FOLLOW ME

Sabtu, 31 Agustus 2013

THE SERIES 3

Okay, aku harus relaks. Benar-benar relaks. Ini hanya sekedar terapi Sen, biar nanti terbiasa. Namun tetap saja saat mataku dengan jelas menangkap adegan mandi Herry dan Hendra yang dengan santai bilas dihadapanku malah membuatku salting sendiri. Pengennya menikmati, tapi nanti takut ketahuan kalau aku doyan lelaki.Tapi kalau nggak dilihat kok sayang sekali. Itu kan tepat didepan mata gitu.
“Kamu nggak ikut mandi tho Sen?” aduh, Herry jangan bertanya sambil menghadap ke arahku dong. Itu tititmu melambai-lambai pengen di elus-elus.
“Nggak! Dingin gini, ntar masuk angin!”
“Halah, alesan!” kata Herry sambil melanjutkan acara bilasnya. Gila ya nih dua anak! Exposed banget gitu.
Setelah acara bilas selesai, kita kembali ke rumahnya Herry. Udah disediain banyak makanan. Aku kurang tahu nama-nama dari makanan itu. Namun saat aku mencoba ternyata enak juga.
“Ini namanya Balung kuwuk mas! Cobain tho mas Seno. Ayo, Hendra juga cobain!” balung kuwuk? Aneh banget namanya. Itu bentuknya kayak apa ya? Aduh, nggak berbentuk deh.Tapi enak, walaupun agak keras di gigi. Ada juga mendhut, kalau yang ini aku agak kurang suka. Lengket-lengket gitu sih. Terus karang gesing. Banyak deh yang disediain ibunya Herry.
“Aduh Bu, malah jadi ngerepotin ibu nih!” kataku kurang enak. Abis jumlah hidangannya banyak banget. Kayak buat sepuluh orang.
“Ues tho mas, gak apa-apa! Ibu seneng kalau mas Seno main kesini.” Aku hanya tersenyum kecil. Akhirnya karena hari sudah sore, aku memutuskan untuk pulang. Tentu saja Herry ikut, kan motor dia masih ada dirumahku. Aku mengantarkan Hendra terlebih dahulu, baru setelah itu kita menuju rumahku untuk mengambil motornya si Herry.
“Thanks ya Her! Asik banget tadi.”
“Sama-sama tho Sen! Eh, kamu iki kok nggak pake mobil sendiri saja ke sekolah?”
“Gue belom punya SIM bos!” kataku sambil mengantar Herry sampai pintu gerbang depan. Herry segera menstater motornya, tersenyum padaku sesaat.
“Duluan yo Sen! Aku balik dulu.” Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Hati-hati Her!” Herry masih sempat mengangguk sebelum akhirnya lepas landas. Hasyah!
Today is beautiful day! Beneran deh, aku tidak pernah menyangka bahwa di tempat ini tersembunyi tempat yang menakjubkan seperti tadi. Natural dan belom tersentuh dunia modern.
“Kenapa Sen? Senyum-senyum sendiri?” mamaku muncul dari dalam sambil membawa serabi. Aku yang sedang duduk santai di kursi teras langsung malu sendiri karena ketahuan tengah senyum-senyum sendiri.
