FOLLOW ME

Minggu, 25 Januari 2015

BARISTA 12


Chapter Duabelas

Beno Pov
“Anjing! Lo gak bilang sama gue.” Aku emosi. Tantra hanya diam saja, sepertinya masih menunggu ledakkan emosiku selanjutnya. Dan saat aku hanya terdiam, akhirnya Tantra kembali berbicara.
“Gimana gue bisa ngomong? Pagi kita udah hampir telat buat ujian, siangnya lo udah ngacir duluan nemuin Gani. Dimana kesempatan gue coba? Lo egois tau gak Ben!”
“Gue mana inget Tan! Serius gue lupa, gak inget satu hal pun. Terakhir yang gue inget ya gue lagi minum-minum sama Shandy.” Tantra bangkit berdiri.
“Lo kayaknya harus minta maaf sama Gani.”
“Tapi Gani kan juga salah! Jalan sama Denny gak bilang-bilang gue.” Tantra menepuk jidatnya secara berlebihan.
“Aduh, come on! Lo sendiri yang bilang Gani minta ijin buat dateng ke ulang tahunnya Lita. Gimana sih lo?” Aku garuk-garuk kepala. Jujur, aku sudah tidak marah lagi ke Gani, yang ada malah kangen. Tapi masih ada gengsi buat minta maaf.
“Oke ntar siang, gue ke tempat Gani.” Tantra bersidekap. Sikapnya benar-benar menunjukkan sikap defensif. Heran saja, kenapa Tantra marah besar kayak gini? Bukannya sedikit membelaku atau apa. Oke, disini aku yang salah, tapi Tantra kan sahabatku, dari SMP lagi! Bela dikit kan gak masalah, kecuali . . .
Kecuali Tantra ada rasa sama Gani.
Ah ngaco! Tapi, siapa tahu kan?
“Tan, lo sama Gani?” Tantra agak kaget dengan pertanyaan keceplosanku barusan sebelum akhirnya menghampiriku.
“Iya! Kalau kerjaan lo cuman bikin Gani mewek mulu kayak sekarang, jangan salahin gue kalau ntar gue yang bahagiain dia! Gue balik dulu.”
“Eh Tan! Tunggu! Lo becanda kan?”
“Gue serius.” Ah shit! Si Gani menariknya dimana sih? Kalau aku yang jadi rebutan kan wajar. Aah, kangen Gani.
***

Gani Pov
“Yakin lo gak papa?” Radit kayaknya masih berat melepas kepergianku.
“Gue baik-baik aja Dit, seriusan deh.”
“Tapi kenapa lo harus pergi sih? Lo gak kasian sama gue? Jadi sendirian?” Aku terpaksa harus memutar kedua bola mataku. Radit semakin berlebihan.
“Lebay lo! Gue balik ke Jogja juga cuman sampai Senin. Hari Selasa kan kita masuk buat tahu hasil ujian. Aduh Dit, jujur ya daripada mikirin Beno, kayaknya gue lebih takut sama hasil nilai ujian gue deh. Kalau semua mapel gue remidiasi gimana? Mateng banget gak sih gue?”
“Lo tuh ya! Terus Beno gimana? Uda ada hubungin elo belom?” Aku menggeleng. Tadinya, siang ini aku mau ke rumah Beno, tapi Bapak tiba-tiba telepon kalau beliau sama Ibu kangen. Ya sudah, aku langsung ikut penerbangan paling cepat yang bisa aku dapat. Ini kan urusannya sama keluarga, orang tua. Aku gak mau kualat ya.
Kalau memang Beno worth it, dia pasti tidak akan tergesa-gesa mengambil keputusan. Main ucap kata putus se enteng itu.
“Gan, ayok.” Denny meraih ranselku dan membawakannya. He’s such a gentleman, doesn’t he?
“Den, gue titip Gani, awas kalau sampai ada apa-apa.”
“Iya.” Ya, ya, aku tahu kalian pasti akan mencibirku. Kenyataannya, aku memang pulang kampung bareng Denny. Padahal waktu itu, Beno yang mau ikut. Hhhh, terkadang janji memang tidak bisa semuanya terealisasi kan?
Beno membenciku, Denny ada disini. Jangan salahkan aku, aku hanya butuh sandaran untuk sementara. Kalau dipikir-pikir, aku ini juga enggak lebih baik dari Shandy ya?
Oke, aku tahu aku jahat. Bajingan, memanfaatkan Denny untuk mengobati luka hatiku karena Beno. Biarlah, aku memang bajingan.
***

