FOLLOW ME

Sabtu, 08 November 2014

BARISTA 10

Chapter Sepuluh

Gani Pov
Hari ini tes semester akhir dimulai. Setelah itu, aku mungkin bakalan naik kelas tiga, setelah itu aku harus mulai memikirkan universitas. Beno? Ah, lebih penting mana? Pendidikan atau pacar homomu? Aku menelungkupkan kepalaku dibawah tanganku. Bukan pusing karena soal-soal ujian, tapi lebih takut dengan waktu yang semakin berjalan.
Aku memeriksa kembali jawabanku sebelum akhirnya menyerahkan kepada pengawas. Sambil menunggu Radit keluar dari ruang ujian -kebetulan ruang ujianku dan Radit berbeda- , aku menuju kantin. Setelah sebelumnya aku mengirimkan BBM ke Radit bahwa aku sedang dalam perjalanan ke kantin.
Hari ini ada dua ujian, PKn, yang tentu saja sangat menyebalkan! Karena jujur saja, aku lebih tertarik menghitung soal matematika dengan rumus daripada harus memikirkan jawaban PKn yang kalimatnya hampir sama semua dan terlalu dibuat-buat.
Bukan berarti aku suka keduanya tentu saja.
Lalu Bahasa Indonesia.
Setibanya di kantin, aku langsung memesan siomay, 3 gorengan dan jus mangga. Aku lapar sekali, tadi setelah ujian PKn selesai aku tidak bisa makan. Aku langsung belajar lagi dan sedikit tanya-tanya Elliot tentang soal-soal Bahasa Indonesia yang semalam tidak bisa aku jawab.
Jadi, wajar kalau aku sangat kelaparan.
“It’s make me so frustated.” Aku menengok ke arah sumber suara. Tantra, agak surprised juga. Maksutku jarang banget aku menemukan dia berkeliaran sendirian.
“Tumben lo bisa frustasi?”
“Tumben lo keluar cepet pas ujian?” Aku tertawa mendengar balasan Tantra.
“I’m so over it.” Aku menyuapkan siomayku secara perlahan. Ternyata aku tidak selapar yang aku bayangkan.
“Lo ada acara abis ini?” Aku menelengkan kepalaku ke kiri. Berpikir sebentar.
“Enggak ada. Kenapa?”
“Enggak belajar buat ujian besok? Matematika lho.” Aku menggeleng pelan.
“Bisa entar malem, lagian gue uda belajar dari jauh-jauh hari jadi paling cuman mengingat ulang aja.”
“Widih, sejak kapan lo jadi rajin gini Gan? Ckck, ketinggalan berita ini gue.”
“Hasyah, lebbe lo! Tadi lo nanya gua free atau kaga emang mau ngapain?”
“Temenin gue nyari buku di gramed bentar. Bisa?”
“Nope, tapi mending ganti baju dulu. Masih siang ini, dikiranya kita bolos lagi.” Lalu tiba-tiba aku kepikiran sesuatu.
“Tumben lo ngajaknya gue? Gak bareng Ian atau Beno?” Tantra menggeleng.
“Enggak, bosen. Oke, kalau gitu gue drop lo dulu ke rumah trus kita langsung cabut.”
“Lo gak ganti? Gue doang?” Aku keheranan. Percuma dong, Tantra keciduk, aku bisa kena getahnya.
“Gue bawa kaos sama celana, ntar bisa ganti di mobil.”
“Oh, oke.” Aku konsentrasi menghabiskan siomayku. Dan melihat Radit yang tak kunjung datang, aku mengirim BBM bahwa aku akan pulang dengan Tantra. Sekalian ngabarin Beno juga.
“Uda selesai? Cabut yuk!”
“Oke Tan, bentar gue bayar dulu.”
“Uda, gue yang bayarin!” Aku cengo geli.
“Dalam rangka apa lo nraktir gue?”
“Uda mau nemenin gue ke Gramed!”
“Buahaha, jayus.”
Aku dan Tantra melangkah ke halaman parkir sekolah. Aku terkesima juga dengan kecepatan Tantra mengganti mobilnya. I mean, satu minggu yang lalu mobilnya masih ford yang mirip honda jazz itu. Aduh apalah serinya, aku tidak tahu karena aku bukan anak yang update soal mobil. Dan sekarang mobilnya sudah Honda City. Yang ini aku tahu karena jelas di belakang ada tulisannya. Sama sekali bukan karena hebatku. Thanks, halah! Aku curiga dia buka jasa sewa mobil atau mungkin penitipan mobil.
“You are a rich man. May be, gue harus mulai dating sama lo. Hahaha.” Kataku begitu masuk ke dalam mobil Tantra.
“Hahaha, wanna try? Gue gak kaya, I am lucky! Kan orang tua gue yang kaya.” Tantra meraih tas yang tergeletak di jok belakang dan membukanya. Celana jeans pendek dan kaos. Feelingku gak enak ini.
“Jangan bilang lo mau ganti sekarang,”
“Hehehe, punya gue gak jauh-jauh beda dari Beno kok.”
“Semprul!” Tantra hanya nyengir sambil membuka baju seragamnya satu persatu dan menggantinya dengan kaos dan celana jeans. Mau tidak mau, dan karena area pandanganku juga sempit, aku bisa melihat lekuk tubuh Tantra yang ya bisa dibilang memang. Uhm uhm, seksi.
“Kenapa Gan? Gue tipe lo ya?”
“Shut up and drive, bitch!!”
***

