FOLLOW ME

Sabtu, 12 Oktober 2013

THE SERIES 6

Aku benar-benar ecxited walaupun aku tidak memperlihatkannya secara nyata. Mengamati Herry yang tengah mengganti bajunya untuk siap-siap tidur menjadi pemandangan yang tidak mungkin aku lewatkan. Bagaimanapun juga, aku sekarang tidak malu-malu lagi untuk menatapnya secara terang-terangan. Buat apa? Toh dia sudah tahu tentang perasaanku ini.
“Hehehe, nggak enak Sen kalau dipandangi seperti itu terus.”
“Lah kenapa?” tanyaku santai.
“Grogi, deg-degan.” Kata Herry sambil berjalan dan merebahkan tubuhnya disampingku. Sekarang malah aku yang jadi grogi.
“Sen? Kapan dimulai?” awalnya aku kurang mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Herry, namun beberapa detik kemudian aku paham. Aku menatap wajah imut Herry secara intens. Tanganku mulai melingkar dipinggangnya.
“Gimana Herry? Ada sesuatu yang elo rasain nggak?” Herry balas menatapku. Aduh, kok malah wajahku sih yang jadi blushing?
“Kamu itu manis ya Sen? Putih bersih wajah kamu. Ya pantes sih soalnya kamu priyayi.” Herry menggerakkan jari-jarinya untuk menyentuh wajahku. Membelainya dengan ringan dan lembut.
“Kulitmu alus. Kayaknya aku memang cinta sama kamu Sen, nih buktinya hatiku enjot-enjotan trus. Debarannya kenceng banget.” Mendengar kata-katanya, aku memberanikan diri untuk menyentuh dadanya yang terbalut kaos tipis. Aku bisa merasakannya, debaran itu. Pelan tapi pasti aku mengarahkan bibirku untuk bertemu dengan bibirnya. Awalnya Herry tidak paham, namun sepertinya instingnya menuntunnya dengan baik. Bibir kita bertemu, namun kemudian Herry mulai melumat bibirku dengan perlahan. Aku membalasnya dengan lembut. Aku tidak tahu apakah ini adalah ciuman pertama Herry, namun aku bisa merasakannya, He’s great!!
“Hehehe, enak tenan bibirmu Sen!” aku tersipu mendengar omongannya yang memang suka ceplas-ceplos.
“Kamu tahu Her kalau ini salah?” aku ini apa sih? Bukannya yang ingin pacaran dengan Herry itu aku? Lalu kenapa begitu Herry mengiyakan aku malah membuat dia meragu?
“Tahu. Aku lelaki, kamu juga lelaki. Tapi, aku bahagia sama kamu. Rasanya deg-deg sir nggak karuan.” Aku masih menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
“Sen, aku boleh nyipok kamu lagi nggak?” aku termangu sebentar sebelum akhirnya terkekeh pelan.
“Semaumu.” Herry tertawa tanpa suara sebelum akhirnya bibirnya melumat lagi bibirku.
Well, aku puas berciuman dengan Herry. Berapa kali ya tadi? Aku lupa! Yang jelas, aku dan Herry resmi pacaran. Setidaknya, dia milikku dan aku miliknya. Hahaha, gombal sadis! Namun yang namanya orang jatuh cinta, aku tidak peduli. Herry sudah lama tertidur di dadaku. Rasanya berat dan sesak. Tapi aku menyukainya. Aku menyukai segala sesuatu dalam diri Herry. Rakusnya saat dia makan, otaknya yang tidak pernah jalan saat membahas tentang pelajaran, tingkahnya yang seperti preman namun pada kenyataannya dia sama sekali belom dewasa. Hahaha, yap! Dia masih seperti anak kecil.
Aku dan Herry tidak berhubungan seks kalau kalian ingin tahu. Dan mataku entah mengapa tidak bisa diajak berkompromi untuk dipejamkan barang sejenak. Aku masih nyalang dengan dengkuran kecil Herry sebagai latar belakang musiknya. Tanganku bergerak membelai-belai rambut ikal Herry. Emm, tidak hanya tingkah lakunya saja yang seperti anak kecil. Wajahnya juga, cute banget! Walaupun tanda-tanda kalau dia anak yang bandel juga tergambar jelas di wajahnya. Aku menyukainya! Tidakkah aku sudah mengatakan hal ini berulang-ulang? Mungkin tidak akan cukup jika menyangkut perasaanku tentang Herry. Dan karena mungkin aku terbawa suasana yang semakin malam dan sunyi, mataku perlahan-lahan terpejam.
