merangkulku, merebahkan kepalaku di pundaknya. “boleh aku cerita?”. Aku hanya mengangguk.
“di sini ayahku pertama kali bertemu dengan ibu. Waktu itu ayah sedang berkemah di atas bukit sana, tau kan?” aku hanya menggangguk. Andi menghela nafas perlahan. “tapi sejak pertemuan itu, ayah sering main kesini secara sengaja, hanya ingi bertemu ibu. Romantis ya?”.Lagi lagi aku mendengar nada sedih itu. “saat ayah sudah bekerja, dia ingin melamar ibu. Tapi saat itu masalah datang.Orang tua ayah menolak, tapi ayah nekad”.Andi tersenyum getir. “akhirnya mereka menikah di desa ini, itu membuat kakek marah. Kakek juga yang menyebabkan ayah di pecat dari pekerjaannya waktu itu. Ayahku akhirnya jadi petani, bisa kebayang?”.Andi sedikit tertawa tipis.Aku pernah bertemu dengan pak Bimo, ayah Andi.Pria tampan berkulit putih bersih yang berhasil menurunkan ketampanannya pada Rafky dan Risky.Sulit untuk membayangkan pak Bimo pernah menjadi petani.
“masalah menjadi semakin rumit saat aku lahir Nan”. Aku bisa mendengar nada sedih itu. “pendarahan ibuku tidak mau berhenti bahkan saat aku sudah lahir. Ayah panik, akhirnya ayah menghubungi kakek. Kakek mau membantu membawa ibu ke rumah sakit yang lebih besar asal ayah mau menikahi Melissa, mamanya Rafky.” Alisku bertaut, bingung.Berarti Andi lebih tua dari Rafky? Lalu kenapa mereka bisa satu kelas?. “ayah yang kalut waktu itu langsung setuju, setelah operasi ibuku berjalan lancar, ayah pulang ke rumah kakek. Menikahi Melissa”. Sekarang aku tidak hanya mendengar nada sedih dalam suara Andi, aku juga mendengar isak yang tertahan.
Andi menoleh ke arahku, mengecup lembut keningku sebelum dia bercerita kembali, “ sejak pernikahan itu, ayah hanya beberapa minggu sekali berkunjung kesini. Sampai kejadian naas 9 tahun yang lalu itu terjadi.Melissa bermaksut datang ke sini, menyuruh ibu untuk menggugat cerai ayah.Tapi itu tak pernah terlaksana, mobil Melissa tergelincir dan masuk jurang.Melissa meninggal seketika.Setahun kemudian, baru aku dan ibuku pindah ke rumah ayah.”
Andi tersenyum miris, “aku iri pada Rafky Nan, dia hampir setiap hari bisa bertemu ayah.Di terima oleh keluarga besar ayah, sedangkan aku?Aku dan ibuku selalu di pandang sebelah mata”.Akhirnya air mata Andi jebol.Aku hanya bisa memeluknya.Sesuram inikah masa lalunya?Lalu darimana Andi mendapatkan binar jenaka di matanya?Keceriaannya?Semenderita inikah orang yang aku sayangi. Air mataku pun jebol juga melihat Andi yang sesenggukan di pelukakanku. Aku menangis bersamanya, hanya bisa bertekad di hatiku bahwa aku tak akan mengecewakannya. Tak akan pernah.

Tbc. . .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.