FOLLOW ME

Senin, 19 Agustus 2013

THE SERIES 1

Aku memandangi papa dan mamaku bergantian dengan gemas. Well, bukan apa-apa. Hanya saja rasanya aku masih belom bisa menerima kenyataan bahwa mereka dengan semena-mena memutuskan untuk pindah ke rumah eyang. SELAMANYA! Garis bawahi tuh. Dan jelas keputusan ini mau tidak mau membuatku berpisah dari teman-temanku di Tangerang sana. Padahal kita sudah merencanakan untuk sekolah SMA bareng di Jakarta. Tapi apa daya? Terdamparlah sekarang aku di kota tembakau ini (katanya sih kota tembakau).
“Seno, berhenti memajukan bibirmu lagi atau mama akan menyunatnya.” Aku memutar kedua bola mataku dan memandangi mamaku dengan tatapan sebal.
“Ma, bisa kan eyang saja yang dibawa ke Tangerang? Ngapain coba kita pindah kesini segala.” Aku mulai melancarkan salah satu argumenku. Aku tahu ini percuma saja.
“Eyang nggak bisa pindah Sen! Kamu tahu sendiri sifat eyangmu itu bagaimana. Lagipula, eyang kamu itu kan sayang banget sama rumah di kampungnya itu. Beliau pasti nggak mau pindah Sen.” Papaku ngomong panjang lebar. Kalimatnya hampir sama dengan yang kemaren-kemaren. Bahwa eyang itu sudah tua, bahwa eyang itu sayang sekali dengan rumahnya. Whateverlah, yang jelas ini semua bikin aku bĂȘte.
“Turun Sen, sudah sampai.” Tanpa menunggu perintah mamaku untuk yang kedua kali aku segera turun dari mobil. Ternyata banyak sekali orang-orang yang berada didalam rumah eyangku. Rumah eyangku itu khas sekali rumah jaman dulu. Seperti rumah jaman Belanda gitu, hanya saja sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Namun tetap saja, kesan Belanda masih lengket di rumah eyangku.
“Wah, Arseno cucu eyang sudah gede tho. Ganteng temen tho saiki.” Eyang segera mencium pipiku. Dan walaupun aku sedang memusuhi eyangku karena kepindahan ini, aku tetap tidak bisa membenci eyangku. Bagaimana aku bisa membencinya? Wajahnya saja ramah dan penyanyang sekali. Aku hanya tersenyum menanggapi sambutan eyangku.
Ternyata, banyak orang yang sedang berada di rumah eyang itu karena rumah eyang sedang digunakan untuk nyinom. Jadi tetangga eyangku ada yang menikah dan rumah eyangku digunakan untuk masak-masak. Ya itu dia, istilahnya nyinom.
“Seno capek ya? Istirahat saja dulu. Eyang ues nyiapin kamar buat Seno. Cucu eyang ini lho. Jan, ganteng temen!” sepertinya eyangku masih saja gemas dan tidak percaya bahwa aku sudah tumbuh sebesar ini. Maklum, sudah hampir dua tahun keluargaku tidak berkunjung ke kampung eyang. Biasanya sih pas Lebaran, karena papa dapat libur lama, begitu juga aku. Sekarang sih nggak perlu lebaran lagi, karena kita bakal tinggal disini selamanya! Ya, karena eyang kakung baru saja meninggal kurang lebih tiga bulan yang lalu. Keluargaku ikut melayat waktu itu, namun aku tidak bisa ikut dikarenakan tengah menghadapi ujian semester. Eyang segera menuntunku ke kamar yang sudah disiapkan untukku. Kelihatannya eyang bahagia sekali dengan kedatanganku. Oh iya jelas, karena aku satu-satunya cucu yang dimiliki oleh eyangku.
Ayahku, putra dari eyang mempunyai kakak lelaki, namanya Supriyadi.Tapi sayang, Paman Pri mandul dan tidak mempunyai anak. Salut saja dengan istrinya, Lek Tin (aku memanggilnya seperti itu) yang setia mendampingi Paman Pri.
“Mas Seno, ini kopernya mau diletakkan dimana?” kata Pak Dirman, lelaki paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga eyangku sejak dari dulu. Bukan hanya Pak Dirman, istrinya Lek Tukah juga mengabdi pada keluarga eyang. Mereka tinggal dibelakang rumah eyang.