Tadinya sih mintanya ditemenin ke Gramed doang, tapi malah kita jalan-jalan ke Matahari. Dan begitu melihat diskon yang lumayan gede, aku tidak terlalu peduli ini diskon dalam rangka apa. Itu tidak termasuk dalam prioritasku sekarang. Yang pasti harganya jadi turun lumayan. Walaupun Tantra anak orang kaya, dia sama sekali bukan korban branded. Pacarable banget ini. Hahaha
Aku dan Tantra membawa banyak baju, jaket dan celana untuk dicoba diruang ganti.
“Udah, berdua aja. Kan luas! Gue juga sekalian mau minta pendapat cocok apa enggak ini baju buat gue.”
“Lo gak mau modus kan?” Aku memicingkan mataku, memasang ekspresi securiga mungkin ala Lelly Sagita.
“Halah, gue gak makan punya temen sendiri. Lagian, gua straight.”
“Ya kali gue percaya.”
 Akhirnya dengan gaya ogah-ogahan aku masuk kedalam kamar ganti. Memang cukup luas sih. Dan agak cengo ngiler ketika Tantra sudah berdiri dan hanya memakai celana dalam. Double shit! Gimanapun, aku ini gay. Cowok suka cowok. Apalagi model kayak Tantra, haduh!
Rileks Gan, rileks Gan, take a breath, take control. Lo bisa menghadapi iblis satu ini!!
“Gimana yang ini Gan?”
“Beuh, cocok sih. Tapi jatuhnya kayak om-om.” Tantra memasang tampang sedemikian rupa sehingga mau tak mau membuatku tertawa geli.
“Andai dulu gue lebih cepet.”
“Maksut lo?”
“Abis dulu lo jelek, sekarang-sekarang aja keliatan manisan dikit.”
“Bangke babik lo ya. Katanya straight?” Lalu tawaku dan Tantra pecah.
***