“Lagi Happy nih ma Seno.” Aku mendekat pada mamaku sambil mengambil serabi yang dibawa mamaku.
“Happy kenapa nih anak mama yang cakep sendiri?” ya iyalah cakep sendiri, lha aku ini anak tunggal kok.
“Pokoknya Happy! Ini siapa yang bikin Ma? Enak banget!” tanyaku mengalihkan topic pembicaraan.
“Lek Tukah! Eh kamu tu semenjak disini udah ketemu belom sama Adi?” keningku berkerut. Adi siapa ya?
“Adi siapa ma?”
“Kamu beneran lupa tho Sen? Dulu sebelum kita pindah ke Tangerang kan kamu mainnya sama dia!”
“Mama mah aneh! Kita pindah kan Seno baru tiga tahun! Mana ingat Seno ma!” mamaku geleng-geleng kepala sendiri sambil senyum-senyum malu.
“Hehehe, iya ya. Ya udah, sebelum makan malam kamu main gih ke rumahnya Lek Tukah di belakang, sambil ngembaliin piring ini.” Aku manyun. Memang sih kita pindah pada saat aku usia tiga tahun. Lalu lebaran tahun berikutnya kita tidak ke rumah eyang karena mama keguguran.Tahun berikutnya kita tidak datang lagi karena mama harus operasi mengangkat tumor di rahimnya. Baru saat aku berusia enam tahun kita sekeluarga bisa lebaran ke rumah eyang. Dan kalau aku ingat-ingat, aku tidak pernah tahu tuh kalau Lek Tukah punya anak lelaki. Setahuku anaknya itu si Karina! Dan itu cewek. Eh, kabar Karina gimana ya? Masa udah hampir sebulan aku disini dia nggak main kesini sih?
“Aduh ma, piringnya diisi apa gitu! Masa iya mau dibalikkin kosongan gitu? Mana kayaknya belom dicuci lagi!” mamaku meringis lagi sambil masuk kedalam. Lima menit kemudian mamaku sudah balik lagi dengan piring berisi buah anggur.
“Mama nggak bilang kalau punya anggur!”
“Baru beli tadi sama papamu! Masih ada di meja makan tuh! Udah gih anterin dulu!” aku segera menyambar piring berisi penuh anggur itu dari mamaku dan menuju rumahnya Pak Dirman dan Lek Tukah. Rumah eyangku tuh besar banget! Mungkin kalau dibangun secara modern bakal megah banget, seperti rumah artis Hollywood mungkin. Tapi ya begitulah, eyangku itu tidak suka dengan yang namanya perubahan! Dulu saja renovasi dilakukan karena rumah eyang emang beneran udah hampir bobrok! Padahal duit eyang banyak banget!
Aku berjalan sambil sedikit-sedikit mencicipi anggur yang aku bawa. Kan nggak etis nanti kalau ternyata anggurnya asem. Halah, ngeles aja!
Ternyata Pak Dirman sedang di teras. Rumah Pak Dirman ini masih masuk wilayah tanah eyangku loh. Seperti yang aku bilang tadi rumah eyang dan lahannya tuh hanya Tuhan yang tahu seberapa luasnya. Karena banyak rumah warga yang dibangun diatas tanah milik eyang. Oleh karena itu, eyang disegani banget!