Beno Pov
Aku masih saja maju mundur, padahal aku sudah berada didepan gerbang rumah Radit. Tinggal pencet bel, gerbangnya bakal dibukain deh sama satpam. Tapi ini ya, susah banget! Serius! Aargh, makan saja gengsiku! Kalau karena gengsiku, aku jadi benar-benar kehilangan Gani gimana?
Aku menguatkan hatiku sebelum akhirnya memencet bell. Aku sengaja tidak menelepon Gani, takutnya dia marah dan tidak mau menemuiku. Kalau aku datang dadakan begini kan dia tidak mungkin sempat bikin alasan macam-macam.
“Lho Mas Beno? Masuk mas. Nyari Mas Gani atau Mas Radit nih?”
“Gani Pak, ada kan?” Kataku menjawab pertanyaan Sardi, sambil memasukkan motorku.
“Waduh, baru saja pergi barengan Mas Radit itu Mas. Tunggu didalam saja Mas. Paling sebentar lagi juga pulang.”
“Oke Pak.” Aku memarkirkan motorku, sebelum akhirnya naik keatas. Bukannya tidak sopan, aku memang terbiasa langsung naik ke kamar Gani dan Radit. Tak terkunci, seperti yang aku duga.
Aku tersenyum ringan saat melihat fotoku yang di tempel di dinding, fotoku yang tengah bermain bola. Lalu beberapa fotoku dan Gani, kami berdua tersenyum lebar dalam foto itu.
Aargh, kenapa kemarin aku begitu tergesa-gesa mengucap kata putus?
Aku tahu Denny masih mencintai Gani, tetapi seharusnya aku lebih mempercayai Gani kan? Tidak semudah itu menuduhnya selingkuh, dan yang paling penting tidak semudah itu mengatakan kata-kata perpisahan. Menyesal juga bukannya percuma, toh waktu tidak bisa diputar mundur.
“Eh elo Ben, ngapain lo?” Radit, untuk ukuran sahabat matinya Gani, aku cukup terkejut dia tidak langsung mengusirku.
“Gani mana? Kata Pak Sardi pergi sama lo tadi.”
“Ngapain lo nyariin Gani?” Radit mengucapkannya dengan santai sambil melepas jaketnya.
“Gue mau minta maaf.”
“Gani uda balik Jogja, paling juga nerusin kelas tiganya disana. Entar paling orangtuanya kesini buat ngurusin surat pindah sekolahnya.” Deg. Ucapan Radit langsung membuatku mengeluarkan keringat dingin.
“Lo serius kan? Gak lagi ngerjain gue atau dendam sama gue?”
“Aduh Ben! Gak penting juga kali gue becandain lo!”
“Lo tahu alamat Gani yang di Jogja gak?”
“Lo mau nyusul? Percuma juga lagi Ben, emang lo bakalan dapet ijin dari orang tua lo? Gak yakin gue.” Radit benar. Mana mungkin kedua orang tuaku memberiku ijin, dan yang pasti uang saku untuk ke Jogja? Mustahil.
“Terus gue mesti gimana Dit?” Radit mengedikkan bahunya ringan. Dia sepertinya enggan peduli. Aku terpaku sebentar, sebelum akhirnya sadar bahwa tidak ada gunanya juga aku berlama-lama disini.
“Kalau gitu gue balik dulu. Thank Dit, Bye.” Shit! Shit! Seandainya aku lebih cepat meminta maaf ke Gani! Sial, sial! Aku belum siap untuk jauh dari Gani.
Aku menelpon Tantra ketika aku sudah berada diatas motor.
“Tan, lo dimana?”
“Oke, oke, gue ke rumah lo.” Aku menutup telepon, menstater motorku dan berlalu dari rumah Radit.
***

