FOLLOW ME

Senin, 24 Februari 2014

Barista 1

Chapter 1

Hey, namaku Sandy. Mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas swasta di Jakarta yang kurang terkenal. Yah, memang kampusku bukan kampus favorite. Aku kuliah disana juga dengan berbagai macam pertimbangan. Selain karena biayanya yang relatif terjangkau, tempatnya pun bisa aku jangkau dari rumahku. Dekat.
Oya, aku juga kerja part time sebagai barista di salah satu tempat ngopi-ngopinya anak muda. Haha, bukan starbucks. Mungkin bisa jadi suatu saat bakal jadi saingannya. Hahaha.
Caffe ini adalah milik om ku. Sebenarnya, aku tidak mungkin bisa kuliah jika tanpa bantuan beliau. Namun, karena aku tidak mau dibantu secara Cuma-Cuma, aku memutuskan untuk bekerja disini. Gajinya lumayan untuk membantu membiayai adikku yang masih duduk di bangku SMP.
Malam ini pengujung cukup rame. Kebanyakan orang pacaran. Yah, maklum malam ini adalah malam minggu. Jadi ya tidak heran jika banyak muda-mudi nongkrong santai disini sambil pacaran. Atau pacaran sambil nongkrong?  Malam ini aku tidak kebagian jatah sebagai peracik kopi, tapi aku berdiri di bagian kasir. Haha, bukan yang pertama kalinya juga.
“Mas, big gingerbread Soy Latte sama, emm kamu mau apa Gan?” Aku menengadah dan dadaku secara tiba-tiba berdegup kencang. Gila, apa yang terjadi denganku? Maksutku, aku deg-deg an melihat cowok didepanku ini? Yang benar saja?!
“Eem, Cinnamon Mocha aja. Yang medium aja Ben.” Teman cowok disebelahnya menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari gadgetnya. Anak muda jaman sekarang, pegangannya sudah handphone yang canggih-canggih.
“Oh, oke. Jadi gua pesen Big Gingerbread Soy Latte satu sama Medium Cinnamon Mocha nya satu.” Cowok yang dipanggil Ben oleh temannya tadi yang entah mengapa membuat dadaku deg-deg an tak karuan mengulangi pesanannya.
“Oke, jadi Big Gingerbread Soy Latte sama Medium Cinnamon Mocha? Ada lagi kak yang mau ditambah?” Aku berusaha seprofesional mungkin walau jujur, wajah cowok didepanku ini bikin aku kebat-kebit. Entah, aku sendiri tidak tahu mengapa.
“Uda itu aja Mas.” Aku lalu menyebutkan nominal harga dan menandai dua gelas pesanannya dan aku berikan ke Hilman. Peracik handal caffe ini.
“Oke, silahkan ditunggu ka, terima kasih.” Aku masih memperhatikannya. Masih memperhatikan juga ketika dia merangkul temannya dan membisikkan kata-kata ditelinga temannya yang membuat temannya mencubit pinggangnya. Aneh, di mataku mereka tidak seperti teman. Mereka seperti pacaran.
***