Beno Pov

Panas. Dan ada nyeri yang tidak bisa aku jelaskan melihat keakraban Gani dan Tantra. Sejak kapan mereka berdua seakrab itu? Waktu tadi Gani BBM kalau dia akan pergi dengan Tantra, aku mengikutinya. Entahlah, bukan karena aku mencurigai pacarku sendiri. Atau aku tidak percaya dengan sahabatku sendiri, hanya saja tiba-tiba motorku sudah mengikuti mobil Tantra.
Tidak ada yang patut aku curigai sebenarnya. Mereka berjalan seperti biasa, tidak ada yang tidak wajar. Tapi tetap saja, ada sakit. Ada sesak yang aku tidak tahu itu apa.
Apalagi ketika mereka masuk ke ruang ganti barengan. Aku hampir kehilangan kendali diri dan ingin menyusul lalu menonjok abis-abisan Tantra. Bukannya dia tahu kalau Gani itu pacarku? Apa hanya feelingku saja? Atau memang Tantra sedang mencoba mendekati Gani?
Aku memutuskan untuk pulang.
Namun hingga malam, pikiranku tak kunjung membaik. Panggilan telepon dari Gani aku abaikan. BBM, LINE, dan pesannya pun tak aku baca. Entah kenapa aku ingin Gani tahu kalau aku sedang marah. Aku ingin Gani datang dan menjelaskan semuanya.
Bodoh! Mana mungkin Gani tahu kalau aku tengah cemburu?
Handphone ku lagi-lagi berbunyi. Gani.
Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk mengangkat teleponnya.
“Kemana aja? Dari tadi aku telepon gak diangkat! Message ku gak ada yang dibales satupun! Aku udah didepan gerbang rumah kamu, bukain buruan!” Belum sempat aku membalas, sambungan telepon sudah dimatikan. Aku menghela nafas sebentar sebelum turun kebawah.
Aku membuka gerbang dan melihat Gani berdiri dengan tas ransel sekolah. Matanya penuh sorot kemarahan. Bukannya aku yang harusnya marah? Tanpa berkata apa-apa, Gani berjalan masuk menuju kamarku. Dan aku hanya mengikutinya dengan diam.
“Udah makan?” Pertanyaan itu keluar dari bibirku setelah beberapa menit aku dan Gani hanya berdiam diri.
“Aku ada salah?” Gani memunggungiku. Pundaknya bergetar sedikit.
“Aku kira kamu sakit, kamu kenapa-napa.” Aku diam.
“Baru kali ini aku kamu diemin. Semua telepon dariku gak diangkat, pesan juga gak dibales.”
“Maaf.” Aku berjalan pelan dan memeluk Gani dari belakang.
“Maaf.” Aku mengulangi permintaan maafku.
“Aku liat kamu sama Tantra tadi. Langsung down, entahlah aku tadi ngerasa sesek, nyeri ah bingung!” Sepertinya mulutku hilang kendali karena aku terlalu kacau.
“Tantra? Jadi karena Tantra?” Gani memutar badannya. Aku masih bisa melihat butiran bening diujung matanya. Shit! Aku bikin pacarku sendiri nangis! Aku hanya mengangguk lemah.
“Tantra emang seksi sih.” Aku menatap Gani tak percaya.
“Tapi bukan berarti semua cowok ganteng aku ajak esek-esek, aku bahkan gak ada pikiran kesana sama sekali! Dan kamu? Tantra? Dia kan temen deket kamu sendiri!” Gani melepaskan diri dari pelukanku dan merebahkan diri diatas ranjang.
“Namanya juga cemburu.”
“Aku laper, tadi abis nemenin Tantra belanja aku gak sempet makan karna panik mikirin kamu.” Aku tersenyum sedikit.
“Mau keluar sebentar?” Gani melongok kejam tangannya.
“Uda malem banget.”
“McD banyak yang 24 jam. Cuci muka dulu sana!”
“Aku nangis juga gara-gara kamu.” Kata Gani sambil berlalu keluar. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil kemudian mengambil jaket dan keluar menstater motor.
“Pake jaket dulu, dingin.” Gani diam saja ketika aku memakaikan jaketku ke tubuhnya. Tak berapa lama dia memelukku.
“Thanks. I love you.”
“I love you too. Maaf ya uda bikin cemas.”
“Maaf juga uda bikin kamu cemburu.”
***