“Lha Mas Seno! Waduh, ada apa ini Mas?” Pak Dirman yang mengetahui kedatanganku langsung saja menyambut dan  menghampiriku.
“Nggak apa-apa Pak. Ini mau ngembaliin piring.”
“Welah, kok repot-repot iki tho Mas Seno. Nanti kan gampang diambil ibune anak-anak tho!”
“Nggak papa Pak, sekalian main kok.” Rumah Pak Dirman juga ternyata sudah direnovasi. Seingatku dulu masih terbuat dari kayu sekarang sudah batu bata.
“Bu! Ini lho ada Mas Seno! Masuk yok mas!” aku masuk dan duduk nyaman di ruang tamu rumah Pak Dirman.Tidak berapa lama Lek Tukah muncul sambil kembali membawa piring berisi anggur yang tadi aku bawa ditambah beberapa kue di toples.
“Waduh, Lek nggak usah repot-repot! Seno Cuma main kok!”
“Hush! Mas Seno ini lho! Udah ayo dimakan! Itu teh jahe angetnya diminum.” Aku jadi tidak enak sendiri. Itu tadi anggur kan aku bawa buat Lek Tukah masa iya dihidangkan lagi buat aku? Hihihi.
“Karina mana Lek?” aku yang tadi menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele dari Lek Tukah kini bertanya tentang sahabat kecilku dulu itu.
“Karina sekolah di kota sebelah Mas Seno! Ngekos dia, pulangnya sebulan sekali. Nanti kalau pulang Lek suruh main”
“Kelas berapa sekarang Karina Lek?”
“Dua SMP mas! Maklum nggak naik kelas satu kali!” akhirnya aku hanya ngobrol basa-basi sama Lek Tukah dan Pak Dirman. Mau pamit pulang rasanya nggak nemu kalimat yang pas. Ponselku bergetar. Sebenarnya itu sms dari Herry tapi aku gunakan ini buat alasan aku pamit. Ntar mamaku bisa melotot karena waktu makan malam bisa ditunda lagi gara-gara aku belom datang.
“Waduh, Lek, Pak, Seno pamit dulu ya! Udah dicariin mama!” alibiku.
“Lah? Nggak makan malam disini aja tho Mas Seno?” tawar Lek Tukah.
“Lain kali Seno main kesini lagi Lek. Ntar Seno makan malam disini deh! Janji!”
“Janji lho ya Mas Seno. Ati-ati ya Mas ya!”
“Iya Lek!” aku segera menelusuri jalan yang tadi aku lewati. Belum genap setengah jalan, aku bertemu seseorang yang mungkin menjadi daftar terakhir orang yang ingin aku temui tahun ini. Taufik! Ngapain tu anak nyasar sampai kesini? Aku sengaja pura-pura tidak tahu. Sebodo amat dah, ngeselin sih orangnya.
“Darimana Sen?” hah? Nggak salah dengar nih kuping?
“Itu dari rumah tetangga. Lo sendiri?”
“Ini mau pulang. Duluan ya!” aku mangut-manggut bego. Ya saking bingungnya dengan sikap Taufik barusan aku jadi seperti orang idiot. Beneran dah! ini Taufik kesambet kali ya? Sumpah, Sikapnya kayak nggak ada dendam sama sekali. Padahal kan sepertinya dia dendam pas MOS. Seperti punya urusan pribadi gitu sama aku. Bodo amat ah! Makan malam sudah menanti! Cepet ah jalannya!
***