“Tuh, kamu diperhatiin terus tuh sama mas-mas kasirnya.” Kataku pada Beno sambil menyeruput kopiku. Beno menengok ke arah mas-mas si penjaga kasir dan membuat mas-mas si penjaga kasir membuang muka dengan malu-malu.
“Masa sih Gan? Halah, bilang aja kamu cemburu.”
“Kamu kan ganteng, wajar lah dimanapun jadi pusat perhatian. Gak cewek, gak cowok homo. Resikoku lah punya pacar ganteng.” Aku menjawab dengan nada sedatar mungkin. Walau kalau boleh jujur, aku mulai jengah. Sudah hampir dua bulan aku pacaran dengan Beno dan aku mulai risih dengan dampak dari kegantengan pacarku ini.
Banyak cewek-cewek yang sok centil dan tak sedikit cowok-cowok yang ganjen mencoba menarik perhatian Beno. Padahal ada aku disitu. Ah, sudahlah. Toh mereka tidak tahu kalau aku ini pacarnya. Keadaan ini jauh berbeda saat aku berpacaran dengan Denny. Bukan berarti Denny tidak menarik, hanya saja Denny cuek. Dia tidak menggubris semua tatapan menggoda yang diarahkan padanya. Beno? Dia terlalu ramah. Jadi ya begitulah!
“Plis lah jangan mulai! Aku sayang kamu, bosen tahu bahas ini lagi, ini lagi. Kamu gak percaya gitu sama perasaan aku ke kamu?”
“Percaya.”
“Ya udah. Pulang yuk, uda malem nih. Oya, malam ini aku nginep kostanmu ya? Hehe, kangen.” Aku menatap curiga ke arah Beno.
“Kangen apaan?”
“Kangen itu kamu yang ngejepit-jepit.” Aku menendang kakinya lewat kolong meja dan membuat Beno sedikit mengaduh. Alamat begadang nih malam minggu.
***

Aku pernah, dengan sangat jelas menceritakan kepada kalian bahwa aku bukan dari golongan anak pintar. Aku kurang cerdas. Atau bodoh, yah kasarnya begitu. Tapi, tidak ada orang bodoh kan? Yang ada hanya orang pemalas. Jadi ya, mungkin aku pemalas.
Aku memang malas hari ini. Bayangkan saja, Matematika, Kimia lalu disusul Fisika. Yah, tepat seperti jam sekarang ini. Aku tengah mendengarkan guru Fisikaku mendongeng entah hal apa yang aku kurang paham.
Menurutku, pelajaran Fisika itu tidak penting. Yah, kecuali kalau kalian ingin menjadi ilmuwan atau bergerak dibidang hal yang meruwetkan tersebut. Jujur, buat apa sih kita menjatuhkan kelereng lalu diitung kecepatannya dan bla la blanya. Ada lagi nih yang lebih kepo, seperti soal yang  tengah ditulis guruku di white board.
“Pak Rudi mengendarai mobilnya dengan kecepatan bla bla bla. Lalu dia bla bla bla, dan berangkat dari rumah pukul bla bla bla. Jarak rumah dengan tempat tujauannya adalah bla bla bla. Pukul berapakah kira-kira Pak Rudi tiba di tujuan?”
What the hell? Adakah soal yang lebih kepo dari ini? Maksutku, apakah guruku tidak mempertimbangkan macet? Hey, ini Jakarta!! Trus kalau Pak Rudi kecelakaan lalu mati? Mana kita tau dia nyampe di tempat tujuan jam berapa! Belum lagi kalau dia kena razia polisi? Lagipula, logikanya gak mungkin dong orang mengendarai mobil lempeng aja kecepatannya? Iya kan? Ini soal kurang cerdas dan berbobot!
“Gan?” Aku menoleh ke belakang dan melihat Beno yang tengah menatapku dengan jahil.
“Apaan?” Jelas Fisika adalah salah satu penghancur mood terbaikku saat ini.
“Ijin kencing.” Beno masih berbisik lirih. Ijin kencing? Well, ini seperti menemukan mata air di gurun tandus. I can not reject this idea. Tanpa menunggu waktu lama, aku langsung mengangkat jariku.
Pak Asril, nama guru Fisikaku. Terlihat eksited, mungkin beliau mengira aku bersedia menjawab soal yang sudah dia tulis di white board, but he’s wrong. Aku mau ijin ke toilet, dan walaupun aku sempat melihat tatapan kecewa di matanya, itu sama sekali tidak mengubah keputusanku untuk tetap ijin ke toilet. I must or I’ll die.
Tinggal lima menit sebelum akhirnya istirahat, jadi ya aku memutuskan untuk agak lama di toilet. Tepat saat aku keluar dari unior, Beno muncul.
“Udahan kencingnya?”
“Lo nya kelamaan!” Aku menjawab dengan agak kesal.
“Yah, kan kalau ijinnya barengan ntar dikiranya homo.” Aku membuang wajahku dan berniat berlalu dari toilet, tepat saat Beno memegang tanganku dan agak sedikit menyeretku masuk kedalam salah satu toilet yang kosong.
“Ben, lo apa-apaan sih?”
“Sssst, aku kangen.” Ujarnya sambil bibirnya menuju bibirku. Aku memejamkan mataku. Beno berbeda dengan Denny. Secara keseluruhan. Beno tidak pernah takut untuk mengajakku bermesraan walau di tempat umum sekalipun. Yah, seperti sekarang ini. Di dalam toilet dan ini bukan yang pertama kalinya. Ini juga bukan ciuman ‘kangen’ seperti yang dibilang Beno tadi. Ini jenis ciuman yang menuntut penuntasan dengan seks. Dan toilet? Maksutku? Are you serious? Toilet? Better idea please? Kuburan China atau semak belukar may be?
“Ben, stop! Kalo dilanjutin kita bakalan dicurigai!”
“Bentar lagi istirahat Gan.”
“Nah justru itu, aku gak yakin bakal diem aja kalau penis kamu bersarang di pantatku sekarang.” Beno bengong sebentar sebelum akhirnya tersenyum mesum.
“Oke. Kamu keluar duluan, biar gak pada curiga.” Aku membuka pintu toilet dan mengintip sedikit. Setelah aku rasa aman, aku melenggang keluar toilet seperti tidak terjadi apa-apa. Hmmm, aku rasa memang tidak terjadi apa-apa kan?
***

