FOLLOW ME

Selasa, 24 September 2013

THE SERIES 5

Aku mengikuti langkah mereka berdua dengan lesu. Mereka –Hendra dan Herry- memaksa ku untuk melihat-lihat kebun teh milik eyangku di daerah yang agak lumayan jauh dari rumahku. Aku baru tahu kalau eyangku juga punya kebun teh. Mereka betul-betul tidak tau diri. Aku paling benci dengan yang namanya kebun. Apapun! Mau itu kebun teh, atau kebun kopi, aku tetap tidak suka. Pokoknya tidak suka, dan aku sedang tidak ingin menjelaskan alasannya pada kalian.
“Wuih, adem banget!” Hendra melentangkan kedua tangannya.
“Ho oh! Betah aku disini.” Sahut Herry.
“Yaudah, kalian berdua nginep aja no disono!” kataku sambil menunjuk sebuah gubuk yang letaknya tidak jauh dari kami.
“Beuh! Tega!” Hendra mencibir yang langsung aku balas dengan mendengus.
“Gue nunggu di mobil aja ya? Kalian berdua ajalah yang keliling. Gue capek!”
“Gimana acara tu?”
“Ye kalian pergi,  gue stay.” Kataku sambil menuju mobil. Gila aja, jalanan kota ini penuh tanjakan berkelok-kelok semua. Bikin stress aku yang nyetir. Belum juga aku membuka pintu mobil, tanganku sudah ditarik Herry.
“Tuan rumah itu harus mengantar tamunya!” beuh, lagak ini anak minta digampar.
“Gue capek banget Her! Lagian mau nganter gimana? Gue sama nggak taunya sama kayak kalian!”
“Makanya kita menjelajah bareng! Apa perlu aku cengklek? Ben nggak capek?” cengklek? Apaan tu? Tapi boleh juga.
“Boleh dah dicengklek.” Herry langsung membungkuk.
“Cepet naik punggungku.” Oh, cengklek tu ternyata digendong belakang. Asek! Digendong Herry! Tidak menyia-nyiakan kesempatan aku segera hijrah kepunggung Herry.
“Berat juga kamu Sen.” Yaiyalah, badanmu boleh lebih gede, tapi ingat akukan lebih tinggi. Ternyata hawa disini memang sejuk banget. Adem, bikin nyaman. Herry juga tidak mengeluh, dan harus akui untuk saat ini punggung Herry adalah tempat ternyaman di dunia. Hhahaha. Namun setelah perjalanan agakjauh, aku segera turun, walaupun Herry tidak mengeluh, aku yakin dia kecapekkan. Dia mulai berkeringat soalnya.
Sekitar jam sepuluh siang kita istirahat disebuah gubug bareng bapak-bapak dan juga ibu-ibu yang bekerja disitu. Sekali lagi aku dibuat takjub. Mereka ternyata sudah mengenaliku. Katanya. Kalau eyangku kemari, eyang selalu membawa-bawa fotoku yang terbaru dan selalu membangga-banggakanku. Padahal apa yang mau dibanggakan? Yah, namanya juga nenek ke cucunya. Haduh, jadi malu sendiri. Eyangku melebih-lebihkan tentang aku ternyata, bahkan ngarang cerita tentang aku. Ini nih ya;
1.     Kata eyangku aku selalu ranking satu dari SD hingga SMP. Bohong besar! Aku ranking satu hanya waktu kelas tiga SD doang, setelah itu? Beuh, masuk sepuluh besar saja sudah sujud syukur! Tapi bukan berarti aku bodoh ya. Aku masih masuk duapuluh besar kok.
2.    Nah, yang ini lebih parah. Eyangku cerita ke orang-orang yang bekerja padanya, bahwa cucunya, Arseno Erlangga Prawiro demen banget sama yang namanya petualangan. Panjat tebing,  naik gunung dan sebagainya. Itu semua dusta! Aku lebih suka menghabiskan waktuku main basket atau main PS. Naik gunung? Ogah!