Aku tengah ngumpul bareng Herry dan Hendra di kantin saat Taufik masuk kedalam kantin. Sepertinya kemarin itu, Taufik emang kesambet. Lihat saja ekspresi wajahnya ke arahku. Jutek banget kayak induk anjing baru beranak.
“Eh, foto sing kemarin di kali kedu mana Sen?”
“Nih, mau lo cetak Her? Nggak tau malu banget lo!” Herry meringis saja sambil menerima ponselku. Dia sepertinya takjub dengan fotonya sendiri. Berarti dia tidak hanya eksibis namun juga narsis.
“Kamu bisa nggak cetakkin? Kamu kan punya printer tho Sen? Ntar kertas fotonya aku yang beli.” Aku mengangguk walaupun tidak mengerti. Maksutku, dia kan foto hanya mengenakan celana dalam dan itupun basah. Buat apaan coba foto seperti itu dicetak?
“Emang buat apaan tho Her?” good job Hen! Seengaknya aku tidak perlu bertanya sendiri. Thanks to Hendra.
“Rahasia.”
“Nggak asik lo main rahasia-rahasiaan!” Herry Cuma cengengesan saja. Kita bertiga ngobrol ngalur ngidul. Ya emangnya kita mau ngomongin soal pelajaran? Nggak mungkin kan? Nanti juga kita masuk kelas pelajaran sudah menanti.
“Eh, katanya kalo kita kelas tiga bakalan ada study tour ke Bali lho.” Ini Herry yang mulai.
“Makanya kan kita wajib nabung seminggu dua kali. Ya itu buat persiapan study tour.” Sambung Herry lagi. Memang sih, kita semua diwajibkan untuk menabung seminggu dua kali. Biar nanti pas study tour tidak ada yang tidak ikut karena alasan biaya.
“Itu kan masih lama Her! Dua tahun lagi.” Kataku pelan. Aku sengaja tidak menambahi bahwa study tour SMPku ke Bali dan sudah sangat sering ke Bali, nggak etis saja kali ya.
“Hehehe, tapi aku seneng banget! Nggak sabar!”
“Halah, nanti kalo udah mulai belajar kamu yo lupa tentang Bali.” Aku tertawa saja kalau Hendra dan Herry sudah mulai berdebat. Lucu aja lihat keduanya debat dengan bahasa jawa. Walaupun aku nggak ngerti.
Seperti biasa, kalau sudah jam pulang gini Herry sudah cabut duluan dengan motornya. Sedangkan aku dan Hendra masih setia menunggu Pak Karyo menjemput. Tumben-tumbenan Pak Karyo jemputnya terlambat. Biasanya on time bahkan kadang-kadang jemput lebih awal.
“Pak Karyo kok lama amat ya? Biasanya on time nih!”
“Macet kali Sen!” aku menatap Hendra dengan jengah.
“Gila, macet? Sejak kapan nih kota mengenal macet?”
“Hehehe. Sabar saja. Udah di sms belom?”
“Udah, nggak ada balesan! Apa gue telepon aja ya?” Hendra mengangguk. Emang mungkin lebih cepat kalau aku langsung menelepon.
Ternyata hasilnya juga nihil. Nggak diangkat! Akhinya aku menelepon mamaku.
“Ma, jemput Seno dong!” kataku langsung begitu sambungan teleponku diangkat.
“Iya. Ini mama juga sudah di jalan. Pak Karyo sakit jadi nggak bisa jemput kamu.”
“Oh, ya udah. Cepet ya ma.”
“Iya.” Jawab mamaku singkat sambil mematikan sambungan telepon. Pak Karyo sakit apa? Perasaan fisik Pak Karyo tuh terlihat sehat dan bugar banget.
“Piye Sen?”
“Mamaku lagi jemput kok Hen. Pak Karyo sakit.” Hendra hanya ber-ooo panjang. Aku sendiri tengah sibuk dengan pikiran-pikiranku sendiri. Tidak selang berapa lama mamaku sudah datang.
“Pak Karyo sakit apa ma?” tanyaku begitu aku dan Hendra masuk mobil.
“Ini mau nganterin Hendra dulu?” Mamaku emang sudah hafal dengan Hendra. Ya secara itu anak sering banget aku ajak main ke rumah. Tapi kok mama nggak menjawab pertanyaanku sih?
“Ke rumah aja ma. Hendra main dulu dirumah sama aku.” Mamaku hanya mengangguk.Tumben ini mama nggak secerewet biasanya. Ada apaan sih sebenarnya? Sumpah aku jadi bingung sendiri.