“Hah? Serius lo Gani pindah ke Jogja?” Tantra menyerahkan orange juice padaku, walau aku sedang tidak bernafsu memasukkan apa-apa ke mulutku.
“Radit yang bilang.”
“Tapi masa sih? Kan sayang banget tinggal setahun juga. Lagian bukannya Gani mau lanjut ke UI ya? Makanya akhir-akhir ini doi ikut les? Ngapain pulang Jogja juga?” Aku hanya menggeleng. Aku juga sama tidak tahunya dengan Tantra tentang masalah ini. Apa ini ada sangkut pautnya denganku? Goblok! Jelas ada, banget!
“Gue mesti gimana Tan?” Aku lesu.
“Tenang aja, Gani gak mungkin bisa melenggang gitu aja. Doi pasti balik lah, sekedar buat ambil barang-barangnya di rumah Radit atau apa, rapor mungkin?”
“Kalau orang tua Gani yang nglakuin itu?”
“Gani gak sepengecut itu buat lari dari masalah Ben, walau gue belum kenal lama sama Gani, gue tahu dia anaknya gak cemen.”
“Gue bener-bener idiot, nyesel banget gue.”
“Lo sayang banget sama Gani ya?” Aku menatap Tantra, tidak mengerti kenapa dia menanyakan hal bodoh yang jelas-jelas sudah bisa dia jawab sendiri. Kalau aku tak mencintai Gani, aku tidak akan tersakiti dengan perbuatannya kemarin. Karena, bukankah yang berpotensi menyakiti kita, justru adalah orang-orang yang kita cintai? Karena pendapat orang yang kita cintai itu benar-benar mempengaruhi kita kan?
“Gue, somehow, gak pernah bisa ngerti orang yang bisa menangis, tertawa, senyum-senyum gak jelas, hanya karena seseorang.” Tantra melanjutkan ucapannya.
“Gue pengen jatuh cinta Ben, gak peduli sama cewek kek, sama cowok kek, gue cuman pengen ngerasain, gimana rasanya jatuh cinta, gimana rasanya jadi konyol karena seseorang.”
“Lo tau gak Tan, Gani itu bukan cuman seseorang buat gue, dia segalanya buat gue.”
“Gue bakalan bantuin elo kok. Kalau Radit jadi galak ke elo ya wajar, kan sohibnya yang elo sakitin, tapi dia gak bakalan galak ke gue kan?” Tantra meneguk orange juice nya. “By the way Ben, lo kalau ada apa-apa, cerita ke gue dulu ya? Lo kan bukan Denny yang berpikiran panjang, lo itu selalu pendek pikirannya, jadi gue gak pengen ntar lo bikin keputusan-keputusan mendadak. Ujung-ujungnya bikin lo nyesel.”
Aku tersenyum ringan, “Oke.”
***

Aku masih tidak percaya bahwa aku berada disini, di tempat yang sekarang aku benci dan bersama orang yang tidak aku sukai. Tempat ini dulunya, adalah tempat favoritku dan Gani nongkrong, sekarang? Jangankan buat nongkrong, mampir aja males. Caffe nya Shandy.
“Jadi gimana Ben?” Shandy, memamerkan sederet giginya dengan seringai licik. Bagaimana aku sekarang bisa berada disini? Tadi, setelah aku pulang dari sehabis bertemu Tantra, Shandy menghubungiku. Awalnya, aku maki-maki. Maksudku, berani-beraninya dia menghubungiku setelah menjebakku? Tak tahu malu.
Tapi, tetap saja aku menuruti keinginannya untuk memintaku datang ke tempatnya. Caffe tempat Shandy bekerja ini belum buka, hanya ada aku dan dia disini.
“Video ini masih save di handphone gue. Tapi kalau lo macem-macem, gue bisa kirim ini ke guru lo. Dan taraaaaaa, lo bakal terkenal deh.” Sekarang, kalian tahu kan alasanku berada disini?
“Mau lo apa sih Shan? Gak lucu tau gak lo.”
“Mau gue ya elo. Lo tinggalin si Gani, trus lo pacaran sama gue.”
“Ada opsi lain? Atau gue gak bisa milih?”
“Pilihan lainnya, video lo kesebar. Gue tahu semua alamat email guru-guru lo. Jadi, pikirin dengan bijak.” Shandy berdiri, celingukkan sebentar. “Bentar lagi, orang-orang caffe bakalan dateng.” Dia memajukan wajahnya tepat dihadapan wajahku, “Gue tunggu besok malam lo di klub.”
***