***

Aku berlari dan setengah berteriak. Yang aku heran tidak ada seorangpun yang mendengar teriakanku. Dimana semua orang? Kenapa tempat ini begitu sepi? Lalu suara gemerisik itu kembali mengusikku. Nafasku yang mulai putus-putus tidak aku hiraukan, aku terus berlari. Ular itu mendatangiku! Rasanya sendi-sendi di kakiku sudah mau copot. God, help me!
“Kenapa kamu lari?” suara itu parau. Terdengar berat dan sengau. Tenagaku sudah habis. Paru-paruku seperti mau meledak rasanya. Ular itu semakin mendekat ke arahku. Apa yang sebenarnya dia inginkan?
“Kenapa kamu lari?” lagi-lagi suara itu terdengar. Aku memastikan dengan seksama bahwa yang aku dengar ini tidak salah. Ular itu berbicara? Denganku? Perlahan-lahan ular itu seperti berubah bentuk dan aku sedikit ternganga dibuatnya. Aku memang belum pernah bertemu beliau. Saat aku lahir, beliau sudah tiada. Namun aku mengenalinya, potonya terpajang sangat besar di ruang tengah. Itu kakek buyutkah?
Aku terlonjak dari ranjang dan menyadari bahwa aku telah berada di bawah. Damn it! It was a dream? Rasanya aku benar-benar mengalaminya. Aku meraih ponselku yang terletak di meja samping tempat tidurku. Masih jam setengah lima pagi. Aku bangkit dari bawah dan berjalan keluar kamar. Aku haus sekali.
Pelan-pelan aku membuka pintu kamarku karena aku tidak ingin membangunkan Herry yang masih terlelap. Aku berjalan melintasi ruang tengah dan sedikit berdesir ketika melihat foto eyang buyutku. Loh, Mbok Dirah kok belom bangun ya? Biasanya jam segini Mbok Dirah sudah stand by di dapur. Mungkin bangun kesiangan. Aku mengambil air putih dari dispenser, meminumnya dengan cepat dan berjalan kembali menuju kamarku. Ini rumah eyang kalau sepi dan gelap gini kok serem banget sih ya? Lalu aku mendengar bunyi gemerisik itu. Persis seperti dalam mimpiku tadi. Don’t tell me kalau itu adalah ular yang hadir di mimpi aku tadi!
Anehnya, tidak seperti dalam mimpi dimana aku bisa berlari kencang, kakiku malah gemetaran hebat. Lututku serasa tidak bertulang. Aku hanya bisa diam ditempat, sedangkan suara gemerisik itu semakin dekat terdengar. Shit dah! Ini kaki pake acara ngadat disaat momen tidak tepat lagi. Siapapun tolong bangun dan tolong aku!
“Kenapa kamu lari dariku?” suara parau itu lagi. WAAAAAAAAAA!!!!!!
Aku terduduk dengan sukses dan melihat Herry yang tengah menatapku dengan tatapan cemas.
“Kamu nopo Sen? Mimpi buruk?” aku menatap Herry masih dengan tatapan liar. Lama-lama kesadaranku pulih dan mendorong tanganku untuk menyentuh wajah Herry.
“Woy, ngapain Sen? Ini udah pagi lho! Kalau ketahuan keluargamu bisa gawat!” aku tidak begitu peduli dengan racauan Herry. Sesegera mungkin aku mencubit pipinya dengan gemas.
“Adaow! Baru juga semalam jadian, udah main kasar aja saiki!” mendengar ucapan Herry aku mendesah lega. Berarti aku benar-benar sudah bangun sekarang. Bad dream! Beneran deh, aku nggak bakal mau buat ngulang mimpi semalam. Ngeri-ngeri sedap!
“Sen, ini udah setengah enam loh. Buruan mandi! Ntar telat! Aku aja udah mandi!” aku baru sadar kalau Herry hanya memakai handuk doang di pinggangnya. Aku bangun dari ranjang dengan malas. What the hell? Kenapa kakiku rasanya kayak sakit banget ya?
“Nopo Sen?” tanya Herry yang melihat raut wajahku yang kesakitan.
“Nggak papa. Buruan gih pake baju, daripada ntar itu handuk aku pelorotin!”
“Hahaha, kan kamu ues pernah lihat Sen.” Aku tersenyum mesum sambil kedip-kedip genit sebelum akhirnya menghilang dibalik kamar mandi. Pergelangan kakiku membiru. Aku memperhatikannya dengan seksama. Seperti dicengkram terlalu keras oleh seseorang. Padahal dalam mimpi sepertinya aku tidak dicengkram. Shit! Ular itu kan berhasil melilitku sebelum aku bangun! Hasyah, wake up Arseno Erlangga Prawiro! Itu Cuma mimpi! Mungkin saja Herry semalam ngelindur terus tanpa sengaja meremas pergelangan kakiku! Iya, mungkin itu! Tapi masak sampai membiru gini sih? Ah, what the fuck lah!