3.    Eyangku gembar-gembor bahwa aku bisa berjalan saat usiaku menginjak enam bulan. Yang ini sepertinya eyangku sudah habis akalnya. Aku jelas-jelas berjalan saat usiaku satu tahun lebih enam bulan. Mamaku dulu bahkan sempat mengira aku bakalan lumpuh. Makanya, hingga sekarang mama selalu melarangku melakukan olahraga berat. Yang aku tidak tahu untuk alasan apa.

Eyang, eyang. Haduh. Membanggakan cucu sendiri sih sah-sah saja tapi jangan sampai mengarang cerita juga donk. Malah aku jadinya cengengesan nggak jelas karena ceritanya nggak ada yang mendekati kebenaran.
“Pulang yok! Udah siang banget!” ujarku sambil melirik Herry dan Hendra. Masalahnya aku sudah tidak tahan disini. Dosaku nanti tambah banyak. Membohongi warga, haduh!
“Yowes, tapi makan siang dulu tho Sen?” jawab Herry sambil berdiri dan siap-siap.
Kita bertiga segera pamit pada bapak-bapak dan juga ibu-ibu yang tengah beristirahat di gubug itu. Perjalanan menuju tempat mobil diparkirkan tadi terasa lebih cepat. Setelah berjalan menuruni jalanan menanjak tadi akhirnya kita mampir di tempat makan yang kebetulan terlihat disitu. Setelah parkir mobil, kita bertiga langsung masuk. Tempatnya nyaman, pemandangan lembah-lembah Sumbing dan Sindoro terlihatjelas.
Aku memesan ikan bakar, menu kebanggaan di rumah makan ini. Hendra dan Herry ngikut. Halah tu dua anak!
Kota ini adem ya? Betah aku!” aku melirik Herry sebentar.
“Nopo Sen? Dari tadi ngelirikin aku terus.” Aku senyum geje. Ketahuan toh ternyata.
“Nggak. Itu muka lo kok aneh banget ya? Penasaran aja.” Jawabku asal.
“Semprul koe ki!” kata Herry sambil menoyor kepalaku pelan.
“Waduh, sudah berani noyor gue lo ya!”
“Hahaha, wek!” Herry malah tertawa senang sambil memeletkan lidahnya. He’s so cute! Gila, aku cinta mati nih! Herry, kapan kita bisa pacaran? Asek!
“Ues tho! Nggak capek apa bercanda terus!” Hendra langsung misuh-misuh sendiri. Merasa dicuekkin kali dia ya.
“Beuh, ngambeg nih nggak diajak bercanda.” Kataku sambil mencolek dagunya. Hendra makin misuh-misuh. Geli lihatnya. Yakin dah.
“Niki mas, pesenannya.” Mas-mas yang tadi melayani kami kembali lagi dengan menu pesanan yang udah kita pesan tadi. Kalau dari bau dan penampakkannya sih kayaknya delicious banget. Dan ternyata memang berasa! Dagingnya enak, durinya pun lunak.
“Ajib Sen! Poto dong!” lagi-lagi Herry heboh sendiri minta difoto. Ini anak sepertinya terserang virus narsis lebih dari seharusnya. Sudah akut dan tidak bisa ditolong lagi ternyata. Dia bergaya macam-macam. Mulai dari pura-pura tengah melahap ikan utuh, lalu terkapar di meja makan, terus seolah-olah sudah memakan berpiring-piring makanan dan mati kelaparan. Ini anak ya, aku dan Hendra saja sampai nyengir sendiri karena pengunjung yang lain mulai melirik-lirik kearah kita sambil senyum-senyum. But, finally aku bahagia banget hari ini. Capek sih juga iya, tapi jika waktu kita dihabiskan bersama orang yang kita cintai? Apa capeknya masih berasa? Jujur sih iya! Hush, ngelantur! Pokoknya, ini hari membahagiakan banget!
***

Aku diam sesaat memandangi pohon mangga disamping kamarku lewat jendela. Tu pohon kapan sih berbuahnya? Ya aku tahu sih ini bukan musim buah mangga. Tapi pengen saja nyoba mangga langsung dari pohonnya. Jangan-jangan tu pohon mandul lagi?
“Woi! Ngalamun aja dek!” sumpah aku kaget banget. Ternyata Taufik.
“Aaaah, Mas Adi nih! Bikin kaget sumpah!”
“Lha, salah sendiri ngalamun sambil ngedumel. Ngalamunin apa tho?”