“Yakin cuman makan burger ama kentang doang?” Gani mendongak.
“Seolah-olah aku rakus banget gitu ya?” Aku terkekeh geli.
“Biasanya juga dua ayam.”
“Aah, I am on diet sayang.” Aku menatap Gani tak percaya. Gani? Diet? Come on!
“Tuh fans kamu.” Gani menunjuk dengan dagunya. Shandy! Jakarta sempit ya? Perasaan kalau keluar malem ketemu mulu ama itu anak. Dan dengan gaya santai tapi sengak Shandy menghampiri mejaku dan Gani.
“Gak keberatan kalau gue gabung kan?” Otomatis aku langsung melirik Gani, yang diluar dugaanku malah mengangguk mengiyakan.
“Boleh,” Gani kesurupan apaan nih?
“Lo kok jarang ke caffe sih Ben sekarang? Sibuk pacaran mulu ya?”
“Iyalah, masa sibuk flirting ama pacar orang?” Ehm, Gani memang tenang, tapi tetap kata-katanya dalem ya. Aku melirik Shandy yang hanya bisa nyengir tanpa menimpali ucapan Gani.
Akhirnya kita bertiga makan dalam diam. Suasana canggung, terlebih Gani juga diam, tidak berinisiatif membuka obrolan. Aku juga jadi gagu, seolah-olah aku bayi baru lahir yang mengucapkan sepatah kata saja tidak mampu. Shandy? Aku berharap dia bisa membaca situasi dan pergi, tapi toh nyatanya dia dengan cueknya menikmati paha ayamnya dengan sesekali melirikku.
“Kamu uda selese Gan?” Yang aku tanya hanya mengangguk tanpa semangat.
“Duluan Shan.” Shandy hanya tersenyum ringan. Tumben itu anak enggak ngajak ribut.
Aku berjalan agak cepat, menyusul Gani yang sudah berjalan duluan tadi. Dia sudah stand by di samping motorku, tampangnya mirip anak TK lagi ngambek. Dan itu membuat Gani semakin adorable.
“Hei,” Tangan kananku mengangkat dagu Gani lalu tanpa rencana menyesap bibirnya pelan. Gani kaget, aku bisa membaca reaksinya. Namun hanya diawal, karena selanjutnya dia juga ikut hanyut dan membalas ciumanku.
Rasanya sudah sangat lama aku tidak berciuman seintim ini dengan Gani. Kalau aku tidak ingat ini dilapangan parkir mungkin aku sudah melucuti semua pakaian Gani dan merebahkannya lalu mulai menghamilinya. Haha, seakan-akan dia bisa hamil saja.
Akhirnya dengan berat hati aku melepas ciumanku. Sebelum kepergok oleh seseorang.
“Aku anterin kamu pulang ya?” Gani menggeleng.
“Aku nginep, mau belajar Matematika sama kamu.” Dan melihat mata Gani juga tonjolan di bawah perutnya. Apalagi gairahku yang juga belum surut, aku yakin kita berdua nantinya bakal sama sekali jauh dari kata belajar Matematika.
***

Shandy Pov

Lokasi shootnya di puncak. Villa pribadi ini milik teman Temmy, seperti yang aku bilang diawal kemarin. Handuk putih melingkar dipinggangku, Tian dan Rendy. Namanya juga promo underwear jadi enggak ada acara kita pake baju, celana panjang atau kemeja. Yang ada celana dalam, celana dalam seksi, celana dalam mini dan oh ya, naked. Hhh, kenapa harus ada nakednya? Bukan berarti aku belum pernah difoto naked, hanya saja biasanya hanya tiga orang. Lha sekarang? Ada lebih dari sepuluh orang termasuk Rendy, Tian dan aku.
Aku harus telanjang didepan sembilan orang. Konyol sih, tapi aku merasa sedikit malu.
Temmy sedang menyuruh dua orang untuk menyiapkan segala sesuatu, aku tidak ingin tahu karena aku sedang diarahkan oleh Tedi –salah satu asisten Temmy- tentang beberapa kali aku harus ganti underwear.
Pemotretan dimulai dari Rendy. Rendy memang profesional, atau enggak tahu malu ya? Mungkin eksibis? Karena sepanjang pengamatanku Rendy tidak begitu menunjukkan gejala risih sama sekali. Bahkan ketika Temmy menyuruhnya untuk membuat penisnya ereksi, Rendy dengan santai mengeluarkan batangnya dari sempak seksinya dan mulai sedikit mengocok biar tegang. That’s weird, karena entah kenapa aku mulai on.
Apalagi ketika adegan naked, Rendy seperti gak sabar ingin menunjukkan batangnya. Dan, ehm baru kali ini aku memperhatikan tubuh telanjang Rendy sedekat ini. Aku memalingkan wajahku. Aku pikir aku hanya terangsang pada Beno saja. Dugaanku jelas salah. Aku memang gay. Damn!
Shoot kedua Tian, dan kita pindah lokasi. Aku mengambil roti selai nanas dan sebotol air mineral sebelum aku mengikuti teamku yang sudah berjalan duluan. Rendy juga harus ikut walau sudah selesai, kan nanti masih ada scene berdua dan bertiga.
Temmy bilang hari ini harus kelar, biar ntar malem kita hanya tinggal relaks sambil menikmati dinginnya puncak sambil minum dikit.
Tian ini unik, walau terlihat PD, namun kenyataan kalau dia berusaha keras agar  penisnya tidak terlihat kamera tidak bisa disembunyikan. Seperti menutup penisnya dengan tangan atau berpose sedemikian rupa, hingga Temmy berteriak agar Tian lebih relaks. Jujur, aku saja rasanya ingin menyingkirkan tangan Tian yang sedari tadi sibuk memegangi batangnya.
Saat Temmy menyuruhnya duduk dengan kaki mengangkang, Tian tidak berkutik. Aku mengagumi tubuh Tian, umurnya masih belasan dan dia sudah sangat siap untuk disantap. Aah shit!! Denny lebih siap disantap ketimbang Tian, dan bahkan Denny masih lebih muda ketimbang Tian. Senyumku tersungging, bukan berarti aku bakal berhenti mengejarmu Ben. Hanya saja, aku akan mencicipi yang ada saja dulu sebelum aku mendapatkanmu dan menyatapmu sebagai makanan utama.