Kuliah hari ini cukup padat. Ini sudah jam 4 sore dan aku baru bisa pulang ke rumah. Aku berjalan dengan santai ketika aku mendengar suara agak keras dibelakangku. Ada motor Honda CBR yang jatuh, sepertinya diserempet mobil yang sudah kabur entah kemana. Aku menghampirinya, melihat sang empunya motor kesusahan saat mau berdiri lagi. Masih pelajar SMA.
“Mas, lo baik-baik aja?” Aku bertanya sambil berusaha menepikan motornya dan juga membantu anak SMA ini berdiri. Dua hal yang sulit dilakukan secara bersamaan.
“Gua oke kok mas. Thanks.” Anak ini berusaha melepas helm nya. Deg! Bukankah dia cowok yang beberapa hari lalu ke caffe? Dia masih SMA?
“Yakin? Mau istirahat di rumah gua dulu? Lo kayak masih syok gitu. Rumah gua deket dari sini.” Cowok ini menatapku agak curiga sebentar. Aku maklum, di Jakarta kan emang banyak modus penipuan ataupun perampokkan.
“Gua janji gak bakal ngapa-ngapain lo dan gua juga gak maksa lo kok.” Aku berusaha meyakinkannya. Entah untuk alasan apa, hanya saja aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Entah, baru kali ini aku begitu tertarik dengan laki-laki. Hal yang sama sekali belum pernah aku alami.
Dia terlihat menimang-nimang keadaannya sebelum akhirnya mengangguk lemah. Jujur, hatiku bersorak saat dia menganggukkan kepalanya. Yah, aku merasa seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Ha? Jatuh cinta? Dengan lelaki? Masih SMA? Pikiranku sepertinya mabok karena kuliah tadi sepertinya.
“Nama gua Sandy.” Aku memperkenalkan diriku saat menyuguhi dia teh manis hangat. Orang tuaku sedang bekerja. Biasanya pulang malam. Ayahku tukang ojek sedangkan ibuku penjual di pasar. Yah, seperti yang aku katakan jika aku tidak dibantu om ku aku tidak akan bisa kuliah.
“Gua Beno.” Anak itu berkata sambil tersenyum. Tampan! Walaupun sepertinya dia orang kaya, dia tidak memandang rendah rumahku. Dia biasa-biasa saja bahkan terlihat nyaman duduk di kursi.
“Lo yakin kaga ada yang luka Ben? Lutut lo?”
“Kaga, cuman punggung gua agak perih.”
“Coba gua lihat.” Beno tanpa protes membuka kancing kemeja seragamnya dan menurunkannya sedikit.
“Lecet ini Ben, bentar gua ambil alkohol sama obat merah dulu.” Aku berusaha mengendalikan degup jantungku dengan mencari-cari obat merah dan alkohol. Aku selalu menyimpan peralatan P3K. Yah walaupun hanya obat merah dan plester doang.
Aku membersihkan luka itu dengan rintihan Beno mengiringinya. Yah, aku mengerti sih perihnya luka ditetesi alkohol. Setelah aku yakin tidak kotor, aku baru membubuhkan obat merah dan menutupnya dengan plester.
“Thanks ya San.” Beno lagi-lagi tersenyum dan jantungku kembali bertalu-talu. Aku yakin sekarang, aku jatuh cinta pada Beno!!
***