“Di situ aja Pak, makasih.” Jawabku sambil tersenyum. Pak Dirman menganggukan kepalanya sebelum berlalu dari kamarku. Aku segera menutup pintu kamarku dan langsung merebahkan diriku di atas ranjang. Urusan nata baju, itu nanti saja. Sekarang ini aku ingin tidur dulu sepuasnya. Perjalanan dari kota Tangerang hingga sini menempuh waktu sebelas jam. Belum ditambah makan dan istirahat. Jadi, wajar saja jika aku ingin tidur sepuasnya.
***

“Sen, Sen. Bangun tho le, udah malam. Makan malam dulu tho.” Aku membuka mataku dan melihat eyang yang sudah duduk di tepi ranjangku. Sudah malam? Ngigau ah nih eyang. Namun pada saat aku melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, mataku langsung siaga penuh.
“kok udah jam tujuh sih eyang?” aku hampir tidak percaya dengan penglihatan mataku sendiri.
“Lha, koe kiey tidur kayak kebo kok le. Yo, maem dhisik yo.” Aku segera menyeret kakiku untuk ke kamar mandi. Mencuci muka sebelum makan malam. Aku mengerti bahasa jawa sedikit-sedikit. Namun, kalau disuruh ngomong bahasa jawa, aku kesulitan. Maklum, kerumah eyang kan hanya waktu lebaran saja, sedangkan aku besar di Tangerang.
“Rene-rene. Lauknya mau apa kiey? Ayam bakar? Apa rica-rica mentok?” Eyangku sudah heboh sendiri saat aku duduk di meja makan. Sudah ada mama dan papaku yang kalau dilihat dari tampangnya, sepertinya kesal padaku. Mungkin karena aku, makan malam jadi agak terlambat kali ya.
Sedangkan Paman Pri dan Lek Tin senyum-senyum saja melihatku. Sebenarnya, keinginan eyang itu adalah ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama kedua anaknya, Supriyadi Prawiro dan Bambang Prawiro (papaku). Oh ya, namaku sendiri Arseno Erlangga Prawiro. Nama keluarga Prawiro cukup disegani ternyata di kota ini. Karena, katanya loh ya, keluarga Prawiro itu salah satu keluarga terkaya di kota ini. Beuh, berat nih bahasanya. Karena selain eyangku ini punya sawah yang hanya Tuhan yang tahu seberapa luasnya, juga mempunyai kebon kopi yang seperti kukatakan tadi, hanya Tuhan yang tahu. Luas banget! Sawah eyangku itu kadang ditanami tembakau kadang ditanami padi. Ya, bukan eyang yang nggarap sawahnya, tapi Paman Pri. Paman Pri tentunya dibantu banyak pekerja juga.
Ayam bakar aja eyang. Eh, nasinya jangan banyak-banyak eyang!” aku menatap piringku yang sudah pasti cukup untuk membuat dua orang mati kekenyangan.
“Ues tho Sen! Ibu itu lagi seneng cucunya dateng.” Paman Pri mengatakannya sambil senyum-senyum sendiri. Aku hanya bisa tersenyum kikuk.
Akhirnya, acara makan pun dimulai. Yah, sesuai dugaanku perutku tidak sanggup menampung semua makanan yang sudah diambilkan eyang tadi.
“Sen, kamu besok langsung sekolah ya? Paman sudah mengurus semua administrasinya.”
“Iya paman, trus besok bawa apa aja? kan besok itu masih masa MOS paman.”
“Udah, ikutin aja dulu. Lha wong kemarin Sabtu kamu masih di Tangerang kan? Paman udah ngomong sama kepala sekolahnya kok. Kamu santai saja.” Aku mengangguk. Jadi disekolah kota ini nggak ada MOS? Yakin nih? Sudahlah pasrah saja, toh pasti itu kepala sekolah sungkan karena yang meminta masih keluarga Prawiro. Nepotisme nih ya?
Sekolahku kayak apa ya besok? Jujur ya, males banget tau! Paling juga gitu-gitu aja. Sekolah di kota kecil gitu, paling pol ada apanya sih? Dengan kantuk yang sudah menyerang (hebat, baru juga bangun jam tujuh malam sekarang sudah ngantuk lagi-biasa lah jetlag-halah), aku segera memejamkan mataku. Sama sekali nggak excited dengan sekolah baruku besok.