Gani Pov
Magelang? Aku kangen tempat ini. Kangen Bapak Ibu juga. Tapi, mungkin kalian penasaran, kenapa aku bisa sekolah di Jakarta, sedangkan kedua orang tuaku tinggal disini. Ini yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun. Siapapun.
Aku bukanlah anak kandung kedua orang tuaku. Walaupun mereka baik padaku, luar biasa baik. Jika bukan mereka sendiri yang mengatakannya padaku, bahwa aku diadopsi dari panti asuhan, aku juga pasti tidak akan percaya. Dulu kedua orangtuaku tinggal di Jakarta, aku  diadopsi dari salah satu panti asuhan Jakarta. Malangnya, data-data tentang orangtua kandungku hilang.
Saat aku menginjak usia kelima, Bapakku memutuskan untuk pindah ke daerah. Tempat kelahirannya dulu. Aku? Aku ikut kok. Dan sama sekali tidak ada niat untuk pindah atau tinggal di  Jakarta, waktu itu, saat itu, saat aku belum tahu kebenarannya.
Aku pindah ke Jakarta saat aku akan memasuki bangku SMA, berjuang sendirian, dengan harapan, suatu saat akan menemukan orangtua kandungku.
Sekarang? Saat aku melihat kedua orang tuaku yang sedang menyiapkan makan malam untukku dan Denny, aku merasa tidak ada gunanya mencari siapa sebenarnya orangtua kandungku.
Hah, sudah lama juga sebenarnya aku menyerah mencari keberadaan orang tua kandungku. Sejak aku mulai pacaran dengan Denny.
Lalu aku bertemu Radit, lalu Beno.
“Gan, ayo makan dulu Le, ntar keburu dingin ini lho.”
“Inggih Bu,”
“Ayo, Mas Denny, jangan sungkan-sungkan.” Denny tersenyum. Denny, salah satu penyesalan terbesarku. Seandainya, dulu aku tidak gegabah.
 Lihat dia yang dengan santai dan sopan menanggapi guyonan Bapak. Tapi, yang aku pikirkan sekarang adalah Beno. Yang ada dalam tiap pikiranku adalah Beno.
Lebih mudah kalau aku pacaran dengan Denny, bukankah dulu kita hampir tidak pernah bertengkar? Denny selalu mengalah.
Denny sempurna, karena dia bukan Beno.
Denny sempurna, tapi dia bukan Beno.
Ya, tapi Denny bukan Beno.
Aku kangen kamu Ben.
***

Beno Pov
“Oke.” ,Kataku mantap.
“Oke apa?” Shandy memainkan gelas berisi cairan alkohol di jarinya.
“Gue mau jadi pacar lo.” Shandy terbelalak sebentar, sebelum akhirnya rileks kembali.
“Gue butuh bukti.”
Aku menulan ludahku dengan susah. Yang namanya minta bukti, itu pasti sesuatu yang sulit. Apalagi berhubungan dengan Shandy. “Lo minta apa?” Aku memberanikan bertanya. Sebisa mungkin mengatur suaraku agar tetap santai. Aku tidak ingin terlihat tertekan dihadapan musuhku.
“Lo ML sama gue, sekarang.”
Aku menaikkan kedua alisku tidak percaya, “Disini?”
“Ikut gue,” Shandy, lagi-lagi memamerkan senyum liciknya.
Aku, sebenarnya, antara takut dan deg-degan. Tapi ini akibat kecerobohanku, dan aku ingin memperbaikinya. Setidaknya, hingga semua kondisi terkontrol kembali. Kapan Ben? Aku tersenyum kecut menjawab pertanyaan dari diriku sendiri.
Shandy membawaku melewati lorong, hingga bunyi musik dan hingar bingar club hampir nyaris tidak terdengar. Shandy membuka sebuah pintu, memberiku kode agar aku mengikutinya masuk.
Begitu aku masuk dan menutupnya, aku tidak menguncinya tentu saja. Jaga-jaga untuk kabur kalau keadaan darurat.
Shandy langsung memburuku dengan ciuman. Tangannya secara tidak sabar membuka semua pakaianku. Aku bahkan takut kaosku robek atau kenapa-kenapa, itu salah satu kaos favoritku, yang dipilihin Gani.
Ya, ya, aku sengaja memakai kaos itu agar aku ingat, dan tentu saja tidak lepas kontrol. Here we go.
Aku membalas sama ganasnya, melepas semua pakaian Shandy, melorotkan celana jeansnya dengan tergesa-gesa dan aku buang dekat pintu.
Aku mengoral Shandy.
Jujur, terpaksa.
“Aah, Ben, udah lama gue pengen diisepin gini sama lo. Gilak, lo jago banget.” Nikmati surga lo Shan, nikmati. Sebelum neraka lo dateng.
***