“Kamu pulang sendirian Gan?” Aku menganggukan kepalaku tanpa menoleh ke arahnya.
“Beno?”
“Katanya dia mau jemput Mamanya.” Sekarang aku menoleh, “Mau ngajak pulang bareng? To the point aja kali Den!!”
Denny tersenyum. Yah, dia masih tampan. Begitulah, Denny-mantan pacarku.
“Iya, pulang bareng yok.” Aku tahu bahwa hari ini cuaca sangat panas. Radit tengah berduaan dengan pacarnya. Si adek kelas, Risky. Jadi tawaran pulang bareng ini aku sambut dengan histeris.
“Oke.” Aku segera naik ke atas boncengan. Sayangnya, Denny tidak membawaku ke rumah Radit, tapi kerumahnya sendiri.
“Lita kangen sama kamu. Makanya aku bawa kamu ke rumahku.” Kata Denny seperti tau apa yang ada di pikiranku.
“Lita yang kangen atau kamu yang kangen?” Niatnya sih aku hanya bercanda. Tapi melihat senyumnya yang misterius aku jadi tau jawabannya. Denny juga kangen aku!!
“Lit, ada Mas Gani nih!!” Teriak Beno begitu masuk ke dalam rumah. Lita, anak itu masih terlihat lucu dan menggemaskan langsung meninggalkan acara tv yang sedang dia tonton dan langsung menghambur ke arahku.
“Masssssss Gaaaaaani, Lita kangen! Mas Gani udah jarang main kesini sekarang!”
“Mas lagi sibuk!” Kataku sambil mengangkat tubuh Lita tinggi-tinggi.
“Hayo! Kamu uda makan belom?”  Tanyaku lagi setelah menurunkan Lita kembali ke daratan.”
“Belom, Mas Denny belom masak.”
“Iyaaa, aku masakin buat kamu. Mau makan apa kamu heh anak bandel.”
“Telor ceplok aja Mas.” Jawab Lita sambil kembali ke acara tv nya yang tadi. Hey! Jadi dia kangennya cuman sebentar sama aku? Dasar anak kecil labil!
“Mau bantuin aku masak gak Beb?” Aku menoleh ke arah Denny.
“Sorry, kebiasaan dulu. Maaf.”
“Gak papa.” Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, jantungku sempat berpacu tadi. Tuhan, mungkinkah aku mengalami CLBK?
Aku mengikuti Denny ke dapur. Yang jelas, sepertinya tata letaknya masih belum berubah. Masih sama.
“Lha mbak Walmi emang kenapa Den?” Mbak Walmi adalah pembantu rumah tangga di rumah Denny.
“Lagi sakit Gan. Jadi ya harus bisa urus sendiri sampai mbak Walmi sehat lagi.” Aku memperhatikan Denny lebih dalam. Seandainya dulu aku tidak gegabah memutuskan Denny. Mungkin sekarang aku masih bahagia bersamanya. Tidak harus setiap hari menahan kesal dan cemburu saat cewek-cewek centil dan cowok-cowok sekong menggoda Beno bahkan dengan aku disampingnya. Dan reaksi Beno yang terlalu baik pada mereka.
Aku tahu mereka berdua berbeda dan aku juga paham tidak seharusnya aku membandingkan mereka berdua. Hanya saja, aku mulai lelah dengan sikap Beno yang tidak bisa tegas dengan para ‘fans’ nya. Toh dia bukan artis!! Dan ada aku! Beno bukan tipe pacar yang brengsek, dia pacar yang baik. Perhatian dan cintanya tidak pernah kurang. Dia juga hot di atas ranjang. Hanya saja, aku merasa dia terlalu sempurna. Dan itu yang aku takutkan.
“Hey, ngalamun aja. Lagi ada masalah?” Denny mengambil kursi dan duduk disampingku.
“Nothing. Emang kamu uda selese masak buat Lita?” Denny mengangguk.
“Sekarang cari makan buat kita berdua yuk? Aku ganti baju dulu.” Denny berdiri dan menatap lama ke arahku.
“Gak mau ikut aku ganti baju Gan?” Aku tersenyum mendengar ajakannya.
“You suck! You know I can’t.”
“Hehe.” Dia terkekeh sebelum akhirnya berlalu.
***