***

Aku masih mengenakan seragam putih biruku –semasa MOS ini memang belum diperkenankan memakai seragam putih abu-abu- sepatu putih Nike keluaran terbaru dan juga tas selempang model keren limited edition. Aku diantar oleh pamanku, karena sama seperti aku, papaku juga tidak tahu apa-apa tentang sekolah baruku ini. Sejak aku turun dari mobil, banyak sekali mata-mata yang mengamati gerak-gerikku. Aku jadi risih sendiri. Maksutku, aku kan tidak biasa ditatap seolah-olah aku artis kesasar seperti itu.
“Waduh, Pak Pri. Jadi ini keponakannya ya?” tanya bapak-bapak setengah botak saat melihatku dan pamanku yang berjalan mendekat.
“Iya Pak. Saya titip lho ya.” Setelah itu mereka berdua –paman dan bapak setengah botak yang aku duga adalah kepala sekolah disini- terlibat perbincangan seru. Setelah mereka puas berbincang kesana kemari, akhirnya pamanku pamit pulang juga.
“Ayo sini, kamu dari Jakarta ya? Nama kamu siapa?” tanya bapak-bapak setengah botak tersebut yang aku tahu bernama Pak Ponijan.
“Dari Tangerang pak. Seno nama saya.”
“Oh ya Tangerang,” Pak Ponijan manggut-manggut. Seperti paham dengan apa yang aku bicarakan. “Fik, kamu bawa ini Seno gabung sama anak-anak baru di aula ya.” Pak Ponijan memanggil anak yang kebetulan tengah melintas. Anak yang dipanggil ‘Fik’ tadi mengamatiku sekilas. Jelas sekali pandangan meremehkan tergambar jelas di wajahnya. Salahku apa ya?
“Iya Pak. Ayo ikut aku.” Aku mengekor dari belakang. Si ‘Fik’ ini ternyata tinggi juga, karena tinggiku yang 172cm saja masih kalah tinggi dibandingkan si ‘Fik’ ini yang dari tadi hanya membisu.
“Jadi kamu tho ya cucu satu-satunya Eyang Prawiro itu?” huft, akhirnya mulutnya ngomong juga.
“Iya.” Jawabku singkat. Ngapain balas panjang-panjang? Buang-buang nafas saja. Lagipula ini anak kayaknya tipe jutek, nyinyir dan nyebelin.
“Oh, dari Jakarta sih ya. Pantes!” Mendengar nada bicaranya aku hampir saja emosi. Aku salah apa sih? Kok dia mencela aku banget! Brengsek emang!
Setelah sampai di aula aku segera bergabung dengan anak-anak yang tengah menjalani MOS. Dan aku kaget setengah mati. Penampilan mereka semua aneh-aneh sekali. Ajaib banget!
“Hei, kamu cucu Eyang Prawiro ya? Kenalin namaku Hendra.” Aku memutar kedua bola mataku sebelum menjabat tangan anak yang ada disampingku ini. Haruskah setiap orang menyebutku dengan sebutan ‘cucu eyang Prawiro?’. Woi, aku punya nama woi!
“Arseno, panggil aja Seno.” Jawabku sambil menjabat tangan Hendra.
“Woi yang disitu jangan ngobrol woi! Anak baru saja sudah belagu!” tahu siapa yang ngomong? Yup, anak yang dipanggil ‘Fik’ tadi oleh Kepsek.
“Dia siapa sih? Yang belagu kan dia bukan gue.” Tanyaku pada Hendra.
“Dia itu Taufik. Ketua panitia MOS ini.” Aku hanya bisa ber ‘oooo’ ria sambil manggut-manggut. Si Taufik ini sepertinya sensi banget sama aku. Beberapa kali dia menghukumku dengan semena-mena. Alasannya sih bermacam-macam, seperti aku yang tidak mengenakan atribut MOS –sepatu hitam, rambut dipotong 321 ala-ala tentara, tas dari karung tepung terigu, dan masih banyak aturan lainnya- aku juga yang beberapa kali ketahuan asik smsan –berakhir dengan gadgetku yang disita oleh Taufik- dan juga kakak-kakak kelas cewek yang beberapa kali menggodaku. Well, sepertinya keluarga Prawiro tidak berlaku dimata Taufik –si ketua panitia MOS- sialan itu.
“ingat ya adek-adek, disini semua diperlakukan sama! Tidak ada yang dibeda-bedakan! Mau itu keturunan Ningrat atau rakyat biasa, semua sama! Jadi jangan belagu! Mengerti?!” untuk kesekian kalinya, aku memutar kedua bola mataku dengan kesal. Aku tahu omongannya ini diarahkan ke siapa. Jelas ke aku!