Gani Pov

“Si Shandy ini bau-baunya psikopat!!” Radit sedikit nyengir mendengar perkataanku.
“Tahu dari mana lo?”
“AttDar gue itu sembilan puluh delapan persen selalu benar ya.”
“Excuse me, apa itu AttDar? Baru denger gue, bahasa bencong baru? Kok gak ada bences-bencesnya?” Aku menjentikkan jariku didepan Radit.
“Attitude Radar, semacam mengetahui karakter orang dalam sekejab.”
“Gile, jadi dukun lo sekarang?” Aku mengibaskan tanganku asal.
“Gak tahu deh Dit, feeling gue bilang sih si Shandy ini gak bener!!”
“Gue juga gak suka sama dia Gan, tapi kita kan gak kenal dia luar dalem. Yang kita kenal cuman kulitnya doang lho. Jangan maen judge dulu gitu.” Aku menunduk. Benar juga sih.
“Bukan berarti gue belain dia lho Gan.”
“I know. Apa gue yang terlalu paranoid ya? I mean, kalo face to face gue jelas kalah saing lah ama Shandy!!”
“Enough about your enemy gak jelas lo itu ya, tuh ex seksi lo kayaknya mau nyamperin lo deh. Ada janji sama dia?” Aku mengikuti arah pandang Radit. Aku memang ada Janji sama Denny. Lita ulang tahun, dan aku diundang. Siang ini, aku mau mencari kado buat Lita.
“Uda siap kan Gan?” Aku mengangguk sambil mengambil tas selempangku yang tadi aku letakkan secara asal diatas rumput.
“Duluan ya Dit?”
“Oke, safe sex ya?” Aku memutar kepalaku dan memelototi Radit semaksimal yang aku bisa.
“Udah ijin sama Beno kan?” Tanya Denny saat sudah sampai di parkiran.
“Udah.”
“Oke, good.”
“Stop smiling Den, kita cuman mau beli kado.”
“Yeah, beli kado and another things.”
“Gak bakal ada another things.”
“We’ll see Gan, we’ll see.” Entah kenapa aku malah jadi ragu untuk naik ke boncengan. Aku takut, apa yang diucapkan Denny bukan sekedar ancaman belaka. Bukan cuman omongan sambil lalu belaka.
“Hahaha, paranoid amat sih kamu Gan. Janji gak bakal macem-macem.” Aku masih menatapnya curiga.
“Come on!! Besok masih ada ujian lho.” Akhirnya aku naik juga ke boncengan.
“Tapi kalau kamu yang minta aku macem-macemin ya aku gak bakal nolak!!” Dengan sedikit  jengkel, aku mencubit pinggang Denny. Dan Denny hanya nyengir. Hhh, aku lupa kalau senyuman Denny ini jenis senyuman yang efeknya sama kayak minum wine satu botol. Bikin kesadaran menipis dan linglung.
He is my ex boyfriend.
Correct, my ex adorable boyfriend.


Bersambung. . .

1 komentar:

  1. lanjutannya mana? keren bgt ne cerita.......

    BalasHapus

leave comment please.