***

Hendra masih memonyongkan bibirnya, tanda dia merajuk karena semalam dia tidak ditawari buat menginap bareng. Aku jadi serba salah, karena aku memang tidak menawarinya kemarin. Yah, selain karena Hendra pasti bakal mengacau, itu artinya jika Hendra semalam juga menginap berarti mungkin hari ini aku belum menjadi pacar Herry. Herry sih cuek-cuek saja seakan tidak peduli. Itu anak tengah menyalin PR dari Hendra. Sebenarnya ingin sekali aku bergabung dengan Herry, karena aku juga belum mengerjakan PR tersebut. Yah, mengingat semalam kita sibuk melakukan hal lain, namun niatku untuk bergabung dengan Herry buat menyalin PR harus diurungkan karena Hendra masih memonyongkan bibirnya dan matanya yang melotot itu membuatku takut. Takut jika mata itu akan lepas dari Hendra.
“Sudah lah Hen, ntar malam lo boleh nginep deh!” Hendra masih monyong dan belum membuka suaranya. Duile nih anak! Aku baru kali ini melihat Hendra merajuk.
“Bareng Herry juga, jadi kita tidur bertiga.” Kali ini mata Hendra sedikit melirikku. Sumpah, tanganku jadi gatal untuk meminjam muntu dari kantin dan menguleknya di bibir Hendra. Monyongnya itu lho.
“Gue kemaren lusa baru saja download konser Britney di Las Vegas, lengkap! Lo boleh nonton ntar malam!” kali ini mata melototnya menjadi berbinar. Yeah, temanku yang satu ini memang penggemar fanatik Britney Spears. Dan sejak aku kenal dengan Hendra, dia jadi memaksaku untuk melakukan segala sesuatu yang berbau dengan Britney. Seperti mendownloadkan semua lagunya dari album pertama hingga album terbarunya. Mencari-cari penampilannya setiap dia perform. Dan satu fakta lagi yang bikin aku tercengang, Hendra ingin mempunyai pacar seperti Britney. Fuck! Impossible banget!
Namun gara-gara Hendra juga aku jadi ikut-ikutan ngefans dengan Britney. Hah, bagaimana tidak, ponsel milik Hendra belum mendukung mp3 player, yah mau tidak mau ponselku yang jadi korban! Semua play list hampir sebagian diisi lagu-lagu Britney. Hendra, Hendra, sepertinya dia terobsesi oleh hal-hal yang belum semestinya. Maksutnya apa ya?
“Sen, kamu mau nyalin PR nggak?” aku melirik Hendra sebentar. Dan ketika aku melihat raut wajahnya yang sudah biasa-biasa saja, aku langsung bergegas mendekati Herry dan langsung meminjam PR yang baru dia salin. Diantara kita bertiga, pacarku ini memang paling tidak bisa diandalkan dalam pelajaran materi. Tetapi, tulisannya paling rapi dan paling bagus. Aku juga sempat heran, namun itu faktanya. Catatan Herry sangat rapi dan tulisannya pun enak dilihat. Tidak seperti tulisan lelaki kebanyakan.
Tidak lama kemudian, Hendra bergabung dengan kami. Dia dan Herry meributkan sesuatu di ponselku. Paling juga mereka rebutan, biasalah. Herry ingin melihat foto-foto dirinya sendiri di ponselku sedangkan Hendra ingin mendengarkan lagu-lagu Britney. Cerita klasik, pasti habis ini mereka suit-suitan. Dasar anak kecil!
***

Aku memandangi wajah Herry yang tengah makan sop buah. Lucu sekali ekspresi wajahnya saat seperti ini. Kami saat ini sedang berada di alun-alun. Yeah, malam ini Herry dan Hendra memang akan menginap di rumahku. Dan kita (aku dan Herry) sedang berada di alun-alun sambil menunggu Hendra yang tengah sibuk dengan ke osisannya. Dia minta di jemput jam empat. Jadi ya kita main-main dulu lah.
“Punya kamu nggak abis tho Ay?” aku masih geli sendiri dengan panggilan sayang Herry untukku ini. Entah darimana dia mendapatkan ide untuk memanggilku ‘ay’.
“He eh, udah kenyang aku Her!” Herry langsung meringis dan menyambar sop buahku yang masih sisa setengah.