“Balikkin handphone gue!” kataku pada Taufik saat MOS hari ini sudah selesai. Anak-anak sudah berhamburan pulang, menyiapkan bahan-bahan untuk MOS besok. Aku sih masa bodo. Halo? Kita kan mau sekolah bukannya mau ikut ketentaraan!
“Oh, iso sopan ora?” Aku menelengkan kepalaku ke kiri. Bingung dengan apa yang dia ucapkan.
“Lo bisa kan ngomong pake bahasa Indonesia aja? Atau dicampur juga boleh. Gue nggak ngerti apa yang lo omongin tadi.” Mendengar perkataanku, Taufik malah melotot.
“Ini kota kecil, bukan Jakarta! Ndak usah pake elo-gue, elo-guean.” I see, jadi aku tidak sopan karena pake elo-gue ke kakak kelas. Sensitive banget sih nih orang. Kayak lagi menstruasi aja.
“Oke, tapi bisa kan handphoneku dibalikin kak Taufik?” sengaja aku tambahkan kak disana biar lebih sopan.
“Besok tidak boleh bawa Hp! Ketahuan aku sita sampai MOS selesai.”Aku manggut-manggut bosan sambil menerima kembali smartphone ku. Setelah Taufik berlalu, aku segera menuju ke gerbang sekolah dan ternyata Pak Karyo sudah menjemputku. Pak Karyo ini sopir keluarga eyang.
“Ayo Den, dari tadi sudah bapak tunggu-tunggu. Kirain bapak, aden udah pulang.”
“Belom kok Pak, tadi ada sedikit urusan aja kok.” Lagipula, aku pasti nyasar kalau pulang sendiri.
“Oh, monggo den.” Kata Pak Karyo sembari membukakan pintu mobil untukku. Aku risih juga, maksutku aku kan tadi sudah mau duduk didepan, eh malah dibukakan pintu yang belakang. Kota ini asri sih sebenarnya, banyak banget pohon-pohonnya.
“Gimana tadi hari pertama sekolah?” Eyang bertanya saat kita tengah makan malam. Sekarang aku bisa lega karena aku sudah boleh dan diijinkan mengambil nasiku sendiri.
“Parah eyang! Beuh, nggak ada enak-enaknya!”
“Hush! Seno!” tegur mamaku cepat.
“Emang gitu kenyataannya ma! Mereka tu, para panitia MOS pada sensi sama Seno! Seno gini salah, Seno gitu salah. Ini itu salah! Pokoknya serba salah deh!” Eyang hanya tersenyum kecil mendengar keluhanku sedangkan mamaku menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Trus, besok disuruh bawa apa saja Sen?” deg! Pertanyaan dari pamanku ini langsung mengingatkanku. Aku tadi sepulang sekolah langsung molor, abis capek banget.
“Hhehehe, Seno lupa paman. Udah ah biarin aja! Paling juga dihukum lagi.”Jawabku masa bodoh. Sekalian mau bikin si Taufik itu kesel!
***

“Sen! Bangun Seno! Udah setengah tujuh nih!” aku merasa badanku seperti digoyang-goyangkan seseorang.
“ini anak, kalau tidur kayak kerbau! Pak Karyo tolong ambilin air Pak.” Aku lirih-lirih mendengar percakapan itu. Air? Buat apa air? Lalu aku merasa dahiku dingin, mataku juga merasa dingin.
“Aish, mama apa-apaan sih? Nggak lucu tau!” dumelku begitu tau mamaku dengan teganya membasuhkan air dingin ke wajahku.
“Kamu itu yang nggak lucu! Udah setengah tujuh Seno! Sekolah gih!” aku masih dengan wajah cemberut langsung turun dan bergegas ke kamar mandi. Eh, mama bilang jam berapa tadi? Setengah tujuh? Oh My God! Telat pasti ini, telat pasti!
Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, keputusan akhir ada di tangan Tuhan. Yup, aku terlambat! Tidak peduli bahwa tadi aku hanya mandi lima menit –rekor tercepat mandiku selama seumur hidupku- tidak melakukan ritual wajib setiap pagi, tidak menyentuh sarapan dan menyuruh Pak Karyo menekan gasnya kuat-kuat. Tetap saja aku terlambat!