“Perasaan tadi pagi Pak Karyo masih baik-baik saja kok. Masa iya sekarang dia sakit?” lagi-lagi mamaku tidak menjawab.
Aku sedikit tersentak saat sudah memasuki gapura kampung tempat tinggal eyang. Ada bendera putih disana. Belum genap keterkejutanku, aku sudah disuguhi pemandangan yang tidak biasa. Dirumah eyang banyak sekali orang.
“Sen, Pak Karyo sudah nggak ada Sen.” Ujar mamaku pelan. Aku syok jujur. Maksutku tadi pagi Pak Karyo masih baik-baik saja. Aku tahu itu karena dia masih mengantarkanku ke sekolah.
“Kapan ma?” tanyaku tidak bertenaga.
“Tadi siang. Pak Karyo tertabrak motor saat menyebrang jalan Sen.” Umur manusia memang tidak ada yang tahu. Selama ini aku memang tidak tahu apa-apa tentang Pak Karyo. Setahuku dia dari dulu bujangan sampai berkeluarga memang sudah menjadi sopir pribadi eyangku. Bahkan sudah dianggap keluarga.Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang Pak Karyo. Yang aku tahu hanya dia sangat baik, ramah, sopan dan tepat waktu. Betapa jahatnya aku! Tidak mengetahui apa-apa tentang sopirku. Aku juga tidak pernah bertanya pada Pak Karyo tentang keluarganya. Damn me!
Aku turun dari mobil dan berlalu ke kamarku. Setelah aku berganti baju aku bersama Hendra dan mamaku pergi kebelakang.Ternyata rumah Pak Karyo terletak dibelakang rumah Pak Dirman.
“Taufik?” aku tidak habis pikir. Kok ada Taufik? Aku juga melihat beberapa senior yang aku kenal.
“Lha itu kamu masih ingat sama Adi. Dia anaknya Pak Karyo. Temen main kamu dulu waktu kamu kecil.” Aku berusaha mengingat-ingat, namun tetap saja tidak ada memori tentang Adi di otakku.
“Taufik itu Adi?”
“Taufik Adi Widayat. Masa kamu lupa?” aku beneran tidak ingat. Sumpah! Sepertinya aku harus menggali ingatanku. Namun tidak sekarang pastinya. Taufik dan ibu separuh baya yang aku taksir adalah istri Pak Karyo berjalan menghampiriku dan mamaku.
“Ikut berduka ya Bu.” Kata mamaku sambil menjabat wanita paruh baya tersebut.
“Nggih Bu Lilis. Niki Mas Seno? Bagus temen saiki nggih?” aku tidak mengerti yang mama dan wanita ini bicarakan. Aku hanya ikut menyalami wanita ini dan sedikit terkejut saat wanita ini memelukku dengan sangat erat. Menepuk-nepuk pipiku sesaat dan memandangiku gemas. Bahkan air matanya semakin deras mengalir setelah melihat wajahku. Kenapa?
Lalu saat aku menyalami Taufik. Jujur dendamku hilang tidak berbekas. Aku sudah tidak mengingat-ingat lagi kejadian-kejadian saat MOS dimana dia dengan semena-mena menghukumku seenak jidat. Aku melihat luka yang dalam di wajahnya. Kerapuhan yang berusaha ditutupi dengan wajah tegar.Tidak ada air mata di wajahnya. Hanya matanya yang merah sudah menunjukkan seberapa dalam luka yang dia derita.
“Aku ikut berduka cita Mas Adi.” Aku tidak tahu kenapa aku memanggilnya ‘Mas Adi’. Insting saja. Dan aku bisa melihat sedikit air muka terkejut di wajahnya.
“Iya sama-sama Dek Angga.” Jawabnya sambil memelukku erat. Aku bingung. Dek Angga? Lagi-lagi aku mengutuk otakku. Kenapa aku bisa tidak mengingat satu momenpun bersama Taufik? Yang aku ingat hanya momenku saat bersama Karina.Tapi bersama Taufik? Atau Adi? Tidak ada sama sekali. Lagipula pandangan wajahnya tadi. Pandangan merindu. Sial! Adakah sesuatu di masa laluku dengan Adi? Aku dan Hendra hanya mengobrol kecil. Sedangkan mamaku sudah menemani ibunya Taufik lagi. Beberapa kali wanita yang masih terlihat cantik itu menangis di pundak mamaku. Dan sesekali juga melirikku dengan tatapan merindu. Aku benar-benar tidak mengerti!
***