Tantra Pov
Hal paling menjijikkan yang pernah aku lihat seumur hidupku. Dua lelaki yang tengah bergumul tanpa sehelai benangpun. Bahkan, mereka tidak menyadari keberadaanku. Yah, kalau mereka menyadari keberadaanku, tamatlah riwayatku dan Beno.
Aah, aku bahkan tidak percaya Beno begitu menikmati perannya, atau dia memang tidak sedang berpura-pura? Ruangan yang cukup gelap ini tidak menyulitkanku untuk menemukan celana jeans milik Shandy dan mengambil Handphonenya.
Aargh, enak juga.
Aku seperti agen rahasia saja.
Setelah benda yang aku inginkan berada di tanganku, aku segera pergi. Melihat dua lelaki bercinta? Iuh, bukan minatku. Mungkin aku memang straight. Padahal Gani lucu kalau dijadiin pacar. Hahaha.
Aku menunggu di mobil, sambil menonton konsernya JT yang aku download tadi siang. Lumayan buat nungguin Beno.
Tapi, dipikir-pikir lama juga mereka mainnya. Ini udah setengah jam lewat. Atau jangan-jangan Shandy sadar lagi handphonenya gue colong? Trus Beno diapa-apain lagi?
Tapi masa sih? Aku tadi uda mesen ke Beno, buat Shandy crot duluan. Kalau doi udah crot kan kadang suka lemes dan lebih bagus lagi ketiduran. Aah, mana ada sih rencana yang berjalan mulus, tanpa analisa yang bagus? Nah, kelemahan rencanaku dan Beno, kita tidak menganalisa Shandy. Seberapa kuat dia bertahan di ranjang? Setelah ejakulasi, apa kebiasaan Shandy? Apakah dia type yang tahan main berjam-jam dan beronde-ronde?
Gilak! Mana sempet kita bikin analisa, kalau waktu yang kita punya bahkan kurang dari 24 jam?
Ini rencana paling mendingan daripada usulan-usulan rencana Beno yang bisa dikategorikan kriminal.
Seperti meracuni Shandy, menyewa pembunuh bayaran, pukul ditempat. Aku bisa kasih saran, semprot baygon aja sekalian.
Aku hampir mau menyusul Beno kedalam lagi. Ini sudah satu jam. Namun, baru aku mau turun, kaca jendela mobilku diketuk. Aku tersenyum begitu melihat Beno yang masih berkeringat muncul dari baliknya.
“Gimana?” Tanyaku begitu Beno sudah duduk disampingku.
“Dia gak sehot fisiknya, baru juga gue oral uda crot.”
“Kenapa bisa nyampe satu jam lebih kalau gitu?”
“Tadi dia minta ngoral gue. Gue tahan mati-matian biar gak keluar ini pejuh.” Beno mengambil tissu dari jok belakang. Sedangkan aku, mulai menstater mobilku.
“Gimana lo bisa lolos?”
“Gue ijin mau kencing.” Beno tersenyum. “Lihat nih, bukan cuman hapenya doang yang kita gondol, dompetnya juga.”
Aku tertawa terbahak. “Kita bener-bener kriminal.”
“Dia salah pilih lawan Tan, gak tahu aja kita ini bandelnya dulu ngalah-ngalahin gank motor.” Beno ikuta-ikutan tertawa. Yah, memang udah lama aku gak berbuat kriminal bareng Beno. Kurang Ian sih sebenarnya, tapi kali gak papa lah, daripada Ian useless juga nantinya.
Dan ini, baru dimulai. Bukankah saat terdesak, semutpun bisa menjadi harimau?


Bersambung . . . 

2 komentar:

leave comment please.