“Maaf pak saya terlambat.” Kataku pada pak Satpam yang berjaga-jaga di pintu gerbang.
“Oh, mas Seno! Ayo masuk mas, masuk!” oh hebat! Baru sehari aku sekolah disini, dan semua orang sudah hapal dengan namaku, Jiah! Namun tidak apa-apa, ini malah keuntungan buatku. Aku dengan wajah berseri-seri berniat bergabung bersama anak-anak peserta MOS lainnya yang tengah mengikuti upacara –heran padahal kemaren juga sepertinya sudah upacara- namun langkahku terhenti oleh seseorang.
“Kamu tetap disini sampai apel pagi selesai!” oh, jadi itu bukan upacara tapi apel pagi. Pantas yang ikut hanya peserta MOS dan panitia MOS saja. Aku langsung duduk.
“Siapa suruh kamu duduk?” Ini anak maunya apa? Tadi katanya suruh tetap disini?
“Lah, bukannya kakak sendiri yang bilang saya tetap disini?”
“Iya! Berdiri!” jiah, sepertinya Taufik emang super rese banget! Aku langsung berdiri dan mengikuti jalannya apel pagi dari tempat yang tidak layak. Panas banget man! Mana tadi belom sarapan pula. Beuh, laper sangat euy! Sebenarnya, panitia-panitia MOS yang lain agak segan denganku. Tapi Taufik? Ini anak kayak nyari penyakit denganku!
“Heh kamu yang berdiri disitu,  jalan jongkok masuk aula!” aku mengerucutkan bibirku. Gila ya, halo kakak Taufik yang baik, aku punya nama lho! Namun dengan setengah niat aku melaksanakan juga perintahnya. Aku tidak mau dicap manja pada akhirnya nanti.Ternyata ada Hendra di barisan belakang, aku segera duduk bareng dia.
“Telat tho Sen?”
“He eh.” Kataku singkat sambil membuka tas karung kandumku yang sudah dibuatkan oleh Lek Tukah semalam. Aku segera mengambil roti tawar yang diolesi susu cokelat kesukaanku. Aku memang tadi menyuruh Lek Tukah sekalian memasukkan makanan ke tasku. Mengingat bahwa aku pasti tidak sempat sarapan. Antisipasi!
“Mau Hen?” tawarku pada Hendra. Hendra menggeleng pelan. Aku makan dengan sembunyi-sembunyi. Untung dibarisan belakang. Sedangkan seperti biasa, para panitia MOS sedang teriak-teriak tidak jelas. Ternyata, tidak ketahuan! Aye! Perut pun sudah terisi.
Hukuman hari ini tidak sebanyak kemaren, walaupun ada beberapa yang lupa atau memang sengaja tidak aku bawa. Seperti, apel tiga warna –merah, kuning, hijau- ini nyari apel atau lampu lalu lintas? Aku tidak membawanya karena sudah pasti hanya akan merepotkan. Lalu permen Kiss yang bertuliskan ‘aku anak dungu’. Ini panitia MOS sepertinya kurang berpengetahuan luas. Sejak kapan ya Kiss mengeluarkan produknya dengan tulisan seperti itu? Mau belajar bangkrut atau bagaimana? Dan juga membawa kecap dengan merek ‘miring-miring’. Kalau yang ini aku juga sempat geleng-geleng kepala. Maksutku, kalau memang kota ini memproduksi kecap dengan merek ‘miring-miring’ dan sepertinya itu tidak ada karena aku sudah bertanya pada Lek Tukah semalam, apakah ini salah satu motif kakak panitia MOS yang terhormat itu untuk menghukum kita? Sepertinya sih iya!
***

Finally, MOS itu pun berakhir! Walaupun Sabtu depan kita akan ada PERSAMI (Perkemahan Sabtu Malam Minggu) dan pastinya juga dijadikan ajang pembantaian juga. Namun, itu kan masih besok Sabtu. MOS disekolah ini hanya tiga hari, namun tetap saja terasa seperti sebulan. Udah kenyang banget aku sama yang namanya jalan jongkok, push up dan sit up. Ini MOS mirip banget sama kemiliteran. Ya nggak sekejam itu juga sih, tapi miriplah!
“Sen. Kamu dapet kelas ndi?” Hendra yang dari belakang langsung menjajari langkahku.
“Sepuluh B Hen. Lo?”