“Tak abisin ya? Mubazir kalau dibuang.” Aku terkekeh sendiri. Herry masih medhok saja memakai bahasa Indonesia. Aku memang makin ngerti dengan bahasa Jawa, namun kalau disuruh untuk melafalkannya aku masih grogi. Mungkin sudah bisa, namun aku yakin logatku pasti terdengar sangat lucu.
“Aku poto ya?” kataku sambil mengambil ponselku dan mengarahkannya ke wajah Herry. Yah, seperti yang aku duga, itu anak langsung pasang gaya! Dia memang photogenic. Hasil jepretannya selalu bagus walaupun diambil diam-diam sekalipun.
“Gimana ay? Bagus tho? Ganteng tho?” Herry heboh sendiri ketika melihat hasil jepretanku tadi. Aduh, ini anak tingkat narsisnya udah sampai level berapa ya?
Setelah ngobrol kesana kemari dan menghabiskan empat mangkok sop buah, aku hanya menghabiskan setengahnya. Jadi kalian tahu tiga setengah mangkok sop buah yang lain hijrah kemana. Aku dan Herry langsung pulang kerumahku. Setelah ganti baju, dengan membawa mobil kita pergi ke sekolah lagi, menjemput Hendra.
Ternyata Hendra belum selesai, terpaksa kita menunggu di parkiran. Beberapa anak yang lewat memandangiku dengan tatapan aneh. Aduh, ini memang salahku. Di sekolahku, belum pernah ada siswa yang membawa mobil. Jadi, mungkin ini pemandangan pertama buat mereka. Lagipula, aku melirik mobilku sendiri dengan sinis (mobil mamaku sih sebenarnya), kenapa aku harus membawa mobil BMW ini? Kenapa tidak pinjam punya Paman Pri saja tadi? Seenggaknya mobil pamanku itu tidak terlalu kelihatan mahal.
“Ay, kapan-kapan ajarin aku bawa mobil ya?” aku yang tengah berkutat dengan ponselku langsung menoleh kearah Herry.
“Kamu nggak bisa bawa mobil?”
“Bapakku nggak mau ngajarin! Ajarin ya ay? Please?” aku terkekeh geli. Ini anak kalau udah ngomong inggris lucu banget! Ngomong bahasa Indonesia saja bikin terkekeh, apalagi pas ngomong bahasa Inggris.
“Iya, ntar kapan-kapan.” Jawabku sambil memandang heran Herry yang tengah celingukkan. Lalu tiba-tiba mencium pipiku secara kilat.
“Makasih ay, aku kangen bibirmu.” Herry mengucapkannya sambil berbisik. Tak pelak lagi, wajahku langsung blushing. Herry, I love you so much! Ehm, tentu saja aku mengatakannya dalam hati.
“Mana ntar malam ada si kucluk Hendra lagi. Ahh! Jengkel!” ini anak bener-bener bikin gemes. Bagaimana tidak? Dari tadi dia ngedumel seakan-akan aku tidak berada disampingnya. Aku juga kangen bermesraan dengan Herry. Ahh, kita baru jadian satu hari! Aku menyenggol Herry supaya berhenti ngedumel tentang sialnya malam ini karena jelas-jelas tidak bisa bermesraan denganku karena aku sudah melihat Hendra yang berjalan kearah kami.
“Woi, maaf lama. Tapi ndak usah tanya alasannya, aku males jelasinnya!” katanya begitu sudah didekat kami. Aku mendengus pelan sebelum masuk kemobil yang diikuti oleh Hendra dan Herry. Secara sepintas aku melihat Taufik yang juga tengah berjalan kearah parkiran. Tunggu nggak ya? Nggak saja lah, kataku dalam hati sambil menghidupkan mobilku dan langsung tancap gas.
Begitu sampai dirumah, aku menyuruh Herry dan Hendra untuk langsung kekamarku. Sedangkan aku menemui papa mamaku, aku ingin mobil! Urusan SIM, nanti bisa diatur lah. Aku kan keluarga Prawiro, sekali-kali menggunakan nama besar keluarga kan tidak ada salahnya. Halah, ngeles saja!
“Ma, Pa, beliin Seno mobil!” Papa dan Mamaku langsung menatapku seakan-akan aku bukan anak mereka.
“Kenapa? Kamu kan masih empat belas tahun!”
“Biar gampang ke sekolahnya ma!”
“Sunat dulu kalau gitu. Setelah kamu sunat, baru mama beliin mobil!” gantian aku yang memandang mamaku seakan-akan dia bukan mama kandungku. Jujur, aku masih menganggap sunat adalah salah satu hal yang paling menakutkan yang harus aku lalui dalam hidupku.