“Seno tuh nggak ngalamun Mas, tapi lagi berdoa.” Mendengar jawabanku, Taufik langsung mengerutkan keningnya.
“Berdoa buat apaan?”
“Tu, biar pohon mangganya berbuah. Seno lagi pengen mangga.” Tak pelak lagi Taufik langsung tertawa. Lha? Emang ada yang lucu ya? Perasaan biasa saja deh. Lebay nih Taufik nih!
“Yo ndak mungkin tho! Lha wong ini belum musimnya.”
“Seno juga ngerti kali Mas ini bukan musimnya. Tapi kan impossible is nothing buat Tuhan.”
“Tapi nggak segitunya juga. Itu namanya Dek Angga mencobai Tuhan.”
“Mencobai? Apa maksut tuh?”
“Gini nih, Dek Angga kan tahu kalau Tuhan itu maha segalanya. Tapi bukan berarti Dek Angga bisa minta yang aneh-aneh. Tuhan bisa kok ngabulinnya, tapi untuk alasan apa? Misalnya, ini kan lagi musim kemarau, Dek Angga minta hujan supaya nggak perlu main keluar. Lah? Masa iya Tuhan mau mengabulkan? Padahal Tuhan bisa! Ntar Dek Angga pasti ngerundel kalau ujannya nggak turun. Pasti Dek Angga bakalan ngomong gini, “katanya maha kuasa kok nggak bisa datengin hujan?” ya kan? Itu sama aja mempertanyakan eksistensi Tuhan. (ini quote dari seseorang yang sampai sekarang aku belom mengerti artinya.)”
“Nggak ngerti aku mas! Beneran deh!”
“Hahaha, ikut Mas Adi bentar yuk!”
“Kemana Mas?” tanyaku penasaran. Aku paling anti dengan yang namanya rahasia-rahasiaan.
“Udah, ikut aja.” Akhirnya karena dipaksa, aku ngikut juga. Aku pamit pada mamaku sebelum akhirnya mengikuti Taufik yang entah membawaku kemana. Asal tidak membawaku ke alam baka saja. Ternyata oh ternyata aku diajak ke sawah. Jiah banget! Mending gini aku nggak mau ikut tadi. Sawah apanya yang mau dilihat coba? Cuma tanaman padi yang masih kecil-kecil gitu.
“Ini nih sawah eyang kamu. Kamu belom tahu kan?” aku lengsung menggeleng.
“Semuanya?” tanyaku tak percaya, Taufik hanya mengangguk membalas pertanyaanku. Anjirr, ini kalau dibuat taman bermain ajib banget nih. Luas banget gini!
“Itu orang-orang lagi ngapain Mas? Maenan air?” aku dibuat penasaran dengan orang-orang yang tengah berkubang didalam sawah.
“Itu namanya miyak’i, ngambilin rumput-rumput liar yang ikut tumbuh disekitar tanaman padi.” Aku hanya manggut-manggut sambil ber-oooo panjang. Jalan sama Taufik ini benar-benar nggak nyaman banget. Mau ngelucu ntar takutnya selera humor kita berbeda. Takut dianggap ngehina, padahal niatnya ngelucu. Masih mending jalan sama Herry atau Hendra, bebas ngomong apa saja. Kalau sama Taufik? Mikir-mikir dulu, takutnya ntar salah ngomong.
“Wajahmu itu manis banget ya Sen? Kalau cewek pasti cantik kayak mamamu.” Eitts, apa maksut nih tiba-tiba ngomong begituan? Muji atau ngeledek? Emang sih wajahku fotocopiannya mama, tapi kan aku dibuat lebih macho. Daguku lebih persegi, bahuku juga lebih bidang, lengan ototku juga udah mulai terbentuk. Enak saja aku dibilang cantik!
“Sstt, berhenti Sen.” Aku langsung berhenti mendadak. Karena agak kesal tadi aku melangkah dengan asal. Dan sekarang karena Taufik menyuruhku berhenti, aku menoleh kearahnya dengan raut wajah lumayan sepet.
“Kenapa?”