“Sama! Kita sekelas berarti!” aku mengangguk senang. Bagaimanapun juga, aku kan tidak punya kenalan disini. Berbeda lah dengan mereka yang paling tidak ada teman-teman mereka semasa SMP. Aku kangen teman-teman SMP ku. Aku dan Hendra segera memasuki kelas kami. Pemandangan disini agak beragam. Ada yang sudah memakai seragam putih abu-abu, ada juga yang masih memakai seragam putih biru. Mungkin seragam mereka belum jadi kali. Aku sendiri sudah memakai seragam putih abu-abu yang dulu aku beli di Tangerang. Warna abu-abunya keren dan pas di tubuhku. Kalau seragam yang diberikan oleh sekolah ini masih ditukang jahit. Aku dan Hendra memilih bangku paling belakang.
“Lo napa Hen? Natap gua segitunya banget!” tanyaku heran. Hendra memang sedari tadi mengamatiku atas bawah.
“Ndak kok. Anak Jakarta emang beda yo! Keren banget seragammu kiey Sen!” aku menggeleng pelan. Semua daerah tu sama saja kok. Di Tangerang yang cupu juga banyak.
“Hahaha, mau lo?”
“Yo pasti kegedean tho kalau buat aku. Lha wong kamu tinggi banget kok Sen.” Aku tertawa lirih. Kalau kata mamaku sih, aku masih bisa tinggi lagi.Tinggi badanku aku warisi dari mama. Mamaku itu dulunya super model top ibukota, namun semenjak menikah dengan papa, mama sudah tidak bekerja lagi. Mama fokus membesarkanku. Makanya, aku dekat sekali dengan mamaku. Mamaku tingginya 175cm sedangkan papa hanya 165cm. Hhihihi.
Hari ini belom mulai pelajaran, hanya perkenalan guru-guru saja. Walaupun sudah ada beberapa guru yang mulai memperkenalkan materinya.
“Kantin yuk Hen!” ajakku saat istirahat kedua.
“Kamu wae, aku ndak usah.”
“Lha kenapa? Lo nggak laper gitu?” aku mengamati wajah Hendra yang memerah. Ini anak kenapa sih?
“Gue traktir deh, ayok ah! Temenin gue makan! Laper banget!”
“Eh serius iki?”
“Serius apaan?” tanyaku bingung.
“Itu traktir.”
“Iye! Yok ah!” aku dan Hendra, setelah bertanya-tanya akhirnya nemu juga kantinnya. Aku segera memesan bakso goreng, demikian juga Hendra. Katanya, menunya disamakan denganku. Asik juga nih Hendra anaknya, manis lagi. Coba kalau sedikit di make over, pasti kelihatan keren. Maksutku, itu celana jangan gantung gitu. Sepatunya juga musti diganti. Ntar deh, kayaknya ada beberapa sepatuku yang udah nggak aku suka. Tapi dia tersinggung nggak ya kalau aku kasih sepatu bekasku? Masih bagus kok.
Dari obrolanku dengan Hendra, aku tahu kalau Hendra ternyata uang sakunya pas-pasan. Dia masih bisa jajan sebenarnya, tapi uang sakunya mau ditabung buat beli gitar katanya. Dia nggak mungkin minta duit ke ortunya buat beli gitar, soalnya Hendra nggak enak banget ngomongnya. Dia juga sempat menolak abis-abisan ideku untuk setiap hari mentraktirnya, akhirnya aku mengusulkan supaya aku akan membawa bekal dari rumah untuk makan siang Hendra. Daripada tu nasi-nasi mubazir kan buat makan ayam sama mentok-mentok dibelakang rumah eyang. Hendra akhirnya setuju saja.
“Waduh, ndoro priyayi doyan juga tho dahar ting kantin sekolah kampung.” Aku tidak tahu apa arti ucapan Taufik yang baru saja masuk kantin tadi. Namun kalau didengar dari suaranya, dia seperti menghinaku.
“Apa artinya tadi Hen?”
“Itu kamu, ningrat kok mau makan di kantin ini. Gitu kurang lebih.” Jawab Hendra takut-takut. Aku tahu, Hendra sengaja memperhalus bahasanya, dia kan masih kelas satu. Baru lagi, pasti lah takut dengan kakak kelas. Sepertinya Taufik emang mau cari gara-gara denganku. Dia pikir aku takut gitu? Lihat saja ntar! Senyum iblis langsung terkembang dibibirku.


Bersambung ye pamiarsa. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.