Denny membawaku makan di sebuah warung bakso. Dulu, ini warung bakso langganan kita berdua. Bakso sambal setan, hahaha. Yah, ini juga salah satu perbedaan Denny dan Beno. Beno selalu membawaku ke tempat nongkrong yang dianggapnya romantis. Caffe, starbucks, J Co, tempat-tempat yang kata anak muda sih ekslusif. Denny berbeda. Dia pernah membawaku ke caffe atau starbucks tapi dia lebih sering membawaku ke tempat seperti ini. Warung bakso, ayam bakar. Oke, enough! Aku tidak mungkin terus menerus membandingkan mereka berdua kan? Maksutku, aku terlihat sangat arogan, licik dan manipulatif! Belum tentu aku juga melakukan yang terbaik untuk Beno.
Sudahlah.
“Kamu beneran gak papa Gan?”
“Ha? Gak kok, I’m fine.” Aku tersenyum, sebelum akhirnya aku melihat Honda CBR warna merah dengan plat nomor yang sudah aku hafal berhenti di lampu merah di depan tempat aku dan Denny makan. Di boncengannya bukan wanita berambut panjang seperti alasan dia meninggalkanku tadi di sekolah. Tapi seorang laki-laki. Mereka tidak mencolok, mereka berboncengan seperti orang pada umumnya. Bahkan tidak ada pelukan.
Yang membuatku kecewa adalah, kenapa tadi dia bilang mau menjemput Mamanya? Kalau ternyata yang dia jemput bukan Mamanya? Kenapa harus berbohong? Dala sekejap selera makanku hilang. Dan saat sang pengendara itu menoleh dan menyadari ada aku disitu, aku semakin muak. Dia tidak turun melainkan langsung tancap gas.
Haaah, sudahlah. Mungkin ini hukuman yang pantas buatku karena meninggalkan cowok sebaik Denny dulu.
“Kita pulang yuk Den, aku tiba-tiba merasa kenyang.”
“Ha? Kenapa?” Denny masih akan membordirku dengan berbagai pertanyaan, namun saat melihat air mataku hampir menitik dia terdiam.
“Oke, baksonya dibungkus aja kalo gitu.” Aku hanya bisa mengangguk lemah. Setidaknya akan ada penjelasan kan nantinya?


Tbc. . .

3 komentar:

  1. Lanjutin please . Keren tapi sudut pandangnya rada belibet

    BalasHapus
  2. Uda ada lanjutannya tuh :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

leave comment please.