“Ada ular disamping kamu. Jangan bergerak dulu.” Aku melirik kebawah dan eng ing eng! Ini alasan kenapa aku tidak suka pergi kesawah ataupun kekebun, karena pasti banyak binatang melata seperti ini nih! Tu ular item gede nyeremin lagi.
“Itu bukan ular biasa Dek, itu ular penunggu sini. Jarang banget dia nampakkin diri sore-sore  gini.” Apa maksut lagi nih? Ular setan gitu maksudnya? Aku beranikan melirik lagi. Itu ular memang diam saja dan ukurannya memang wow banget. Tapi bukan phyton atau anaconda. Phyton dan anaconda setahuku tidak ada yang berwarna hitam legam kan ya? Atau ada? Yaelah, sotoy nih akunya. Ukurannya segede pahaku, sedang melingkar. Ular biasa ah, cuman memang agak gede saja.
“Itu nggak ada ekornya dek. Kamu pelan-pelan gih melangkah kesini.” Sebelum aku melangkah menghampiri Taufik aku sempatkan melirik lagi. Masa nggak ada ekornya? Aku perhatikan dengan seksama lagi. Itu ular kenapa melingkar sih? Jadi susah nih nyari ekornya, weleh! Itu ular buntung? Bener kata Taufik, nggak ada ekornya yang mengecil itu. Aku langsung lari kearah Taufik dan mungkin membuat ular itu terusik. Dia bangun, tubuhku gemetar, Taufik juga sama saja. Mata ular itu merah menyala, menatapku lekat-lekat lalu kemudian melingkar lagi. Itu emang bukan ular biasa. Masa iya ada manusia dia tidak menyerang atau malah pergi? Dia malah asyik melingkar lagi ditempat yang sama. Dan lagi, matanya tadi seakan-akan ingin berbicara padaku. Ini mungkin Cuma halusinasiku doang, walaupun memang aku merasa demikian.
Sesampainya dirumah aku segera menceritakan apa yang aku alami tadi pada mama dan papaku. Kebetulan ada eyang juga. Sengaja ceritanya aku tambah-tambahin biar semakin seram. Hahahaha.
“Itu ular gede? Buntung Sen?” tanya eyang dengan suara cemas.
“Iya eyang! Nggak ada ekornya!” aku jadi bingung sendiri melihat eyangku yang mulai berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.
“Itu ular memang sudah ada sejak kakek buyutmu! Banyak pekerja disawah yang sudah melihatnya. Tapi kalo sampai ditatap kayak kamu Sen, itu belom pernah ada!” waduh, ini pertanda baik atau buruk ya?
“Udahlah Bu, mungkin ini Cuma kebetulan saja.” Papaku menenangkan eyangku yang sudah mulai panik.
“Eyang takut kamu dibawa pergi sama ular itu! Bancak’i! Ini harus dibancak’i!” aku menoleh kearah mama dan papaku. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan aku sendiri tidak mengerti dengan arti kata BANCAK’I.
***

Disekolah aku benar-benar tidak tenang. Nanti sore bancak’inya mau digelar. Aku juga masih belom ngeh apa itu bancak’i. Aku hanya kepikiran dengan ular itu. Tatapan ular itu, seperti tatapan manusia. Entahlah aku yang terlalu mengkhayal atau bagaimana, tapi aku rasanya seperti itu. Dia sepertinya menderita sekali. Hasyah, aku kan bukan Harry Potter atau Lord Voldemord yang bisa bahasa ular!
“Sen, kantin yok!” hah?
“Apaan?” Herry mendecak kesal. Hari ini Hendra tidak masuk. Dia mengikuti lomba debat Bahasa Inggris di kabupaten.
“Kantin! Makan!”
“Oh.” Jawabku singkat sambil berdiri. Aku mencoba fokus dan melupakan kejadian sore kemaren. Gila, ular itu cengok banget. Okay, dengan tidak masuknya Hendra, setidaknya Herry jadi duduk satu meja denganku. How lucky?
“Koe nopo tho Sen? Aneh banget hari ini.” Aku yang tengah mengaduk-aduk siomayku langsung mendongak ke arahnya.
“Masa? Biasa aja kok Her!”
“Eh Sen, aku boleh nanya ndak nih?”
“Nanya apaan?”