“Mama kan beliinnya pake duit papa! Ya pa? Beliin Seno mobil ya?” kali ini aku pindah haluan, walaupun terasa percuma. Jelas papaku itu akan membeo apapun kata mamaku. Dasar suami takut istri! Ampuni aku!
“Turuti dulu mama kamu.” Tu kan! Sudah aku duga!
“Oke deh, Seno sunat! Tapi beliin mobil ya?” mendengar ancamanku yang semeyakinkan para pembunuh bayaran, papa dan mamaku mengangguk kompak. Aku menghembuskan nafas panjang. Sunat? Hah banget!
Aku berjalan gontai menuju kamarku dan mendapati Hendra yang senyum-senyum geje.
“Jadi waktu di kali kedu itu kamu nolak buat mandi bareng karena belom sunat? Malu ya?” Oh, maha bencana! Jadi mereka mendengar percakapanku dan juga orangtuaku tadi.
“Siapa yang malu? Biasa aja!”
“Kalau gitu coba liat!” tanpa aku duga Hendra sudah maju untuk kemudian tersenyum mengerikan.
“Sstt! Nggak entuk! Ra sopan tauk!” Herry langsung menjitak kepala Hendra. Hahaha, pacarku mana rela aku ditelanjangi laki-laki lain. Aku melihat Hendra yang memonyongkan bibirnya dan sedikit menggerundel. Namun sepertinya Hendra tidak berniat melanjutkan apa yang dipikirkannya tadi.
Tidur bersama Hendra dan Herry memang menyenangkan. Setidaknya, kita bisa bercanda tanpa harus takut saling menyakiti. Saling hina pun kita sudah kebal. Mereka berdua juga sudah tidak sungkan lagi padaku. Itu yang aku inginkan, aku tidak ingin orang-orang hanya melihatku sebagai cucu eyang Prawiro, tapi sebagai Arseno.
Hendra sudah terlelap. Aku dan Herry masih terjaga, kita sengaja memang. Aku melangkah keluar dengan diikuti Herry dibelakangku. Kita duduk-duduk di teras rumah eyang yang kebetulan ada kursi yang memang sudah disiapkan disitu. Kursi yang terbuat dari anyaman kayu. Bunyinya ‘kriet kriet’ kalau didudukki. Hahaha.
“Bener kamu belom sunat ay?” jiah, kenapa Herry bahas topik ini sih? Aku hanya mengangguk. Malas sekali untuk menjawab, ‘iya aku belom sunat!’
“Boleh lihat? Kamu kan dulu sudah pernah lihat punyaku ay! Dua kali lagi!” yeah, tenyata dihitung sama Herry saudara-saudara! Aku diam saja, tidak tahu harus bagaimana. Maksutku aku terlalu malu untuk berdiri dan menurunkan boxerku beserta celana dalamku agar Herry melihat penisku yang masih terbungkus kulup.
Hal yang tidak terduga adalah tangan Herry yang sudah meraba-raba penisku dari luar untuk kemudian menelusup lewat lobang kaki boxerku.
“Cepet banget bangunnya ay?” aku hanya meringis. Remasan Herry mau tidak mau langsung membuat perkakas berhargaku itu menunjukkan kegarangannya.
“Gede juga ay, boxernya aku naikkin ya?” aku hanya mengangguk. Tidak lama kemudian tangan Herry menyingkap boxerku keatas dan mengeluarkan penisku lewat lobang kaki boxerku. Lampu depan memang dinyalakan, jadi penisku itu terpampang jelas dihadapan Herry.
“Wah, masih belum ada bulunya.” Kembali Herry berguman.
“Punya kamu udah lumayan lebat ya?” Herry terkekeh sebentar mendengar perkataanku sebelum akhirnya kembali menatap perkakasku itu dengan seksama.
“Masih ingat punyaku tho ay? Tapi kamu kan belom liat tititku pas bangun!” aku sedikit tergelak. Saat tidur saja sudah sebesar itu, kalau bangun gimana? Bayangan itu justru malah semakin membuat penisku bergerak-gerak liar. Aduh, bahasanya nih.
Lagi asik-asiknya menikmati remasan dan juga pijatan Herry pada tititku, kami berdua dikejutkan dengan suara kaki yang semakin dekat. Dengan buru-buru aku segera memasukkan kembali organ kebanggaanku itu. Siapa sih nih yang bangun? Malam-malam gini lagi, hasyah! Mana belum keluar lagi. Aduh, nanggung banget! Kalian mengerti tidak perasaan saat penis kalian sengaja dikocok namun tiba-tiba harus dipending karena ada gangguan? Padahal belum ejakulasi? Kalau bahasa jawanya sih rasanya ‘muangkel tenan’!!



Bersambung. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.