Aku memandangi wajah mama dan papaku bergantian. Pasti mereka tahu sesuatu! Ini sudah dua hari lewat dari waktu Pak Karyo meninggal dan kali ini aku tengah menginterogasi mama dan papaku. Mereka pasti tahu sesuatu, terlihat dari mereka berdua yang dari tadi hanya berpandang-pandangan saja.
“Come on Ma, Pa! aku siap kok nerima kenyataan apa saja! Termasuk kalau aku ternyata adik kandung Adi!” teriakku putus asa karena kedua orang tuaku tetap tidak mau membuka suara.
“Hush! Kamu itu anak kandung papa sama mama! Wajah kamu saja nurun dari mama gitu!” iya sih. Wajahku memang wajah mama versi laki-laki.Terus? Kenapa Bu Marini –ibunya Adi- menatapku sarat kerinduan seperti itu?
“Lah terus apa Ma? Aku pengen tahu!”
“Ibu Marini itu ibu susu kamu.” Deg. Maksutnya apa?
“Dulu, waktu mama ngelahirin kamu mama tidak bisa mengeluarkan ASI.  Ibu Marini yang menyusui kamu Sen.” Okay, I knew it.
“Tapi kenapa aku nggak ingat sama sekali sama Bu Marini sama Adi Ma?” papaku menarik nafas panjang.
“Kamu dulu nangis meraung-raung saat mau berpisah dengan Bu Mar. Mungkin kamu nggak inget karena kamu masih tiga tahun waktu itu.Tapi saat kita datang lagi pas lebaran, umur kamu enam tahun waktu itu. Kamu menangis sejadi-jadinya waktu Bu Mar ingin memeluk kamu. Kamu ingat?” aku samar-samar memang mengingat momen itu. Dimana aku ketakutan dan menangis setiap ada wanita yang menurutku asing waktu itu ingin memelukku.
“Sejak itu Bu Mar hanya mengamati kamu dari jauh. Beliau tidak tega melihat kamu yang selalu menangis jika beliau mendekat.” Oh gitu. Gila ya! Kok bisa aku membenci ibu susuku sendiri? Ya, tapi aku kan tidak bisa disalahkan juga. Aku masih kecil waktu itu.
“Kenapa sih Mama nggak cerita?”
“Lah kamu nggak pernah nanya.” Aku merengut. Huh! Dengan langkah yang seolah-olah aku tengah merajuk aku meninggalkan kedua orangtuaku yang tengah duduk di teras dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Apa iya aku sekarang ke rumahnya Bu Mar saja ya? Minta maaf gitu. Ih, tapi bisa mati gaya. Mau ngomong apaan aku nanti? Ah, masa bodo ah! Yang penting aku main dulu kesana. Urusan mau ngomong apaan bisa dipikirin ntar.
Aku segera melangkahkan kakiku walaupun masih dengan ragu. Tersenyum kecil pada Lek Tukah yang tengah menyapu halaman rumahnya.
“Mau kemana Mas Seno?” tanya Lek Tukah sambil menghentikan aktifitas menyapunya sebentar.
“Ini mau ke rumah Bu Mar Lek.” Lek Tukah hanya tersenyum kecil sambil mengangguk dan meneruskan aktifitas menyapunya. Aku melangkah lagi dan semakin meragu. Aduh, balik lagi aja kali ya?
“Lho Mas Seno?” tepat saat aku mau membalikkan tubuhku, aku kepergok Bu Mar.
“Hehe, iya Bu.” Aku menjawab salting. Nggak ngerti harus bagaimana.
“Darimana? Mampir dulu yuk ke rumah Ibu.” Aku hanya mengangguk dan menjawab tidak jelas sambil mengikuti Bu Mar masuk kerumahnya.
“Mas Seno sekarang udah gede ya? Gagah!” aku kembali tersenyum tidak enak. Aduh, mau ngomong apaan nih?
“Lho Dek Angga?” Taufik yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut malihatku. Aku juga terkejut dan penasaran pastinya. Karena seumur-umur belum pernah ada yang memanggilku Angga. Bahkan mama dan papaku sekalipun.
“Angga? Kenapa Mas Adi manggil aku Angga?” lalu aku melihat wajah kebingungan dalam raut Bu Marini dan Taufik Adi Widayat. Beneran tambah nggak ngerti!


Bersambung lagi. . .

5 komentar:

  1. D'tunggu lanjutannya y_nan.. (⌒_⌒)v penasaran sama masa lalu seno sama si taufik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anonim9/17/2013

      mas sekarang taufik sedang di ICU (Sakit)

      Hapus
    2. taufik siapa nih?

      Hapus
    3. Anonim9/18/2013

      Taufik Adi Widayat, dalam cerita diatas

      Hapus

leave comment please.