“Tapi kamu jangan marah ya?” aku menatapnya tidak mengerti. Kenapa ni anak? Biasanya juga ceplas-ceplos kalau ngomong.
“Aku kalau jalan sama kamu kok nyaman banget ya? Aku juga suka pas kamu ngelirik-ngelirik ke arahku secara diam-diam. Kenapa tho Sen kamu sering nglirik-nglirik aku?” gila, jadi selama ini Herry sadar kalau aku suka diam-diam mencuri pandang ke arahnya. What the fuck?
“Ya karena gua sayang sama lo.” Jawabku cuek. Kepalang tanggung ini.
“Hah? Maksute opo Sen?”
“Ya gue suka sama lo. Sayang, cinta gitu.”
“Tapi aku kan laki-laki juga Sen?” ini anak bego atau emang nggak ngerti ya?
“Tapi lo nyaman kan sama gue? Mungkin itu karena lo juga cinta gue.”
“Hah? Mosok tho Sen?” ini anak bikin aku gregetan sumpah. Hemm, tapi ketidaktahuannya ini justru menguntungkanku.
“Gini aja, ntar malem lo nginep rumah gue. Biar lo tau lo itu cinta gue juga apa nggak!?” terlihat Herry menimbang-nimbang sebentar. Aku berlagak tidak peduli. Karena jika aku memasang tampang berharap, itu hanya akan semakin membuat Herry curiga.
“Woke deh. Emang kita mau ngapain Sen?”
“Ya menyelidiki perasaan lo ke gue. Lo kan bilang sendiri kalau lo nyaman sama gue. Ya tho?” Herry segera mengangguk antusias. Kutuk aku Tuhan, tapi aku benar-benar penasaran gila dengan perasaan Herry untukku. Jika nanti malam Herry menikmatinya, itu artinya besar kemungkinan Herry akan menjadi milikku. Jika tidak, ya aku harus mencari cinta baru dan murni menganggap Herry sebagai sahabatku. Oh shit, ntar sore kan ada acara bancak’i! Aku sampai lupa!
***

Rumahku sudah ramai orang ketika aku sampai. Aku diantar Herry dengan motornya tentu saja setelah tadi sebelumnya pulang dulu kerumah Herry untuk meminta ijin ibunya dan membawa seragam ganti untuk besok. Aku benar-benar excited untuk nanti malam. Berbagai khayalan mesum sudah meracuni otakku.
Bancak’i itu ternyata menggelar nasi yang sudah dicampur dengan sayur-sayuran aneka macam juga ada tempe dan telor lalu dibagi-bagikan dan dimakan bersama warga sekampung. Aku masih saja heran, karena ada beberapa orang yang masih ingin mendengar kisahku yang melihat ular jadi-jadian itu kemarin. Lalu timbul berbagai macam spekulasi, ada yang bilang bahwa eyang buyutku sudah setuju jika aku akan mewarisi semua kekayaannya. Karena hanya keluarga murni Prawiro saja yang bisa ditatap ular buntung itu. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar spekulasi tersebut. Masalahnya, aku kan cucu satu-satunya keluarga Prawiro. Sudah barang tentu lah kalau semua harta ini bakalan diwarisin ke aku nantinya.
Spekulasi kedua, aku adalah orang terpilih yang harus meneruskan kepemimpinan keluarga Prawiro. Hasyah banget kalau yang ini. Ular itu sepertinya menjadi misteri tersendiri di kampung ini. Karena katanya hanya orang-orang terpilih saja yang bisa melihat mata ular itu. Terus aku jadi seperti Saras 008 gitu kali ya? Bedanya, Saras manusia kucing, aku manusia ular. Kenapa nggak Nagin saja sekalian! By the way, ada yang masih ingat nggak sih dengan Nagin si dewi ular atau Saras 008? Jiah, malah jadi nostalgia!
Nah kalau spekulasi yang ketiga nih yang agak bikin ngeri. Katanya aku bakal diajak ular itu. Karena dulu setelah eyang buyut melihat ular itu, eyang buyut langsung jatuh sakit dan meninggal dunia. Wadaw! Aku kan masih empat belas tahun. Belum sunat lagi. Hah? Serius? Yup! Aku memang belum sunat. Karena selain itu tidak begitu dianjurkan di agamaku, aku juga masih takut jika perkakasku itu dipotong dengan sadis. Eyangku Islam, tapi mamaku Kristen. Dan entah kenapa papaku jadi mengikuti keyakinan mama. Mengenai bancak’i ini mamaku sempat adu ngotot dengan papaku supaya dibatalkan. Eh, tapi dilasanakan juga karena eyang lebih ngotot. Siapa sih yang berani sama eyangku kalau beliau sudah menggunakan ancaman, “orangtua tinggal siji saja kemauannya tidak dituruti.” Karena menurut mamaku tindakan semacam ini sudah termasuk klenik. Dan mamaku paling anti dengan hal beginian. Kalau boleh jujur, mamaku memang termasuk ekstrim sih.
Tapi kali ini aku dipihak mama. Aku, Herry dan juga mamaku malah asyik nonton tv sambil ngemil gorengan. Walaupun diluar sana banyak sekali warga kampung yang tengah makan bersama nasi bancak’an. Kita semua lagi nonton Carita De Angel. DVD tentunya, sepertinya mamaku belum puas melihat serial telenovela yang sempat hitz ini.
“Kamu nggak usah percaya yang gituan! Kita berdoa saja! Tuhan itu tahu yang terbaik bagi kita!” mamaku mulai bicara walaupun matanya tidak lepas mengamati papanya Dulce Maria yang menurutku sih biasa saja. Entah kenapa aku dan Herry juga sangat menikmati menonton telenovela ini? Hahaha.
“Iya ma, Seno nggak percaya kok.” Herry sama sekali tidak ikut ambil bicara. Ya kita tahu sendiri lah, Herry kalau sudah dihadapkan dengan yang namanya makanan, maka mulutnya hanya akan berfungsi mengunyah saja. Hal-hal lain yang terkait dengan gerakan mulut seperti berbicara  atau tertawa akan dia lewatkan.
“Bagus! Mama itu sebenarnya agak kurang suka dengan ide eyangmu ini! Namun mau bagaimana lagi?” aku juga hanya bisa menggeleng pasrah mengikuti mamaku. Bagaimanapun juga, umur eyang sudah hampir 73 tahun. Itu membuat beliau masih percaya dengan hal-hal yang berbau seperti bancak’i, selametan atau berbagai macam sesajen lainnya. Berbagai benda pusaka seperti keris, tombak juga masih bersemayam di kamar eyang. Kadang-kadang kalau aku sedang masuk ke dalam kamar eyang, ada hawa pengap yang entah kenapa tiba-tiba menyergap inderaku. Samar-samar aku juga kadang mendengar benda-benda itu bergerak sendiri. Itu ada isinya, begitu kata eyang. Benda-benda seperti keris dan tombak mini itu sebenarnya sudah diminta oleh Paman Pri, tapi kata eyang Paman Pri tidak bakalan kuat. Dan sewaktu benda itu dipindahkan ke kamar Paman Pri yang membuat Lek Tien uring-uringan, secara ajaib benda-benda itu kembali ke kamar eyang lagi. Begitu cerita yang aku dengar. Benda-benda itu sakti!
Aku berharap benda-benda sialan itu tidak masuk dalam daftar warisanku nanti. Aku tidak mau memiliki benda-benda itu! Sedang asyik-asyiknya nonton telenovela, eyang membawa sepiring nasi bancak’an untukku.
“Dimakan Sen, ini sudah di doakan lho. Biar kamu nanti jauh dari malapetaka.” Aku melirik mamaku sebentar. Setelah mama mengangguk aku menerima nasi itu. Eyang dengan tersenyum segera berlalu. Mama segera mengambil nasi ditanganku dan langsung mendoakannya dengan caranya. Doa mama itu cukup keras sehingga membuat Herry mau tidak mau ikut memejamkan mata. Mama berdoa agar segala macam roh pencobaan dijauhkan dari kami. Ya pokoknya gitu lah. Bagi aku pribadi, aku sudah tidak sabar menunggu malam ini. Kalau berhasil, maka Herry akan menjadi kekasihku kalau tidak ya aku harus rela cari cinta yang baru.
So excited tonight.


Bersambung. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave comment please.